Jovan Kyle keluar dari Porsche cayman berwarna dark blue metallic yang baru di belinya minggu lalu, dengan senyuman lebar, ia mengusap setelan rapinya dengan bangga. Ia memang kalah dari Jefry, lelaki itu lebih dahulu menikah di bandingnya, padahal keduanya selalu berlomba untuk saling unggul. Tapi berkat perlombaan konyol itu, akhirnya Jovan sukses dengan karirnya, beberapa tingkat lebih jauh di banding Jefry yang seorang seniman.
Karya lukisan Jefry memang cukup terkenal, memiliki galeri sendiri, serta nilai jual yang tergolong tinggi. Namun jika di bandingkan dengan Jovan yang kini menjadi seorang founder sekaligus CEO dari perusahaan besar yang dirintisnya dari nol, bukankah Jovan lebih unggul?
JK Arch, perusahaan arsitektur yang ia bangun bersama teman semasa kuliahnya, kini semakin besar di kancah nusantara dan lintas negara. Awalnya ia kalah dari Jefry, lelaki ber ipk 3,9 yang selalu membuatnya iri. Berkat keduanya yang bersahabat dari Sekolah Menengah Pertama, lalu kembali dipertemukan di Universitas yang sama, Jovan paham apa artinya cemburu. Ia jelas cemburu pada Jefry yang selalu unggul bahkan sering mendapat penghargaan dari segala perlombaan seni yang diikutinya.
Jefry jelas memiliki tonggak yang kokoh untuk terjun ke dunia kerja yang kejam, sedangkan ia hanya mempunyai bakat tersembunyi yang hanya ia tuangkan melalui karya dan tugas selama kuliah saja. Tetapi kali ini Jovan memiliki leher yang kokoh untuk menegakkan kepalanya, berkat mobil sport idamannya, pekerjaan serta harta yang ia rasa lebih unggul dari Jefry. Namun, saat melirik sampingnya, ia tak memiliki pasangan, serta undangan yang digenggamanya, ia sadar jika kali ini Jefry benar-benar lebih unggul darinya.
Menyewa wanita hanya untuk menemaninya menghadiri undangan pernikahan Jefry hanya memalukan diri sendiri saja, sedang mencari pasangan dalam waktu dekat tanpa cinta, tentu tidak akan ia ulangi untuk kedua kalinya. Mencari pasangan asal dan untuk bermain-main saja, tidak akan pernah ia ulangi lagi, hal konyol yang sangat tidak dewasa. Saat ini, Jovan akan membentuk karakter boss yang dingin, itulah cita-citanya dulu sebelum sukses.
Kakinya melangkah menuju gedung resepsi itu, namun seorang wanita yang begitu menonjol dengan gaun fit body berwarna lavender, serta gelungan rambut yang rapi itu menarik habis perhatiannya. Matanya memicing saat merasa tidak asing dengan wanita berkulit putih itu, langkahnya kian mendekat, dan saat keduanya berjejeran di pintu pengecekan undangan, Jovan tersenyum lebar. Wanita itu adalah Anne, sosok yang kini berhasil menerbitkan senyuman lebar di wajah Jovan.
Dengan sengaja Jovan terus menatap wanita itu, memerhatikan dalam jarak dan mengamati ekspresi Anne. Beberapa kali Jovan mengernyit heran, melihat raut wajah suram yang harusnya tidak di tampilkan di saat hadir di sebuah acara pernikahan. Ayolah, ini bukan sesi berkabung, mengapa Anne semuram itu? Kembali Jovan di buat terheran, saat Anne tersenyum kearah panggung pengantin. Dari kejauhan Sintia melambaikan tangannya dengan senyuman sumringah, apa keduanya saling kenal?
Menyadari kehadiran Anne diacara pernikahan Jefry membuat Jovan sedikit berfikir, wanita itu menghadiri undangan dari siapa? Mempelai pria atau wanita?
Langkah Jovan kian lebar begitu menyadari Anne mendekat kearah antrean, sialnya ia tak dapat berbaris tepat di belakang Anne.
"Permisi, bolehkah kita tukar tempat?" Bisik Jovan pada sepasang tamu yang berbaris di hadapannya.
Sang pria menoleh lantas mengernyit, jelas menolak tanpa mengucapkan jawaban lalu kembali menatap kedepan. Jovan tak kehabisan ide, ditepuknya pundak lelaki itu dengan lembut.
"Akan kubayar jika kau mau bertukar."
Sepasang tamu itu tampak saling pandang, namun raut tertarik jelas nampak dari wajah keduanya. Dirogohnya dompet dari balik jasnya, dan diambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dari dalam sana.
"Segini cukup?"
Lagi-lagi sepasang tamu itu saling pandang dengan canggung, namun segera saja Jovan menyodorkan uang itu kedalam genggaman tangan sang lelaki.
"Hey, kalian tidak perlu sungkan, ambillah. Aku serius untuk ini."
Setelahnya Jovan tersenyum lebar saat sepasang tamu itu memberinya jalan, dan dengan gesit ia mendekat kearah Anne. Hanya karena wanita di masa lalunya ini, Jovan harus melakukan tindakan penyogokan, sangat kotor sekali. Tidak apa, setidaknya Jovan dapat menghirup aroma masa lalunya ini, Anne, sang mantan kekasih.
Selama mengamati bagaimana wanita itu bersalaman dengan orang tua Jovan, lalu pada pasangan pengantin, Jovan menyadari satu hal, jika Anne pasti mengenal Jefry dengan baik. Namun melihat bagaimana Jefry menatap Anne, Jovan menarik kesimpulan dan dugaan jika Jefry menyukai wanita itu.
Dasar lelaki berengsek, di sampingnya ada seorang wanita cantik yang sudah resmi menjadi istrinya, lalu mengapa lelaki itu masih menatap wanita lain dengan tatapan memuja seperti itu?
"Hai Jo, kau datang? Kukira kau tak akan datang karena tak memiliki pasangan."
Candaan itu mengalun bagitu saja dari mulut Jefry, memang bernada candaan, namun bagi Jovan itu adalah ejekan dan percikan api persaingan yang harus ia lawan. Ia menurut saja saat Jefry memeluknya, namun keningnya mengernyit dalam saat mendengar bisikan lain yang masuk ke telinganya.
"Sorry ya, aku ambil bekas kamu."
Bekas?
Jovan menolehkan kepalanya pada kedua wanita yang kini sudah mengurai pelukannya, ia jelas mendengar kata bekas dari salah satu mulut wanita itu, namun ia yakin betul jika itu bukanlah suara Anne, ia jelas masih mengingat suara wanita itu. Kecuali jika Anne mengoperasi pita suaranya dan diubah menjadi suara lain.
"Selamat ya bro!" Refleknya saat Jefry menepuk lengannya.
Lelaki itu tertawa geli, menertawakan kekonyolannya yang melamun saat tamu lain sedang mengantri menunggunya. Namun petanyaan demi pertanyaan yang muncul dari istri Jefry terus membuat kening Jovan mengernyit heran, puncaknya saat Jefry ikut angkat tangan menahan istrinya dan wanita itu berucap dengan ekspresi sinisnya. Bagi Jovan pertanyaan wanita itu sedikit keterlaluan, menanyakan tentang kesendirian, pasangan, bahkan nada membandingkan yang kelewat menyebalkan.
Melihat reaksi Anne yang bergeming, serta bagaimana kedua tangan wanita itu terkepal erat, membuat sisi lain dari diri jovan tergelitik, bahkan dengan bodohnya ia merangkul dan mengenalkan diri sebagai kekasih Anne. Namun Jovan rasa dirinya tidaklah bodoh, keputusannya saat ini sangatlah benar, malah ia patut bersyukur, terlebih pada tamu undangan yang kini mendorongnya hingga dapat merengkuh pinggang Anne yang kini terbelalak menatapnya.
Mata hanzel yang cantik itu, parasnya yang semakin rupawan, serta ekspresi yang selalu ia rindukan, kini terpampang jelas dihadapannya. Anne, wanita yang pernah ia pacari hanya karena ajang main-main belaka, kini menjelma menjadi Anne yang begitu rupawan dan menarik perhatiannya.
"Hai, long time no see.."
Ekspresi itulah yang ia harapkan dari Anne, saat wanita itu terkejut dan membolakan matanya, saat itulah kecantikannya berlipat ganda.
"Kamu pacaran sama Anne?!" Jefry mencekal lengan Jovan dengan wajah terkejutnya.
Dengan senyum kemenangan, Jovan mengangguk dan menyeringai, "Ya, dia mantanmu juga?"
Melihat wajah kekesalan Jefry, rasa percaya diri Jovan meninggat hingga langit, tergambar jelas, jika Jefry yang masih mencintai mantannya, kini kesal karena sahabatnya yang kini mendapatkan hati mantan terindahnya itu. Lagi-lagi, Jovan dapat membalik keadaan dengan telak.
***
"Bisa nggak jauh-jauh dari aku!" Anne menggeram kesal pada lelaki yang kini tersenyum cerah kearahnya.
Jovan, lelaki yang sedari tadi jelas-jelas mengikutinya. Sudah coba berhenti, Jovan ikut berhenti, berlari pun Jovan ikut berlari, dan saat Anne menggeram kesal, lelaki itu malah kian meringis tanpa malu, menyebalkan!
"Mau kuantar pulang, hai mantanku."
Jika saja tidak takut di adili, serta menjaga image di keramaian, mungkin saat ini Anne sudah akan menonjok wajah Jovan yang menyebalkan itu. Sialnya lelaki itu masih sama, bahkan lebih tampan dari dulu, saat mereka pertama kali saling mengenal. Keduanya dipertemukan saat ikut menghadiri arisan yang diadakan oleh Mama masing-masing, berakhir saling mengenal dan berteman dengan terpaksa.
Jovan adalah pemain basket yang handal saat itu, dan Anne yang menggilai basket di arahkan oleh Mia—Mama Jovan—untuk berlatih basket dengan Jovan. Jika dipikir, keduanya memiliki sifat yang sama, sama-sama keras kepala dan tak mau mengalah. Sesi latihan pun sering diramaikan oleh adu mulut yang tiada hentinya, namun konyolnya mereka berakhir berpacaran walau sering beradu urat. Jangan salah, keduanya hanya berpacaran selama sehari saja, setelahnya bahkan Anne malu mengakui lelaki gila itu sebagai mantannya. Tapi mengapa keduanya dipertemukan lagi? Tuhan memanglah kejam.
"Sejak kapan kita maenjadi mantan? Sorry, kamu tidak kuanggap sebagai mantan!"
"Oh ya? Kamu lupa dengan teriakan 'Ya' yang memekakan telinga itu?" Gelak Jovan tanpa malu.
Menyadari keduanya ditatap oleh orang di sekitar parkiran karena tawa menyebalkan Jovan, Anne menutupi wajahnya dengan clutch yang di genggamnya. Dari dulu hingga sekarang pun Jovan masih lelaki gila!
"Karena hari ini aku menyelamatkanmu dari rasa malu, setidaknya kamu harus mentraktirku makan enak kan?"
Anne mengernyit binggung, melihat ibu jari Jovan yang ditunjukkan kearah gedung acara, Anne paham arah pembicaraan lelaki itu. Maksudnya karena telah membantu Anne lepas dari rasa malu dihadapan Elvina?
"Benar kan? Nah, ayo ikut kemobilku, aku memiliki rekomendasi restoran yang enak."
"Hei! Lepaskan!" Dipukulnya tangan Jovan yang tanpa izin mengenggam dan menarik untuk mengikuti lelaki itu. Namun Jovan seperti seorang super hero, walau dipukulpun ia tak melepaskan gengamannya.
"Jov lepaskan aku!" Akhirnya hempasan itu melapas genggaman tangan Jovan, dengan kekesalan yang memuncak, Anne menatap lelaki gila itu dengan tajam.
"Aku bisa melaporkanmu atas tindak penculikan! Enyahlah! Kau kira aku akan berterimakasih untuk bantuan konyolmu itu?! Dengar, aku bahkan kesal karena kembali bertemu lelaki gila sepertimu!"
Setelah mengamuk dengan teriakan kesalnya, Anne memilih pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia kembali menoleh kearah Jovan yang kini tersenyum konyol kearahnya. Lelaki berengsek yang tidak akan pernah ingin ia temui lagi! Dengan ekspresi kesal dan tatapan tajamnya, Anne melenggang pergi meninggalkan Jovan. Bagian terbaiknya lelaki itu tidak kembali mengikutinya, setidaknya untuk saat ini. Melihat senyuman menyebalkan lelaki itu, Anne mendadak memiliki firasat yang buruk untuk kedepannya. Jovan adalah lelaki sinting, yang memiliki pola pikir diluar akal manusia lainnya.
"Kau masih Anne yang dulu ternyata, Anne... kita harus bertemu lagi." Gumam Jovan dengan senyuman lebarnya.
Denting ponselnya membuat Anne meraih benda pipih keluaran terbaru itu dari dalam clutch mewahnya. Matanya berbinar, senyumannya mengembang dengan lebar saat membuka pesan yang baru diterimanya. Ia mendapat balasan dari perusahaan incarannya, dan jelas saja ia diperkenankan kembali menyandang gelar marketing executive yang pernah ia tinggalkan. Kekesalannya seketika sirna, kini ia tersenyum sumringah dan mendial nomor di ponselnya.
"Kau di mana? Jadi mengantarku mencari apartmen kan? Aku akan ke apartmenmu sekarang."
Anne meremas ponselnya dan melangkah dengan mantap, "Ayo memulai kehidupan barumu Anne!"
Tanpa galau, tanpa kesedihan lagi, karena sesal telah melepas Jefry yang kini menjadi hak milik mantan sahabatnya.