DADDY
Mobil Lita melaju menuju bandara untuk menjemput papanya. Selama perjalanan mereka berdua Hanya diam saja, Rania yang sibuk mengemudi kan mobil Lita sedangkan Lita melihat ke luar jendela.
"Ran menurut kamu, aku harus beli bunga gak untuk menyambut kepulangan papa?" Tanya Lita.
Rania menatap ke arah Lita lalu menatap ke depan lagi.
"Gak usah lebay deh, papa kamu kan cuma lima hari di luar negeri bukan lima tahun." Ucap Rania malas.
"Kok kamu tau sih papa aku ke luar negeri cuma lima hari?" Tanya Lita.
Rania memutar bola matanya malas.
"Kan kamu yang ngasih tau aku lewat chat goblok." Ucapnya.
"Ah iya, aku lupa hehe." Ucap Lita sambil tersenyum canggung.
Rania mencibir kelakuan Lita.
Mobilnya berhenti di parkiran bandara, Mereka berdua langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke bandara.
"Papa kamu sama siapa kesananya?" Tanya Rania.
"Sama sekretarisnya kali, aku juga gak begitu tau sih." Ucap Lita acuh.
Rania mengangguk paham. Mereka berdua menunggu di depan pintu kedatangan.
"Lama banget sih papa kamu, aku pegel tau gak." Ucap Rania sambil berjongkok.
Karena sudah capek berdiri, dia berjongkok saja. masa bodo dia diliatin orang lain dikira aneh yang penting dia gak capek.
"Aku gak tau juga Ran." Ucap Lita sambil mengikuti Rania yang berjongkok.
"Sedang apa kalian disitu?"
Mendengar suara yang familiar itu, sontak Lita dan Rania langsung mendongak.
"Papa!" Ucap Lita senang lalu bangkit kemudian memeluk papanya.
"Aku sama Rania udah nunggu papa lama banget disini udah kayak gelandangan. Mana kita juga laper banget lagi." Ucap Lita mengadu kepada papanya.
"I'm so sorry about that, tadi ada kendala waktu disana jadi penerbangan kami di tunda sebentar." Ucap papanya.
"Alasan, papa bawa oleh oleh gak?." Tanya Lita.
"Ada kok, itu dibawa Azka." Ucap papanya.
Lita langsung menatap sekretaris papanya, Lita langsung menghampirinya.
Rania yang hanya memperhatikan saja lalu menghampiri papanya Lita.
"Halo om Gilang, selamat datang di negara ini lagi." Ucap Rania basa basi.
Dari pada dia dianggap tidak kasat mata lebih baik dia menyapanya, walaupun rada aneh sapaan yang di ucapkannya. Papanya Lita langsung menatap ke arah Rania.
"Oh ternyata ada kamu, saya gak liat kamu dari tadi dan kirain saya kamu gak jadi ikut." Ucap Gilang, papanya Lita.
Rania mengangguk saja lalu tersenyum. Walaupun papanya Lita ini tampan tapi menurutnya papanya Lita ini adalah sosok yang sangat menyebalkan.
"Ayo kita pulang." Ucap Gilang.
Mereka bertiga mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya Lita.
"Papa kita makan dulu kan, papa udah janji mau traktir aku sama Rania." Ucap Lita sambil menengok ke arah papanya yang ada di belakang.
"Iya terserah kamu mau makan dimana, bilang sama Azka saja." Ucap Gilang.
"Oke!" Ucap Lita senang.
Azka yang sedang mengemudi mengelengkan kepalanya, sedangkan Rania memutar bola matanya malas melihat tingkah absurd Lita. Dia menyenderkan kepalanya di jendela mobil sambil melihat ke luar.
Selama perjalanan hanya ada celotehan Lita dan Azka di bangku depan sedangkan di bangku belakang hanya ada keheningan. Gilang membuka jas yang di pakainya lalu menggulung kemejanya hingga siku. Rania melirik apa yang dilakukan oleh orang disebelahnya, lalu balik menatap ke luar.
Mobilnya berhenti di depan restoran yang Lita sukai. Lalu mereka berempat keluar dan berjalan menuju ke dalam restoran. Mereka duduk di salah satu meja dan memesan makanan untuk mereka semua.
"Papa aku boleh tanya gak?" Tanya Lita sambil menatap papanya yang ada di depannya.
"Boleh." Ucap Gilang.
"Aku boleh pacaran gak pa?" Tanya Lita.
Yang ada di meja itu langsung menatap Lita sepenuhnya.
"Gak boleh." Ucap Gilang singkat.
"Kenapa gak boleh? Aku kan udah besar pa!" Ucap Lita tidak terima.
"Tetep gak boleh." Ucap Gilang.
"Alasannya?" Tanya Lita.
"Gak ada alasan." Ucap Gilang.
Lita mendengus mendengar ucapan papanya.
"Tapi kan pa, aku udah pacaran nih sama Rania, jadi gimana dong?" Tanya Lita.
Mereka bertiga terkejut mendengar ucapan Lita. Apalagi Rania, kan dia kemarin hanya bercanda lagi pula Lita juga sudah tau kalau dia sudah punya kekasih.
"Kamu pacaran sama dia?" Tanya Gilang lalu menunjuk orang di sampingnya.
"Iya. Soalnya kata Rania, Rania itu cantik banget jadi papa pasti ngebolehin, gak bakal ngelarang." Ucap Lita.
Azka menahan tawanya melihat wajah masam milik atasannya, dia tau sekali tentang asmara atasannya ini. Sedangkan Rania mengusap tengkuknya canggung.
"Benar kamu bilang begitu kepada anak saya?" Tanya Gilang sambil menatap Rania.
"Eh iya om. Tapi benaran, saya cuma bercanda bilang kayak gitu dan saya gak pacaran sama Lita!" Ucap Rania panik.
"Tapi Ran, kan kamu yang nawarin aku mau jadi pacar kamu apa gak." Ucap Lita.
"Eh jangan gitu dong Lita, kamu mau aku kena marah sama papa kamu! Aku kan cuma bercanda!" Ucap Rania sewot.
"Tapi kan--" Ucapan Lita terhenti.
Karena makanan yang di pesan mereka sudah datang.
"Ayo kita makan dahulu sebelum melanjutkan pembicaraan ini." Ucap Azka.
Mereka semua mengangguk kecuali Gilang, lalu mulai memakan makanannya dalam diam. Setelah makan malam mereka berempat langsung keluar dari restoran dan pulang.
"Tuan, itu apartemenku." Ucap Azka sambil menunjuk gedung apartemennya.
Gilang mengentikan mobilnya di depan gedung apartemen itu dan Azka langsung keluar dari mobil dan mengambil kopernya di bagasi.
"Terima kasih tuan." Ucap Azka lalu membungkuk dan tersenyum.
Gilang mengangguk. Azka membungkukkan badannya sekali lagi dengan sopan lalu berjalan menuju apartemennya.
"Lita pindah ke depan, papa bukan supir kalian." Ucap Gilang sambil melihat ke belakang lewat spionnya.
"Rania pindah ke depan sana, aku mau tidur disini." Ucap Lita.
Rania mendengus mendengar ucapan Lita lalu keluar dari mobil dan pindah duduk disamping papanya Lita.
"Pakai sabuk pengamannya." Ucap Gilang.
Rania mengangguk lalu memakai sabuk pengamannya. Gilang langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Selama perjalanan hanya ada keheningan, Lita yang ada di belakang sudah tertidur.
"Sampai kapan mau nginep di rumah?" Tanya Gilang membuka percakapan.
"Cuma sampai hari ini kok om, soal nya om kan udah pulang." Ucap Rania sambil menatap ke jendela mobil.
Gilang mengangguk lalu menatap Lita yang masih tertidur di belakang, lalu sebelah tangannya menggenggam tangan Rania dengan erat dan mengecupnya berulang kali.
"Mas kangen banget sama kamu." Ucap Gilang sambil menatap Rania.
Lalu menatap lagi ke depan tanpa melepaskan genggaman tangannya. Rania tersenyum mendengar ucapan Gilang.
"Aku juga, kenapa gak bilang mau pulang sekarang? Aku kaget banget kemaren mas telpon Lita kalau mau pulang." Ucapnya pelan.
"Tadinya mau kasih surprise kamu, tapi kamunya lagi sama Lita. Yaudah aku bilang aja." Ucap Gilang lalu mengecup tangan yang ada di genggamannya lagi.
Rania memutar bola matanya malas mendengar ucapan kekasihnya. Ya, Gilang adalah kekasihnya selama tiga tahun belakangan ini. Dia mengenal Gilang jauh sebelum dia bertemu dengan Lita dan menjadi temannya, karena dia berteman dan bertemu Lita ketika dia awal masuk kuliah. Sedangkan dia kenal Gilang ketika berada di tingkat dua sekolah menengah atas dan resmi menjadi kekasih ketika dia berada di tahun terakhir sekolah menengah.
Awalnya dia tidak tahu kalau Lita adalah anak dari Gilang tapi setelah dia berkunjung ke rumah Lita untuk mengerjakan tugas kelompok, dia baru tau kalau kekasihnya adalah ayah dari temannya.
Dia tidak marah sih ketika mengetahui fakta itu. Karena Gilang pernah bilang waktu sebelum pacaran, kalau dia mempunyai seorang putri yang seumuran dengannya.
Dia juga tidak mempersalahkan soal itu, lagipula usia dia dan Gilang hanya terpaut 12 tahun. Dan soal Lita, dia bukan anak kandung Gilang tetapi Lita adalah anak kandung dari kakak perempuan Gilang yang sudah meninggal karena kecelakaan bersama suaminya ketika Lita masih kecil.
Jadinya Gilang memutuskan untuk merawat keponakannya dan menganggapnya seperti anaknya sendiri.
Mobilnya berhenti di depan rumah mewahnya. Gilang melepaskan genggaman tangannya lalu turun dari mobil. Rania membangunkan Lita untuk pindah ke kamarnya.
"Woi, bangun udah sampe." Ucap Rania sambil menggoyang goyangkan tubuh Lita brutal.
Lita merasa terganggu lalu perlahan ia membuka matanya. Lalu berjalan keluar menuju ke kamarnya dengan mata yang mengantuk.
Gilang melihat putrinya lalu mengelengkan kepalanya, kemudian dia mengeluarkan kopernya dan merangkul pinggang kekasihnya masuk ke rumahnya. Mereka berdua menaiki tangga menuju ke lantai dua tempat kamar Lita dan kamar Gilang.
"Mas tunggu di kamar sayang." Ucap Gilang sambil mengecup bibir kekasihnya.
Lalu berjalan menuju ke kamarnya sambil menyeret kopernya. Rania tersenyum menatap punggung Gilang yang menjauhinya lalu berjalan menuju ke kamar Lita.
"Ganti baju dulu, baru tiduran." Ucap Rania ketika melihat Lita yang langsung tiduran di atas ranjang.
"Aku capek banget Ran." Rengeknya.
Rania mendecih lalu membantu Lita membuka sepatunya lalu berjalan menuju ke lemari dan mengambil piyama untuknya dan untuk Lita. Lalu dia melempar kan piyamanya ke wajah Lita.
"Ganti baju dulu sana." Ucapnya.
Lita mendengus lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk Mengganti pakaiannya.
Sedangkan Rania Mengganti piyamanya di dalam kamar itu. Setelah itu dia membereskan baju kotornya lalu menaruhnya di keranjang cucian kotor, besok dia akan mencuci bajunya.
Selagi menunggu Lita dia tiduran diatas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Tak lama Lita keluar dari kamar mandi lalu Langsung tiduran di samping Rania dan memakai selimutnya.
"Aku tidur duluan ya Ran, good night." Ucap Lita.
"Hmm, good night too." Ucap Rania.
Dua puluh menit kemudian dengkuran halus terdengar dari Lita. Rania langsung memeriksa apakah Lita udah benar benar tertidur atau tidak, setelah terbukti Lita tertidur dia mengelus rambut Lita pelan, lalu mencium kening Lita.
"Good night my daughter." Ucapnya sambil tersenyum manis.
Lalu dia beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju ke kamar Gilang. Perlahan dia membuka pintu kamarnya Gilang dan menguncinya, dia menatap sekitar mencari keberadaan kekasihnya. Lalu dia melihat kalau Gilang berada di balkon dan dia langsung menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Mas." Ucapnya pelan.
Gilang membalikkan badannya lalu mengendong kekasihnya, kemudian berjalan menuju ke sofa yang ada di kamarnya dan mendudukkan dirinya disana dengan kekasihnya yang ada di pangkuannya.
"Mas kangen banget sama kamu." Ucap Gilang sambil mengecup bibir kekasihnya pelan.
"Mas udah bilang tadi." Ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi mas beneran kangen sama kamu." Ucap Gilang lalu mencium bibir kekasihnya.
Rania menahan tengkuk Gilang dan membalas ciuman kekasihnya. Gilang meremat pinggang ramping kekasihnya dan memasukkan tangannya kedalam piyama yang di pakai kekasihnya.
Desahan keluar dari bibir kekasihnya. Kemudian Gilang melepaskan ciumannya yang membuat kekasihnya menghirup udara banyak banyak. Gilang mengelap jejak Saliva di sudut bibir kekasihnya.
"Maksud kamu ngomong kayak gitu ke Lita apa?" Tanya Gilang sambil menatap Rania yang ada di pangkuannya.
"Ya ampun, kan aku udah jelasin tadi kalau aku cuma bercanda aja loh mas. Cemburuan banget sih jadi orang." Ucapnya malas.
"Ya harus lah, aku kan cinta sama kamu. Wajar dong kalau aku cemburu." Ucap Gilang.
"Bilang cinta terus tapi gak tau kapan mau nikahin aku." Gumamnya pelan.
"Kamu mau mas nikahin? Ayo besok kita menikah!" Ucap Gilang.
Rania memukul bahu Gilang keras.
"Gak gitu juga ih!" Ucapnya kesal.
"Tuh kan, selama ini yang nunda nunda untuk nikah itu kamu. Kalau mas sih udah pasti siap mau nikahin kamu kapan aja. Mau nikah sekarang juga mas udah siap." Ucap Gilang.
Rania memutar bola matanya malas.
"Kita udah pernah bahas ini, udahlah gak usah di bahas sekarang. Pasti mas capek banget." Ucapnya sambil memijat bahu Gilang.
"Kamu duluan yang bahas tentang itu." Ucap Gilang sambil memejamkan matanya, menikmati pijatan dari kekasihnya.
Tangan nakal Rania membuka piyama yang di pakai Gilang, sedangkan Gilang hanya memperhatikan apa yang di lakukan oleh kekasihnya. Setelah membuat Gilang bertelanjang d**a, tangannya bergerak mengelus tubuh atletis milik Gilang.
Gilang yang merasa di goda langsung bangkit dari duduknya kemudian membanting tubuh kekasihnya di atas ranjang lalu menindihnya.
"Mas harus menghukum kekasih mas yang nakal ini." Ucap Gilang sambil membuka piyama yang di pakai Rania.
"Mas, mending jangan sekarang deh weekend aja. Nanti takut Lita dengar kegiatan kita." Ucapnya sambil menahan tubuh Gilang.
Gilang berpikir sejenak.
"Ide yang bagus, nanti weekend mas ke apart kamu." Ucap Gilang.
Rania mengangguk sambil tersenyum ke arah Gilang.
"Tapi mas pinginnya sekarang. Lagi pula kamu lupa kalau kamar ini kedap suara, jadi kamu bebas mau desah sekuat apa pun." Ucap Gilang sambil menyeringai.
Lalu dia mencium bibir kekasihnya penuh nafsu. Rania langsung membalas ciuman Gilang, karena dia juga merindukan kekasihnya yang pergi selama lima hari ini. Dan malam itu terjadi pergumulan panas antara sepasang kekasih yang sedang melepas rindunya.
***