RANIA

1228 Words
Pagi harinya Lita terbangun duluan. Dia menatap temannya yang masih tertidur lelap lalu berjalan menuju ke kamar mandi kemudian mencuci wajahnya dan gosok gigi. Setelah itu dia langsung berjalan menuju ke lantai bawah. Dia mencium aroma masakan lalu menghampiri aroma tersebut, Ternyata papanya sedang membuat sarapan. "Sudah bangun girl?" Tanya Gilang basa basi. "Sudah." Ucap Lita. "Teman kamu?" Tanya Gilang. "Belum, kayaknya Rania kemarin begadang sambil chatting sama pacarnya." Ucap Lita. Gilang mengangguk lalu tersenyum. Kemudian dia melanjutkan acara masaknya. Tak lama Rania turun dengan perlahan dan keadaan sudah segar, karena sudah mandi. "Pagi semuanya." Ucapnya sambil tersenyum. Lita langsung menatap Rania. "Jalan kamu kenapa Ran? Kok agak aneh gitu." Ucap Lita. Rania mendengus kesal mendengar ucapan Lita. Sedangkan Gilang menahan tawanya. "Kamar mandi kamu udah lama gak dibersihin ya? Aku kepleset disana pas mandi tadi, mana pantatku duluan yang jauh ke lantai. Terus pinggangku nyeri banget gara gara kepentok bathtub." Jelas Rania. Tawa Lita menggelegar di rumahnya. "Mana coba sini aku liat siapa tau ada memar." Ucap Lita sambil menyingkap bajunya Rania. "Eh gak usah, nanti aku obatin sendiri." Ucap Rania sambil menahan bajunya. Dia tidak mau Lita tau kalau ada banyak tanda yang di berikan Gilang di tubuhnya. Gilang semalam Sangat kasar, sampai dia kewalahan mengimbangi permainan Gilang. Gilang membawa tiga porsi nasi goreng buatannya di atas meja makan. Kemudian dia duduk di samping Rania dan mereka bertiga mulai memakan sarapannya. "Kalian gak kuliah?" Tanya Gilang. "Ada, tapi kelasnya sore." Ucap Lita. Gilang mengangguk lalu menatap kesampingnya. "Kamu mau pulang habis ini?" Tanya Gilang. "Eh, enggak om. Aku mau nyuci baju Lita yang beberapa hari ini aku pakai." Ucapnya. "Kenapa kamu yang nyuci? kan udah ada asisten rumah tangga yang nanti cuci bajunya." Ucap Gilang. "Udah aku bilangin gitu pa, tapi Rania ngeyel banget mau nyuci baju aku." Ucap Lita malas. "Tapi kan aku gak enak. Pokoknya aku mau nyuci, titik!" Ucapnya. Gilang menganggukkan kepalanya. Kalau kekasihnya sudah begini, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. "Kalau papa gak ke kantor?" Tanya Lita. "Gak, mau istirahat dulu. Lagian papa yang punya perusahaan jadi terserah papa lah mau ke kantor apa enggak." Ucap Gilang. Rania mendengus mendengar ucapan Gilang. Kekasihnya selalu saja begini, mentang mentang dia yang punya perusahaan. Lita mengangguk. "Yaudah, papa di temenin Rania di rumah ya. Soalnya aku mau pergi." Ucap Lita. "Pergi kemana?" Tanya Gilang. "Ada rapat organisasi gitu dan aku suruh datang pagi ini." Ucap Lita. Gilang mengangguk saja. Nah gitu dong anaknya pergi, dia kan bisa berduaan dengan kekasihnya. Setelah Lita pergi beberapa menit yang lalu, Di rumah ini hanya ada Gilang dan Rania. Rania sibuk mencuci di ruang cucian sedangkan Gilang tidak tau kemana yang pasti dia berada di rumah mewah ini juga bersamanya. Sedang sibuk bermain ponselnya sambil menunggu cuciannya, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Dia tidak kaget lagi pasti yang memeluknya saat ini Gilang. Gilang mendusalkan wajahnya di perpotongan leher kekasihnya dan mengecupnya pelan. "Mana yang sakit? Katanya habis jatuh di kamar mandi." Ucap Gilang sambil tertawa. Rania membalikkan badannya menghadap Gilang lalu mendengus kesal. "Terus aku harus bilang kalau aku habis main sama papanya, gitu?" Tanyanya kesal. Gilang terkekeh lalu memeluk pinggang kekasihnya kemudian mencium bibir yang menjadi candunya beberapa tahun ini. Rania membalas ciuman kekasihnya sambil mengalungkan tangannya ke leher Gilang, setelah puas berciuman Gilang melepaskan tautan mereka. "Maaf kalau aku terlalu kasar. Tapi bukannya kamu selalu suka permainan aku yang kasar?" Tanya Gilang sambil tersenyum miring. Rania menatap Gilang lalu mengelus wajahnya, kekasihnya ini benar benar sangat tampan walaupun dia sudah berumur lebih dari kepala tiga. lalu mengecup bibir Gilang lagi. Gilang Sangat menyukai tatapan yang di berikan kekasihnya ini, tatapannya teduh menyiratkan banyak sekali kasih sayang untuknya. Hanyut dalam tatapan saling memuja mereka berdua tanpa sadar menyatukan kembali bibir mereka. Ciumannya sekarang sangat mesra dan di penuhi oleh kasih sayang tanpa ada nafsu di dalamnya. Mereka berdua melepaskan tautan mereka kemudian mereka sama sama tersenyum manis. Setelah kegiatan mencucinya selesai, mereka berdua sedang berada di ruang keluarga sedang menonton film yang tadi Gilang putar. Rania menyamankan dirinya di pangkuan Gilang, sedangkan Gilang memeluk pinggang kekasihnya posesif. "Lita udah curiga kalau mas udah punya pacar." Ucapnya tiba-tiba. "Terus?" Tanya Gilang. "Dia gak masalah kalau mas punya pasangan lagi, tapi dia takut kalau pasangan mas nanti hanya memanfaatkan harta mas aja dan gak mau Nerima dia sebagai anaknya." Ucapnya. "Kamu terima Lita gak kalau seandainya kita menikah?" Tanya Gilang. "Aku udah anggap kalian kayak keluarga aku sendiri, jadi aku pasti terima Lita. Tapi aku takut kalau nanti malah Lita yang gak terima aku jadi ibu sambung dia dan Lita bakal kecewa sama aku gara gara aku ada hubungan sama papanya." Ucapnya pelan. "Selama ini dia selalu nanya tentang siapa pacar aku, aku pengen banget ceritain tentang kamu ke Lita. Tapi balik lagi aku takut kalau nanti Lita kecewa sama aku dan malah jauhin aku. Karena Lita teman yang terima keadaan aku apa adanya. Lita terlalu baik, jadi aku takut kecewain dia." Ucapnya lagi. Gilang memeluk erat kekasihnya, mengucapkan kata penenang. Karena dia tau sekali kehidupan yang di jalani wanita yang ada di pelukannya ini sebelum dan sesudah bertemu dengannya. "Di satu sisi aku gak mau kecewain Lita tapi disisi lain aku sayang dan cinta sama kamu. Boleh aku egois untuk hal ini?" Tanyanya sambil menatap Gilang. Gilang tersenyum lalu menatap kekasihnya kemudian mengelus wajahnya. "kamu sesekali harus egois dan kamu berhak bahagia dengan pilihan kamu sendiri." Ucap Gilang. "Kalau gitu, boleh aku selamanya sama kamu?" Tanyanya lagi. "Boleh." Ucap Gilang. "Tapi Lita?" Tanyanya pelan. "Kita kasih tau Lita pelan pelan ya, kalau dia gak terima kamu. Aku bakalan tetap nikahin kamu apapun keadaannya dan paksa Lita buat terima kamu sebagai ibu sambungnya." Ucap Gilang santai. Rania mendengus mendengar ucapan Gilang lalu memukul bahu Gilang keras. "Gak usah aneh aneh deh!" Ucapnya kesal. Gilang tertawa melihat ekspresi kesal kekasihnya lalu mulai mencium kekasihnya lagi. Rania tentu saja membalas ciuman Gilang, karena mereka kalau Sudah bersama pasti akan terus berciuman dan berakhir di atas ranjang. Mereka berdua masih sibuk berciuman, tapi telinga Rania mendengar kalau mobil Lita sudah kembali. Lalu dia buru buru melepaskan tautan mereka. "Kenapa?" Tanya Gilang kesal. "Lita udah pulang." Ucapnya santai lalu bangkit dari pangkuan Gilang dan duduk agak Jauh dari Gilang. Gilang mendengus kesal, anaknya benar benar mengganggu quality timenya dengan kekasihnya. Dan benar tak lama pintu utama terbuka menampilkan Lita yang sedang tersenyum senang. "Aku pulang!" Teriaknya lalu berjalan menuju ke ruang keluarga. "Bentar banget keluarnya." Ucap Gilang tanpa menatap anaknya. "Lama loh, ini udah hampir siang malah." Ucap Lita. "Iya iya." Ucap Gilang malas. Moodnya turun drastis karena di ganggu anaknya. "Sayang, kamu gak di godain kan sama papaku?" Tanya Lita setelah duduk di samping Rania dan menidurkan kepalanya di paha Rania. Rania menatap Lita aneh, sedangkan Gilang menatap datar kedua orang itu. "Gak usah aneh aneh deh, aku barusan baikan sama papa kamu. Malah kamu bikin aku musuhan lagi sama dia." 'dan dengan kamu ngomong kayak gitu, nanti aku bakalan gak bisa jalan selama berhari hari.' Sambungnya dalam hati. "Iya iya." Ucap Lita cemberut. "Kalian berdua beneran pacaran?" Tanya Gilang. "Iya! / Gak!" Ucap Mereka berbarengan. "Gak ya! Kan aku udah bilang kalau aku udah punya pacar!" Ucap Rania sewot. "Tapi kan pacar kamu gak ada disini, jadi kamu pacaran aja sama aku." Ucap Lita Santai. "ASAL KAMU TAU YA PACAR AKU ITU PAPA KAMU!!!" Ucap Rania dalam hati ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD