BAB 1 || DIBELI PRIA ASING
"AKU BILANG, JANGAN MENDEKAT! MENJAUH DARI KU, b******k!" teriak Kalana histeris.
Mengabaikan rasa sakit di kepalanya, ia melompat turun dari atas ranjang. Namun belum sempat ia berlari ke arah pintu, pria itu sudah lebih dulu mencengkram pergelangan tangannya, dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang.
"LEPAS! LEPASKAN AKU …!" jerit Kalana, histeris bukan main. Napasnya memburu, dadanya kembang-kempis oleh rasa panik yang merayap cepat di dadanya.
Dengan sekuat tenaga, ia meronta, memukul, mencakar, bahkan menendang pria itu. Namun apa daya, perbedaan fisik mereka yang terlalu jauh, membuat pria itu dengan mudah menyambar kedua tangannya, dan menguncinya kuat-kuat ke atas kepala.
“LEPASKAN AKU, b******k! TOLONG …!”
"Teriaklah sepuasmu, Cantik. Di tempat ini, tidak ada satu orang pun yang akan menolongmu," desis pria itu tepat di depan wajah Kalana.
Dengan mata yang semakin berkilat oleh nafsu gila, pria itu mulai merendahkan tubuhnya—mencoba untuk mencium paksa bibir ranum Kalana yang sejak tadi begitu menggodanya.
Kalana semakin histeris, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengelak dari bibir pria itu. Punggungnya menghantam ranjang berulang kali, kakinya menendang-nendang udara secara liar.
Rasa takut, jijik, dan panik menyatukan meremukkan jiwanya. Tangisnya pecah, tepat saat pria itu semakin berani membelai pahanya, meremas pinggulnya, dan menyingkap hampir seluruh pakaian bawahnya.
"TIDAK! JANGAN SENTUH, AKU! LEPASKAN AKU, b******k! LEPAS!"
Tepat saat pria itu akan mencoba untuk mencium bibirnya sekali lagi, Kalana dengan seluruh tenaga yang tersisa, mengayunkan kepalanya mengantam tepat ke hidung pria itu.
BRUGH!
“ARGHHH …!”
Pria itu mengerang kesakitan, dan refleks memegang hidungnya yang langsung mengucurkan darah segar. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Kalana mengayunkan kakinya menghantam s**********n pria itu, lagi-lagi dengan sekuat tenaga.
BRUGH!
"ARRGHHH …! b*****t!”
Pria itu kini benar-benar tumbang, dan jatuh tersungkur ke lantai dengan bunyi gedebuk keras. Tubuh gempalnya, menggelepar kesakitan di lantai.
Sementara Kalana, tanpa membuang waktu sedetik pun, ia langsung melompat turun dari ranjang. Kakinya yang gemetar hebat nyaris membuatnya terjatuh, namun adrenalin dan tekad untuk bertahan hidup memaksanya berdiri.
"b******k! DASAR JALANG, SIALAN!"
Mengabaikan teriakan pria itu, Kalana berlari sekencang mungkin keluar dari kamar tersebut. Sejujurnya ia sama sekali tidak tahu sekarang ada di mana. Tempat ini seperti club, tapi lebih kecil, lebih temaram, dan lebih kumuh.
Suara musik yang memekakkan telinga, kelap-kelip lampu disko yang memusingkan, serta pengunjung yang sibuk berjoget membuat pelariannya semakin kacau. Ia berulang kali menubruk tubuh orang-orang yang berpapasan dengannya, meminta maaf tanpa suara sambil terus berlari menerobos pintu keluar.
“TANGKAP JALANG ITU! JANGAN SAMPAI LEPAS!”
Begitu menginjakkan kaki di luar, Kalana langsung diburu oleh dua orang pria berbadan besar yang sepertinya adalah petugas kemanan di tempat hiburan itu. Ia terus berlari tak tentu arah.
Wilayah ini benar-benar asing untuknya. Sejauh kakinya berlari, ia hanya masuk ke dalam satu gang kecil, lalu keluar di gang kecil lainnya.
“WOY! JANGAN LARI LO, p*****r!”
Napas Kalana terengah hebat, jantungnya bertalu-talu, pandangannya rabun oleh air mata yang terus tumpah. Kakinya yang berlari tanpa alas kaki, mulai terasa sakit dan lecet. Tenaganya pun mulai habis. Namun, rasa takut menolaknya untuk menyerah.
Setelah sejak tadi hanya masuk gang dan keluar gang, Kalana akhirnya bisa bernapas lega saat bertemu dengan jalan raya. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri, ia nekat menyeberang jalan raya yang sudah tampak lengang.
Screeeeeeet!
Tiiiiiiiiiin!
Suara klakson panjang dan decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal memecah keheningan malam secara tiba-tiba. Cahaya lampu utama yang menyilaukan tepat menyorot ke wajah Kalana.
“Argh!”
Dalam sepersekian detik, tubuh Kalana kehilangan pijakan, dan berakhir terduduk di atas aspal. Mobil hitam itu berhenti mendadak, dengan bagian depan yang hanya berjarak beberapa jengkal saja dari tubuhnya.
Kalana lemas bukan main, dengan napas yang masih memburu hebat. Dan belum sempat ia bangkit, atau pulih dari rasa sypk, rambutnya tiba-tiba saja dijambak kasar dari belakang, hingga kulit kepalanya rasanya akan terkoyak.
“Argh ….” Kalana tersentak, tangannya refleks mencengkram pergelangan tangan wanita itu—berusaha melepaskan diri meski tenaganya sudah terkuras habis.
“MAU LARI KEMANA KAU, HAH?!! KAU PIKIR KAU BISA KABUR DARIKU?!”
“Argh … sakit! Lepas! Ku mohon tolong lepaskan aku.”
"Melepaskan mu? Yang benar saja. Aku sudah membelimu dengan harga yang sangat mahal, bodoh. Dan sudah menjadi tugasmu untuk melayani semua pelanggan VIP di rumah bordil ku!”
Tanpa mempedulikan Kalana yang bahkan belum sempat menyeimbangkan lutut untuk bangkit, wanita kejam itu kembali menarik rambutnya dengan beringas—menyeretnya kasar. Sekali lagi, Kalana mencoba mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melawan tarikan tersebut.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU! LEPASKAN AKU, SIALAN! LEPAS!” teriak Kalana histeris, meronta liar ke kiri dan ke kanan.
Ia menendang-nendangkan kakinya secara brutal, bahkan nekat menahan dirinya agar wanita itu kesulitan menyeretnya. Namun tindakannya itu hanya membuat wanita berambut pendek sebahu itu semakin murka.
PLAK!
Suara tamparan itu menggema tajam, meninggalkan sensasi panas dan perih yang langsung mendengung di telinga Kalana. Sudut bibirnya robek, mengeluarkan secercah darah segar yang amis.
"Berani sekali kau melawanku?!” bentak wanita itu, mencengkeram rahang Kalana dengan jemarinya yang berkuku panjang.
“Kau pikir kau siapa bisa menolakku, hah?! Kau hanya seonggok daging murah yang telah dijual oleh keluargamu sendiri!”
Kalana tertegun sejenak. Napasnya tercekat di tengah isakan. Keluarganya sendiri? Sekejap ingatan samar tentang satu persatu wajah keluarganya berkelebat di kepalanya, menghantam hatinya jauh lebih menyakitkan daripada pukulan di wajahnya.
“Sekarang pilihan hidupmu hanya dua,” lanjut wanita itu dengan suara berbisik mengerikan, mendekatkan wajahnya tepat di depan mata Kalana yang basah oleh air mata.
"Kau berjalan masuk ke dalam sana dengan kaki sendiri dan melayani tamu-tamuku dengan patuh, atau … aku pastikan malam ini juga akan menggorok lehermu, dan kubuang mayatmu ke laut, sampai tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang peduli atau mencari jalang sepertimu!"
Ancaman itu diucapkan dengan begitu tajam dan mengerikan. Kalana menatap mata wanita itu—mata penuh kebiadaban tanpa secercah pun hati nurani, dan ia tahu wanita itu tidak sedang main-main.
“Bawa dia!” titah wanita itu kepada dua anak buahnya.
Dua pasang tangan, merenggut lengannya dengan kasar. Kalana sudah kehilangan sisa tenaga untuk melawan. Pandangannya kabur, tertutup air mata yang terus bercucuran di pipinya yang memar.
"Berapa harganya?"
Di tengah rasa pasrah yang mendera d**a Kalana, tiba-tiba sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan tenang, mengiris kesunyian malam. Atensi semua orang tak ayal langsung berpindah.
Suara itu datang dari arah mobil hitam yang nyaris menabrak Kalana tadi. Pintu depan mobil mewah berbalut kaca gelap itu terbuka perlahan.
Sepatu pantofel kulit hitam mengkilap, disusul oleh sosok pria berpostur tinggi tegap, mengenakan setelan jas hitam formal—turun dari dalam mobil tersebut. Wajahnya separuh terhalang bayangan malam, namun garis rahangnya yang tegas dan sorot mata tajamnya langsung memancarkan aura d******i yang membuat siapa pun yang melihatnya otomatis menahan napas.
“Siapa kau?”
Wanita pemilik rumah bordil itu menyipitkan mata—meneliti penampilan sang pria dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Jawab saja pertanyaanku,” balas pria itu, dengan suara dingin yang mencekam.
“Memangnya kau berani bayar berapa, hm?” tanya wanita pemilik rumah bordil itu, dengan dagu terangkat naik, dan bibir mengulas senyum miring. “Gadis ini barang baru di tempat kami, dia bahkan masih perawan.”
Pria kaya itu tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju perlahan, mendekati Kalana yang terduduk lemas di aspal. Ia kemudian berjongkok, mengulurkan tangannya membelai ringan pipi Kalana—memaksa wajah pucat tersebut mendongak agar netra mereka bertemu.
Jari-jemari pria itu terasa dingin namun kokoh, menahan setiap perlawanan kecil yang coba Kalana berikan. Sentuhannya tidak kasar, tapi cukup tegas—seolah dia sedang menilai kualitas barang berharga yang sebentar akan menjadi miliknya.
"Uang bukan masalah bagiku," ucapnya, terpaku lurus ke dalam mata Kalana yang bergetar hebat penuh ketakutan.
“Aku bayar sepuluh kali lipat, tapi dia jadi milikku.”
-oOo-