10. SEDIKIT TERINGAT

1593 Words
Kantin Bu Darmi sekarang sedang ramai dengan pertengkaran antara dua gadis yang sedang saling tatap-menatap dengan pandangan benci di mata mereka. Nayya dan Regina, merekalah yang sedang bertengkar. Dan bisa dipastikan, Nayya lah yang mencari perkara terlebih dahulu. Mungkin, jika orang yang menjadi lawan pertengkaran Nayya itu bukan Regina. Siswa-siswi yang ada disana akan berusaha melerai dan membela lawan Nayya. Namun, melihat gadis yang menjadi lawan Nayya adalah Regina. Mereka semua memilih acuh tak acuh dan malah menonton pertengkaran keduanya. Nayya melipat tangannya di depan d**a dengan sombong. "Sekarang lo gak bisa apa-apa, karna cowok lo lagi gak ada disini. Dan gue yakin, anak-anak sini gak ada yang sudi belain cewek urakan kaya lo," tunjuk Nayya tepat di depan wajah Regina. "Really?" Regina tersenyum miring. "Emangnya apa yang bisa lo lakuin ke gue?" tantang Regina. Satu tangan Nayya mengambil gelas yang ada di meja kantin dekatnya. Itu adalah gelas berisi es teh. Minuman yang sempat Nayya pesan tadi. Nayya menyiramkan es teh tersebut kepada Regina yang hanya diam ditempatnya. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat. "Ups! sengaja," ujar Nayya dengan smirk yang terlihat jelas dibibirnya. Regina melangkah maju lalu mendorong kasar tubuh Nayya hingga gadis itu terjungkal kebelakang. Kepalanya membentur meja kantin. Dinda melihat semua pertengkaran mereka. Gadis itu merutuki dirinya sendiri karena merasa tidak bisa menjaga Regina yang berstatus sebagai teman baru nya. Dinda melangkah cepat menghampiri Nayya dan Regina. Gadis itu menarik pelan pergelangan tangan Regina. "Re...udah ya, jangan gini," ujarnya lembut. "Tapi Din, bukan gue yang mulai duluan. Tapi dia," tunjuknya pada Nayya yang masih berada di posisi jatuhnya tadi. "Gue tau Re, tapi jangan gini." Regina menghela napas pasrah, dia memilih menuruti keinginan Dinda yang membawanya keluar dari kantin. Jujur, Regina senang karena Dinda datang dan memisahkan pertengkarannya dengan Nayya. Dia jadi merasa bahwa masih ada yang memperhatikannya dan peduli dengan hidupnya. "Re, ambil baju olahraga lo. Terus ganti," titah Dinda begitu sampai di depan loker Regina. "Iya Din," Regina melakukan perintah Dinda. Dia mengambil baju olahraganya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti seragamnya yang basah akibat ulah Nayya. Setelah selesai mengganti seragamnya, Regina segera kembali ke loker untuk meletakkan seragamnya yang basah sekaligus menemui Dinda yang sedang menunggunya. "Re, boleh gak gue minta sesuatu sama lo?" ujar Dinda begitu melihat Regina yang sudah selesai memasukkan seragamnya. Regina mengangguk pelan. "Tolong, lo belajar buat nahan emosi lo bisa?" Dinda memandang Regina penuh harap. Kemudian Regina kembali mengangguk. "Bisa Din." Dinda menyunggingkan senyum bahagia. "Akan ada waktu dimana lo bisa nunjukin bahwa lo itu gak selemah yang mereka pikir. Tapi, tetep inget. Itu semua ada waktunya." Regina terkekeh mendengar penuturan Dinda. "Kayanya, kalimat itu lebih cocok ditujukan buat lo deh," Dinda terdiam mendengarnya. Benar, kalimat itu seharusnya memang ditujukan untuk Dinda, bukan Regina. *** Alaska, Galen, Satya, Anjas, Ken, Idrus dan Bian. Ketujuh cowok ini sedari tadi duduk santai di kantin. Mereka melihat semua kejadian pertengkaran yang baru saja selesai karena kedatangan Dinda yang dengan baik hatinya membantu Regina. Badgirl yang dijauhi satu sekolah. Kecuali Baron, pacarnya. "Heran deh gue sama Dinda, baik banget jadi orang. Jiwa empatinya itu loh, tinggi banget," puji Galen dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajah tampannya. "Udah cantik, baik, pinter. Nikmat mana lagi yang kau dustakan pak ketuaaa," seru Ken heboh. "Buruan tembak, keburu diembat orang," ujar Satya memperingati. "Gue embat baru tau rasa lo," celetuk Bian disambut dengan jitakan dari Idrus. Pletak! "Lo bosen hidup?" Bian menyengir, tangan kirinya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Canda doang gue." Idrus memutar bola matanya malas. "Bener kata Anjas kemarin," ujar Galen membuat teman-temannya bingung. "Ha?" "Itu, si Bian kayanya emang kepalanya ketombean dah. Daritadi garuk-garuk kepala mulu." Bian melotot mendengarnya. Namun cowok itu memilih diam. Karena dia tau, disini tidak ada yang membelanya. Jika dia membalas ucapan Galen tadi. Sama saja dia menyerahkan diri untuk diledeki lebih jauh lagi. "Eh tapi nih ya. Yang punya kesempatan buat nikung Dinda disini itu banyak lo sebenernya," celetuk Ken tiba-tiba membuat Alaska menoleh cepat. "Contohnya Galen, Satya sama Anjas." "Eh bener juga kata Ken!" seru Idrus menimpali. "Gue lihat-lihat nih, mereka bertiga tuh masuk kriteria cowok yang cocok bersanding dengan seorang Ladinda Agatha." "Cewek polos lugu yang pesonanya gak bisa diragukan lagi," lanjut Idrus. "Diem lo!" marah Alaska. Idrus dan Ken bersorak dalam hati melihat Alaska marah. Sepertinya, Alaska masuk perangkap. Alaska berdiri kemudian beranjak dari kantin. Ingin mencari Dinda. Setelah kepergian Alaska. Ken dan Idrus bertos ria. Sedangkan Galen, Anjas dan Satya. Ketiganya hanya menggelengkan kepala heran. Ada-ada saja. *** Alaska berjalan cepat menuju kelas Dinda. Siapa tau dia disana. Saat dia sampai di depan kelas Dinda. Alaska melihat Zoya dan Jericho yang sedang duduk berdua. Sudah menjadi keseharian mereka seperti itu. Berpacaran. "Dinda mana?" tanya Alaska to the point membuat Zoya menoleh kaget. "Oh, belum balik daritadi. Katanya ke kantin." Setelah mendengar itu, Alaska segera melanjutkan langkahnya mencari Dinda. Cowok itu sudah menyimpulkan sesuatu dari pernyataan Zoya. Dinda tidak kembali ke kelas setelah membawa Regina pergi dari kantin. Satu tempat tiba-tiba muncul di otak Alaska. Ya, Benar! Dinda pasti kesana. Lalu, cowok itu pergi ke tempat yang baru saja muncul di otaknya itu. Baru saja Alaska sampai di pintu tempat yang Alaska maksud. Cowok itu sudah melihat Dinda dan Regina yang sedang duduk sambil mengobrol. Alaska berjalan menghampiri kedua gadis itu. "Din." Dinda mendongak mencari tau siapa orang yang memanggilnya. Dan ternyata, orang itu adalah Alaska. "Eh Aska, kenapa?" "Balik kelas gih, udah mau bel." Dinda melirik jam tangan yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya. "Eh iya, tinggal lima menit lagi." "Re, gue mau balik kelas. Lo mau gue anterin nggak?" sambungnya. Regina menggeleng pelan. "Gak usah Din, lo duluan aja." Dinda mengangguk kecil sembari tersenyum. Gadis itu berdiri dan langsung menggenggam tangan Alaska pergi dari sana. "Lo tau darimana kalo gue lagi disana Al?" "Nebak aja." *** "ALASKA!!! Mau kemana lo ha?" teriak Dinda menggelegar dari balkon kamarnya saat mendapati Alaska sedang menaiki motornya hendak pergi. Dinda segera turun kebawah menghampiri Alaska. Karena Dinda tau, setelah mendengar suaranya tadi. Alaska pasti masih berdiam disana menunggunya datang. "Mau kemana?" beo Dinda begitu sampai di samping Alaska. "Biasa Din, basecamp." "Mau ninggalin gue lagi lo?" "Bentar doang." "Bentarnya lo itu berjam-jam." "Beneran deh, bentar doang." "Alah, bilangnya bentar. Tapi ntar pulangnya jam 3 pagi. Gak usah pulang aja sekalian." "Lah? Ini rumah gue." "Gue tau." "Terus, kenapa lo ngelarang gue pulang kerumah sendiri coba?" Telak. Dinda kalah telak. Namun, bukan Dinda kalo tidak bisa memutar balikkan ucapan. "Terus kenapa gue gak boleh pulang ke rumah gue sendiri juga? Kenapa lo nyuruh gue stay dirumah lo? Lo mau jadiin gue satpam penjaga rumah?!" Alaska memijat pelipisnya, beradu mulut dengan Dinda hanya membuatnya lelah. "Ayolah Din, gue terlanjur janji sama temen-temen gue." "Serah lo deh, pergi aja kalo pergi," Dinda segera masuk ke rumah dan membiarkan Alaska pergi. Alaska bernapas lega karena akhirnya Dinda mengalah. Sebenarnya, ini bukan kali pertama mereka berdebat gara-gara Alaska yang selalu keluar maghrib pulang subuh. Ya, bisa dibilang. Pergi sore pulang pagi. Dinda mengintip kepergian Alaska dari jendela rumah. Hm, sepertinya Dinda perlu memberikan Alaska sentilan-sentilan kecil nanti. Dinda memutuskan untuk keluar sebentar dan berkumpul juga bersama teman-temannya. Emangnya hanya Alaska doang yang bisa nongkrong? Dinda juga bisa kali. Bestie LadindaAgatha: Guys nongkrong kuy LadindaAgatha: Bosen gue, gak ada temen AvaNafiza: Alaska kemana Din? LadindaAgatha: Biasalah basecamp ZoyaMaulida: Yaudah ayo, mau nongkrong dimana ni? ZoyaMaulida: Club? KinanditaSyahira: Mulutnyaaa LadindaAgatha: Kalo lo ngajak gue ke club lagi, gue bilangin sama Alaska lo LadindaAgatha: Biar di bully lo sama temen-temennya ZoyaMaulida: Becanda gue Din ZoyaMaulida: Jangan baperan deh lo AvaNafiza: Gaya lo Zoy AvaNafiza: Bilang aja kalo lo takut sama bodyguard-bodyguard Dinda. LadindaAgatha: Bodyguard? Siapa maksud lo? AvaNafiza: Temen-temen Alaska LadindaAgatha: Temen-temen Alaska juga temen gue LadindaAgatha: Mereka bukan bodyguard gue KinanditaSyahira: Udah Din biarin aja, mendingan kita berangkat sekarang, biar pulangnya gak kemaleman KinanditaSyahira: Di kafe biasa kan? LadindaAgatha: Iya Dinda berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas slempangnya. Dia tidak berniat mengganti pakaiannya karena menurut Dinda. Pakaian yang sedang dia pakai sudah bagus dan cocok untuk sekedar nongkrong di kafe. Dinda segera keluar begitu selesai mengambil tasnya. Dia berjalan keluar kompleks untuk menunggu taksi. Karena, menunggu taksi di kawasan kompleks rumah Alaska itu udah kaya nunggu gebetan peka. Lama! Dinda melihat ada sebuah taksi dari kejauhan. Dia segera menghentikan taksi tersebut dan naik ke dalamnya. "Monstera Cafe pak!" "Baik." Taksi yang ditumpangi Dinda melesat membelah jalanan ramai ibu kota. Seulas senyum terukir di bibir mungil Dinda. Akhir-akhir ini, banyak sekali hal-hal yang membuat Dinda merasakan bahagia tanpa jeda. Bahagia yang dulunya hanya karena kedua orang tuanya, abangnya, sahabatnya. Dan kini bertambah karena Alaska dan keenam teman cowok itu. Namun, seulas senyum itu kini luntur. Entah mengapa, tiba-tiba Dinda merasa sedih. Gadis itu merindukan seseorang yang sudah lama tidak di jumpainya. Aneh, kenapa Dinda masih saja merindukan cowok itu sih?! Cowok menyebalkan yang selalu bisa membuat hati Dinda merasa senang. Sebelum keputusan cowok itu untuk pergi membuat Dinda merasakan rasa sedih yang teramat dalam. Bahkan, Dinda sempat mogok makan hanya karena kepergian cowok itu. Saat itu, Dinda berusaha menghubungi cowok itu. Namun, tak pernah bisa. Sepertinya, kontak Dinda di blokir. Atau, dia mengganti kontaknya. Dinda mengambil ponselnya. Sekali lagi, Dinda berusaha menelpon cowok itu. Namun lagi dan lagi. Selalu tidak bisa. Gadis itu beralih membuka galeri dan memandang salah satu foto disana. Terpampang jelas di layar ponsel Dinda. Foto cowok tampan seumurannya yang sangat Dinda rindukan. "Kenapa lo pergi ninggalin gue. Gue kangen sama lo," lirih Dinda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD