"NAMANYA Ilham Alaska Soedewo, panggilannya Alaska, anak XII IPA 3, ketua OSIS sekolah kita," cerita Zoya.
"Plus sahabatnya pacar gue!" tambah Nadine dengan senyum lebar. Gadis cantik yang terkenal super galak itu sedang memegang dua mangkuk bakso di tangannya. "Punya lo masih dibikinin," ucapnya kepada Zoya.
Zoya mengangguk. "Thanks, Nad!"
"Makasih, Nad," susul Aluna sembari menerima semangkuk bakso.
"You're wecolme, gengs," sahut Nadine sembari menjatuhkan diri ke kursi kosong di samping Aluna. Sebelah tangannya segera meraih stoples cabe yang ada di meja. "Btw, kata Kevin kemarin lo berani banget tahu, Lun, megang tangannya si Alaska."
"LO PEGANG TANGAN ALASKA?" teriak Zoya.
"Zoooo!" desis Nadine. "Suara lo nggak bisa lebih kenceng lagi, tuh?"
Zoya meringis sementara Aluna hanya tersenyum kecut. "Dia emang sedingin itu, ya?" tanya Aluna sembari mengaduk-aduk bakso pesanannya.
"Dingin, gimana?"
"Ya dingin aja. Masa dia sama sekali nggak kasihan sama gue kemarin? Padahal gue udah ngeluarin puppy eyes andalan gue!" Jujur dari lubuk hati yang terdalam Aluna merasa tak terima karena ini pertama kalinya ada cowok yang mengabaikannya, terlebih setelah gadis itu memohon seperti kemarin. Biasanya kaum adam selalu jatuh pada pesonanya, hanya dengan satu kibasan rambut.
Mendengar keluhan Aluna, Nadine dan Zoya sontak tertawa. "Ih, kok kalian malah ketawa, sih?" rajuk Aluna manja. "Sorry-sorry,"ujar Nadine cepat. "Habisnya lo itu lucu tahu,
Lun!"
"Lucu kenapa?" Kening Aluna berkerut menunjukkan rasa
bingungnya.
"Nih, gue kasih tahu, ya, yang namanya Alaska itu sedingin es
batu!"
"Dan segalak singa yang lagi kelaperan!" tambah Zoya. "Lo itu
lucky banget tahu, Lun, kemarin, nggak dibentak sama Alaska waktu berani pegang tangannya!"
"Lucky dari Hong Kong! Gue dipulangin di depan banyak orang, woy! Malu-maluin banget!" sungutnya.
"Ya namanya juga Alaska, Lun. Udahlah maklumin aja, ya?" kata Zoya.
"Iya, Lun! Nggak usah sedih kalau pesona lo nggak mempan sama tuh cowok, soalnya emang doi sedingin kulkas sih hatinya!"
Aluna mendengkus. Mau Alaska kek, atau Alaski. Aluna tidak peduli. Yang Aluna tahu cowok itu telah membuatnya malu setengah mati dan Aluna tentu tidak akan diam saja untuk itu.
"Lah, baru diomongin udah ada aja orangnya!" Celetukan Zoya membuat Aluna segera mengangkat wajahnya. Di depan mereka kini terlihat Alaska yang tengah asyik bermain basket bersama sahabat-sahabatnya.
Saat ini sekolah sudah lumayan sepi. Hal yang wajar jika mengingat bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak satu jam lalu,
"Pasti mau rapat OSIS, deh," tebak Nadine.
Dari kejauhan Aluna memperhatikan Alaska dengan saksama. Seragam cowok itu terkancing hingga atas, badge nama, kelas, dan lambang-lambang lain menempel sempurna pada tempatnya. Benar-benar tipikal anak baik-baik! batin Aluna.
Merasa diperhatikan, Alaska pun menoleh. Kedua bola mata cokelat itu bertemu dengan kedua bola mata abu-abu milik Aluna. Tak sampai dua detik, Alaska sudah mengalihkan pandangannya.
Aluna mengerutkan kening tak suka dengan reaksi Alaska.
Apaan sih, kayak gitu? Emang ngeliatin gue doang bisa bikin dia kudisan? Kesal, Aluna langsung melangkah ke arah lapangan basket membuat Zoya dan Nadine segera memanggil-manggil dirinya.
"Eh–eh, lo mau ke mana, Lun?" teriak Nadine.
"Iya, Lun, mau ngapain, ih?" Zoya ikut menambahkan.
"Mau bikin dia jatuh hati sama gue!" sahut Aluna tanpa
menghentikan langkahnya.
Nadine dan Zoya sukses melongo dibuatnya. "Udah gila ya si
Aluna?"
Di tengah lapangan Kevin langsung menyenggol Max yang
kebetulan berdiri paling dekat dengannya. Aldo yang juga telah menyadari kedatangan Aluna langsung berhenti bermain. Hanya Alaska yang terlihat masih fokus untuk memasukkan bola ke dalam ring. Tepat di saat Alaska ingin meloncat dan memasukkan bola, Aluna langsung merebut bola itu dari tangan Alaska. Ketiga sahabat Alaska menahan napas melihat keberanian Aluna.
Jika tatapan Alaska dapat mengeluarkan sinar laser mungkin tubuh Aluna sudah berdarah-darah sekarang, khayal Kevin.
"Mau apa lo?" tanya Alaska dingin.
"Mau nebeng pulang!" jawaban Aluna membuat Alaska memandang gadis itu seakan ia baru saja berbicara dengan Bahasa alien.
"Apa?" ujarnya.
"Telinga lo bermasalah?" kata Aluna balik bertanya.
Alaska mendengkus. "Emang lo pikir lo siapa sampai berani
minta anterin pulang sama gue?"
"Gue?" Aluna menunjuk dirinya sendiri. "Orang yang akan
ngeluluhin hati lo yang sedingin es itu!"
Semua manusia yang ada di sana kini benar-benar membatu.
Selama hampir 17 tahun Kevin berteman dengan Alaska, baru kali ini ia melihat seorang gadis yang begitu berani dengan sahabatnya.