Kenangan Pahit

1263 Words
Gafi membukakan pintu penumpang dan membantu Anika yang menggendong putra mereka yang berumur enam bulan. "Mas yakin mereka akan bisa menerimaku?" tanya Anika dengan sorot penuh keraguan. Gafi tersenyum simpul, seraya mengecup pipi kiri Anika menenangkan. Ia tahu istrinya pasti gugup. "Pasti Sayang, karena Aryo adalah impian mereka dan kamu adalah ibunya. Jadi mereka harus bisa menerima dirimu," ucap Gafi menenangkan Anika seraya menggenggam tangannya lembut dengan tangan satunya membawakan dua tas berisi pakaian Anika dan satu lagi pakaian bayi mereka. Sang mama, Eltara sudah menyambut mereka di teras rumah. Menatap sengit ke arah Anika dengan tajam. "Kenapa kamu bawa wanita ini kemari?!" tanya Eltara dengan ketus. "Dia istriku, Ma." "Hanya istri siri, ingat itu baik-baik. Dan tempatnya bukan di rumahku ini," balas Eltara seraya meneliti penampilan Anika yang sederhana berbalutkan celana kulot semata kaki bermotif biru putih dan atasan yang sama. "Lihat saja penampilannya, kampungan," tambah Eltara menatap jijik. Anika yang terkejut, hanya bisa menelan salivanya kasar dan menggigit bagian dalam bibirnya, satu suku kata pun tak berani terucap dari bibirnya. Anika gemetar, takut. Gafi mengusap punggungnya yang menegang, menenangkan. Gafi tahu dengan sikap diam istri mudanya ini, pasti ketakutan berhadapan dengan mamanya. Belum juga Gafi bereaksi, Eltara sudah lebih dulu mendekat ke arah Anika dan mengambil paksa bayi Aryo. Anika yang tidak siap terpaksa memberikan putranya daripada terjadi keributan. "Kamu tahu anakmu ini penyakitan, pasti karena kehidupanmu yang kurang gizi." Tambahnya lagi seraya berbalik dan masuk ke rumah. "Nyonya, anak saya!" Spontan Anika berseru, ia merasa firasat tidak enak. Sepertinya ia akan dipisahkan dari sang putra. Eltara berbalik dan menatap penuh permusuhan kepada Anika. "Anakmu ini cucuku. Jadi dia adalah hak kami sepenuhnya seorang Beryl. Kami akan membawanya berobat. Tapi jelas tanpa kuman sepertimu ikut serta. Aku tidak menyangka anakku sudah sangat rendah seleranya." Anika menggeleng panik seraya memegangi kain lengan kemeja Gafi mencari dukungan. "Mas, tolong Mas. Anakku Mas!" kata Anika dengan panik, dengan air mata berlinang dan d**a yang berdebar kencang sungguh tidak rela ia dipisahkan dari sang buah hati. Gafi tentu saja paham akan hal itu, semua terlihat pada raut wajah Anika. "Kamu tenang ya, Mas akan bicarakan dengan Mama dahulu," kata Gafi seraya mengusap puncak kepala Anika. "Apa, yang mau kamu bicarakan, Apa?! Kamu mau Mama coret dari daftar ahli waris. Kamu mau menjadi pahlawan membela dia!" herdik Eltara seraya menunjuk dengan geram ke arah Anika. Saking kerasnya suara Eltara membuat bayi Aryo terusik dan mulai menangis. Anika baru melangkahkan kakinya saat Eltara mendorongnya hingga jatuh tersungkur dengan sebelumnya memberikan Aryo pada seorang pengasuh yang sudah mereka siapkan. Anika terlihat kebingungan bahkan tidak tahu wanita itu datang dari arah mana. "Jangan lagi sentuh cucuku dengan tangan penuh kumanmu. Usir dia Gafi, kembalikan dia kepada orang tuanya. Itu pun jika dia punya. Aku tahu kamu anak haram bukan? Demi Tuhan! Anak haram, bagaimana kamu memilih rahim? Gafi, Gafi. Ke mana kepintaranmu itu?" "Ma! Jangan begitu, dia istriku, Ma." Sakit hati Gafi, istri mudanya hanya dianggap sebagai penghasil anak oleh mamanya. "Istri? Aku hanya mengakui Shalia Agouri sebagai istrimu tidak ada yang lain. Dan jika sampai kamu membawa wanita itu masuk selangkah lagi ke dalam sini. Aku akan menganggapmu bukan putraku lagi. Pilih yang mana?" Gafi mengusap wajah kasar dengan kedua tangannya. Ia sungguh bingung dihadapkan pada pilihan yang sulit seperti ini. "Tolonglah Ma?" pinta Gafi. "Mama waktu ini sudah setuju bukan?" "Mama setuju tetapi hanya untuk bayi ini, bukan beserta dengan ibunya. Kamu bisa mikir nggak sih?! Wanita seperti ini akan kamu jadikan madu dari Shalia yang cantik dan kaya raya. Jangan mimpi Gafi, jangan ngehalu terlalu tinggi. Tidak ada kisah dongeng di sini! Gafi masuk! Biarkan Harno yang mengantarkan dia kembali ke kampung." Keputusan final Eltara seraya menyeret putranya ke dalam rumah dengan terlebih dahulu merenggut paksa tangan Anika yang berpegangan pada lengan Gafi. "Jangan sentuh anakku dengan tangan jijikmu. Segera pergi dari sini. Aku tidak akan memberikan sepeserpun uang, karena kamu memberikan aku anak yang cacat." Anika menggeleng dengan keras seraya menanggupkan kedua tangan di depan dadanya. "Nyonya, saya mohon. Tolong jangan pisahkan saya dengan putra saya. Mas ... tolong aku, Mas!" kata Anika mengiba. Gafi sedih melihat sang istri sampai harus memohon seperti itu, ia melangkah dan ingin meraih sang anak, namun herdikan keras sang papa membuat ia menghentikan langkahnya seketika. "Berhenti di sana Gafi atau kamu ingin segera melihat Papa menjadi mayat!" "Kamu seharusnya bangga, anakmu akan diakui sebagai keturunan Agouri juga. Kamu bisa bayangkan bagaimana kayanya anakmu nanti," ujar Erlan Beryl dengan wajah penuh kebanggaan seraya menatap bayi dalam gendongan pengasuh. "Pulanglah, kamu masih muda. Carilah pemuda desa dan menikahlah dengan benar. Tidak pantas kamu menggoda anakku, dan jika kamu berharap mendapatkan sepeser harta dari kami. Kamu salah besar gadis muda. Jika kamu bersikeras untuk mengganggu kami. Saya bisa melakukan hal yang lebih kejam kepada keluargamu. Kamu tidak ingin bukan, terjadi hal yang tidak menyenangkan terhadap nenek dan ibumu?" tambah Erlan. Gafi melihat sorot kekecewaan mendalam dari pancaran wajah sang istri, raut kekalahan dan tak berdaya. Anika yang awalnya sampai bersimpuh kemudian bangkit seraya mengambil tas berisi pakaiannya dan berbalik pergi meninggalkan Gafi tanpa sepatah kata pun. Bahkan bantuan dari Hendra tak diindahkannya. Gafi membiarkan sang istri pergi dengan patah hati yang mendalam. ♥ Anika melamun sepanjang perjalanan menuju pasar malam. Semangatnya membara hingga ia melamun membayangkan dan mengira-ira bagaimana penampakan sosok buah hatinya. Melihat bocah kecil laki-laki berusia seumuran dengan sang buah hati yang duduk di seberangnya dalam angkot ini membuatnya semakin merindukan sosok malaikat kecilnya tersebut. Bocah kecil yang tahu jika diamati sedari tadi oleh Anika, malu-malu kucing menyembunyikan wajahnya yang hampir setelah belepotan permen di balik lengan sang ibu. Senyum kecil tersungging hingga deretan gigi s**u berwarna merah bekas permen mengarah pada Anika. Anika tersenyum lebar menanggapinya dan kemudian berbisik ke arah Rini, “Anakku pasti setampan bocah itu ya?” Rini yang sedari tadi menatap pada layar ponselnya segera mendongak dan mengalihkan tatapan pada subyek yang dimaksudkan oleh Anika. Wanita itu lantas balik berbisik ke arah Anika. “Anakmu lebih ganteng dari dia.” Anika melirik Rini sekilas dan berdecak sebelum menimpali, “Sok tahu, anakku sakitnya sama dengan anak Pak Sastro. Pasti juga sekarang tubuhnya kurus begitu.” “Bedalah mana ada begitu. Gafi pasti memberikan gizi terbaik.” “Pak Sastro juga. Kamu lupa dia orang terkaya di kampung kita. Tapi melihat anaknya, aku sedih. Bocah itu, sampai sekarang tidak bisa terlalu capek karena wajahnya akan cepat pucat dan membiru,” ujar Anika prihatin sekaligus ada rasa khawatir menyeruak jika sang putra juga memiliki kondisi yang sama saat ini. “Kamu terlalu jauh berpikir. Pantas butuh waktu lama untuk kamu sembuh. Anak Pak Sastro itu belum di operasi. Duitnya belum ada, kamu sendiri yang bilang butuh banyak uang untuk mengobati sakit anakmu. Benar ‘kan?” “Ah … iya. Kamu benar, Aku hampir saja lupa. Jika tidak perlu banyak uang tentu aku tidak akan terpisah dari anakku.” “Jika kamu punya mertua dan laki-laki yang baik. Tentu kamu tidak akan terpisah dari anakmu.” “Dia baik, hanya keadaan yang harus memisahkan kami.” Rini menyiku Anika. Ia tidak suka melihat temannya ini masih saja membela laki-laki yang sama sekali tidak punya nyali membela wanita pujaannya. Jenis pria yang menghamba pada uang dan kekuasaan. Munafik dan sungguh pengecut. Mulut manis tetapi berbisa, begitulah pandangan Rini terhadap mantan suami Anika. “Jangan terus membelanya dia tidak pantas kamu bela.” “Ayo turun kita sudah sampai,” ajak Anika yang kemudian memilih tidak menanggapi ucapan Rini. Memang benar ucapan Rini, sampai detik ini Anika belum bisa melupakan pria itu bahkan cintanya masih sangat besar seperti dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD