1. Awal Hari

1823 Words
“Akhirnya Nona bangun juga? Gimana Nona? Nyenyak tidurnya? Mimpi indah semalam? Sekarang apa Nona mau langsung makan siang?” Rentetan pertanyaan itu memberondong layaknya hujan peluru yang sering terjadi di film-film aksi bertema peperangan. Langsung meluncur tepat ketika pintu kamar itu terbuka. Pemilihan waktu yang buruk memang. Bagaimana bisa ia keluar kamar tepat ketika ibunya melintas? Leora Vegina seketika membeku. Tak bergerak. Tak bersuara. Dengan tangan yang masih memegang daun pintu. “Mama ini ....” “Ah, masih ingat kalau punya Mama? Kirain udah lupa.” Diam, tak ada suara yang terdengar sedetik kemudian. Mungkin merasa ciut ketika wanita paruh baya yang bernama Sri itu mulai melancarkan rutinitasnya setiap hari. Yaitu, mengomeli putri tuanya. “Heran Mama, Gi. Kamu itu cewek loh. Kok bisa-bisanya jadi cewek semalas ini sih? Nggak malu kamu sama ayam tetangga hah? Noh! Ayam Pak RT udah bangun dari sebelum Subuh. Lah kamu? Udah mau di atas kepala itu matahari baru kamu bangun.” Mesem-mesem, tak ada balasan yang bisa cewek itu katakan pada ibunya. Hanya bisa garuk-garuk kepala dengan ekspresi salah tingkah. Dan kemudian ia beranjak. “Ckckck. Ya Tuhan. Kamu ini bener-bener mau lihat Mama mati muda heh? Tiap hari kerjaan kamu itu buat Mama senewen aja, Gi!” Vegi manyun. “Mati muda apaan sih, Ma? Udah lima puluh satu tahun juga sih umur Mama. Udah---ah!” Ucapan Vegi terputus. Disambung oleh seruan spontan yang menyiratkan sakit. Menghentikan langkah kaki, cewek itu menganga seraya mengusap belakang kepalanya. Sementara Sri tampak melangkah terus seraya mengusap ujung sapu ijuknya. “Aduh. Mudah-mudahan nggak rusak sapunya. Heran. Tapi, kok punya anak kepalanya keras banget sih?” “Mama!” * “Bude! Belanja!” Mengucek matanya sekali, Vegi berseru di satu warung yang terpisah lima rumah dari rumahnya. Lalu ia menguap. Tepat ketika seorang ibu dengan delapan buah rol rambut yang menghiasi kepalanya. “Ckckck. Astaga, Vegi. Kamu baru bangun?” Mata Vegi mengerjap sekali. Lalu ia geleng-geleng kepala. “Nggak lah, De. Aku udah bangun dari tadi.” Pemilik warung yang tentu saja adalah tetangga Vegi itu mendengkus dengan ekspresi tak percaya. Bukannya apa. Tapi, sekali lihat saja ia bisa menilai dari penampilan Vegi. Sama sekali tidak mencerminkan orang yang sudah bangun dari tadi. “Kayak yang Bude bakal percaya aja,” kata pemilik nama Surtimah itu pada Vegi. “Emangnya Bude kenal kamu baru sehari dua hari ini? Ckckck.” “Cie ... yang udah kenal aku dari lama.” Vegi terkekeh sekilas. “Selamat, Bude. Nggak semua orang seberuntung Bude.” “Beruntung beruntung. Beruntung apaan coba, Gi? Yang ada malah buntung.” “Eh? Buntung kenapa, De?” “Ya buntung. Lihat aja, ini udah tahun berapa? Pak Jokowi aja udah dua kali jadi presiden. Eh kamunya belum ada tanda-tanda mau ngundang Bude makan daging rendang sambil diiringi suara biduan gitu.” Ekspresi wajah Vegi seketika berubah. Tampak suntuk dalam hitungan detik yang teramat singkat. “Ah, Bude ini. Kalau emang mau makan daging rendang, noh! Di simpang kan ada rumah makan Padang. Beli aja. Seporsi paling nggak sampe dua puluh ribu.” “Ngapain beli kalau bisa gratis? Hihihihi.” Surtimah terkikik. Dan ketika ia melihat Vegi terlihat semakin dongkol, maka semakin menjadi-jadilah kikikannya itu. “Ah, Bude. Udah ah. Aku tuh mau beli sampo.” Tidak perlu dijelaskan sebenarnya, Surtimah jelas tau maksud kedatangan Vegi ke warungnya. Apalagi kalau bukan untuk beli sampo sasetan? Bisanya sih beli empat saset sekaligus. Biar rambutnya wangi kata Vegi. “Bude tuh serius loh, Gi,” kata Surtimah seraya mengambil gunting dan beranjak ke rentengan sampo yang tergantung. “Kamu tuh mau nikah kapan? Udah tua loh umur kamu itu.” “Kayak yang nikah gampang aja,” gerutu Vegi. “Ya makanya diusahainlah. Emangnya kamu nggak mau gitu nikah kayak orang-orang? Lagian kamu juga udah segini dewasanya, kenapa coba nggak nikah-nikah? Emangnya apalagi yang ditunggu?” Vegi mengembuskan napas sekilas. Menatap Surtimah dan menjawab. “Aku nunggu cowok yang mau nikahi aku, De!” * Dibutuhkan perjuangan bagi Vegi untuk pada akhirnya bisa berakhir di meja makan. Setelah melewati rutinitas seperti biasanya –diomelin Sri dan diolok Surtimah, ia berhasil menarik napas dengan lega. Dengan sepiring nasi di hadapannya. Beserta lauk pauk yang mengisinya. Dan cewek itu berdoa di dalam hati sebelum memulai makannya. Eitsss! Doa sebelum makan yang Vegi baca berbeda dengan doa sebelum makan seperti yang biasanya dibaca oleh orang kebanyakan. Khusus untuk Vegi, ia menambahkan: Semoga Mama nggak ngomel selama aku makan ya, Tuhan. Amin. Karena nyaris bisa dikatakan bahwa setiap kali ketika ia akan menikmati makannya, akan selalu ada suara Sri yang menyertainya. “Mbok ya kamu itu sadar diri, Gi. Kamu itu udah tua. Udah bukan bocah SMA. Masa mau terus diomelin sih?” Baru saja sendok akan masuk ke dalam mulut Vegi, suara Sri sudah mendarat di indra pendengarannya. Membuat ia urung menikmati suapan pertamanya. Ia menoleh dan mendapati ibunya yang kembali menghampirinya. Menarik kursi dan turut duduk bersama dengannya. “Masa sehari-hari kamu mau kayak gini? Bangun kesiangan. Cuci muka terus langsung makan. Astaga, Nak. Kamu itu udah tiga puluh tahun. Ckckck.” Berdecak, Sri tampak mengusap dadanya berulang kali. Lalu mulutnya komat-kamit. Mungkin sedang membaca mantera. Siapa tau kan bisa mengusir sifat malas putrinya itu. “Ma, please deh,” desah Vegi cemberut. “Aku tuh baru mau makan. Eh ... udah diomelin aja.” “Mama nggak bakal ngomel kalau kamu nggak kayak gini, Gi,” tukas Sri dengan mata melotot. “Lagi Mama omelin aja kamu nggak berubah, apalagi kalau nggak Mama omelin?” Pundak Vegi jatuh. Tapi, walau wajahnya tampak tertekuk, tak urung juga sendok tetap melaju dan lenyap di dalam mulutnya. Kunyahan pertama ia lakukan dengan manyun. Sejenak tidak melanjutkan omelannya, Sri hanya melihat Vegi yang memulai makannya. Entah itu sarapan atau makan siang, Sri tidak peduli. Dan bahkan kalau itu merangkap sampai makan malam pun Sri juga tidak akan peduli. Karena ia yakin satu hal. Seberapa pemalasnya Vegi, ia tetap akan rajin untuk satu hal. Yaitu, makan. “Enak nggak?” Topik pembicaraan berpindah. Membuat Vegi melirik melalui ekor matanya. Mendapati bagaimana fokus ibunya itu yang tertuju pada sambal ikan tongkol di atas piringnya. Yang sudah habis satu sisinya dimakan Vegi dan menampilkan tulang di sana. Sendok di tangan Vegi bergerak. Dengan lincah dan tanpa silap sedikit pun menyingkirkan tulang itu dari daging ikannya. Menyingkirkannya ke sisi piring dan ia mengangguk sekali. Dengan samar. “Enak.” Mendengar jawaban itu, Sri pun menyipitkan mata. Sedikit mengikis jarak dan mencondongkan tubuh ke arah putrinya itu. “Kalau enak ... makan yang banyak.” Kunyahan Vegi berhenti. Bulu kuduknya mendadak meremang. Tubuhnya menegang. Tepat ketika selanjutnya Sri berkata. “Biar kamu ada tenaga buat tidur lagi.” Mata Vegi terpejam dengan dramatis. Sendok terlepas dari tangannya. Menimbulkan suara denting yang lumayan besar ketika benda itu berbenturan dengan piring kaca di bawahnya. “Ah, Mama ini. Aku lagi mau makan pun terus kena sindir. Nggak bisa nunggu aku selesai makan dulu apa? Jadi buat aku nggak mood buat makan, Ma.” “Ya coba. Mama mau lihat kamu nggak mood makan.” Vegi langsung cemberut. Hingga bibirnya mengerucut. “Ayo ayo. Coba nggak mood makan. Mama mau lihat kamu yang nggak mood makan itu yang kayak gimana.” Mencebik, tentunya Vegi tidak bangkit dari duduknya dan pergi dari sana. Alih-alih, ia kembali mengambil sendoknya. Bersiap untuk mengambil nasi lagi. Hingga membuat Sri hanya geleng-geleng kepala. Takjub melihat sikap putrinya yang teramat luar biasa bagi dirinya itu. Bagaimana bisa? “Ckckck. Aku kalau jadi kamu, Gi, udah pasti aku nggak mau makan lagi. Langsung aku kasih deh itu nasi sama piring dan sendoknya ke kolam lele belakang.” Bola mata Vegi berputar mendengar suara berat itu menyapa indra pendengarannya. Tanpa menoleh, ia tau siapa yang datang. Ck. Malapetaka selanjutnya. Namun, berbeda dengan Vegi, Sri justru langsung berpaling. Melihat pada seorang cowok yang menghampiri dirinya. Meraih tangannya dan bersalaman dengan ramah. Sekilas melihat, Vegi bisa mendapati ekspresi wajah ibunya itu yang tampak berubah. “Pas banget kamu datang, Yo. Sini sini sini. Kamu bilangin dulu ini ke Vegi. Mau sampe kapan dia hidup kayak gini?” Satu kursi bergeser. Lalu mendapatkan beban baru berupa seorang cowok yang duduk seraya cengar-cengir melihat pada Vegi. Seperti menikmati wajahnya yang tertekuk manyun saat makan. Vegi membuang napasnya malas. Berusaha mengabaikan, tapi perasaan tak nyaman karena menjadi objek penglihatan membuat gadis itu berpaling juga. Hingga matanya bersirobok dengan manik gelap itu. Dan pemiliknya menyeletuk. “Jadi ... mau sampe kapan kamu hidup kayak gini?” Ah, sudahlah. Tidak cukup menghadapi Sri dan Surtimah, sekarang Vegi mendapatkan serangan lainnya. Berupa seorang anak tetangga yang ia yakini lebih disayang Sri ketimbang dirinya. Berat mengatakannya, tapi setidaknya itu yang Vegi rasakan setiap kali melihat interaksi ibunya itu dengan Gyo Roberto. Bernama sok kebarat-baratan, Gyo dijamin produk lokal. Bahkan saking lokalnya, Vegi ingat sekali. Dulu ketika Gyo sunat, keluarganya sampai mengadakan pentas kuda lumping. Ckckck. Yang mana itu menjadi andalan Vegi untuk membalas sindiran Gyo. “Sampe kuda lumping bisa disunat.” “Ya Tuhan. Astaga anak gadis. Vegi!” Sri langsung terkesiap. Matanya melotot. Syok dengan perkataan Vegi hingga tanpa sadar menjitak kepala putrinya itu. “Ah!” Vegi meringis. Menggerutu. Bahkan belum ada satu jam ia bangun tidur, sudah dua kali ia mendapati serangan di kepalanya. “Mama ini ... hobi banget mukulin kepala aku.” “Ya lagi kamu. Masa kamu bahas sunat-sunatan sama Gyo? Nggak malu apa?” Vegi menggeleng. “Nggak.” Aduh. Saat itu Sri yakin, jitakan saja tidak cukup untuk memperbaiki sistem kerja otak Vegi. “Orang dulu aja pas sunat dia nyuruh aku ngecek, Ma,” lanjut Vegi. “Dipotongnya sampe atas banget atau---” “Awh!” Sudahlah. Centong nasi akhirnya mendarat di kepala Vegi. Kali ini, rintihan cewek itu bukan sekadar rintihan sakit biasa. Ada kagetnya ada syoknya ada tidak terimanya. Tapi, ingin membela diri, dilihatnya Sri yang kemudian beralih pada Gyo. Seketika, rasa kesal Vegi menguap. Hilang entah ke mana. Karena ketika ia melihat Gyo, wajah cowok itu sudah merah padam. Vegi buru-buru menutup mulutnya. “Yo,” lirihnya geli. “Tenang. Dipotongnya nggak sampe atas kok. Masih nyisa dikit. Ehm ...” Mengangkat satu tangannya, Vegi membentuk celah yang tak seberapa dengan ibu jari dan telunjuknya. Dengan satu matanya yang menyipit, ia melihat celah kecil itu menggunakan matanya yang lain. “... segini.” Tuntas mengatakan itu, Vegi tidak mampu menahan dirinya lagi. Hingga tawanya pun menyembur. Dan ia segera bangkit dari duduknya. Meninggalkan nasi di piringnya. Melarikan diri. Karena di saat itu pula, dengan wajah yang sudah teramat kelam karena malu, dilihatnya Gyo bangkit dari duduknya. Tidak perlu diragukan lagi, kali ini pasti Gyo yang akan menghajarnya dengan p****t teplon. “Vegi!” Sri hanya bisa memijat pelipisnya. Merasakan pusing yang langsung mendera kepalanya. Karena di detik selanjutnya, derap langkah Vegi dan Gyo terdengar memenuhi udara. Ditambah pula dengan tawa putrinya yang semakin menggema. “Hahahahaha.” * bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD