5. BAPERAN

1781 Words
Sekarang adalah jam pulang sekolah. Teman-teman Dinda sudah pulang terlebih dahulu. Baik Ava yang pulang bersama Gibran. Zoya yang pulang bersama Jericho. Dan Kinan yang sudah dijemput dengan sopirnya. Kini tinggalah Dinda sendiri, menunggu angkutan umum di depan gerbang sekolah. Sebenarnya, di dekat sekolah ini terdapat halte. Namun, Dinda sangat malas jika harus menunggu angkutan umum di halte tersebut. Kalau bisa disini, kenapa harus disana? Karena merasa bosan, Dinda menunggu angkutan umum sambil memainkan ponselnya. Gadis itu melihat beberapa postingan dari Ava dan Zoya. Kedua sahabatnya ini, kompak memposting foto kebersamaan mereka bersama pasangannya masing-masing. Dinda hanya bisa tersenyum melihat postingan tersebut. Memang terkadang Zoya dan Ava sering ribut kalau sudah membahas soal bucin. Kedua gadis itu tidak suka jika di sebut bucin. Hasilnya, mereka saling menunjuk satu sama lain jika sudah membicarakan perihal kebucinan. Memangnya apa yang salah dengan bucin? Dinda terlihat sangat sibuk bermain ponsel. Hingga gadis itu tidak sadar. Alaska sudah menunggunya sedari tadi. "Eh," kaget Dinda begitu dia mendongakkan kepalanya. Dia mendapati Alaska yang sedang menaiki motor sportnya yang berwarna hitam. "Kok masih disini?" Alaska berdecak kesal. "Ck. Lo berangkat bareng gue. Jadi lo pulang juga harus bareng gue." Dinda terkekeh sejenak. "Ini, gue aja yang lebay, apa emang lo bener-bener jadi baik sih?" Alaska memutar bola matanya kesal. "Gitu aja terus!" Dinda yang awalnya terkekeh menjadi tertawa renyah. "Ngambek, gitu aja ngambek." Alaska seakan terhipnotis dengan suara tawa Dinda. Suara yang sangat menghanyutkan. Dinda tersadar dengan raut wajah Alaska yang hanya terdiam. "Woi! Lo beneran marah sama gue?" Alaska mengerjapkan matanya beberapa kali. "Gak, ngapain harus marah," ujarnya. "Udah cepet naik!" titahnya yang langsung dituruti oleh Dinda. "Pake helmnya yang bener," kata Alaska melihat Dinda yang sedang memakai helm dari kaca spionnya. "Iya-iya, bawel banget lo ternyata." Alaska memacu motornya meninggalkan SMA Nasional. Cowok itu membawa Dinda kembali ke rumahnya. Alaska sampai di depan rumah mewah Alaska. Cowok itu memarkirkan motornya di halaman rumahnya. Bukan di dalam bagasi. Karena cowok itu, sebentar lagi akan langsung pergi ke basecamp Avender. Alaska membuka pintu bercat putih itu dan mempersilahkan Dinda masuk. Mereka disambut hangat dengan Arka dan Eric yang sedang membawa koper di masing-masing tangan mereka. "Loh bang, mau kemana?" tanya Dinda melihat koper yang ada ditangan Eric dan Arka bergantian. "Ohh ini," ujar Arka menunjuk kopernya. "Kampus kita ngadain acara di luar kota, sekalian disana kita juga ada tugas." "Dan semua mahasiswa wajib ikut," Eric ikut menambahi. "Terus Dinda?" ujar Dinda menunjuk dirinya sendiri. Eric dan Arka saling melirik satu sama lain. Lalu mereka tersenyum penuh arti. "Adek kesayangan Bang Arka," ujar Arka menghampiri Dinda. "Lo tinggal disini sementara ya, sama Alaska." Dengan cepat Dinda menolak. "Gak! Gak mau!" "Dinda, Bang Arka gak bakal tenang kalo Dinda tinggal di rumah sendirian," ujar Arka meyakinkan Dinda lagi. "Tapi kan bang," Dinda terlihat sangat lesu. "Alaska gak bakal macem-macem kok sama lo dek. Percaya deh sama bang Eric," Eric ikut meyakinkan Dinda. "Kalo sampe dia macem-macem sama lo....," Eric menghentikan ucapannya. Cowok itu malah menyilangkan tangannya di lehernya. Seolah ingin membunuh. Alaska bergidik ngeri melihat Eric. Berbeda dengan Dinda yang malah tertawa. "Ini yang adek lo siapa sih bang," tanya Alaska. Cowok itu merasa, Eric jauh lebih menyayangi Dinda daripada Alaska. "Baperan lo Al," cibir Eric tertawa geli. "Udah ah, kita duluan." "Gapapa ya Din. Acaranya cuma seminggu doang kok," ujar Arka tersenyum sambil mengacak rambut adiknya. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," balas Dinda dan Alaska serempak. Arka dan Eric melangkah keluar rumah. Diikuti dengan Dinda dan Alaska yang melihat kepergian mereka di pangkal pintu rumah tersebut. Eric berbalik menatap Alaska dan Dinda. "Inget lo, jaga adek gue. Awas aja kalo sampe adek gue terlantar," ujar Eric ditujukan untuk Alaska. Cowok itu mengulangi hal yang sama seperti tadi. Menyilangkan tangannya di leher miliknya. Seolah ingin membunuh. Alaska menjawabnya dengan mengangkat kedua jempol miliknya membuat Eric tersenyum lalu berbalik. Melanjutkan langkahnya. "Ini sih beneran, gue adek yang terbuang," gumam Alaska. "Baperan lo," ujar Dinda mengikuti kata-kata Eric tadi. Gadis itu langsung ngacir begitu selesai mengucapkan kalimat itu. "Woi!" teriak Alaska yang masih berdiri di pangkal pintu rumah. "Apaan?" tanya Dinda yang juga ikut berteriak. "Gue cabut, mau ke basecamp dulu," ujar Alaska membuat Dinda buru-buru menghampiri Alaska. Sebelum cowok itu benar-benar pergi. "Bentaran," cegah Dinda yang sudah berada di dekat Alaska. Alaska hanya memandang wajah Dinda tanpa mengucapkan apapun. "Gue ikut," cicitnya lagi. Sebelum Alaska menolak, dengan cepat gadis itu menaiki motor Alaska. Membuat Alaska mau tidak mau mengajak gadis itu ke basecamp. "Gue pulangnya bisa malem, bahkan biasanya gak pulang sama sekali," ujar Alaska ditengah-tengah ramainya jalan raya. "Gapapa, gue bisa pulang sendiri nanti." "Yaudah sekarang lo turun dulu. Ganti baju! Masa mau pake seragam terus," ujar Alaska. "Gak mau! Ntar lo ninggalin gue lagi," tolak Dinda. "Lagian lo juga pake seragam kok." Alaska bersedekap d**a sembari menggelengkan kepalanya. "Gue gak mau bala lo kesana kalo gitu." Bibir Dinda mengerucut maju, kemudian gadis itu turun dari motor Alaska. "Awas kalo sampe gue ditinggal!" teriaknya sembari berlari masuk ke dalam rumah. Alaska hanya tersenyum melihat Dinda bertingkah seperti itu. Sungguh, menurut Alaska itu sangat menggemaskan. *** Dinda duduk di tengah-tengah ratusan anggota Avender. Gadis itu hanya diam saja sedari tadi. Dia sebenarnya takut, namun mau bagaimana lagi? Daripada dia harus di rumah Alaska seorang diri. "Dinda, lo ngapain diem aja daritadi," suara Galen membuat Dinda menoleh menatap cowok tersebut. Satu-satunya teman Alaska yang sangat akrab dengannya. Untuk saat ini. "Ah enggak, gue cuma bingung. Harus ngomong apa," ujar Dinda jujur. "Gue gak biasa ada di posisi ini," lanjutnya sedikit berbisik. Galen merapatkan tubuhnya mendekati Dinda. "Lo harus terbiasa," Galen ikut berbisik. Alaska melihat Dinda dan Galen yang nampak sangat dekat. Cowok itu memutuskan untuk menghampiri keduanya. Dan duduk ditengah-tengah mereka. "Ngomongin apa lo?" tanya Alaska terkesan mengintrogasi. Dinda dan Galen sama-sama diam. Mereka tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan Alaska. Dinda yang memang malas untuk menjawab karena merasa pertanyaan itu tidak penting. Sedangkan Galen yang senang menggoda Alaska dengan membuatnya cemburu. Cemburu? Bukankah itu tanda cinta. Apa benar, Alaska memang mencintai Dinda? Dalam waktu sesingkat ini? Bisakah? "Gak ada yang mau jawab pertanyaan gue?" ulang Alaska bertanya. Namun dibalas Dinda dengan menghendikkan bahunya acuh. Gadis itu beralih memainkan ponselnya, membuka grup chat yang beranggotakan dia, Kinan, Zoya dan Ava. Bestie AvaNafiza: Hola hai ZoyaMaulida: Hai hola AvaNafiza: Absen dulu yuk gengs, yang aktif bilang hadir dong!! ZoyaMaulida: Hadirrr KinandhitaSyahira: ^2 LadindaAgatha: ^3 ZoyaMaulida: Eh guys guys guys AvaNafiza: Apa? KinandhitaSyahira: ^2 LadindaAgatha: ^3 ZoyaMaulida: Kata Jericho, dia mau lihat balap motor masa. Gue jadi pengen deh AvaNafiza: Fix, sama banget sama Gibran! AvaNafiza: Kayanya mereka nontonnya barengan deh ZoyaMaulida: Kita ikut nonton yuk Va, pengen banget gue AvaNafiza: Pasti Zoy, jangan biarin mereka macem-macem diluar sana AvaNafiza: Kita harus awasin dia Zoy ZoyaMaulida: Setuju! ZoyaMaulida: Kinan sama Dinda mana nih, muncul woi jangan jadi sider KinandhitaSyahira: Muncul LadindaAgatha: ^2 ZoyaMaulida: Kalian ikut nggak? AvaNafiza: Ikut lah ya, yang kompak guys! LadindaAgatha: Kaga, jangan toxic-in gue lo KinandhitaSyahira: Setuju sama Dinda! AvaNafiza: Sekali aja kali AvaNafiza: Cuma nonton balap motor doang, gak ke club ZoyaMaulida: Tau tuh, ayolah AvaNafiza: Kompak dong guys LadindaAgatha: Ini sih cuma nguntungin lo berdua LadindaAgatha: Gue sama Kinan dapet apa? AvaNafiza: Disana banyak cogan Din AvaNafiza: Lumayan buat nambah fans lo ZoyaMaulida: Iya, Kinan juga LadindaAgatha: Ogah gue sama modelan cowok disana LadindaAgatha: Serem ih ZoyaMaulida: Pokoknya lo berdua harus ikut titik(.) AvaNafiza: Iya, gapake koma(,) Dinda menutup grup chat tersebut. Demi tuhan, Dinda menyesal sudah ikut nimbrung ke dalam obrolan mereka. Gadis itu tidak sampai hati jika harus menolak ajakan Ava dan Zoya yang terkesan sangat memohon itu. Mau tidak mau, Dinda harus pergi ke tempat balapan motor itu. Dinda menoleh menatap Alaska yang masih terdiam disampingnya. Cowok itu sedari tadi memperhatikan wajah Dinda dari samping. "Mmm Alaska," ujar Dinda pelan. Alaska hanya menjawabnya dengan satu alisnya yang terangkat. Seakan bertanya "kenapa?" "Gue mau main dulu ya," ujar Dinda ragu-ragu. Gadis itu benar-benar harus izin kepada Alaska. Karena Arka sudah menitipkannya ke ketua Avender ini. "Malem-malem gini, mau main kemana?" tanya Alaska mengintrogasi. Suaranya terdengar sangat menyebalkan ditelinga Dinda. Bagaimana bisa, kakaknya percaya dengan cowok menyebalkan ini. "Diajak Ava sama Zoya," ujar Dinda menunduk. "Ke balapan motor," lanjutnya membuat Alaska melotot ditempatnya. "Gak!" tolak Alaska tegas. Cowok itu benar-benar terkejut mendengar pernyataan Dinda. Dia tidak menyangka, gadis seperti Dinda mau diajak ke balapan motor. "Tapi Al, gue udah ditungguin sama mereka." "Gak usah ngeyel. Tempat balapan motor itu bahaya Din. Apalagi buat cewek kaya lo," tolak Alaska bersikeras. "Al, lo tau kan artinya solidaritas," ujar Dinda membuat Alaska diam. "Gue tau lo sangat menjunjung tinggi solidaritas antara lo, dan temen-temen lo." "Begitu juga gue," sambung Dinda. "Gue juga mau solid sama temen-temen gue. Ava sama Zoya, mereka pengen lihat kelakuan pacar mereka kalo udah ada di lingkup balapan motor." "Itu pacar temen lo, lo gak seharusnya ikut campur." "Bukan masalah ikut campur atau enggak," ujar Dinda. "Gue cuma mau nemenin mereka Al. Tolong ngerti. Dan lagi, Jericho sama Gibran itu sahabat gue dari SMP." Alaska kembali menggeleng. "Tetep gak bisa Din, gue yakin. Kalo lo izin sama bang Arka. Lo pasti juga gak dibolehin. Udah deh." Dinda menghela napas kasar. "Yaudah gini deh, lo ikut gue. Temenin gue kesana. Kalo ada lo, semuanya bakalan aman kan?" Tepat sasaran. Ucapan itu sangat ditunggu-tunggu Alaska sedari tadi. Cowok itu tersenyum tipis. "Oke, gue temenin lo," ujarnya lalu mengambil jaketnya juga kunci motornya. Alaska tiba-tiba bersemangat. "Ayo!" *** Dinda berdiri diantara Alaska, Galen, Anjas, Satya, Ken, Idrus dan Bian. Mereka benar-benar pergi ke tempat balapan motor sekarang. Awalnya, hanya Alaska dan Dinda yang akan kesini. Namun, melihat teman-temannya yang kurang kerjaan membuat Alaska berinisiatif untuk mengajak mereka kesini. Itung-itung refreshing. "Wah gila! Makin rame aja nih balapan," decak kagum lolos dari mulut Galen. "Setelah sekian lama kita gak kesini." "Iya, ngelihat balapan kaya gini. Gue jadi nostalgia," kata Ken sambil tersenyum. Cowok itu akan segera memulai sesi flashbacknya. Sebelum Ken benar-benar flashback, Bian menyentil jidat Ken gregetan. "Plesbek mulu lo, udah kaya ciwi-ciwi kalo lagi galau." Ken mengerucutkan bibirnya kesal. "Bilang aja lo iri. Gak bisa inget apa-apa. Emang dasarnya lo itu pikun," cibir Ken membuat Bian kesal. "Stop!" cegah Satya sebelum mereka berdebat lebih panjang lagi. "Lihat sikon kalo mau debat, ini gak tepat waktunya." "Kaya gini mau deketin Dinda," ujar Anjas ditujukan untuk Bian. "Gabung sama ibu-ibu pkk aja sana." Satya dan Ken menahan tawa mendengar perkataan Anjas. Mereka terlihat puas melihat raut wajah Bian yang semakin masam. "I lop yu bang Anjas," ujar Ken membuat Anjas meliriknya jijik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD