6. KECURIGAAN

1606 Words
Setelah kemarin malam Dinda menuruti keinginan Ava dan Zoya untuk pergi menonton balapan motor. Sekarang, gadis itu malah mendapatkan ribuan pertanyaan dari sahabat-sahabatnya. Pasalnya, kemarin malam Dinda datang bersama dengan Alaska dan keenam inti Avender. Bahkan anggota Avender ini terus mendampingi Dinda, kemanapun Dinda pergi. Dan itu membuat Ava, Zoya dan Kinan penasaran dengan hubungan Dinda dan ketujuh anggota inti Avender ini. Dinda menutup telinganya malas. Telinganya terasa panas sekarang. Terlalu banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut mereka. "Dinda! Lo dengerin kita gak sih?" kesal Ava karena merasa diacuhkan. "Jawab pertanyaan kita dong." "Gue gak denger," racau Dinda membuat Ava semakin kesal. Gadis itu menarik paksa tangan Dinda yang menutupi telinganya. "Please Din, jawab dong," ujar Ava memohon. Diikuti dengan puppy eyes dari Zoya. "Hufhh," Dinda mendesah pelan. "Iya-iya gue jawab. Makanya kalo tanya satu-satu," ujar Dinda kesal. "Yaudah gini aja. Sekarang kita tanya. Nanti lo jawabnya sekalian aja," ujar Ava membuat Dinda mengangguk pasrah. "Gimana bisa, kemarin lo berangkat bareng sama anak Avender?" Sudah Dinda duga! Pertanyaan itu akan terlontar pertama kali dari mulut gadis yang memiliki kapasitas ke-kepoan yang tiada tara. "Terus, kenapa lo kelihatan akrab banget sama ketua geng mereka?" ujar Kinan bertanya. Oke-oke, Dinda juga sudah menduga. Mereka hanya akan menanyainya seputar Alaska dan Avender. "Dan yang paling penting," Zoya menjeda ucapannya. "Ada hubungan apa lo sama Alaska?" Daebak! Semua pertanyaan yang keluar dari mulut mereka sama persis seperti yang sudah Dinda duga sebelumnya. Baiklah, Dinda akan mulai menjawab pertanyaan mereka. *** Dinda berpapasan dengan Nayya di koridor sepi. Jam pelajaran masih berlangsung. Tapi Dinda, gadis itu tadi diminta oleh salah satu guru untuk mengembalikan buku ke perpustakaan. Dan berakhirlah sekarang, gadis dengan senyum liciknya berdiri menghalangi jalan Dinda. Dinda memandang jengah gadis di depannya ini. "Belum saatnya gue bales," batin Dinda. "Hai Ladinda Agatha," ujar Nayya mulai berjalan maju mendekati Dinda yang hanya diam di tempatnya. Gadis itu berjalan memutari Dinda, lalu kembali berdiri di hadapannya. "Kayanya, lo emang bener-bener gak ngerti sama omongan gue kemarin ya?" ujarnya dengan smirk. Sekali lagi, Dinda masih diam ditempatnya. "Kenapa diem aja?" ujar Nayya mencondongkan wajahnya. "Takut? Gak ada temen ya?" Nayya menyeringai. "Udah hilang nyali lo?" ujar Nayya lagi. Dinda memalingkan wajahnya kesembarang arah. "Udah gue duga," jeda Nayya. "Lo itu gak bisa apa-apa kalo gak ada temen-temen lo. Kaya sekarang ini. Lo itu lemah!" tunjuknya tepat di wajah Dinda. Dinda hanya diam saja. Mungkin jika kalian melihatnya sekarang. Itu akan terkesan jika Dinda benar-benar takut. "Oh, atau lo mau kejadian waktu itu keulang lagi?" ujar Nayya membuat Dinda gemetaran di tempatnya. Tidak, Dinda tidak boleh mengingatnya. Satu jambakan nyaris diberikan Nayya untuk Dinda. Sebelum ada tangan yang menahan pergelangan tangan Nayya. Nayya menoleh dan mendapati Regina yang tengah mencengkram kuat tangannya dengan tatapan penuh kebencian. "Awh," ringis Nayya berusaha melepaskan cengkraman tangan Regina. "Lepasin gue!" bentaknya. "Dasar badgirl pembawa sial!" umpat Nayya. Regina melepaskan tangan Nayya dengan santai. "Ups, sorry," ujarnya sambil menutup mulut, seolah melakukannya tidak sengaja. "Mau lo apa hah!" ujar Nayya dengan gaya menantang. Regina menautkan alisnya. "Ngomong apa sih?" "Lo ya!" Nayya hendak melayangkan satu tamparan di pipi mulus Regina. Namun seorang cowok lebih dulu menarik tangan Nayya menjauh dari Regina. "Baron?!" Kaget Nayya. Sialan! Nayya terpojokkan. "Lo mau apa?" tantang Baron. Cowok itu sebenarnya sudah melihat Nayya yang sedang adu mulut dengan Regina, kekasihnya. Awalnya cowok itu hanya ingin menontonnya saja. Namun melihat Regina yang nyaris di tampar. Membuat Baron maju untuk menghadapi gadis yang mendapat julukan "kuman" di SMA Nasional ini. Baron memang badboy, tetapi dia adalah cowok yang setia. Dia begitu menyayangi Regina seperti menyayangi dirinya sendiri. Nayya langsung menciut melihat Baron. Kalau saja posisinya sekarang Nayya adalah pacar Alaska. Sudah dipastikan, Nayya akan berlari mengadu kepada Alaska agar Alaska menghabisi cowok yang mengacaukan aksinya. Namun sayangnya, Alaska tak pernah menganggapnya ada. Memang, Alaska tidak menghindarinya ketika dia mencoba mendekatinya. Tetapi Alaska selalu mengacuhkannya. Dan kehadiran Dinda di hidup Alaska membuat Nayya merasa kesempatannya untuk bisa bersama Alaska semakin kecil. Gadis itu berniat untuk melenyapkan Dinda dari hidup Alaska. Bagaimanapun caranya. Nayya langsung kabur begitu sudah berhadapan dengan Baron. Gadis itu benar-benar takut. Baron beralih menatap Regina yang berdiri di belakangnya. "Lo gapapa kan?" tanya Baron khawatir. Cowok itu menangkup wajah Regina dengan kedua telapak tangannya. "Gak, gue gapapa," balas Regina. "Udah, lo duluan aja," usirnya. Baron yang paham maksud Regina segera menuruti keinginan gadisnya itu. Setelah Baron menghilang dari balik dinding. Regina menoleh memperhatikan Dinda yang juga sedang memperhatikannya. "Hmm," dehem Regina membuat Dinda mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu gadis itu tersenyum. "Hai," sapa Dinda membuat Regina membeku. Baru kali ini ada gadis yang mau menyapanya dengan ramah. Biasanya, mereka akan ketakutan jika melihat Regina. Padahal, Regina adalah gadis cantik. Namun karena dia terkenal dengan sikap badgirl nya membuat seluruh siswi takut berada di dekatnya. "Hai?" ujar Regina kaku. Dinda tersenyum maklum. Dia sudah mendengar banyak cerita tentang Regina. Namun menurutnya, Regina adalah gadis baik yang menjadikan sikap bad-nya sebagai pelampiasan. "Gue Dinda," ujar Dinda mengulurkan tangannya. Namun tak kunjung di balas Regina. Gadis itu hanya menatap uluran tangan Dinda. "Oh, gak mau kenalan ya?" ujar Dinda merasa tidak enak. Gadis itu hendak menarik tangannya kembali, namun dengan cepat. Regina membalas uluran tangan Dinda. "Regina, Regina Syaquila," balas Regina ramah. Kini terlihat senyum manis dari wajah gadis itu. Senyum yang sangat jarang dia tunjukkan kepada orang asing. Tapi kini, Dinda bisa melihat senyum itu. "Makasih ya, udah nolongin gue tadi." Regina mengangguk, senyum itu masih belum luntur di wajah cantiknya. "Lo cantik banget kalo lagi senyum," puji Dinda kagum. Regina menjadi malu mendengarnya. "Bisa aja lo." Dinda terkekeh. "Seneng deh, bisa kenalan sama lo." "Lo gak takut sama gue?" tanya Regina, gadis itu tersenyum miris mengingat banyak siswi yang menghindarinya karena sikapnya yang urakan. Padahal, dia seperti ini juga karena mereka. "Kenapa harus takut sih," balas Dinda tersenyum simpul. "Lo gak tau, gue kan--," ujar Regina terpotong. "Stt," potong Dinda menempelkan telunjuknya di bibir Regina. "Gue tau lo cewek baik. Mereka aja yang salah nilai lo." "Mereka ngelihat lo bukan dari hati. Tapi dari penampilan," sambung Dinda. "Padahal, hati itu gak bisa bohong. Sedangkan penampilan, semuanya bisa dimanipulasi kan?" Regina memandang Dinda takjub. Gadis sebaik ini ternyata masih ada di SMA Nasional. Regina kira, SMA Nasional itu bagaikan neraka. Dan semua orang yang ada di dalamnya adalah setan-setan yang menghuni neraka tersebut. Tapi ternyata dia salah. Pantas saja banyak siswa yang menyukai Dinda. Karena Selain Dinda cantik, Dinda juga baik. "Lo tau Din. Awalnya gue berasumsi kalo SMA ini itu neraka. Semua orang yang ada disini adalah setan-setan yang ngehuni neraka itu," ujar Regina dengan wajah sendu. "Tapi setelah gue kenal lo. Gue baru sadar, kalo asumsi gue itu salah." Dinda tersenyum tipis. "SMA ini itu bagaikan ajang sandiwara. Dimana orang yang paling bagus aktingnya. Orang itu juga yang akan dipuji," ujar Dinda, Regina mendengarkan dengan seksama. "SMA ini juga bagaikan ajang pencarian model. Dimana orang yang penampilannya menarik, ganteng atau cantik. Mau gimanapun hatinya, mereka gak peduli. Mereka udah pasti akan pilih orang itu dan berpihak sama orang itu juga." "Yahh, kecuali sama Nayya," sambung Dinda. "Tuh cewek udah terlanjur dibenci sama satu sekolah. Salah sendiri kelakuannya kaya gak pernah diajarin tata krama." "Mereka semua juga benci sama gue Din," ujar Regina membuat Dinda menoleh. "Gak semuanya," Dinda mengingatkan. "Gue gak benci sama lo." Regina tersenyum tipis, dia beruntung bisa bertemu dengan Dinda hari ini. Gadis yang mampu membuatnya tersenyum dan merasakan kembali rasanya memiliki seorang sahabat. Walaupun sebenarnya dia belum yakin. Apakah Dinda mau menjadi sahabatnya? "Jangan terpaku sama omongan orang. Mereka itu cuma bisa melihat dan menilai. Mereka gak bisa merasakan," ujar Dinda. "Tapi gue. Gue bisa merasakan ketulusan lo, kebaikan hati lo." "Din," lirih Regina. "Gue boleh jadi temen lo?" tanyanya menunduk. Takut ditolak. "Dengan senang hati," jawab Dinda merentangkan kedua tangannya dan langsung memeluk Regina. Regina tidak menyangka kalau Dinda akan memperlakukannya dengan begitu baik. Menyambutnya dengan sangat baik pula. Pelukan hangat dari seorang sahabat. Pelukan yang sangat Regina rindukan. Oh iya, hampir lupa! Dinda harus segera mengembalikan buku ke perpustakan. Dinda melerai pelukannya. Gadis itu tersenyum lembut melihat wajah Regina yang terlihat lebih sering tersenyum sekarang. "Gue harus balikin buku ke perpus dulu," ujar Dinda. "Gue duluan ya. Bye Regina!" pamitnya menjauhi Regina sembari melambaikan tangannya. "Jangan judes-judes, keep smile," sambung Dinda memperlihatkan deretan giginya. Regina tersenyum menanggapi perkataan Dinda. "Gue punya sahabat?" gumamnya girang. Dibalik dinding, Baron mengintip kekasihnya yang sangat bahagia karena mendapatkan teman baru. Gadis asing yang sempat menggemparkan SMA Nasional karena akhir-akhir ini terlihat sering berada di tengah-tengah anggota inti Avender. Dan terlihat sering berangkat serta pulang bersama sang ketua. "Bahagia lo, bahagia gue juga," gumam Baron tersenyum. Di balik dinding lain, berdiri Galen dan Satya yang juga melihat serta mendengarkan semua insiden antara Dinda dan Nayya juga Regina. Bahkan mereka memvidiokannya. Untuk ditunjukkan pada Alaska. Galen dan Satya sama-sama kagum dengan sikap Dinda, perkataan Dinda, wajah Dinda, senyum Dinda, tawa Dinda, suara Dinda. Sudah-sudah, Alaska bisa membunuhnya jika cowok itu tau. Galen dan Satya memperhatikan Dinda se-detail itu. "Dewasa banget ya Dinda," puji Galen memperhatikan punggung Dinda yang berjalan menjauh. "Iya, bisa falling in love sama dia gue kalo kaya gini," Satya setuju. Cowok itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Membayangkan jika Dinda, menjadi kekasihnya. Galen menoyor kepala Satya. Berusaha menyadarkan cowok tersebut. "Sadar woi, lo mau dibunuh Alaska? Lo mau nikung dia?" "Kaga elah. Canda doang gue," elak Satya. "Emangnya bener, pak bos suka sama Dinda?" Galen menghendikkan bahu tidak tau. "Gak cuma suka, udah cinta kali," tebaknya. "Udah, laporan yok laporan," ujar Galen bersemangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD