3. Pertemuan Kedua

1908 Words
"Gimana? Suka nggak sama pilihan legendaris aku?" Anne tersenyum puas dengan dua ibu jari yang diangkatnya dengan penuh tenaga. Jujur saja ia puas dengan apartmen pilihan sepupunya Keysha, letaknya strategis, bahkan masuk kedalam kalangan semi elit yang tidak murahan. Walau untuk itu, Anne harus merelakan hampir seluruh tabungan yang ia dapat selama di London. Setidaknya ia memiliki sedikit sisa untuk mendesain dan membeli perabot untuk tempat tinggalnya ini. "Sangat legendaris, nggak nyesel aku minta batuan sepupu cantikku yang seorang dewi properti." Keysha tersenyum congkak, lalu mengandeng lengan Anne, "Jadi, ayo kita urus pembeliannya!" Wajah Anne mendadak merengut, ia mencintai uang, dan saat ini harus merelakan banyak uang yang ia dapatkan dengan susah payah. Dirinya bukanlah putri dari keluarga kaya, yang meminta A langsung mendapatkannya saat itu juga. Setidaknya harus di bumbui rengekan dan usaha keras yang tidak sederhana. "Bisakah kau urus diskon tambahan beb? Aku benar-benar akan bangkrut!" Keysha membalik badan Anne, mendorong punggung wanita itu dengan langkah kuat. "Bangkrut apanya? Bukannya kau mengajukan pinjaman pada Bank untuk tambahan membeli unit ini? Aku yakin saat ini kamu sedang kaya raya, jadi tidak usah ragu dan cepat tandatangani, atau unit ini akan menjadi milik orang lain." Bisikan Keysha bagai suara dari neraka, terdengar menyeramkan dan menyakitkan di saat yang bersamaan. Mau tak mau Anne melangkahkan kakinya dan siap membuka dompetnya lebar-lebar, agar tempat tinggal cantik ini tak akan menjadi milik orang lain. "Karena kau sudah menentukan tempat tinggalmu, aku akan mencarikan arsitek terbaik dengan harga miring. Key, akan membelikan satu furnitur apapun yang kau mau!" Senyuman lebar mengembang di wajah Anne, ia segera mendekap lengan Keysha dengan bahagia. "Satu set? Aw!!" Pekik Anne setelah meraskan sentilan di keningnya. Ia mendengus kesal pada Keysha yang dengan kejam melakukannya. "Satu set kau bilang? Kau mau aku bangkrut?!" Anne meringis lugu dengan jemari membentuk huruf V, menarik lengan Keysha dan membawa wanita itu pergi. Jangan sampai Keysha marah dan urung membelikannya furnitur walau hanya satu biji. Setidaknya ia bisa meminta sofa atau ranjang mewah, mengurangi sedikit anggaran dan bisa menghemat. Setelah sesi tanda tangan, mengurus jual beli dan dengan terpaksa merelakan uang yang di cintainya, mereka memutuskan melanjutkan kegiatan selanjutnya. Menunggu sang arsitek yang Key pilihkan khusus untuk Anne. Jelas Anne ingin segera menempati rumahnya, menjauh dari Mamanya yang menyebalkan dan selalu menanyakan tentang menantu. Ia baru 25, masih banyak impian yang ingin Anne wujudkan, namun selalu di cecar dengan pertanyaan menantu. Jangankan menantu, pacar pun ia tak punya. Salahnya karena selalu menutup diri pada lelaki, melabuhkan hatinya pada Jefry tanpa memberi penjelasan. Lelaki itu pergi, dengan wanita lain yang lebih terang-terangan menyukainya, bukankah itu wajar saja? "Mana sih arsiteknya? Belum apa-apa udah telat aja!" Cibir Anne seraya menjauhkan ponselnya yang sudah bosan ia mainkan. Keduanya duduk lesehan di lantai, berkat kekosongan unit yang masih amat baru itu, mereka terpaksa mengemper layaknya gembel. Tapi gembel mana yang tinggal di apartmen mewah? Membayangkan itu Anne merenges bahagia, akhirnya ia bisa mendapat tempat tinggal impiannya. "Daripada kamu ngomel, nih aku kasih lihat kisaran harga dan desain apartmen yang sudah di rancang arsiteknya." Anne mengernyit heran, bagaimana bisa Key dan arsitek itu sudah menyiapkan desain dan kisaran harga? Bukankah ini adalah awal kedua belah pihak akan bertemu? Namun melihat nominal yang kelewat murah itu, membuat mata Anne mendadak berbinar. "Kamu yakin biayanya cuma segini?" Keysha mengangguk dengan sombong, menepuk dadanya dan sesumbar dengan pongahnya. "Jelas, siapa dulu yang mengurusnya?" "Keysha!" Seru Anne bahagia. Jelas Anne amat bahagia, selama setahun belakangan ia menyibukkan diri mencari unit apartmen impiannya melalui internet. Bahkan mencari kisaran harga yang akan ia gelontorkan untuk upah yang akan ia berikan pada arsitekur pilihannya kelak. Hampir semua harganya amat tinggi, dengan desain yang menarik dan sesuai keinginannya, ia harus mengeluarkan banyak biaya. Namun kali ini, Anne di buat jatuh cinta dengan desain cantik yang sudah lama ia persiapan dan konsultasikan pada Keysha. Arsitek kali ini sangatlah mengerti selera Anne, selain desainnya yang cocok dengannya, harganya pun ramah di kantong. Ia bahkan hanya perlu membayar separuh harga dari yang sewajarnya. Tentu itu membuat Anne berbinar-binar, selain hemat, ia juga tidak akan kehilangan lebih dalam tabungannya. Suara bel membuat Key beranjak dengan senyuman merekah, ia segera berlari menuju pintu dan membukanya. Kali ini Anne ikut berdiri, ia siap menyambut arsitek berhati malaikat yang akan membantunya. Tapi senyumannya hilang, bergantikan wajah terkejut yang amat jeleknya. Seorang lelaki mendekat dengan setelan jas mewahnya, satu tangannya masuk kedalam kantung celananya, dan tangan yang lain menenteng paper bag dan diayunkan kearahnya. "Hai, long time no see.." Kata itu lagi, untuk pertemuan kedua mereka selama seminggu terakhir. Rasanya Anne ingin melompat turun saja daripada harus berada di ruang yang sama dengan lelaki itu, Jovan. Namun otak kecil Anne mendadak berdenting, belum tentu kan arsitek itu Jovan? Bisa saja lelaki itu salah masuk unit dan ingin menyapa saja, ya pasti begitu. "Perkenalkan dia Jovan kyle, arsitek yang akan merancang unitmu. Dan Mas Jovan, kenalkan dia Anne." "Hai Anne, Anne Rosabelle, senang bertemu denganmu lagi." Sapa Jovan dengan senyuman centilnya yang teramat menyebalkan di mata Anne. "Kalian sudah saling kenal?" "Ya," "Tidak!" Lirih Jovan dan seru Anne secara bersamaan. Anne segera menggeleng, barlari kearah Jovan dan menutup mulut lelaki itu. Ia tak mau Jovan mengucapkan kalimat lain yang akan membuat Anne kian malu. Lelaki gila itu terus mengumbar jika mereka adalah mantan pasangan, namun Anne sama sekali tak mau mengakuinya, bahkan pada Key sekalipun. Berbeda dengan Anne yang panik, Jovan malah melengkungkan kedua matanya, menandakan jika kini lelaki itu tersenyum. Bahkan Anne dapat merasakan bibir lelaki itu tersunngging, sangat menyebalkan! "Anne, kamu ngapain bekap mulut mas Jovan?" Matanya melotot lebar kearah Jovan yang masih saja santai dan seakan sedang mengejeknya. Di doronglah kepala lelaki itu, bersamaan dengan tangannya yang di tarik menjauh. "Aku nggak mau pakai jasa dia!" Lengan Anne ditarik paksa oleh Key, wanita itu melotot dengan kesal, meremas lengan Anne dengan kuat. Mulut wanita itu bergumam dengan lirih, mengatakan 'Kamu gila?' dengan hampir tak bersuara. Namun Anne melepas cengkraman Key dan menunjuk arah pintu dengan tatapan tajam kearah Jovan. "Keluar! Aku nggak butuh jasamu!" "Benarkah?" Jovan memotong dengan kilat ucapan Anne, melangkah kian mendekat dan menyodorkan paper bag bawaannya kearah wajah Anne. "Kamu yakin akan melewatkan kesempatan penawaran termurah dan melewatkan ini?" Anne dan Keysha menoleh kearah Jovan dengan bersamaan, lalu keduanya saling pandang dengan Anne yang mulai menggigit bibir bawahnya risau. Haruskah ia merendahkan ego dan menerima tawaran murah meriah ini? Atau menolaknya dan kehilangan uang yang dicintainya? Sial! Mengapa harus Jovan? "Ambillah, dan akan ku pastikan aku sendiri yang mengerjakan proyek ini." Jovan kian mendekat, mengalungkan tapi paper bag itu ke jemari Anne, lalu berjalan ke tempat lain, menyusuri apartmen Anne tanpa izin. Kekesalan dan rasa benci yang sudah mengakar, membuat Anne memejamkan matanya dan siap berbalik untuk menerjang lelaki itu, namun bahunya terlebih dahulu di tahan oleh Keysha. "Aku nggak tahu ada masalah apa antara kalian, yang pasti tahanlah sebentar. Kau tidak ingin membeli tas incaranmu? Kalau kau melewatkan kesempatan ini, tas itu akan gagal terbeli. Lalu kapan kau akan menyaingi Vina?" Ah, Anne sempat lupa pada realita itu. Beberapa hari lalu ia melihat Vina memosting tas keluaran terbaru yang cantik. Hal itu membuat Anne merasa kesal, ia tak mau kembali kalah dari Vina. Setelah kalah mendapatkan Jefry, kini ia harus kalah gaya dari wanita itu? Jelas tidak! "Oke, akan kutahan sekuat tenaga." Dengus Anne kesal. "Baiklah, ayo kita urus kelanjutan dari kerjasama kalian. Tapi sebelum itu, kamu nggak mau buka bingkisan itu?" Pandangan keduanya turun kearah paper bag di tangan Anne, ia bahkan sempat lupa pada pemberian lelaki menyebalkan itu. Mau tak mau, Anne membukanya, walau bagaimanapun, ia juga penasaran. Matanya melotot, disembunyikannya isi dari bingkisan itu sebelum Keysha sempat melihatnya. Beruntung ia lebih cepat sepersekian detik dari Keysha, hingga wanita itu tak sempat melihat isinya. "Apa sih? Kok reaksimu begitu?" Anne terus menggeleng dengan senyuman canggung, paper bag itu terus ia coba sembunyikan di punggungnya, namun Keysha terus mencoba meraihnya. Hingga akhirnya wanita itu menyerah, di tandai dengan geraman kesal yang keluar dari mulut Keysha. "Apa sih yang coba kamu sembunyikan?!" "Eum... daripada kita memusingkan paper bag ini, lebih baik kita cepat menyusul Jovan. Ayo pergi, sebelum aku berubah pikiran!" Dalih Anne dengan bumbu ketegasan yang di buat-buat pada akhir kalimatnya. Tujuannya untuk mengalihkan rasa penasran Key, dan umpannya di tarik kuat oleh sang mangsa. Keysha mengangguk setuju, meraih tangan Anne dan mengajaknya menyusul Jovan. Tak apa ia harus berurusan dengan lelaki itu lagi, setidaknya ia bisa berhemat dan membeli tas incarannya. Serta mendapatkan hasil yang sempurna untuk desain apartmennya. Satu yang lebih penting, Key tidak akan melihat bingkisan menyebalkan dari Jovan. Di mana di dalamnya berisi cetak fotonya dan Jovan semasa remaja, yang saling rangkul dan di bingkai dengan rapi. Anne tak akan pernah membiarkan siapapun melihatnya. Memiliki hubungan memalukan dengan Jovan, tak akan pernah ia akui pada siapapun! "Kau sudah melihat contoh desainku kan?" Anne memutar bola matanya dengan malas, namun kepalanya tetap mengangguk membenarkan pertanyaan itu. "Jadi, kau mau desain yang mana? Katakan jika kau ingin revisi dan tambahan lain, aku siap membantumu 24 jam." Bukan Anne yang tersipu malu dan berseru bahagia atas tawaran baik hati itu, melainkan Keysha yang kini berseru menggoda kerahnya. Keysha tak tahu saja seperti apa sifat asli Jovan, jika ia tahu, apakah pandangannya pada Jovan masihlah tetap sama? Keysha adalah sosok sahabat yang setia, saat Anne kesal dan benci dengan satu hal, Keysha akan mendukungnya dan ikut membencinya. Lalu, jika ia berkata sejujurnya tentang rasa bencinya pada Jovan, tidak menutup kemungkinan Key juga akan membenci Jovan juga. "Lihatlah, dia bahkan CEO dari sebuah perusahaan arsitek ternama, tapi dengan rendah hati dan dermawan, memberikan harga termurah dan menawarkan bantuan cuma-cuma. Kau sangat beruntung Anne, aku iri." Cicit Keysha dengan suara semi lengkingannya yang nyaring. Beruntung? Bagi Anne, ia malah merasa sial atas pertemuannya lagi dengan Jovan. "Kau bisa saja nona Key, tapi kau benar, Anne adalah wanita yang beruntung karena mendapatkan arsitek tampan sepertiku." Siapapun! Tolong ambilkan ember! Detik ini juga Anne ingin muntah. Namun jawaban Keysha membuatnya kembali menelan muntahan itu dengan suka rela. "Tapi maaf Mas Jovan, jika dilihat-lihat, Mas bukanlah tipe Anne. Dia suka lelaki sederhana dan tidak banyak bicara, sedangkan Mas Jovan..." Keysha berucap dengan ringisan segan, namun Anne tergelak dengan tawa puasnya. Kepolosan bin bodoh Keysha yang selama ini menyebalkan dan menganggu, sepertinya harus di apresiasi kali ini. Bahkan ucapan Keysha mampu membuat Anne tertawa puas, terlebih melihat ekspresi Jovan yang seakan tidak terima dengan ucapannya. "Bukan tipenya?" Jovan terkekeh dengan wajah tak terimanya. "Hey! Bisakah berhenti?! Ayo selesaikan kontrak kerjasama kita dan segeralah kerjakan tugasmu!" Anne segera mencegah begitu Jovan hendak membuka mulutnya untuk kembali berucap. Ketika membahas tipe, Anne khawatir jika Jovan akan kembali sesumbar dengan mengatakan jika mereka adalah mantan kekasih. Anne jalas tak akan membiarkan itu! "Opps, maaf nona Anne, tapi aku meninggalkan kontraknya di rumahku, bagaimana ini? Maukah kau datang berkunjung?" Jovan tersenyum tipis seraya mencuri kerling saat Keysha lengah. Kedua tangan Anne terkepal erat, semakin Jovan tesenyum memuakkan, semakin erat pula kepalan tangannya. "Nggak! Biar aku yang buat kontraknya, dan datanglah untuk mendatangani." "Oke!" Seru Jovan semangat, "Aku juga merindukan tante Eliza." Mati! Anne tidak menyangka, jika usahanya berkilah dari lelaki itu, adalah boomerang yang kini menyerangnya tanpa ampun. Ia berniat menolak datang kerumah lelaki menyebalkan itu, tapi mengapa malah ia mendatangkan masalah baru dengan menariknya kerumahnya? Sepertinya, masalah baru akan segera datang, dan Anne harus mempersiapkannya. Bukan sekali saja, bermasalah dengan Jovan, ia harus mempersiapkan diri kapanpun dan di manapun. Jovan memang selalu merepotkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD