19. Berita Menggemparkan Abad Ini

1835 Words
Hari-hari Anne terasa semakin berwarna meski kegelapan masih mengikutinya saat berada di tempat kerja. Hingga dirinya genap bekerja 5 bulan 8 hari di perusahaan olahan produk instan itu, Anne belum juga menerima sambutan hangat dan rekan yang banyak. Hingga kini Anne hanya berteman baik dengan Ellen, selebihnya hanya saling tegur sekadar formalitas. Itupun dengan pekerja di lantai bawah, bukan lantai tujuh keramat yang mematikan ini. Satu-satunya hal yang membuat Anne masih bisa tersenyum geli disela kesibukan bekerja, adalah sosok Jovan. Lelaki konyol yang selalu memperlakukan Anne layaknya putri. Sesuai dengan janjinya, Jovan benar-benar menjadi sosok teman yang baik dan pengertian, karenanya Anne merasa benar-benar dihargai. Namun kebahagiaan Anne sempat terusik, saat seminggu lalu mendapat kabar jika Jefry sudah resmi menjadi seorang ayah. Vina harus melakukan operasi dadakan, meski kandungannya belum genap 8 bulan, namun Vina terpaksa harus melahirkan bayinya lebih awal karena beberapa masalah. Jujur saja Anne masih kesal, bahkan iri pada kehidupan sempurna keluarga kecil itu. Dari beberapa unggahan Jefry di sosial media, lelaki itu tampak sangat bahagia, dan itu menyakiti Anne. Bagi Anne, silakan jika sang mantan ingin move on, tapi setidaknya biarkan Anne memiliki penggantinya dulu. Pemikiran egois memang, tapi begitulah dia di hadapan Jefry. Selalu bersikap manja dan dimanja, karenanya Anne tak pernah mau kalah. Pagi ini pun, setelah menyamankan diri di atas kursi kerjanya, Anne memeriksa sosial medianya. Dia cukup terkejut karena tidak ada status yang selalu Jefry buat setiap pagi, yang berupa foto ataupun video dari wajah sang anak. Anne bahkan tahu saat anak Jefry dibawa pulang dari rumah sakit dan bisa lepas dari inkubator, dan dari status Jefry lah Anne mengetahuinya. "Tumben enggak update apapun." Gumam Anne.  Sayangnya dia tidak memiliki akun sosial media milik Vina, karena akunnya sudah lama di blokir oleh wanita itu. Karena sikap aneh Jefry yang termasuk, tidak biasa. Akhirnya Anne dibuat mati penasaran dan terus kepikiran hingga jam istirahat makan siang tiba. Sepanjang harinya bekerja, Anne bahkan terus penasaran pada Jefry, berulang kali membuka akun media sosial, namun nihil. Jefry seperti hilang ditelan bumi. Sesuai janjinya dengan Jovan, Anne keluar dari gedung kantornya untuk menemui Jovan yang sudah siap dengan mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Satu hal yang menarik dan keren dari sosok Jovan, lelaki itu sangatlah tepat waktu, bahkan kerap datang lebih awal tiap kali mereka melakukan janji temu. "Kita makan sushi ya? Aku dapat rekomendasi tempat yang enak. Kata temanku sih enak banget."  Jovan adalah tipe lelaki yang pasti akan banyak diidam-idamkan oleh wanita pemuja perhatian. Mengetahui jika Anne kerap dilema untuk menentukan makanan apa yang ingin disantap, Jovan melakukan opsi yang membuat Anne salut. Lelaki itu kerap memberikan rekomendasi makanan enak, dan karena keduanya sangat suka serta cinta pada makanan, berulang kali kegiatan makan besar mereka jalani dengan suka cita. Bersama Jovan, Anne benar-benar menemukan belahan jiwa yang sangat sesuai dengan jalan pikirannya. Yang paling keren, Jovan bahkan sudah mulai paham, jika Anne tiba-tiba menghilang dan tanpa kabar, artinya dia sedang bosan pada dunia ini, dan ingin mengurung diri. Saat itulah Jovan tak pernah menganggu. Tapi, saat Anne mulai baik-baik saja dan mengabari barang dengan pesan singkat huruf p saja. Jovan dengan sigap segera menyambut kembalinya Anne dengan heboh. Tak lain dan tak bukan adalah dengan makan besar bersama. "Oke, kebetulan lama enggak makan sushi." Jovan mendecih dengan bibir mengejek. "Jawabannya gitu terus tiap aku rekomendasikan makanan enak. Artinya kamu enggak pernah makan apapun gitu?" "Lebih tepatnya, mau semua jenis makanan, tapi malu mengakuinya." Kikik Anne seraya merangkul lengan Jovan. Berbeda dengan wanita yang ingin selalu diperhatikan, Anne malah tak suka diperhatikan oleh lelakinya. Dia termasuk kaum hawa yang menyukai lelaki dingin dan cuek, sedang jika mencari sahabat terbaik, Jovan lah kandidat terkuatnya. Maka, hingga detik ini, Jovan selalu menjadi teman dan sahabat yang tidak ingin Anne lepas. Kapan lagi, sesama mantan bisa akur dan menjalin persahabatan yang erat? Sepanjang jalan menuju restoran sushi, keduanya saling beradu tarik suara yang diiringi musik dari radio. Jovan memiliki selera musik yang hampir mirip dengan selera Anne, menambah nilai plus untuk posisi terbaik untuk Jovan berada di hatinya. "Kanapa kamu enggak mau pacaran sih, Jov?" Jovan menoleh sekilas setelah mendengar pertanyaan Anne. Dia menggeleng dengan geli, seraya memarkirkan mobilnya dengan gaya seksi yang sering Anne lihat di sosial media. Karena tak mau Jovan terlihat keren, akhirnya Anne menjahili lelaki itu dengan mencubit hidung besar Jovan. Lelaki itu mengelak dengan rengekan, saat mobil keduanya terparkir dengan sempurna, barulah Anne melepaskannya dengan gelak tawa. Anne bahkan lupa caranya menjadi canggung saat bersama Jovan. Setidaknya, saat inilah hubungan terbaik yang keduanya jalin. "Kamu belum jawab loh." Sekali lagi Jovan menggeleng remeh, lalu melepas sabuk pengamannya seraya merapikan barang bawaan yang dirasa penting. "Enggak minat." "Setidaknya minatlah sama Ellen. Dia teman baikku di kantor, dan dia menyukaimu sejak lama." Selain Shawn, ternyata Jovan memiliki penggemar rahasia lain, yaitu Ellen. Anne masih ingat, saat Ellen yang tahu, jika Anne berteman akrab dengan Jovan, pun mengaku jika dirinya adalah penggemar Jovan. Bagi Ellen, Jovan adalah lelaki sempurna, dengan segala pencapaian luar biasanya saat usianya tergolong masih muda. Jovan tidak mendapat kesuksesan ini dari keluarga, karena dia membangun perusahaannya dengan kerja kerasnya, tanpa warisan. Hal itulah yang terus-teruskan Ellen elu-elukan. Meski bagaimanapun, Anne memang setuju dengan pendapat Ellen. "She's not my type, Anne." Jelas Jovan dengan nada frustasi. Setelah mengonfirmasi reserfasi, keduanya pun mendapat ruang khsusus yang semua ornamennya membuat mereka merasa seperti sedang berada di Jepang. Anne akan memberi nilai 5 dari 5, untuk keindahan interior dan nuansanya. "Terus seleramu siapa? Shawn?" Ejek Anne, yang membuat mata Jovan membelalak terkejut dan mengalihkan fokusnya dari buku menu. "Gila, aku masih suka cewek, dodol!" Anne tergelak keras, menjahili Jovan yang kini semakin berubah kaku dan pendiam, terasa menyenangkan. Dia jadi teringat pada masa lalu, meskipun belum terlewat jauh. Saat di mana Jovan lah yang selalu menggoda Anne dengan tingkah konyolnya, tetapi mengapa keadaan mendadak berbalik? Anne bahkan tidak paham, sejak kapan dirinya mulai bertingkah berlebihan, dan menyukai humor kekanakan seperti ini? "Abisnya, sama Ellen aja nggak mau." Cibir Anne. Mungkin, jika lelaki dihadapan Anne adalah Jovan yang dulu, dapat dipastikan jika lelaki itu akan merayu Anne habis-habisan. Namun, keterdiaman Jovan membuat Anne semakin yakin, jika Jovan sudah banyak berubah. Tanpa menanyai menu yang Anne inginkan, Jovan memanggil pelayan dan menerangkan pesanannya. Namun, beberapa kali lelaki itu menatap Anne, dan mengatakan kalimat berulang yang tak jauh berbeda. "Aku beli porsi agak banyak, karena kamu suka telur salmon." Atau jenis makanan lain yang memang Anne sukai. "Oh iya, kemarin aku jengukin anak Jef." Anne yang awalnya bersemangat dan menggebu-gebu karena selalu berhasil menjahili Jovan, pun berubah murung. Dia memutar bola matanya malas, seraya meminum teh Jepang yang tawar. "Terus?" Meski enggan mendengar kabar apapun, namun Anne tetap saja penasaran pada keadaan Jefry yang mulai jarang memperbarui status sosial medianya. "Dia nanyain kamu, minta nomor kamu, dan aku kasih." Anne sontak melotot, sejak terakhir kali Jefry berkunjung ke rumahnya setelah resmi menikahi wanita lain, Anne memang menghapus dan memblokir kontak Jefry. Niatnya adalah melepas lelaki itu sepenuhnya, meski hatinya belum rela.  "Sinting! Kenapa kamu kasih? Aku enggak mau dilabarak Vina, ya!" Kesal Anne tak terima. Alih-alih menyesali tindakan cerobohnya, Jovan malah tersenyum miring, hingga beberapa sushi sudah datang sili berganti memenuhi meja keduanya. "Harusnya sih Vina enggak marah, karena dia enggak ada hak." Anne menghentikan tangannya yang hendak memasukkan sesuap norimaki dengan daging salmon di atasnya. Dan beralih fokus mengangga menatap Jovan. "Enggak ada hak gimana? Dia kan istri Jefry?! Aneh-aneh aja ah kamu mah!" Kesal Anne, lalu melanjutkan melahap norimaki. Anne menggoyangkan kedua kepalan tangan berisi sumpit dengan bahagia. Rasa sushi yang Jovan pilih, memang sangat juara. "Bentar lagi, juga enggak jadi istri Jef lagi." Biji nasi yang belum halus terkunyah dan baru akan ditelan, pun kembali naik hingga membuat Anne tersedak. Dia bahkan tidak sanggup menelan makanannya, hanya karena terkejut oleh penuturan santai Jovan. "Mereka mau pisahan?" Simpul Anne dengan terkejut. Harapannya adalah gelengan dari Jovan, untuk kenyataan dramatis dan miris itu, namun Jovan malah mengangguk. "Ya, Jef sudah mendaftarkan perceraian mereka." Yang membuat Anne melepas sumpitnya dengan pasrah. "Serius?" Jovan kembali mengangguk dengan mantap, mempatenkan berita menggemparkan abad ini. Jefry yang baru menikah kurang dari 6 bulan, akan segera menyandang gelar duda. Luar biasa gila. "Gimana, senang nggak? Kamu ada kesempatan PDKT lagi. Toh Jef juga terang-terangan minta nomor kamu." Mendengar Jovan menjabarkan kenyataan yang sempat tidak Anne perhatikan, entah mengapa malah membuat Anne merasakan perasaan menganjal. Dengan raut biasa saja, namun menampilkan seringaian tipis, Jovan dengan sadar menggiring Anne untuk mendekat lagi pada Jefry. "Bukannya kamu pernah suka sama aku, Jov?" Tanya Anne dengan suara yang terdengar jelas jika ragu. Namun meski bagaimanapun Anne yang benasaran, tetap menanyakannya. "Tapi kenapa malah menggiring aku supaya dekat lagi sama Jef? Bukannya, seharusnya kamu menghalangi Jef buat mendekati aku lagi?" Disela menyantap sushi, Jovan terus-terusan mencuri senyum tiap kali mendengar kata demi kata yang Anne ucapkan. Setelah ucapan Anne selesai, barulah lelaki itu menegakkan lehernya untuk menantang tatapan Anne. "Sejak kapan ya aku suka sama kamu? Seingatku, kita selalu berteman baik tanpa ada rasa kan?" Jelas Jovan. "Lagipula, kau tidak menyukai persahabatan baik kita diracuni oleh asmara, kan?" Raut Anne mulai tak bersahabat setelah mendengar kalimat lengkap Jovan, yang kini kembali menyantap sushi di hadapannya. Dia ingin mengelak dengan lantang, namun yang dikatakan Jovan adalah fakta, meski menyinggung perasaannya sekalipun. Belum sempat menyalurkan kekecewaan dan kekesalannya, suara denting ponselnya membuat Anne melirik sekilas. Melihat ekspresi Jovan yang kini memanjangkan leher untuk mengintip, Anne pun bertanya-tanya dengan keras.  Mengapa Jovan setenang ini? "Cek aja, siapa tahu Jef." Melihat sikap acuh Jovan, akhirnya Anne memeriksa ponselnya, dan benar saja, pesan itu berasal dari Jefry yang berisi ucapan salam dan basa-basi yang biasa saja. Anne kembali menatap Jovan dengan serius. "Kamu pengen banget aku sama Jef?" "Bukan aku yang pengen banget, tapi kamu." Tuding Jovan dengan sumpit, kedua bola mata Anne. "Kamu masih terus memikirkan Jef kan? Dan sebagai sahabat yang baik, aku ingin kemu berhenti berfikir aneh-aneh, dan nikmati kebahgiaan yang sebentar lagi akan menghampirimu. Yaitu lelaki yang kamu cintai, dan juga mencintaimu." Perasaan Anne mendadak mellow setelah mendengar penjabaran panjang Jovan. Anne bahkan tidak menyangka jika seorang Jovan akan mengatakan kalimat demikian. Dengan Jovan, Anne benar-benar menciptakan lingkup persahabatan beda gender, sesuai dengan keinginannya. Tujuan Anne adalah mematahkan prinsip 'tidak ada pertemanan tanpa rasa, antara laki-laki dan perempuan.' Dan Anne ingin menunjukkan pada dunia, jika dia bisa terus bersahabat dekat dengan seorang lelaki.  Ponsel Anne kembali berdenting, dan sebuah pesan lagi yang berasal dari Jef.  "Sudah makan siang? Bisakah makan bersamaku?" Gumam Anne, mengulang pesan yang dia baca. Setelahnya dia melirik kearah Jovan yang terlihat santai. "Buaya banget, nggak sih Jov? Baru juga ngurus perceraian, sudah main ajak ketemu cewek lain aja!" Jovan mengangguk dengan senyuman tipis, lalu kembali menjabarkan kenyataan. "Ya gimana, Jef juga belum move on dari kamu, Anne. Jadi saat tahu jika memiliki celah, pasti dia enggak akan melewatkannya." Anne menghela nafas kesal karena jawaban Jovan yang sama sekali tidak bisa membuatnya tersenyum balik. Yang pasti, dia benci dengan perubahan Jovan yang menjadi-jadi. Atau malah sebaliknya? Anne lah yang berubah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD