Rasa marah tiba-tiba menyelimuti hati Alaska. Setelah mendengarkan laporan dari Galen tentang gadis yang menjadi dalang atas kejadian kemarin malam. Awalnya dia diam saja karena mengira Nayya tidak akan berbuat lebih. Namun, semakin dibiarkan, Nayya semakin melunjak.
Derap langkah Alaska membawanya menghampiri Nayya dan Selena yang sedang duduk manis dengan peralatan make up di tangannya.
Dengan cekatan Alaska menarik tangan Nayya agar berdiri menghadapnya. Cowok itu menatap tajam Nayya yang sedang was-was di tatap seperti itu oleh Alaska.
"Ha-hai Alaska, kamu kenapa kesini?" ujar Nayya gugup karena takut.
Alaska hanya diam menatap tajam Nayya. Lalu cowok itu menarik kasar tangan Nayya menjauh dari Selena.
"SIAPA LO BERANI-BERANINYA NYURUH DINDA JAUHIN GUE!!" bentak Alaska tepat di depan wajah Nayya. "MAKSUD LO APA JEBAK DINDA KEMARIN MALEM?!"
Di bentak Alaska seperti itu, membuat wajah Nayya pucat pasi.
"Aa-aku gak suka lihat dia deket-deket sama kamu," balas Nayya menundukkan wajahnya. Takut melihat wajah marah Alaska.
"Dinda gak pernah deketin gue. Asal lo tau. Gue yang deketin dia," Alaska berucap dengan mata menatap tajam Nayya yang masih menundukkan kepalanya.
"Tapi aku gak terima kalo dia deket sama kamu," Kali ini Nayya berucap lancar. Gadis itu mulai mendongakkan kepalanya, menatap Alaska.
Alaska berdecak. "Ck. Emangnya lo siapa gue?" ucapnya memandang rendah Nayya.
"Aku calon pacar kamu," balasnya PD.
Alaska berdecih mendengarnya. "Cih. PD banget lo ngomong gitu sama gue. Lo gak punya malu?"
Alaska tersenyum miring, cowok itu memperhatikan sekitar. Sudah banyak siswa yang mengerubunginya.
Perhatian Alaska terhenti kepada sosok gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Gadis itu menatap Alaska takut. Kemana keberaniannya dulu saat menghadapi sang ketua Avender?
Alaska melangkah cepat menghampiri Dinda yang menundukkan kepalanya.
"Hei," ujar Alaska saat sudah berada tepat di depan Dinda.
Perlahan tapi pasti. Dinda mendongakkan kepalanya menatap mata hazel Alaska. Tatapan Alaska pada Dinda sekarang tidak seperti tatapannya pada Nayya tadi.
Tatapannya sangat teduh.
Dinda hanya diam, dia tidak tau harus membalas seperti apa, dia takut salah.
"Lo kenapa?" tanya Alaska yang tak kunjung mendapatkan respon dari Dinda.
"Gu-gue gapapa," gugup Dinda. "Harusnya lo gak perlu segitunya Al."
Alaska mengangkat sebelah alisnya. "Dia udah hampir bikin lo terluka kemarin malem Din."
"Tapi gue gapapa kan," balas Dinda cepat. "Gue bisa bales sendiri kok. Kalo dia emang udah bener-bener kelewatan."
Alaska tersenyum tipis. "Lebih baik mencegah kan Din," ujarnya lembut.
Dinda hanya diam, dia kehabisan kata-kata.
"Woi Al. Udah kali, PDKT mulu lo. Jadian kaga," cibir Galen berjalan menghampiri Alaska di susul dengan Anjas, Satya, Idrus, Ken dan Bian di belakangnya.
Alaska terkekeh mendengarnya, sedangkan Dinda. Gadis itu tersenyum kikuk.
"Santai aja kali Din kalo sama kita mah," ujar Ken melihat wajah canggung Dinda.
"Iya Din, kita cowok baik-baik kok. Jangan takut," ujar Idrus. "Tapi gatau kalo Bian," Idrus melirik Bian sekilas. Membuat Bian melotot dibuatnya.
"Gue juga cowok baik-baik Din," Bian membela diri.
"Iya Din cowok baik-baik. Saking baiknya nih ya, sampe semua cewek-cewek jomblo dijadiin pacar sama dia. Kasihan katanya," Galen tertawa setelahnya. Tak terkecuali Alaska, Ken, Idrus, Dinda, Ava, Zoya dan Kinan.
Bian mencebikkan bibirnya kesal. Sedangkan Anjas, cowok itu hanya menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan teman-temannya.
"Bian fakboy ya?" tanya Dinda dengan watadosnya.
"Hahaha bangsattt," Galen tertawa ngakak.
"Neng Dinda jangan tanya gitu dong. Bang Biannya jadi malu tuh," Idrus melirik Bian yang semakin memajukan bibirnya. Hal itu sontak membuat tawa Idrus meledak, begitu pula teman-temannya.
"Gue salah Va?" Dinda bertanya kepada Ava.
Ava yang masih tertawa sedikit meredakan tawanya. "Gak salah Din, pertanyaan lo the best malah."
"I want to be a fuckboy," Ken bersenandung ria.
"Bacot," Bian melirik malas Ken yang masih saja menggodanya.
"Udah-udah. Kasihan Biannya," ujar Dinda menyudahi.
Bian langsung tersenyum dengan mata berbinar. "Tuh, dengerin kata neng Dinda. Calon pacar gue."
Mendengar itu, Alaska melirik tajam Bian yang malah tersenyum mengejek. Sengaja.
"Jealous ya bang?" ujarnya.
"Gak, biasa aja," Alaska memalingkan wajahnya.
Melihat interaksi antara Alaska dan Bian saja sudah membuat teman-teman Alaska yang lain paham, apa yang sedang dibicarakan keduanya.
Ava, Zoya dan Kinan juga paham, lain halnya dengan Dinda. Gadis itu menoleh kearah Alaska dan Bian bergantian. Dia bingung.
Gadis tidak peka memang.
"Pulang sekolah mampir ke basecamp dulu mau?" bisik Alaska membuat Dinda menoleh lalu tersenyum dan mengangguk.
***
Sepulang sekolah, Alaska benar-benar mengajak Dinda ke basecamp.
Basecamp Avender bisa dibilang cukup besar. Bangunan dengan dua lantai ini terlihat seperti rumah biasa jika dilihat dari luar. Namun jika sudah masuk kedalamnya, semua asumsi awal tersebut akan lenyap seketika.
Basecamp yang didekorasi sendiri oleh anggota inti Avender ini dilengkapi dengan alat-alat olahraga khas anak laki-laki. Disini juga terdapat kantin yang biasa mereka sebut Jokka atau lebih lengkapnya adalah Pojok Kantin Avender.
Di halaman basecamp juga terdapat satu warung kecil yang bisa mereka sebut WMA atau lebih lengkapnya Warung Makan Avender.
Lantai dua adalah lantai khusus anggota inti Avender. Terdapat satu kamar dilantai dua untuk mereka beristirahat. Jangan lupakan lantai satu yang terdapat tujuh kamar. Masing-masing kamar mampu memuat hingga 20 orang.
Mereka akan tidur lesehan jika menginap disini.
Basecamp Avender dibangun dengan uang hasil patungan anggota inti Avender. Anggota keseluruhan Avender sendiri sekitar 157 orang.
Basecamp ini sudah lebih dari mewah dan memiliki fasilitas yang memadai untuk mereka.
Satu lagi, jangan lupakan lapangan luas yang berada tepat di depan jalan basecamp Avender. Mereka biasanya menjadikan lapangan ini untuk parkir kendaraan anggota Avender saat ada acara atau rapat. Karena, halaman basecamp tak cukup luas untuk menampung seluruh kendaraan anggota Avender ini.
"Dinda, gue ada tebak-tebakan buat lo," ujar Bian bersemangat. Suara Bian yang terdengar nyaring tersebut membuat hampir seluruh anggota Avender menoleh menatapnya.
"Apa?" tanya Dinda pelan. Untuk kedua kalinya Dinda dikelilingi oleh ratusan cowok. Gadis itu nampak sedikit takut sekarang.
"Tinta-tinta apa yang gak akan pernah bisa ilang?" tanya Bian masih bersemangat.
"Tinta spidol?" tebak Idrus mendahului.
"Atau tinta permanen?" Satya ikut berkomentar.
"Bukan-bukan, pasti tinta pulpen yang udah abis," sahut Ken membuat semua cowok yang ada disana menatapnya bingung.
"Kok bisa?" dengan bodohnya, Galen bertanya.
"Yaiyalah, kan tintanya udah abis. Mana bisa ilang," ujar Ken tertawa lebar. Sontak, Galen menempeleng kepala Ken kesal.
"Nyesel gue nanya," ujarnya.
"Gue tanyanya sama Dinda woi," kesal Bian karena merasa diganggu oleh teman-temannya. Sedangkan Alaska, dia hanya diam mendengarkan obrolan teman-temannya itu.
"Gue gak tau," balas Dinda sekenanya.
Bian lalu tersenyum lebar. "Jawabannya, tintaku padamu!" serunya bersemangat yang disambut dengan sorakan dari teman-temannya.
"Apasih lo Bi, garing banget," cibir Galen.
"Ngegombal apa ngegembel," tambah Idrus sarkas.
"Mampus lo Bi," ujar Ken sembari melirik Alaska yang mulai berdiri dari tempatnya. Bian yang melihat itu, sempat dibuat ketakutan.
"Peace Al, gue becanda doang kok. Jangan marah," ujar Bian menutup matanya sambil mengangkat tangannya membentuk peace.
Alaska melihat Bian aneh. Siapa juga yang marah? kenapa juga harus marah?
"Kenapa lo?" bingung Alaska.
Bian mulai membuka matanya. "Lo gak marah, gue godain Dinda?" tanya Bian takut-takut.
"Buat apa marah. Godain aja sana. Kaya, Dinda mau aja sama lo," acuh Alaska, Bian yang awalnya tersenyum lebar kini kembali mencebikkan bibirnya kesal. Alaska meraih tangan Dinda untuk berdiri.
"Ayo gue anterin pulang," ajak Alaska. Cowok itu sebenarnya tidak mau Dinda berlama-lama disini karena, Alaska takut otak Dinda terkontaminasi dengan perkataan Bian yang asal ceplas-ceplos alias cablak.
Dinda menurut, gadis itu berdiri dan berlalu keluar mendahului Alaska.
"Gue duluan," pamit Alaska namun dengan cepat tangannya dicekal Galen.
"Bentar" cegah Galen membuat Alaska berbalik. "Nganterin Dinda pulang?"
Alaska mengangguk.
"Pulang kemana?" tanya Galen sembari mengangkat alisnya sebelah, dia curiga.
Alaska sedikit ragu untuk menjawabnya. "Rumah gue," setelah mengatakan itu Alaska langsung berlari keluar basecamp. Cowok itu sedang malas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan teman-temannya padanya.
"Woi! Jelasin dulu maksud lo!" teriak Galen namun tak dihiraukan Alaska. "Dasar," cibirnya kemudian.
***
Dinda duduk di balkon kamarnya. Gadis itu kembali mengingat wajah lelaki yang dipenuhi lebam.
Ya, Alaska membawa Dinda ke basecamp hanya untuk menujukkan wajah lelaki yang bersama Nayya kemarin malam.
Bukan, wajah lebam itu bukan hasil karya Alaska. Tetapi anggota Avender.
Ingat? Kemarin Alaska meminta Galen dan yang lainnya untuk membawa kedua lelaki ini beserta Nayya ke basecamp Avender. Malam itu, Alaska tidak kembali lagi ke basecamp. Alaska memutuskan untuk menjaga Dinda.
Alaska hanya mengirimkan pesan di grup chat Avender. Isi pesannya adalah "Pukul muka tuh cowok. Per orang dapet jatah satu. Jangan lebih, bisa koma nanti."
Seperti itulah kira-kira pesan yang Alaska kirimkan.
Bisa dibayangkan? Wajah kedua lelaki itu mendapatkan 132 bogeman dari tangan yang berbeda-beda.
Memang, tidak semua anggota Avender ikut memukul kedua cowok ini. Karena, malam itu ada beberapa anggota yang tidak ikut berkumpul.
Anjas yang berada disana saja enggan untuk ikut membogem wajah lelaki yang sudah dipenuhi dengan luka itu.
Berbeda dengan Galen, Ken, Idrus dan Bian. Keempat cowok ini begitu bersemangat membogem wajah kedua lelaki itu.
Hanya dengan melihat wajahnya saja, membuat Galen emosi. Dia tidak terima Dinda diperlakukan seperti itu.
Memangnya Dinda diapakan? Bahkan, menyentuhnya saja belum sempat.
Entahlah, Galen hanya tidak terima.
Oke, mari kita beralih ke Nayya.
Galen, Anjas, Satya, Ken dan Idrus terkejut bukan main ketika mereka menyeret ketiga orang itu keluar dari dalam rumah kosong malam itu.
Mereka menyeretnya kebawah lampu jalan. Ingin melihat, siapa biang keladi dari semua yang dialami Dinda.
Dan benar saja dugaan mereka. Biang keladinya adalah Nayya.
Alaska dan teman-temannya yakin. Nayya sudah pernah melakukan sesuatu kepada Dinda sebelum ini. Mengingat dalam video yang Galen dan Satya ambil pada waktu itu. Terdengar jelas Nayya yang berbicara. "Oh, atau lo mau kejadian waktu itu keulang lagi?"
Kejadian apa? Sampai sekarang, itu masih menjadi pertanyaan besar untuk Alaska, Galen, Anjas, Satya, Ken, Idrus dan Bian.
Namun mereka tidak bisa apa-apa. Karena setiap ditanya, Dinda selalu berkelit dan mengelak.
Sudahlah, mereka menyerah untuk bertanya.
Jika kalian bertanya, kenapa Nayya bisa bersekolah sedangkan kedua lelaki yang bersama Nayya malam itu masih berada di basecamp Avender dan menjadi tawanan.
Maka jawabannya hanya simple.
Alaska ingin membuat Nayya malu di depan seluruh murid SMA Nasional.
Biar saja, Alaska benar-benar ingin melihat Nayya semakin dibenci oleh seluruh murid SMA ini.
Salah sendiri, main-main sama Alaska.