11. KINAN UDAH TAKEN

1669 Words
Monstera Cafe. "Gila aja Alaska, masa lebih mentingin ke basecamp daripada nemenin lo di rumah," ujar Ava tidak terima. "Tau, gaada tanggung jawabnya banget jadi cowok," timpal Zoya ikut-ikutan. "Punya nyawa berapa lo Zoy ngomong kaya gitu. Kalo Alaska denger aja, tau rasa lo!" kata Kinan santai. Zoya menyengir dengan watadosnya. "Hehe, kebawa suasana aja gue tadi." Dinda berdecak mendengarnya. "Ck. Gapapa kali Nan, yang dibilang Zoya tadi bener juga. Alaska itu gak punya tanggung jawab jadi cowok. Egois, maunya menang sendiri." "Gue juga cuma ngingetin doang. Takutnya Alaska denger. Kalo yang ngomong kaya gitu lo sih, gue yakin Alaska sabar-sabar aja. Tapi kalo Zoya," jeda Kinan membuat Zoya ketar-ketir ditempatnya. "Bisa-bisa dipermaluin kaya Nayya kemarin atau bahkan dibully." Zoya kicep. Bibirnya kelu untuk berucap. Dia takut apa yang diucapkan Kinan tadi terjadi. Dinda menoleh melihat Zoya yang sedang ketakutan. Gadis itu menghembuskan napas pelan. "Gak usah khawatir gitu Zoy. Ada gue disini," ujar Dinda menenangkan. Memangnya, Alaska semenakutkan itu? Sampai-sampai Zoya ketakutan seperti ini? "Udah-udah, ngapain jadi bahas Alaska coba. Mendingan kita have fun," Ava mengangkat gelas minumannya keudara. Untuk bersulang. Keempat gadis bersahabat ini nampak sangat bahagia. Beruntungnya Dinda mempunyai mereka. "Nan! Denger-denger, lo baru aja pacaran sama anak kelas sebelah. Beneran emangnya?" tanya Ava membuat Zoya dan Dinda langsung menoleh menatap Kinan dengan tatapan mengintimidasi. Kinan tersenyum malu mendengarnya, gadis itu lalu mengangguk. "Traktiran!!" seru Ava dan Zoya heboh. Kinan menghembuskan napas kasar. Sudah diduga! Mereka pasti akan menguras habis dompetnya malam ini. Sial! "Kinan mah gitu, diem-diem udah jadi aja," ujar Zoya. "Lo nya kapan Din, PDKT mulu perasaan. Jadian kaga," celetuk Ava membuat Dinda berdecak sebal. "Ck. Ledekin gue aja terus," kesalnya. Dinda beralih memainkan ponselnya, dia mendapati beberapa pesan dari Alaska. AlaskaDamaresh: Tidur! AlaskaDamaresh: Udah malem! LadindaAgatha: Siapa juga yang bilang ini pagi LadindaAgatha: Kalo pagi juga gue pasti sekolah sekarang Dinda mendongak menatap satu per satu sahabatnya. Mereka sama sepertinya, sibuk dengan ponsel masing-masing. Bedanya, mereka pasti sedang chattingan dengan pacarnya. Sedangkan Dinda? Dia chattingan dengan Alaska, gebetannya. Eh, boleh tidak sih Alaska di sebut sebagai gebetan Dinda? Dinda beralih kembali pada ponselnya. Gadis itu tidak lagi chattingan dengan Alaska, melainkan dengan Arka. LadindaAgatha: Kapan pulang? BangArka❤️: 5 bulan lagi kali BangArka❤️: Ini aja Bang Arka sama Bang Eric dapet tugas tambahan LadindaAgatha: Lah? LadindaAgatha: Kok gitu BangArka❤️: Mana tau BangArka❤️: Maklum lah dek, mahasiswa semester akhir ya gini BangArka❤️: Baek-baek lo sama Alaska LadindaAgatha: Yayaya Dinda mendengus kesal. Tidak tau apa? Dinda ini rindu berat dengan kakak kesayangannya ini. Mata Dinda beralih melihat jam tangannya. Pukul 10 malam. "Guys, pulang kuy. Udah malem banget," ujar Dinda membuat perhatian teman-temannya langsung terfokus padanya. "Boleh deh, ini Jericho juga udah mau jemput gue katanya," balas Zoya. "Iya, Gibran juga," timpal Ava. "Kalo lo Nan? Pacar lo juga mau jemput lo?" "Kaga Din, Roni lagi belajar buat ulangan hariannya besok," ujar Kinan menyebut nama pacarnya. "Wah, kayanya. Roni bakalan jadi cowok yang paling waras diantara Jericho sama Gibran nih," ujar Zoya yang diangguki Ava. "Tumben gak bawa-bawa Alaska?" tanya Kinan. "Kapok kapten!" Dinda, Ava, Zoya dan Kinan tertawa setelahnya. "Yaudah, gue duluan deh. Bye! Makasih udah nemenin malam gue yang penuh dengan kesunyian ini," Dinda berdiri kemudian beranjak keluar. *** Mata Dinda tetap terjaga. Padahal sekarang sudah pukul 3 pagi. Namun Alaska belum juga pulang. Tolong jangan berpikir bahwa Dinda belum tertidur karena menunggu Alaska pulang. Karena kenyataannya, Dinda hanya mengalami insomnia. Beberapa menit setelahnya, terdengar pintu rumah terbuka. Sepertinya, itu adalah kelakuan Alaska yang baru saja pulang. Dan benar saja, Dinda mendengar suara langkah kaki yang masuk ke dalam kamar sebelahnya. Dinda berdecak pelan. "Ck. Udah gue duga, pasti tuh anak pulang pagi lagi." Disisi lain, Alaska menghempaskan tubuhnya di kasur miliknya. Tubuhnya terasa sangat lelah sekarang. Sebenarnya, Alaska berniat untuk pulang lebih awal. Namun, Alaska masih terasa berat untuk meninggalkan basecamp. Lagipula, disana juga dia sedang merundingkan masalah yang paling penting di hidupnya bersama dengan teman-temannya. Lebih tepatnya, dia meminta saran. Walaupun Alaska sudah sangat lelah. Namun mata cowok itu tak kunjung tertutup. Dia malah menatap langit-langit kamarnya. "Semuanya akan segera berawal dari sini," gumamnya. *** Alaska dan Dinda baru saja tiba di sekolah. Kedua remaja ini langsung pergi ke kantin, tidak ke kelasnya. Kenapa? Karena mereka belum sarapan. Sesampainya mereka di kantin. Mereka langsung saja menuju bangku tempat dimana biasanya anggota Avender berada. Ternyata, disana sudah ada Galen, Anjas, Satya, Ken dan Idrus. Dimana Bian? Apa cowok itu belum datang? Jawabannya sudah. Tapi cowok itu sedang mencari mangsa baru lagi. Mangsanya kali ini adalah adek kelas. "Din, lo mau pesen apa?" tanya Alaska. "Nasi uduk aja gue." "Kalo gue jus jambu aja boleh," sahut Ken membuat Alaska mendelik. "Pesen sendiri lo!" "Lah? Kan sekalian, masa Dinda dipesenin gue kaga." "Ya lo nya jangan iri sama Dinda," ujar Galen menoyor pelan kepala Ken. "Woi! Kenapa lo hobi banget noyorin kepala gue sih. Ternista gue kalo gak ada Bian," amuk Ken. "Wah jahat lo. Ternyata Bian selama ini lo jadiin umpan," Idrus menggeleng sembari menunjuk Ken. "Mulai deh dramanya," Alaska, Galen, Anjas, Satya dan Ken berucap serempak. Idrus menggaruk belakang kepalanya cengengesan. Alaska berlalu menuju stand kantin untuk memesan makanannya dengan Dinda. Sungguh, ini pertama kalinya Alaska rela mengantri demi seorang gadis. Walaupun hari ini masih pagi, namun sepertinya banyak siswa-siswi yang belum sarapan. Terbukti dengan adanya antrian yang lumayan panjang. Ingin rasanya Alaska menerobos kedepan. Namun, suara Dinda seakan mengintrupsinya sekaligus menyemangatinya untuk tetap antri. "Jangan nerobos antrian Aska. Inget, budayakan antri. Semangat!!" teriak Dinda setelah mendapatkan masukan dari Ken. Ken memang baru saja memberitahu Dinda kalau Alaska paling tidak suka sekaligus tidak bisa kalau disuruh untuk mengantri. Oleh karena itu, Ken memberi saran Dinda agar menyemangati Alaska yang sedang mengantri. Memang terkesan sangat lebay. Tapi seperti itulah Alaska. Alaska tersenyum di barisan antrian tersebut. Entahlah, sepertinya Dinda memang penyemangat untuk Alaska. Setelah kurang lebih 10 menit mengantri. Akhirnya, satu nampan berisi 2 nasi uduk dan 2 air mineral berhasil Alaska beli. Melihat itu, Dinda menyunggingkan senyum senangnya. Perlakuan kecil Alaska mampu membuat Dinda senang. Mungkin karena perlakuan kecil ini belum pernah Alaska berikan untuk gadis lain. Jadi, Dinda hanya merasa bahwa Dinda adalah gadis beruntung yang bisa merasakan perlakuan kecil yang sangat manis dari seorang Alaska Damaresh. Tak lama, Dinda sudah selesai dengan acara makannya. "Aska, temen-temen. Gue udah selesai. Gue duluan ya," pamitnya. "Iya, hati-hati," balas Alaska membuat Dinda lagi dan lagi tersenyum. "Makasih makanannya!" Dinda beranjak dari kantin. Gadis itu ingin segera masuk ke kelasnya sekarang karena bel masuk akan segera berbunyi. *** Setelah kepergian Dinda, Alaska dan teman-temannya juga ikut beranjak dari kantin. Mereka bukan menuju kelasnya. Namun menuju loker. Karena hari ini adalah hari Kamis. Hari dimana kelas Alaska berolahraga. Alaska, Galen, Satya, Anjas, Ken dan Idrus, mereka baru saja sampai di loker dan menemukan Bian yang ternyata sudah menunggu mereka. "Lama banget lo pada. Udah gue tungguin daritadi juga!" cercah Bian. "Salah lo sendiri, kaga ikut ngumpul di kantin," sewot Ken. "Nyari mangsa mulu perasaan. Kaga tobat-tobat." "Buaya anjir!" ujar Idrus. "Heh! Lo pernah denger gak, buaya itu ternyata binatang yang paling setia," kata Bian dengan senyum kebanggaannya. "Makanya, orang-orang betawi pada kasih roti buaya waktu lamaran sebagai lambang kesetiaannya." "Lah tetangga gue pake roti buaya buat hantaran kue sunatan," ujar Idrus membuat tawa keenam laki-laki itu meledak. "Anjir! tapi gue seriusan!" "Demi apa lo?" tanya Galen yang masih belum percaya. "Demi cintanya Alaska buat Dinda!" Alaska mendelik mendengarnya. Bisa-bisanya Idrus mempertaruhkan cintanya untuk Dinda hanya demi sebuah guyonan tidak bermoral itu. "Pala lo! Jangan bawa-bawa cinta gue sama Dinda b**o!" marah Alaska. Idrus cengengesan. "Tapi gue seriusan! Tetangga gue sunatan dikasih hantaran roti buaya. Lo pada gak ada yang percaya." "Ya aneh aja gitu Drus. Masa orang sunatan ada hantarannya. Roti buaya lagi." "Serah lo kalo gak percaya. Yang jelas, gue serius," Idrus tetap kekeuh dengan pernyataannya. Perlu diketahui, Idrus kali ini sedang tidak becanda. Dia mengatakan itu dengan sejujur-jujurnya. Tetangganya memang menggunakan roti buaya sebagai hantaran sunatan. Mungkin memang terkesan aneh, tapi itulah kenyataannya. Akhirnya, ketujuh sahabat ini mulai memasuki area loker dan mengambil baju olahraga di masing-masing loker mereka. Kemudian mereka mengganti seragamnya. Setelah selesai mengganti seragamnya dan kembali meletakkannya di loker. Alaska dan teman-temannya berjalan menuju lapangan untuk melaksanakan olahraga. "Assalamualaikum anak-anak," salam Pak Budi selaku guru olahraga. "Waalaikumsalam," balas murid kelas Alaska. XI IPS 3. "Jadi anak-anak, materi kita hari ini adalah volly. Semua siswa-siswi wajib mengikuti materi hari ini karena nanti bapak akan langsung mengadakan tes," jelas Pak Budi to the point. "Jelas semua?!" Salah satu siswi mengangkat tangannya. "Yah pak, tapi kan nanti tangannya sakit pak!" "Iya pak, nanti juga kita bisa item kalo lama-lama dibawah sinar matahari," sahut siswi lainnya. "Kan sayang pak, udah mahal-mahal beli skincare. Tapi ujung-ujungnya item lagi, buluk lagi." "Kalian ini! Kalo tangannya yang sakit kan masih mendingan," ujar Pak Budi membuat murid kelas XI IPS 3 mengernyit bingung. "Maksudnya pak?" "Gini deh, kalian ciwi-ciwi lebih mendingan sakit tangannya apa sakit hatinya?" ujar Pak Budi. "Kalo saya sih mending sakit tangannya." "Yee si bapak malah ngebahas hati lagi. Gak tau apa kalo saya lagi galau," celetuk Alaska membuat teman satu kelasnya tertawa. "Kamu galau kenapa Alaska?" "Ini pak, Alaska galau gara-gara si doi gak peka-peka," teriak Ken. "Makanya Alaska. Jadi cowok itu yang gentle. Jangan ngode-ngodean doang. Tembak aja langsung," ujar Pak Budi enteng membuat Alaska melotot terkejut. Wah, ini guru cocok kayanya dijadikan penasihat cintanya. "Siap pak! Nanti langsung saya tembak!" balas Alaska. "Tapi kasihan dong pak. Nanti doi saya mati lagi." "Gak gitu konsepnya Alaska," Pak Budi berkata dengan raut jengahnya. "Eh udah udah! Kok malah jadi bahas masalah hati." "Alaska! Kalo masih mau bahas masalah hati nanti saja temui bapak setelah pelajaran olahraga. Nanti bapak bantu menjemput cinta di balik dinding SMA," sambungnya. Satu kelas melongo mendengar penuturan Pak Budi. Waw, sangat mengesankan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD