9. ULAR TANGGA

1682 Words
Pagi ini, Dinda berjalan menyusuri koridor demi koridor kelas. Entah apa yang Dinda lakukan. Gadis itu hanya sedang merasa bosan jika harus duduk-duduk manja mendengarkan Ava, Zoya dan Kinan yang sedang bergosip ria. Kaki Dinda melangkah melewati kelas XI IPS 3. Kelas Alaska, Anjas, Satya, Galen, Ken, Idrus dan Bian. "Pagi neng Dinda," sapa Ken nyengir sembari berjalan menghampiri Dinda. Dinda yang merasa disapa pun berhenti melangkahkan kakinya. "Pagi juga Ken," balas Dinda ramah. Dia sudah mulai dekat dengan semua anggota inti Avender. "Tumben pagi-pagi lewat sini Din?" tanya Galen yang juga ikut menghampiri Dinda. "Lagi pengen jalan-jalan aja," balas Dinda sekenanya. "Mau ditemenin gak nih?" goda Bian menaik turunkan alisnya. Dinda terkekeh sejenak. "Gak usah deh, ini mau balik kelas juga kok." "Hahaha, baru gitu aja udah ditolak lo Bi Bi," Ken tertawa puas. "Coba noh Alaska. Udah gercep, di welcome lagi sama Dinda." "Lo kira keset apa," Bian mencebikkan bibir kesal. "Welcome, welcome." "Welcome to mobile legend," ujar Galen tidak nyambung. "Mobile legend terosss," Ken, Idrus dan Bian berucap serentak. "Sirik lo!" ujar Galen tidak terima. Fyi, Galen memiliki cita-cita ingin menjadi seorang gamers. Dia ingin menjadi top global dalam game PUBG, Free Fire dan Mobile Legend. Ketiga game itu adalah tujuan utamanya. Dia sebenarnya sudah berhasil menjadi top global di game AOV. Namun Galen tidak puas. Dia ingin lebih dari itu. Menurutnya, menjadi gamers sangat menguntungkan juga menyenangkan. Bagaimana tidak? Hanya dengan bermain game saja bisa menghasilkan uang. Apalagi, bermain game adalah passionnya. Dinda menggelengkan kepalanya heran. Ada-ada saja mereka. Masalah kecil aja diperdebatkan. "Jangan dianggep Din, mereka emang suka gitu," kata Satya sembari melirik Galen, Ken, Idrus dan Bian yang masih adu bacot. "Len, denger ya. Udah mending lo bisa jadi top global di AOV. Masih aja mau lebih," Ken mendengus kesal karena Galen selalu merasa serba kekurangan. Padahal, Galen sudah memiliki banyak hal. "Lebih asik lagi kalo gue bisa jadi top global di PUBG, Free Fire atau mobile legend gitu. Syukur-syukur kalo semuanya," Galen tersenyum mengkhayal. Benar-benar deh! Ken ingin menenggelamkan Galen sekarang juga. "b*****t, emosi gue lama-lama disini," ujar Ken serius kemudian melenggang masuk kedalam kelas. Sebelum masuk, Ken menyempatkan Diri untuk melambaikan tangannya pada Dinda. "Sensian mulu jadi cowok," Galen mendengus kesal. "Gue curiga, jangan-jangan Ken pernah transgender lagi." "Lambemu!" umpat Idrus. "Dijaga ngomongnya," peringat Anjas. "Gak baik buat Dinda kalo tiap hari denger u*****n-u*****n kaya gitu." Galen, Idrus dan Bian saling melirik satu sama lain. "Tumben Anjas peduli sama cewek," ujar Idrus yang diangguki oleh Galen dan Bian. Sedangkan Satya, cowok itu biasa saja. Tidak merasa aneh sedikit pun. "Lebay," sentak Satya. "Udah Din, lo balik kelas sekarang aja. Gue khawatir kalo lo lama-lama disini, ntar lo kebawa pengaruh buruk lagi." Dinda menggangguk sembari tersenyum kecil. "Duluan ya." *** Dinda, Ava, Zoya, Kinan, Jericho dan Gibran. Mereka sedang duduk di depan kelas XI MIPA 1. Mengobrol santai. "Jer! Pacar lo makin hari makin ganas," ujar Ava memancing emosi Zoya. Gadis dengan rambut pirangnya itu melotot kesal. "Avaaa!!! Jangan fitnah gue lo," marahnya lalu beralih menatap Jericho. "Baby, kamu gak percaya kan sama omongannya Ava tadi?" lanjutnya lembut sembari melingkarkan tangannya di lengan tangan Jericho. Jericho tersenyum kecil, lalu mengelus pipi Zoya penuh sayang. "Aku cuma percaya sama kamu baby." "Murtad!" cercah Ava keras. Sontak, semua orang yang ada di sekitarnya menoleh. Membuat teman-teman Ava meminta maaf karena sudah menganggu. Lain dengan Ava. Gadis itu terlihat acuh. Tidak peduli dengan sekitarnya. "Pacar lo Bran!" ujar Jericho menyenggol bahu Gibran keras. Gibran berdecak pelan. "Ck. Din, urusin gih. Bisa kena amuk Ava gue kalo ngebenerin omongan dia yang salahnya gak nanggung-nanggung," bisik Gibran sedikit menjauh dari Ava. "Hm," dehem Dinda pelan. "Avaa, yang bener itu musyrik bukan murtad," ujar Dinda membenarkan. Ava menoleh menatap Dinda. Ah, mana bisa Ava marah dengan sahabat kesayangannya ini. Seulas senyum terbit di wajah Ava. "Makasih udah di benerin Dinda." Dinda pun juga membalasnya dengan senyuman. Gibran yang melihat senyum Ava mengembang mengira kalau Ava sudah tidak dalam mode marah lagi. Entahlah, Ava sedikit sulit untuk dikendalikan. "Avaa," ujar Gibran lembut. Selembut kain sutra. Namun tak membuat hati Ava luluh. Gadis itu tetap saja marah. Bahkan, sekarang dia sedang menatap Gibran dengan tatapan horornya. Gibran susah payah meneguk salivanya. Ava terlihat menyeramkan. "Ga-gak jadi deh," Gibran nyengir membuat Ava mendengus sebal. Kenapa hanya karena itu Ava marah sih! Pasti nih cewek lagi PMS hari pertama. Itulah yang sedang dipikirkan Gibran sedari tadi. "Din!" panggil Alaska mengintrupsi membuat Dinda menoleh. Bahkan bukan hanya Dinda, tetapi juga teman-teman Dinda yang berada disana. "Aska?" Dinda tersenyum saat mendapati Alaska yang berjalan mendekat kearahnya. "Sini!" Aska? Panggilan baru nih. Kinan yang sadar diri sadar posisi pun segera bangkit dari tempat duduknya. "Gue masuk kelas aja deh. Daripada jadi nyamuk!" Kinan berlalu dan jadilah tempat gadis itu digantikan oleh Alaska. Dinda tersenyum senang. Lain halnya dengan Ava, Zoya, Gibran dan Jericho. Mereka memang tersenyum. Tetapi bukan tersenyum senang. Namun tersenyum menggoda. "Ekhem!" Ava bergaya seolah-olah batuk. "Yang mau PDKT an, mending jangan disini deh. Suasananya gak cocok." "Iya nih! Kayanya, kalo berduaan di pojok kelas lebih cocok," itu suara Zoya. Ava dan Zoya tertawa bersama setelahnya. Gibran dan Jericho menghela napas lega. Untung saja Alaska datang! Berkat kedatangan Alaska, emosi Ava bisa dengan cepat tergantikan dengan ambisinya menjodohkan Dinda. Yah, Ava dan Zoya selalu kompak dalam hal menjodoh-jodohkan Dinda ataupun Kinan. Entahlah, mereka selalu ingin melihat Dinda dan Kinan memiliki seorang pacar. Padahal, cari pacar itu sama kaya cari sendal jepit yang ilang di masjid. Susahnya minta ampun! "Lo berdua!" Dinda menunjuk Ava dan Zoya bergantian. "Jangan asal ngomong dong! Cablak banget mulutnya." "Kaya Bian," tambah Alaska membuat Dinda terkekeh geli. "Ken sama Idrus juga Aska." "Iya bener, yang mulutnya nggak cablak siapa ya?" "Satya sama Anjas," jujur Dinda. "Kalo Galen gak cablak, tapi rada cerewet gitu." Alaska manggut-manggut. "Kalo gue? Cablak gak?" Dinda menggeleng pelan disertai dengan senyumnya. "Kalo lo gak cablak. Tapi seblak!" "Ha?" "Iya seblak, pedes!" pungkas Dinda membuat Alaska terkekeh. Bisa-bisanya Dinda berkata seperti itu pada Alaska. Alaska mengacak rambut Dinda gemas. "Ambil tas lo gih. Ikut gue ke kantin." "Ke kantin doang, kenapa harus bawa tas coba?" "Ini jam terakhir. Ntar sekalian pulang Din," jelas Alaska membuat Dinda mengangguk dan segera mengikuti perintah Alaska. Mengambil tasnya. *** Dinda baru saja mendapatkan pesan dari kakak kesayangannya. Pesan yang membuatnya menjadi lesuh seperti sekarang. Bagaimana tidak? Arka tiba-tiba mengirimkannya pesan, mengatakan bahwa kakaknya itu tidak bisa pulang untuk beberapa bulan kedepan karena ternyata, tugasnya di luar kota ditambah! Itu berarti, Dinda harus tinggal di rumah Alaska lebih lama lagi. Sebenarnya, tidak masalah untuk Dinda jika harus tinggal di rumah Alaska. Toh, Alaska tidak akan berbuat macam-macam dengannya. Alaska malah akan melindunginya. Namun, gadis itu berpikir tentang jantungnya yang semakin hari semakin berdebar tak karuan jika berada di dekat Alaska. Ah, Dinda belum pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya. Dinda berdecak pelan, sebelum akhirnya gadis itu memutuskan untuk menelpon Arka. "Bang, kenapa kabarinnya mendadak banget sih," cerocos Dinda ketika sambungan teleponnya terhubung. "Dosen gue ngabarinnya juga mendadak banget Din. Jadi ya gimana. Kalo gue gak ikut, bisa gak lulus gue tahun ini." "Tapi bang, Dinda gak enak kalo harus tinggal dirumah Alaska terus-terusan." "Gak terus-terusan dek. Cuma sampe Bang Arka balik kesana doang. Paling cepet sebulan lagi. Kalo paling lama lima bulan." Dinda berdecak. "Ck. Yaudahlah bang, mau dikatakan apalagi kan." "Lanjutin nyanyi aja sono dek." "Komen mulu bang. Yaudah deh. Bye!" Dinda menutup teleponnya sepihak. Gadis itu menghela napas berat. Dia menjadi ingat dengan beberapa cerita w*****d yang pernah dia baca. Biasanya, jika tokoh utama mulai merasakan senang. Setelah itu pasti tokoh utama akan mendapatkan bully-an. Dinda bergidik ngeri membayangkan nasib dirinya. Karena Dinda merasa, dia sekarang dalam mode kebahagiaan yang memuncak. *** Alaska, cowok itu sedang berada di basecamp Avender. Lagi-lagi, Alaska meninggalkan Dinda sendirian. Namun kali ini, Alaska tidak takut untuk meninggalkan Dinda sendirian. Karena entah mengapa. Alaska begitu yakin, Nayya tidak akan berani berbuat macam-macam lagi kepada Dinda. Satu tangan Alaska terangkat untuk menelpon seseorang yang pasti sudah kalian ketahui. Ya, Dinda. "Iya Aska. Ada apa?" "Gapapa, cuma mau nanya aja. Lo gak kenapa-napa kan?" "Enggak, gue baik-baik aja." "Oh, bagus." "Tapi ada berita gak bagus nih," perkataan Dinda mampu membuat Alaska terduduk tegap. Cowok itu tegang. "Berita gak bagus apa?" "Masa kata Bang Arka. Dia sama Bang Eric pulangnya diundur beberapa bulan kedepan." Alaska bernapas lega. Cowok itu malah melengkungkan bibirnya sempurna. "Oh gitu, yaudah gapapa." "Gitu doang reaksi lo?" terselip nada tidak percaya di akhir perkataan Dinda. "Iya, emang gue harus bereaksi kaya gimana? Nangis bombay gitu?" Dinda berdecak pelan. "Ck. Auah gelap," Dinda mematikan teleponnya sepihak membuat Alaska mengernyit bingung ditempatnya. Tapi Alaska tetaplah Alaska. Masa bodo lah. "Alaska! Ikut gabung main ular tangga sini yok!" ajak Ken antusias. "Seru tau Al!" timpal Idrus. "Iya! Beneran deh. Kalo lo main ini, lo gak bakal dimarahin Dinda," ujar Bian membuat teman-temannya bingung. "Maksudnya?" Bian berdecak malas. "Ck. Lo semua pada b**o apa gimana sih?! Ya jelas kalo Alaska main ular tangga, gak bakal dimarain sama Dinda," ujar Bian serius. "Kan Alaska main ular tangga, bukan main-main sama rumah tangga. Apalagi godain janda muda!" Pletak! Satya geregetan, dia menjitak kepala Bian karena sudah berkata tanpa berpikir. Alaska, Galen, Idrus, Ken dan bahkan Anjas yang biasanya malas meladeni tingkah absurd temannya kini ikut menjitak kepala Bian. Biar saja, biar dia cepat sadar! Pletak! Pletak! Pletak! Pletak! Pletak! Terdengar suara jitakan enam kali berturut-turut. Bian meringis sembari memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing akibat ulah teman-temannya. "Sakit b**o!" kesal Bian. "Lo juga Njas! Biasanya kaga ikutan, ini pake acara ikut-ikutan segala." Anjas bersedekap d**a. "Siapa tau kalo gue ikutan jitak kepala lo, otak lo bisa bener dikit." Bian merutuki teman-temannya dalam hati. "Tapi kayanya, otak lo udah parah. Gak bisa sembuh, walaupun gue udah nimbrung buat ikutan jitak lo tadi," sambung Anjas membuat teman-temannya menahan tawa. "Nyesel gue ikutan jitak kepala lo yang udah mirip kaya sarang ketombe itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD