Konon katanya ... hanya dengan ciuman dari cinta sejatilah Putri Tidur bisa terlepas dari kutukan itu. Terbebas dari mantera kejam yang membuat ia tertidur dalam waktu yang lama. Hingga pada akhirnya ia dapat bangun dari tidur panjangnya. Membuka matanya. Dan wajah itu menjadi hal pertama yang ia lihat.
Ia tampak tersenyum. Menatap lembut pada Putri Tidur. Dengan tangannya yang terangkat, menuju pada wajah sang putri, dan jari tangannya bergerak. Dalam satu sentilan cepat dan kuat di dahi.
“Ah!”
Tu-tu-tunggu. Bukan seperti ini seharusnya Putri Tidur terbangun. Bukan dengan ciuman? Tapi, justru dengan satu sentilan di dahi?
“Masih belum mau bangun? Apa nunggu Mama siram dulu ini kasur?!”
Eh?
Putri Tidur menggeliat. Bangkit dari tidurnya dengan mata membola. Celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri berulang kali.
“Ke mana Pangeran? Pangeran aku di mana? Pangeran? Pangeran?”
Memutar pandangan ke sekeliling kamar, tak ada pangeran yang terlihat. Alih-alih justru tumpukan komik dan novel di atas meja, bungkus keripik kentang di atas lantai, gelas kosong di nakas, dan ponsel yang sudah habis baterainya di atas kasur.
“Pangeran Pangeran. Pangeran Sontoloyo?!”
“Pangeran Sontoloyo? Bukan. Bukan Sontoloyo. Tapi, Pange---”
“Astaga. Berenti nggak ngomong Pangeran Pangeran?! Mama jeburin juga kamu ke kolam belakang kalau kamu masih ngelindur padahal udah bangun!”
Teriakan itu menggema di kamar. Dan bukan hanya gertakan semata. Karena sedetik kemudian, tangan gadis itu terenggut paksa. Ditarik. Hingga menimbulkan ketakutan.
Dijeburin ke kolam?
Berenang bareng lele-lele berkumis panjang?
“Tidaaak!”
*
bersambung ....