Kembali pada tiga hari lalu, sebelum Anne mengetahui berita menggemparkan tentang perceraian Jefry. Memang, pada dasarnya, Jovan adalah sosok lelaki bertampang garang, namun memiliki hati yang lembek seperti puding. Kata yang keluar dari mulutnya, memang sering kali dijadikan hukum paten untuk para karyawan di perusahaannya, tapi saat mendengar kisah sedih orang lain, dia akan dengan mudah luluh dan bersimpati.
Beberapa hari lalu dia bertemu tak sengaja dengan Jefry, saat dirinya harus menghadiri pernikahan teman SMA mereka. Reuni dadakan jelas terjadi di sana, yang menhantarkan sesi kedua dengan nongkrong di kedai kopi ternama. Di sanalah Jovan tahu, jika Jefry sedang mengajukan gugatan cerai pada Vina, lelaki itu tidak menjabarkan alasannya, mungkin karena posisi sedang ramai dengan rekan kelas.
Tetapi, setelah jumpa kangen itu, Jefry menghubungi Jovan, bahkan mampir menuju kantor Jovan hanya sekadar untuk mengobrol. Dua bulan belakangan, Jovan menyibukkan diri untuk merubah sikapnya hanya untuk memikat Anne, dia bahkan mulai bertingkah tenag seperti Jefry lelaki yang Anne cintai. Maka, saat Jefry mengabari akan berkunjung, dengan senang hati Jovan memberikan izin terbuka.
Namun, niat hati untuk mencuri ilmu sikap Jefry yang membuat Anne tergila-gila, Jovan malah menerima pernyataan yang membuat keningnya enggan mengendurkan kernyitan.
"Bisa minta nomor Anne? Sudah lama enggak contact sama dia."
Sebuah kalimat pendek, namun memiliki arti menyakitkan untuk Jovan yang paham akan situasi. Di mana, Jefry terdeteksi akan kembali mendekatkan diri pada Anne, atau bahkan mengobral perceraiannya untuk mencari simpati.
Tapi, meski bagaimanapun Jovan tidak memiliki hak untuk melarang Jefry kembali mendekati Anne. Karena 5 bulan lebih dirinya sadah diberi waktu untuk menaklukan wanita tak berhati itu, dan hasilnya masih tetap sama. Dia, masih tidak menjadi tipe lelaki yang Anne sukai. Karena dia bahkan bukan kekasih Anne, maka Jovan tetap memberikan nomor Anne dengan tekat yang kuat, untuk sering memohon pada Tuhan. Agar hati Anne tak akan pernah lagi terpancing pada pesona Jefry.
"Kau mau mendekatinya lagi?" Gumam Jovan seraya mendorong kertas di atas meja, yang sudah dia bubuhkan tinta hitam membentuk angka telepon Anne. "Apa tidak terlalu cepat? Kau bahkan belum resmi cerai."
Mimik Jefry perlahan menyendu, lelaki itu mengamankan kertas berisi nomor itu, lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa yang kini dia duduki. "Apa kau tidak penasaran dengan alasan mengapa aku memutuskan untuk berpisah dengan Vina?"
Sebenarnya, Jovan bukan tipe lelaki yang menggemari gosip, atau obrolan pribadi yang berujung dengan mengulik kejelekan orang lain. Karena, pertanyaan Jefry jelas sensitif, di mana dia pasti akan membela diri, dan menyalahkan semua kehancuran rumah tangganya pada Vina. Tidak hanya Jefry, Jovan yakin jika Vina pun akan melakukan hal yang sama saat bercerita dengan temannya.
Manusia memang memiliki sikap sampah seperti itu. Jika berbuat kesalahan, mereka tak akan sudi berfikir berulang kali, ataupun bahkan tak pernah melakukan kesalahn. Namun, saat buah dari tindakan buruk yang dilakukan mulai datang, manusia akan berlomba-lomba menutupi aibnya dengan dusta.
Lagipula, bukankah sangat jarang, ada orang yang dengan lantang berani mengakui jika dirinya salah? Jovan bahkan lebih memilih diam daripada mengungkapkan kesalahannya di depan umum.
"Memang kenapa? Karena mamamu tidak terlalu suka sama Vina kan?"
Itulah yang sempat Jefry keluhkan saat semalam mengobrol di kedai kopi. Jefry hanya mengatakan jika sang mama belum juga bisa akur dengan Vina, dan sering ikut campur pada kehidupan rumah tangganya.
Jovan menggeleng dengan sudutb bibir kanannya yang terangkat naik. "Bukan itu masalah utamanya, tapi karena anakku."
Berhubungan dengan anak, Jovan mendadak penasaran dan tertarik, dia bahkan menyamankan posisi duduknya dan siap mendengar dongeng panjang kehidupan rumah tangga Jefry yang tergolong kelam. Siapa pula yang ingin menikah hanya untuk bercerai?
"Dia bukan darah dagingku."
Mata Jovan sontak membelalak, dia bahkan mengedipkan matanya dengan cepat, berusaha kembali mencerna ucapan Jovan yang mencengangkan.
"Kau bercanda kan?"
"Aku hanya melakukannya sekali dengan Vina, dan aku sangat ingat betul waktu itu. Bagaimana aku bisa lupa, jika pada Vina lah aku melepas virginitasku." Terang Jefry, yang sangat mengejutkan Jovan. Dia sedikit merasa bersalah karena dulu sempat menuduh Jefry yang tidak-tidak. "Tapi, Vina mengandung bayinya sebulan lebih awal dari malam penyatuan kami. Karena kecurigaan itulah, aku melakukan uji DNA. Dan yah, dia bukan putriku."
Hati Jovan ikut teriris saat melihat Jefry menunduk seraya memainkan jemari tangannya yang saling taut. Lelaki itu beberapa kali menunjukkan senyuman tegar, namun malah terlihat menipu dan tak tulus.
"Jadi siapa bapaknya?"
Jefry menggedikkan bahu. "Vina pun mengaku enggak tahu. Karena stres, dia mengajakku melakukannya, dan bodohnya aku terayu dan bahkan terjerumus pada masalah yang semakin besar."
Tidak hanya menceritakan tentang tipu muslihat Vina, Jefry pun menceritakan keterpurukanya yang mau tidak mau harus bertanggungjawab pada nasib Vina. Lelaki itu bahkan merelakan cintanya, hanya untuk memberikan status cuma-cuma pada Vina dansang anak.
"Andai aku enggak dikelabuhi Vina, mungkin aku masih akan terus bersama Anne dan menunggunya hingga siap. Sumpah itu sudah aku sebutkan pada Tuhan, sejak Jefry masih menjalin hubungan dengan Anne.
Kembali lagi, Jovan adalah lelaki galak yang memiliki sikap macam puding, dan saat mendengar cerita demi cerita yang Jefry bagikan, bahkan mendetail hingga dirinya awal bertemu dengan Anne.
Alur kehidupan Jefry cukup tragis. Lelaki yang enggan dan tak bisa Move on pada cinta sebelumnya, terpaksa harus berakhir. Karena itu, dia bahkan bertemu tanpa sengaja dengan Anne dan melakukan banyak pendetan serta petunjuk baik yang meringankan pekerjaannya.
Setelah mendengar alur dengan runtut, akhirnya Anne benar-benar merasa simpati, dan mulai percaya saat mengetahui fakta jika Jefry masih sangat mencintai Anne.
"Aku cuma mau kesalahpahamanku dengan Anne terselesaikan. Itulah kenapa aku meminta nomor Anne padamu. Setidaknya, kita masih berteman baik." Akhir Jefry, lalu melanjutkan pengalihan obrolan.
***
Dua hari belakangan, Anne sering melamun saat duduk di dalam KRL ataupun dikursi kerjanya seperti saat ini. Dia terus dipaksa untuk befikir keras dan terheran. Setelah makan siang terakhirnya dengan Jovan, keduanya bahkan tak lagi berhubungan. Jika Jovan mungkin sibuk dengan pekerjaan, Anne malah sibuk mengasah otak untuk menyimpulkan alasan perpisahan antara Jefry dan Vina.
Suara ketukan pintu kaca dengan diiringi ucapan serupa dari pemilik suara, Anne pun menatap ke arah pintu, di sana ada Shawn yang sedang bergelayut manja di pintu. Sangat disayangkan, jika lelaki setampan itu malah memilih jalan berbelok dan terjal. Tidak berniat merendahkan, namun Anne cukup terkejut dan menyayangkan jalan yang dipilih Shawn.
Sejak sebulan lalu, Shawn pergi ke luar negri untuk mengurus kolaborasi perusahaan miliknya, dengan artis papan atas dunia yang cukup berdampak dan memiliki basis penggemar yang luas. Anne bahkan baru mengetahui kabar kepergian Shawn dari Ellen yang lebih tahu dibanding Anne, yang katanya menginjak lantai yang sama dengan CEO perusahaan. Kehdirannya di sini, masih dianggap sebagai karpet welcome yang tidak menarik.
"Anne, keruangan saya sekarang, ya?" Setelahnya Shawn pergi dengan seyuman ramah pada para pegawai.
Saat Anne bangkit, beberapa suara iri dengki mulai terdengar, satu yang Anne tangkap dari mulut salah satu orang. "Pasti mau dikasih hadiah dari luar negri tuh, atau temu kangen buat mesra-mesraan diruangan si boss?"
Dalam hati Anne mencibir, para pegawai wanita di lantai ini, sama sekali tidak mengetahui apapun. Mereka bahkan tidak tahu, jika sang boss sama sekali tidak tertarik pada kaum hawa.
Begitu mengetuk pintu dan mendapat izin untuk masuk, Anne segera disambut oleh Shawn yang bangkit berdiri untuk melangkah menuju sofa disudut ruang kerjanya.
"Duduklah, dan aku punya oleh-oleh untukmu."
Meski ucapan dari beberapa rekan kerjanya terdengar menjengkelkan, namun mereka bisa menebak dengan benar. Jika Shawn memang akan memberinya oleh-oleh. Tetapi, Anne memicing curiga saat Shawn meletakkan paperbag berwarna hitam di atas meja.
"Ini kamu lagi nyogok kan? Supaya aku mau memberi info?"
Shawn mendudukkan diri seraya terkikik, namun wajahnya tak memperlihatkan perasaan tersinggung pada ucapan sinis Anne. "Iya, tapi juga tidak. Karena aku memang membelikan ini karena merasa akan cocok untukmu. Tapi ... aku memang membutuhkan informasi, karena sudah beberapa bulan pergi menjauh dari peradaban favoritku ini."
Sebelum aku membagi info tentang lelaki yang kau sukai, bagaimana jika kau lebih dulu membagi info tentang dirimu? Mengapa kau bisa memiliki perasaan seperti ini pada Jovan?"
Lagi-lagi raut wajah Shawn sama sekali tak terlihat tersinggung, lelaki itu mengaitkan jemarinya di depan wajah, bertopang siku pada lututnya. Dengan sedikit imbuhan berfikir keras seakan sedang mengenang masa lalu.
"Kau pernah mencintai lelaki lain sebelum Jovan?"
Shawn mengangguk, dan setelahnya dia mulai membuka mulut untuk terbuka. "Sebenarnya, aku mulai memiliki perasaan menyimpang ini, sejak aku usia 8 tahun."
Mata Anne membola, bukankah itu terlalu dini untuk membahas cinta? Atau mungkin konsep percintaan dipikiran Shawn sangatlah berbeda dengan kebanyakan orang?
"Sedari berusia 7, aku mulai membenci wanita. Mamaku adalah wanita sialan yang sangat memusingkan! Awalnya semua baik-baik saja, aku memiliki keluarga harmonis yang menenangkan. Namun mamaku mulai berubah setelah Bian lahir. Mama, semakin posesif pada papa, bahkan dengan level yang menyeramkan. Papa yang jenuh dan tertekan, pun mulai melampiaskan kekecewaannya pada dunia luar, dan karenanya, papa benar-benar merealisasikan tuduhan mama selama ini. Ya, aku adalah anak dari keluarga broken home."
Mendengar penjelasan Shawn, dia mendadak iba, dan bangkit untuk duduk di sofa yang lebih dekat dengan tempat duduk Shawn. Anne menepuk punggung Shawn mencoba menyalurkan simpati, namun seakan tak membantu apapun, karena Shawn masih berwajah masam dan muram.
"Mama yang kecewa pada papa, akhirnya melampiaskannya padaku, dan menjadikan anak berusia 7 tahun sebagai samsak hidup. Bian hampir pernah akan dipukul, namun aku memohon dan meminta untuk menggantikan hukuman. Puncaknya, mama mengunciku di dalam kamar mandi tanpa sehelai pakaian dan dalam posisi gelap gulita karena bola lampu yang sengaja mama turunkan. Sering menerima kekerasan itu, aku benar-benar benci pada sosok gila wanita!"
"Tapi kan enggak semua cewek begitu." Balas Anne, yang jelas ikut tersinggung pada ucapan Shawn.
"Ya aku tahu, itulah mengapa aku lebih nyaman membagi cerita padamu, bahkan tentang perasaanku padanya, kan?"
"Ya, aku tahu. Lalu bagaimana dengan Jovan."
Shawn berdesis lucu, namun kembali menjawab rasa penasaran Anne. "Terdengar biasa saja tapi bagiku sangat berbekas. Saat Jovan lah yang menolongku dari mantan kekasihku yang hampir mengajak bertengkar ditempat umum. Beruntungnya, kantor kami bahkan berdekatan, kan? Bukankah itu jodoh?" Shawn berangsur terkikik pada ucapannya sendiri, yang juju saja Anne pun geli merinding.
"Tapi, katamu itu perasaan terdahulu, bukan?"
"Memang!" Sergah Shawn. "Persaingan mulai ketat, Jovan pun selalu cuek bebek saat aku memulai obrolan. Karena merasa jika Jovan adalah lelaki berprinsip normal, aku memilih mengalah, dan mencoba melupakan Jovan. "Namun, lelaki itu sangatlah baik dan perfect, maka aku kembali tertarik pad Jovan, dan mulai mencari fakta dan alasan kuat agar Jovan mau mengunjungiku."
Anne mencerna kata tiap kata yang Shawn ucapkan, lalu dia mengernyit. "Dan kau menemukannya?"
"Kau." Jawab Shawn santai dan kilat.
"Aku?"
Shawn mengangguk membenarkan, lalu kembali menerangkan. "Karena aku tahu, kalau Jovan menyukaimu. Dan betapa terkejutnya aku, saat kau ikut melamar kerja di sini. Itulah mengapa aku segera memberikan posisi terbaik untukmu."
Hingga Shawn selesai menjawab dan menerangkan beberapa hal, Anne masih blank seakan tak bernyawa. Meski terkejut, namun dia cukup senang mendengar keterbukaan Shawn, dan mulai tahu sisi lain dari seorang Shawn yang hampir sempurna.