Pertemuan Tak Terduga

994 Words
"ITU cewek yang tadi berani banget ya, bre, siapa sih dia?" Aldo memulai obrolan sambil menunggu Alaska selesai bersiap. "Yang nyamperin ke lapangan tadi?" tanya Kevin memastikan. Aldo mengangguk. "Yang mana lagi. Masa Maurin."
Alaska mendelik membuat ketiga sahabatnya sontak tertawa.  Ketiga sahabat Alaska memang suka menggoda Alaska dengan Maurin karena Maurin kerap menunjukkan perasaannya pada Alaska secara berlebihan. Seperti kemarin contohnya, saat Alaska tidak masuk selama beberapa hari, Maurin datang ke rumah Alaska untuk menemui cowok itu.  "Nggak usah mulai," ujar Alaska seraya memberikan tatapan mematikannya pada Aldo.  Aldo membalas dengan mengangkat kedua tangannya. "Ampun-ampun. Jadi siapa sih cewek tadi?" ia mengulang pertanyaannya karena penasaran.  "Namanya Aluna. Anak baru di kelas cewek gue," jelas Kevin. "Dia baru pindah beberapa hari yang lalu."  "Pantes." Kini Max-lah yang berbicara. "Pasti dia belum tahu gimana Alaska."  Ucapan Max langsung dibenarkan Aldo. "Udah pasti, sih. Kalau dia tahu masa dia berani bersikap kayak tadi ke Alaska?"  Walau siswa dan siswi di SMA Garuda tidak ada yang tahu bahwa Alaska adalah ketua salah satu geng yang dinilai paling berbahaya di Jakarta namun Alaska tetaplah menyeramkan di sekolah. Cowok itu luar biasa dingin, apalagi kepada lawan jenis. Salah-salah, cewek pun bisa ia damprat jika mengganggunya.  "Tapi dia lumayan cantik sih, Ska," ujar Kevin ke arah Alaska yang sudah rapi dan siap untuk berangkat. "Nggak mau lo sikat aja?"  "Sikat-sikat, memang lo pikir dia gigi, apa? Perlu disikat!" Max menggelengkan kepalanya tak setuju dengan gagasan Kevin barusan.  "Yee, nggak lucu, Abang!"  "Apa kata lo?" Max menggeser tubuhnya hingga berada tepat di samping Kevin dan langsung memiting leher cowok yang juga memiliki darah Jerman seperti Alaska.  "Duh! Uhuk! Lepas! Uhuk-uhuk!"  Melihat sahabatnya meronta sambil terbatuk-batuk, Max tetap bergeming. "Minta maaf, nggak?!" perintahnya kejam.  Kevin mengalah. "Iya-iya! Maaf," ujarnya. Setelah Max melepaskan pitingannya baru Kevin melanjutkan ucapannya. "Abang."  Max melotot. "KEVIN!"  Kevin yang tahu Max akan kembali menyerangnya segera berdiri dan kabur ke belakang Alaska. "Ska, tolong!" ujarnya membuat Alaska menutup mata sambil memijat keningnya.  "Umur lo pada berapa, sih? Lima tahun?" tanyanya.  Max menunjuk Kevin dengan kesal. "Dia duluan!" tudingnya. Pasalnya Max memang paling kesal kalau ada yang memanggilnya abang selain adik atau orang tuanya.  "Lah, kan memang bener lo di rumah dipanggil abang!" Kevin masih membela diri.  "Iya, di rumah. Tapi kan lo bukan orang rumah gue!"  "Berisik!" komentar Alaska. "Ayo, cabut sekarang!" Setelah itu Alaska segera berjalan keluar kamar, memaksa ketiga sahabatnya untuk ikut.  Alaska heran bagaimana bisa kedua cowok yang selalu menjadi tangan kanannya itu menjadi lelaki paling sangar sekaligus kekanak-kanakan seperti tadi.  Dasar ajaib!  Malam sudah semakin larut. Namun lapangan itu bukannya semakin sepi malah bertambah ramai. Kini waktu tengah menunjukkan pukul 23.45, lima belas menit lagi sebelum pertandingan dimulai. Alaska sudah bersiap di posisinya. Sementara Max, Kevin, dan Aldo berdiri di sekitar motor Alaska. Anggota Scorpion, geng yang dipimpin Alaska juga ikut mengelilingi cowok itu. Ada sepuluh anak Scorpion yang hadir malam ini, termasuk Alaska, Max, Kevin, dan Aldo. Semua anggota Scorpion berpenampilan serupa. Memakai motor sport berwarna hitam, celana jeans hitam, kaus hitam, dan juga jaket kulit berwarna hitam yang memiliki lambang geng mereka. Alaska pun tidak menggunakan Harley-nya malam ini dan memilih motor yang sama dengan yang digunakan teman-temannya.  "Ada yang baru?" tanya Alaska.  "Nope," lapor Aldo. "Tapi katanya bakal ada ketua The Wolf yang baru."  Alaska mengangguk sebagai jawaban. Ia memperhatikan sekelilingnya. Ada tujuh orang yang bertanding malam ini dan sebagian besar adalah orang-orang lama yang sudah Alaska kenal dengan baik.  "Eh, itu Aluna nggak, sih?"
"Hah?" sahut Max. "Aluna siapa?"
Kevin menghela napas lelah mendengar pertanyaan Max.  "Aluna yang tadi kita omongin, Abang! Yang nyamperin Alaska tadi siang!" Kevin menunjuk ke satu arah yang langsung diikuti oleh Max, Aldo, dan juga Alaska.  "Eh, bener, woy! Itu Aluna!" Aldo histeris. "Ngapain tuh cewek di sini? Gaya rambutnya beda, lagi!"  Alaska sebenarnya juga terkejut dan penasaran. Ada urusan apa cewek itu di sini? Namun ia buru-buru menepis rasa penasarannya. "Nggak usah diributin. Lagian ini tempat umum."  Mendengar perkataan Alaska, Aldo dan yang lain langsung menutup mulut mereka rapat-rapat.  Deru suara motor menderu kencang dan saling beradu memenuhi salah satu sudut ibukota yang dijadikan arena balap dadakan oleh para ketua geng motor yang ingin bersenang-senang.  "Its been a long time!" seru Aluna, gadis itu menarik napas dalam. Beberapa kenangan menyerbu ingatannya membuat Aluna tersenyum kecil. "I really miss you," lirihnya, entah untuk siapa. Sejauh mata memandang hanya ada beberapa perempuan di tempat itu. Mungkin kurang dari sepuluh, sementara jumlah laki- lakinya mencapai 150 orang. Jika Aluna gadis normal sudah pasti ia akan ketakutan dan langsung pulang. Terlebih cowok-cowok yang berada di sana tidak semuanya cowok baik-baik. Namun ini Aluna, dia bukan gadis biasa. Gadis itu sama sekali tidak takut, ia malah tampak senang. Terlalu senang karena dapat kembali ke tempat ini setelah satu tahun absen.  Aluna malam itu terlihat cantik sekali. Sebuah dress kotak- kotak tanpa lengan menempel pas di tubuhnya. Agar tidak terlalu terbuka, Aluna memakai manset hitam serta sebuah jaket kulit berwarna senada. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai lurus, membuatnya terlihat sedikit berbeda. Aluna sengaja melakukan itu agar tidak ada yang dapat mengenalinya.  Para anggota balap liar malam ini sudah siap di tempat mereka masing-masing. Hanya tersisa dua space dan Aluna tahu salah satu tempat itu milik siapa.  Tak lama sebuah motor berwarna hijau mendekat. Mengisi tempat yang kosong. Aluna mengenali pemilik motor hijau itu sebagai Rizky, ketua geng yang menguasai daerah Jakarta Timur sekaligus salah satu cowok yang paling ingin mendapatkan Aluna. Sedang malas berurusan dengan Rizky, Aluna pun bergeser mencoba bersembunyi di balik kerumunan lelaki yang ada di sampingnya.  Aluna melirik jam yang tertera di layar smartphone-nya. 23.59. Hanya tinggal satu menit sebelum pertandingan dimulai namun orang yang ditunggu Aluna belum kelihatan juga.  Ke mana dia? Apa kabar itu cuma hoaks?  Aluna menggerak-gerakan kakinya gelisah. Sungguh di dalam lubuk hati yang terdalam Aluna berharap sekali jika kabar yang ia dengar beberapa waktu belakangan ini memang benar hanya berita bohong belaka. Dia nggak setega itu, kan? 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD