”Terima kasih, Don. Aku akan pikirkan nasihatmu soal pintu.” ucapku mengakhiri pembicaraan. Kuletakkan gagang telepon dengan perasaan campur aduk. Kuusap wajah yang mendadak terasa tirus. Curhat dilamar orang, sekarang malah ditembak. Alih-alih merasa baikan. Yang ada malah tambah galau. Aaaaaarrrrgggghhhh!!!
Tanpa sadar, kugelengkan kepala kuat-kuat. Sambil kujambak rambutku.
Endah, teman kos di samping kamarku tiba-tiba muncul.
”Kamu tidak apa-apa, Ky?” tanya Endah sambil menempelkan tangan ke jidatku.
”Aku bisa sinting gara-gara cowok-cowok ini. Edan semua!”
Endah tertawa.
”Lagian tuh ya, stok cantik kamu kenapa begitu banyak, sih. Udah gitu kamu aktifis dan teman ngobrol yang seru. Siapa juga yang tidak suka.”
”Sudah deh. Jangan nambahi pusingku.”
”Ini kenyataan, Non. Kalau menurutku sih, kamu tinggal pilih. Cowok boleh nembak. Tetapi cewek punya hak memilih. Tanyakan pada hatimu. Jangan lupa, ketika memilih kamu harus lakukan dengan langsung, umum, bebas, dan rahasia.”
Kulempar sandal ke arah Endah.
Endah berlari menghindar sambil tertawa-tawa.
Kuhempaskan tubuh ke atas kasur. Kupandang bintang warna hijau di langit kamarku. Ingin aku terbang saja meninggalkan semua ini. Punya pacar, bermasalah. Diputus pacar, masalah juga. Sekarang mau dapat pengganti pacar, tambah masalah. Kenapa sih cinta begini membingungkan? Rasanya makin yakin bahwa menjadi lajang abadi adalah jalan terbaik.
Tetapi, apakah selama menjadi lajang abadi aku akan bebas dari masalah-masalah ini? Bagaimana jika kemudian aku malah dituduh sombong, sok cantik, dan jual mahal? Bagaimana jika kemudian aku dituduh matre? Bagaimana jika aku dituduh punya kelainan orientasi? Oh tidak. Aku tidak seperti itu. Aku mungkin malah akan aman jika saat ini berani memilih.
”Jangan terus menerus berdiri di depan sebuah pintu yang tidak pernah dibukakan untukmu. Sementara, ada pintu lain yang dibuka lebar-lebar, menantimu masuk ke sana.”
Ucapan Doni itu terngiang-ngiang di telingaku sampai berhari-hari. Bahkan kuliah dosen killer yang begitu menarik masih kalah oleh ucapan Doni. Aku sampai tidak habis pikir. Ucapan itu sangat dalam. Sangat aktual. Sangat aku.
Berkali-kali aku bertemu Nico, tetapi aku hanya memberinya senyuman. Secara aku belum juga memutuskan.
Sore itu, aku baru selesai berurusan dengan pihak administrasi kampus. Pergantian petugas yang mengurus beasiswa membuat banyak urusan jadi terhambat. Aku dan beberapa mahasiswa beasiswa lainnya sedikit banyak merasa risau pada hari kritis itu. Syukurlah, akhirnya urusan selesai. Aku melangkah tenang meninggalkan ruang administrasi.
Tiba di portal pintu keluar, hujan mengguyur. Aku tidak membawa payung. Teman-teman sudah pada bubar. Sebagian nekad berlari menembus hujan, sebagian lagi memilih menuju kantin gedung administrasi. Aku sendirian tertahan di depan gedung administrasi mahasiswa, sudah terlalu lemas untuk berlari.
Gedung ini terpisah jauh dari gedung yang lain. Sementara motorku kutinggal di jurusan. Tadi aku ke sini jalan kaki demi menghemat uang parkir. Parkir di depan gedung administrasi kena biaya. Parkir di jurusan gratis.
Masalahnya, beasiswaku baru bisa turun setelah urusan administrasi selesai. Jadi besok barulah rekeningku terisi lagi. Hari ini aku masih harus berhemat, bahkan puasa. Mungkin wajahku begitu galau dan memelas karena memang sejak kemarin pagi perutku tidak terisi. Beberapa cowok lewat dan menawarkan boncengan mereka untukku. Aku menolak disertai senyuman halus. Nggak ngerti, ya. Tetapi ada perasaan tidak nyaman dibonceng cowok yang tidak kukenal. Meskipun dari jaket dan gayanya aku tahu mereka semua anak kampusku.
Tanpa kuduga Nico lewat. Ia berhenti tepat di depanku. Menatapku tajam.
”Ayo, Ky. Kamu mau menggantikan pak Satpam jaga pintu?”
Aku angkat bahu.
”Motorku di jurusan,” ucapku.
Nico mengangguk. Melirik boncengannya.
”Ayo. Hujan terus turun. Lama-lama kamu bisa kedinginan dan sakit,” ucapnya.
Aku tidak punya alasan lagi. Aku naik ke boncengannya. Alih-alih ke jurusanku, Nico malah menuju jurusannya. Tidak ke ruang kuliah atau ruang baca, tetapi ke kantin. Tanpa meminta pendapatku, ia memesan dua porsi soto ayam dan dua gelas jeruk panas. Menu yang nyaman kala hujan.
”Makan, Ky. Wajahmu pucat. Kamu pasti belum makan. Beasiswa belum turun?”
Kuanggukkan kepala. Aku masih ragu untuk mulai makan. Kupandangi asap beraroma sedap yang meninggalkan tumpukan nasi, suwiran daging ayam, irisan kubis, soun, irisan seledri, dan ditaburi bawang goreng. Sungguh, menggugah selera. Nico bahkan sudah menghabiskan hampir separo isi mangkuknya.
Aku masih berdialog dengan isi mangkukku. Haruskah kamu kumakan? Aku bukan peminta-minta meski sungguh saat itu kondisi gawat darurat. Baru kurasakan betapa perutku membutuhkan. Tetapi, makanan ini dibelikan Nico. Aku tidak pernah meminta. Apakah memakan makanan ini akan beresiko terhadap keputusan yang bakal kuambil nantinya? Waduh.
”Makanlah. Orang tetanggaan saja berdosa kalau dia kenyang, sementara tetangga sebelah kelaparan. Kalau aku, masa tega melihat calon istriku sepucat ini.”
Kutundukkan kepala. Sendok dan garpu masih belum kusentuh. Tangan masih tengkurap di atas meja. Tiba-tiba sepasang tangan hangat menggenggam kedua tanganku.
”Aku ada di sini, Ky. Kamu boleh meminta bantuanku kapanpun membutuhkan.”
Kugelengkan kepala. Beasiswa masih cukup untuk membiayai hidup. Masalah hanya timbul ketika beasiswa terlambat turun seperti saat ini sementara dana cadanganku terlanjur terpakai untuk keperluan penting lainnya. Itupun karena urusan administrasi belaka. Selebihnya, aku baik-baik saja. Jadi kugelengkan kepala menolak tawaran Nico.
”Soto ini saja, untuk hari ini, cukup,” ucapku.
Nico tersenyum.
Penolakan yang percuma. Karena setelahnya Nico rutin mensuplai beras, mie instant, lauk tahan lama, telur, gula bahkan kertas, alat tulis, dan sabun mandi. Teman-teman kosku bisa ikutan berhemat sebagai efek samping pemberian Nico yang over dosis.
Nico jadi sering menjemputku berangkat kuliah dan mengantar kembali sore harinya. Ini dia lakukan untuk membantuku mengurangi biaya bahan bakar. Nico memberiku sebuah telepon seluler yang sudah tidak dia pakai. Nico rutin mensuplai pulsa. Resikonya, aku bahkan tidak bisa menghindar. Semakin banyak aku berusaha menjauh, semakin banyak pula Nico berusaha mendekat. Semakin aku berusaha melepaskan diri dari segala bantuannya, Nico semakin banyak membantuku. Aku merasa terdesak.
Tetapi kenyataannya kemudian memang aku tidak bisa lagi hanya mengandalkan beasiswa. Bekerja paruh waktu juga tidak bisa kulakukan dengan banyaknya tugas kuliah dan tugas sebagai asisten dosen. Meski gaji hanya cukup untuk makan sehari, tetapi catatan penting pengalaman dan mempraktikkan kebahasaan sangat penting bagiku. Satu-satunya rejeki tambahan yang masih bisa kukerjakan adalah memberikan bantuan menyelesaikan tugas desain, tugas gambar, atau translate.
Akhirnya, kubulatkan tekad. Aku membuat keputusan hebat. Kuterima Nico menjadi calon menantu ayahku. Mata Nico berbinar ketika kusampaikan keputusan. Lembut disentuhnya poniku.
”Aku tahu kamu mungkin berat menerimaku. Aku juga tidak ingin menekanmu dengan segala bantuan ini. Sungguh. Meski hari ini kamu menolak, aku akan tetap membantumu. Sebagai teman, sebagai senior yang baik. Jika kamu menerimaku, kuharap itu bukan karena kamu sungkan dengan segala yang kita alami akhir-akhir ini. Kuharap keputusan ini keluar dari hatimu. Tanda kemantapanmu menuju dewasa bersamaku.”
Kuhela nafas. Kuanggukkan kepala.
Kami pulang bersama lagi. Kali ini Nico minta diijinkan mampir dan berkenalan lebih resmi dengan orang tuaku. Resmi, dalam arti tidak lagi sekadar mencari kesamaan sinyal dengan Ayah. Tetapi juga mencari tahu segala hal ihwalku, masa kecilku, hingga kebiasaan unikku.
Tanpa menunda lagi Nico memintaku kepada orangtua. Tanpa menunda pula beliau menyatakan persetujuan. Hanya saja, beliau berharap agar Nico dan aku bersabar untuk menyelesaikan kuliah dahulu. Bukan berarti beliau golongan orang yang mengkotak-kotakkan hidup. Tetapi agar kami bisa fokus menyelesaikan kuliah lebih cepat dan segera mandiri, baru masuk ke ranah pernikahan. Nico sebenarnya tidak setuju dengan konsep itu, tetapi sebagai awal, ia merasa cukup dengan orangtuaku memberikan lampu hijau.
Aku tidak bisa bicara.
Tuhan, saya mengajukan perubahan rencana lagi.