Cowok Nyebelin!

1016 Words
SEBUAH Harley Davidson Iron 883 berwarna hitam melaju kencang memasuki kawasan SMA Garuda. Motor tersebut tidak melambat ketika berbelok ke area parkir motor yang ada di sayap kanan gedung sekolah.  Harley hitam itu kini sudah terparkir dengan baik di bawah pohon besar nan rindang. Sang pemilik motor sudah turun dan sedang melepaskan helm. Begitu helm terlepas, rambut ikalnya pun langsung terekspos, membuat beberapa gadis menjerit tertahan. Walau wajah cowok itu belum sepenuhnya terlihat karena ia mengenakan masker berwarna hitam namun para gadis sudah langsung heboh dibuatnya.  "Ya Allah, Kak Alaska kenapa makin hari makin ganteng aja, sih?"  "Duh! Itu my baby Alaska nggak bisa santai dikit apa ya kerennya?"  "Aaaa, Alaska tambah kece deh kalau rambutnya berantakan, gitu! Jadi BM nih, mau jadi pacarnya!"  Seperti itulah kira-kira kehebohan yang terjadi setiap ketua OSIS SMA Garuda yang tampannya seperti model internasional itu datang ke sekolah. Eits, bukannya lebay namun Alaska yang memiliki darah Jerman memang tampak seperti bule: bola mata berwarna cokelat, rambut ikal yang juga berwarna cokelat, hidung mancung, serta tubuh tinggi tegap yang mencapai 183 cm.  Alaska mengabaikan bisikan para gadis yang ia lalui. Bagi Alaska selama para gadis itu tidak mengganggu-nya maka ia akan membiarkan mereka bertindak semau mereka saja.  Alaska mengecek jam tangan hitam miliknya sembari berjalan menuju gerbang SMA Garuda, sepuluh menit lagi, batinnya. Sebagai ketua OSIS, salah satu tugas Alaska adalah berjaga agar jika ada murid yang telat Alaska akan dengan tegas memulangkan mereka. Jangan tanya sudah berapa siswa yang menjadi korban Alaska—tak terhitung. Cowok itu tidak memberi ampun. Bagi Alaska, telat ya telat, tidak ada toleransi barang satu detik pun.  "Pagi, Ska," sapa Maurin, seorang gadis berpenampilan modis, sekretaris Alaska di OSIS.  "Pagi," jawab Alaska singkat, padat, dan jelas.
"Kamu udah sarapan?"
Bukannya menjawab pertanyaan Maurin, Alaska malah  melemparkan pertanyaan lain yang sama sekali tidak ada hubungannya. "Kevin belum datang?" tanyanya sembari membuka masker hitamnya.  "Sudah, bos ketua," jawab seseorang tiba-tiba. "Kenapa nyariin? Kangen sama gue?"  "Mau gue tonjok?"  Kevin terkekeh mendengar jawaban sahabatnya. "Jangan dong, ntar ganteng gue berkurang!"  Alaska tak berkomentar apa-apa. "Mana laporan lo?" ujarnya sesaat setelah itu.  "Ada, dong. Bentar!" Kevin berjalan ke arah tasnya yang ia titip di dalam pos mang Jaja—satpam sekolah. "Nih, udah selesai laporan kerja OSIS yang lo minta." Kevin menyerahkan setumpuk kertas yang sudah dijilid pada Alaska.  "Rapi bener? Dibikinin Nadine?" tebaknya.  Kevin tersenyum lebar menampakkan gigi-gigi putihnya. Tidak menjawab.  "Dasar!" sahut Alaska. "Jadi yang lebih pantas jadi wakil gue itu lo atau Nadine, sih?"  "Gue, dong!" sahut Kevin cepat. "Kalau Nadine yang jadi wakil lo, bisa berubah jadi ring tinju itu ruang OSIS, Ska!"  Alaska membayangkan ia yang berwatak keras bertemu dengan Nadine, kekasih Kevin yang sama kerasnya. Cowok itu bergidik. "Bener juga lo!" ujarnya.  "Iyalah!" sahut Kevin.  Setelah itu Alaska langsung sibuk membaca laporan kerja yang baru saja diberikan Kevin, sementara di samping Alaska, Maurin tampak gelisah. Gadis itu berulang kali menatap Alaska sembari membuka mulut seolah ingin mengajak Alaska bicara namun Alaska tak pernah menoleh.  "Kasihan," celetuk Kevin tiba-tiba.
"Heh? Apanya yang kasihan?" tanya Alaska.
"Oh, nggak, Ska, kasihan aja ada anak kucing lagi dilalerin!"  ucap Kevin, mengundang gelak tawa dari anak-anak OSIS yang juga berjaga di dekat gerbang bersama Alaska, Kevin, dan Maurin. Sudah menjadi rahasia umum memang jika Maurin naksir berat dengan Alaska namun Alaskanya selalu secuek bebek.  Tepat pukul tujuh Alaska bergerak untuk menutup pintu gerbang. Anak-anak yang masih berada di luar segera berlarian masuk.  Jangan sampai deh disuruh pulang sama Alaska! Pikir anak- anak itu.  Pada pukul 07.01, di saat Alaska sedang memasang gembok untuk mengunci gerbang utama tiba-tiba sebuah mobil berwarna kuning berhenti persis di depan gerbang.  "Eh, buset! Siapa, tuh? Udah telat masih berani berhentiin mobil di situ? Persis di depan Alaska, lagi!" ujar Kevin tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.  Alaska mengamati mobil berwarna kuning di depannya. Nggak ada pilihan warna lain apa, selain warna ini?  Seorang gadis berambut ombre berwarna hitam dengan sedikit sentuhan biru keabu-abuan turun dari dalam mobil. "Sorry,gue telat," ujarnya. "Boleh tolong bukain, nggak? Gue cuma telat satu menit, kok!"  Para anggota OSIS yang sedang ikut berjaga bersama Alaska kompak terbelalak.  "Pasti anak baru, deh," ujar Kevin yakin.
"Jelaslah, Vin, kalau anak lama mana ada yang berani ngomong  begitu sama Alaska?!" bisik Aldo—sahabat Alaska dan Kevin yang paling imut wajahnya.  "Iya, njir. Kalau anak lama yang begitu, bunuh diri namanya!" Kali ini Max ikut menambahkan.  "Cuma telat satu menit, lo bilang?" Alaska menatap gadis itu tajam. Sang gadis tampaknya tidak takut ditatap seperti itu, buktinya ia masih menganggukkan kepala dengan sangat bersemangat.  "Nih, coba liat deh, baru jam segini!" ujar sang gadis sembari menunjukkan jam yang ada di layar handphone-nya ke arah Alaska.  "Sekarang udah dua menit," jawab Alaska dingin. "Pulang!" Gadis itu tampak terkejut. Ini cowok bercanda nggak, sih? "Pulang?" ulang sang gadis tak yakin.
"Iya, pulang!" sahut Alaska tegas. "Mau lo telat setengah detik  juga namanya tetap telat, jadi silakan pulang!" Setelah mengatakan itu Alaska kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mengunci gerbang sekolah. Begitu ia yakin gerbang itu sudah terkunci dengan benar, Alaska pun berbalik pergi.  "Eh! Tunggu!" Entah mendapat keberanian dari mana, si gadis berambut ombre menahan lengan Alaska. "Please, gue baru aja pindah ke sekolah ini. Masa lo tega nyuruh gue pulang?" Gadis itu menatap Alaska dengan puppy eyes andalannya. Memohon sungguh-sungguh.  Alaska menatap gadis tersebut selama beberapa detik. Gadis berambut ombre itu pun membalas tatapan Alaska. "Please,bukain gerbangnya, ya?"  Gadis berambut ombre itu memiliki mata yang indah dan paras yang begitu menawan, jika cowok yang sedang berhadapan dengannya bukan Alaska, sudah pasti pintu gerbang itu sudah lama terbuka setelah dibujuk seperti itu.  Alaska tersenyum tipis. Ia tahu gadis berambut ombre tersebut sedang mencoba menggodanya. Alaska pun memutuskan untuk mengikuti permainan gadis kecil itu. Perlahan, Alaska kembali maju mendekati gerbang.  Gotcha! batin gadis berambut ombre senang. Siapa sih yang bisa tahan sama pesona gue? Saat sudah begitu dekat dengan sang gadis, Alaska menundukkan wajahnya. "Pulang! Muka melas lo nggak mempan buat gue," ujarnya tajam. Setelah mengatakan itu Alaska langsung melepaskan genggaman di tangannya secara kasar dan berbalik pergi.  "AAGHH, DASAR COWOK NYEBELIN!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD