7. BAHAYA

1610 Words
Alaska merebut paksa ponsel Dinda. Membuat sang empu mencak-mencak ditempatnya. "Alaska! Balikin hp gue!" Dinda berusaha meraih ponselnya yang berada di genggaman Alaska. Sedangkan Alaska? Cowok itu dengan santainya mengangkat ponsel Dinda di udara. Membuat Dinda semakin sulit menggapainya. "Rese lo ah, gak suka gue," tukas Dinda kesal. "Ambilin gue minum dulu, baru gue balikin." "Beneran?" Alaska mengangguk ringan. Dinda segera berlari menuju dapur untuk mengambilkan minuman untuk Alaska. Agar Alaska cepat mengembalikan ponsel miliknya. "Nih," Dinda memberikan segelas orange jus kepada Alaska begitu dia selesai membuatnya. Alaska menerima itu dengan senang hati. Kemudian meminumnya. "Hp gue mana?" tagih Dinda. Alaska merogoh sakunya kemudian memberikan ponsel Dinda kepada pemiliknya. Dinda bernapas lega. Kemudian gadis itu segera membuka grup chatnya dengan Ava, Zoya dan Kinan. Bestie ZoyaMaulida: Yok maen yok AvaNafiza: Ntar malem, ke arena balap lagi yok AvaNafiza: Seru juga ternyata KinanditaSyahira: Absen ZoyaMaulida: Kenapa lo Nan? AvaNafiza: Trauma kali gara-gara kemarin dia dipepet mulu sama cowok-cowok ZoyaMaulida: Cupu banget lo Nan, gitu aja trauma LadindaAgatha: Bacot. AvaNafiza: Dinda kenapa coba? dateng-dateng udah main bacot-bacot aja ZoyaMaulida: Lagi kesel sama Alaska kali LadindaAgatha: Gue kesel sama lo berdua anjir AvaNafiza: Salah kita apa? ZoyaMaulida: ^2 LadindaAgatha: Karena lo berdua asal bacot. LadindaAgatha: Kasihan Kinan KinanditaSyahira: Lo emang yang paling waras dari mereka semua Din LadindaAgatha: Tenang aja Nan, I'm here for you KinanditaSyahira: Terharuuu:") AvaNafiza: Drama ZoyaMaulida: Kumat AvaNafiza: Back to topik aja yok ZoyaMaulida: Gimana Va? beneran mau ke area balap lagi? AvaNafiza: Aku sih yes KinanditaSyahira: Sok iye lu ZoyaMaulida: Daripada ngebacotin Ava, mendingan lo ikut gabung aja deh Nan, Din LadindaAgatha: Ogah! KinanditaSyahira: ^2 KinanditaSyahira: Udah, gue sama Dinda mau bocan aja LadindaAgatha: That's right LadindaAgatha: Bye guys Dinda menutup grup chatnya, kemudian gadis itu beralih membuka aplikasi instagramnya. 43k followers. Daebak! Followers Dinda yang awalnya hanya 30k kini naik drastis. Pasti gara-gara gosipnya dengan Alaska. Tunggu, bukankah aku belum menceritakan gosip Dinda dan Alaska di sekolah? Oke, mari kita flashback beberapa hari yang lalu. Flashback on Alaska sedang mengadakan rapat dadakan dengan Avender. Cowok itu memberikan sedikit pengumuman serta perintah kepada anggotanya. "Sekali lagi. Gue minta, kalo ada sesuatu yang terjadi sama Dinda. Kasih tau gue!" ujar Alaska berteriak tegas. Masalahnya, yang berdiri di depannya ini bukan hanya puluhan orang. Tetapi ratusan. "Paham kalian?!" ujar Alaska yang dibalas dengan seruan dari cowok-cowok tersebut. "Yaudah, sekarang bubar!" titahnya. Ternyata, saking kerasnya Alaska berteriak. Ada beberapa siswa-siswi yang sedang berlalu lalang disana mendengar penuturan Alaska. Dan dalam sekejap saja, berita tentang Alaska yang terkesan begitu melindungi Dinda itu viral di SMA Nasional. Flashback off *** Rumah Alaska terlihat sepi. Tentu saja. Bagaimana tidak? Dinda sedang berada di rumah Alaska sendirian sekarang ini. Dinda menggeram kesal karena Alaska malah meninggalkan Dinda disaat Dinda sedang membutuhkannya untuk terus berada di sampingnya. Jangan berpikir macam-macam. Dinda tidak menyukai Alaska. Sama sekali tidak. Dinda hanya membutuhkan Alaska untuk terus berada di sisinya karena akhir-akhir ini. Dinda merasa ada bahaya sedang mengintainya. Dan benar saja. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal membuat Dinda sedikit takut. Unknown: Datang ke rumah kosong dekat SMA Nasional atau temen lo bakalan gue siksa! Dinda sedikit mengerutkan dahinya. Siapa ini? Dan siapa temannya yang dia maksud? LadindaAgatha: Maksud lo temen gue siapa? Unknown: Zoya Maulida. Unknown: Sahabat kesayangan lo yang lemah! Sama persis kaya lo Seketika, mata Dinda membola. Gadis itu tidak bisa berpikir jernih sekarang. Yang ada dipikirannya hanya Zoya! Zoya! dan Zoya! Bukankah Zoya dan Ava akan pergi ke area balap motor malam ini? Dinda harus menyelamatkannya. Tanpa pikir panjang. Dinda segera berlari keluar untuk menghentikan taksi ataupun ojek. Apapun! Yang penting, dia bisa menyelamatkan Zoya dengan cepat. Untung saja, tetangga Alaska yang baru pulang entah darimana datang dengan menaiki Taksi. Alhasil, Dinda bisa dengan mudah mendapatkan taksi. "Taksi!" panggilnya menghentikan taksi tersebut. Dinda terburu-buru menaiki taksi lalu meminta sang sopir untuk mengantarkannya ke tempat yang sudah di beritahu orang tidak dikenal itu. Sekitar lima belas menit berlalu. Akhirnya, kaki Dinda menapaki halaman rumah kosong yang gelap dan menakutkan itu. Kanan kiri rumah itu adalah hutan kecil, hal itu membuat kesan rumah itu terlihat semakin menakutkan. Juga hanya ada satu lampu jalan yang menerangi jalanan sekitarnya. Dinda menarik napas panjang. "Gue bisa!" ujarnya menyemangati dirinya sendiri. Dinda mulai berjalan masuk, dia tidak bisa melihat apa-apa di dalam sini. Sebenarnya Dinda membawa ponsel, tetapi gadis itu tidak mempunyai niat sama sekali untuk menyalakan senter. Bahaya kalau Dinda menyalakan senter. Itulah yang gadis itu pikirkan. "Zoya...," Dinda mulai memanggil Zoya pelan. Gadis itu sebenarnya takut. Namun, demi Zoya. Dinda rela melakukan apapun itu. Bahkan untuk memasuki rumah kosong ini sendirian. Malam-malam pula. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Namun Dinda tak kunjung menemukan keberadaan Zoya. Padahal, Dinda sudah mengelilingi rumah kosong ini dari ujung ke ujung. "Zoya Maulida, ini Dinda. Lo dimana sih?" lirih Dinda mulai putus asa. Gadis itu berjalan hendak menuju pintu keluar. Namun na'as. Gadis itu malah melihat dua lelaki berbadan kekar dan satu perempuan datang berjalan menghampirinya. Dinda tak bisa melihat jelas ketiga orang ini. Masalahnya, di dalam rumah ini tidak ada lampu sama sekali. Dinda bisa melihat ketiga orang ini lewat siluet lampu jalan yang terpantul ke dalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka lebar. Jadi, Dinda hanya bisa melihat siluet hitam dari ketiga orang ini. "Dinda!!!" teriak gadis yang datang bersama kedua lelaki itu, gadis itu berjalan sempoyongan. Sepertinya dia mabuk. Dinda terperanjat kaget. Gadis itu mengetahui namanya? Ah! Benar! Pasti gadis ini yang mengirimkannya pesan. Dinda berjalan mundur ketika ketiga orang itu maju mendekatinya. Tunggu, bau apa ini? Seperti...... bau alkohol! Tidak salah lagi, mereka pasti mabuk. Dinda semakin takut dibuatnya. Dinda menoleh mencari perlindungan, mata hadis itu menyipit, dia melihat ada meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Dinda segera berjongkok, bersembunyi di balik meja. Lalu, dia membuka ponselnya. Mencari kontak seseorang yang bisa datang tepat waktu untuk menolongnya. Dengan tangan yang gemetaran Dinda perlahan men-scroll kontak w******p nya. Gadis itu sedikit terkejut. Karena dia mendapati nama Alaska di dalam kontak w******p nya. Bagaimana bisa? Sejak kapan dia menyimpan nomor Alaska? Ah, itu tidak penting sekarang! Tanpa pikir panjang, Dinda memilih menghubungi kontak Alaska, karena gadis itu yakin. Alaska pasti sedang berada di basecamp sekarang. Lagipula, jarak basecamp dengan rumah kosong ini lumayan dekat. *** Jam baru menunjukkan pukul 11 malam lebih, ponsel Alaska berbunyi beberapa kali. Hal itu membuat tidur nyenyak Alaska sedikit terganggu. Cowok itu terbangun dan mengambil ponselnya yang ada disebelahnya. Alaska malam ini tertidur di kamar basecamp Avender. Begitupula teman-temannya yang lain. Aneh, padahal biasanya Alaska dan teman-temannya bisa tidur hingga jam 3 pagi. Tapi ada apa hari ini? Alaska memilih mengecek ponselnya, dia sedikit terkejut karena melihat nama Dinda tertera di layar ponselnya. Sontak, cowok itu menegakkan badannya. Lalu perlahan, Alaska mengetikkan sandi di ponselnya. Setelah terbuka, terlihat ada sekitar 10 panggilan tak terjawab dan 4 pesan belum terbaca. LadindaAgatha: P LadindaAgatha: Alaska LadindaAgatha: Tolongin gue LadindaAgatha: Gue takut Setelah membaca pesan tersebut, dengan segera Alaska menelpon Dinda. Perasaannya sudah mulai tidak enak sekarang. "Ada apa Din? Lo kenapa?" tanya Alaska setelah teleponnya tersambung. "Tolong gue Al, gue takut. Gue diikuti sama 3 orang, kayanya mereka lagi mabuk. Ada dua cowok satu cewek," bisik Dinda di sebrang sana. Gadis itu kini sedang menahan isak tangisnya. "Lo sekarang dimana?" "Rumah kosong deket sekolah, ini gue lagi sembunyi. Cepet kesini Al, gue takut. Mereka terus-terusan manggil nama gue," terdengar suara seseorang dari sebrang yang terus-menerus memanggil nama Dinda. "Lo tenang, jangan takut. Tetep sembunyi di situ, gue kesana sekarang," Alaska mematikan teleponnya sepihak. Cowok itu bergegas mengambil jaket dan kunci motornya. Kegiatan Alaska itu mampu membuat Galen, Satya dan Anjas terbangun. "Al? Lo kenapa?" tanya Galen. "Dinda dalam bahaya!" *** Dinda semakin dibuat takut disaat dia melihat bayangan gadis yang semakin dengan dengan tempatnya bersembunyi. Ditambah lagi dengan benda yang dipegang oleh gadis itu. Pisau. Ya, gadis itu memainkan pisaunya diudara. Terdengar seringaian dari mulut gadis itu. "Alaska, tolong gue," batinnya Entah kenapa, nama Alaska lah yang pertama kali muncul di otaknya saat dia sedang dalam keadaan bahaya seperti ini. Entah kenapa pula, Dinda begitu yakin bahwa Alaska mampu menolongnya. "DINDAAA!!!" teriak seorang gadis yang dari tadi mengikutinya. "Keluar dong. Gue mau kasih lo pelajaran karna lo udah ambil perhatian calon pacar gue," ujar gadis tersebut. Dinda seperti familiar dengan suara ini. Tapi siapa? Ketiga orang yang mengikuti Dinda ini semakin mendekat kearah Dinda bersembunyi. Dinda berusaha mati-matian menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh ketiga orang ini. Tiga langkah lagi, ketiga orang ini akan menemukan Dinda. Napas Dinda tersengal saat gadis itu mulai membungkukkan wajahnya sejajar dengan wajah Dinda. Dalam hati, Dinda terus-menerus memanggil nama Alaska berulang kali. Sampai suara langkah kaki yang mendekat menyita perhatian Dinda sekaligus ketiga orang ini. Alaska datang bersama Galen, Anjas, Satya, Ken, Bian dan Idrus. Benar-benar seperti super hero. Alaska berjalan memimpin. Dia menarik bahu salah satu dari dua cowok yang terlihat sedang mabuk. Bugh! Alaska membogem rahang cowok itu sekali, kemudian beralih ke cowok kedua. Bugh! Alaska melakukan hal yang sama pada cowok itu. Mata Alaska beralih kepada gadis yang sedang memegang pisau. Tanpa ingin mengotori tangannya, Alaska menyuruh teman-temannya untuk mengurusi gadis ini. Alaska mendekat kearah Dinda yang tersenyum. Alaska tidak bisa melihat senyum itu. Jelas, kan gelap. "Lo gapapa?" "Ya, gue gapapa." Alaska menarik halus tangan Dinda agar berdiri. "Urus dia, gue anterin Dinda pulang," ujar Alaska yang dibalas dengan seruan semangat dari teman-temannya. "Santuy ketua, cewek gini doang mah gampang," ujar Ken paling heboh. "Yang cowok, mau kita apain?" Anjas bertanya. Alaska sedikit berpikir. Kemudian terlintas ide jahat yang membuatnya menyeringai. "Hajar aja, bawa mereka bertiga ke basecamp."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD