Hujan masih terus turun saat tiba waktunya kembali ke Surabaya. Nico menepati janjinya menemaniku pulang dan kembali.
Kali ini, dia turun motor dan menyapa orangtuaku. Ia memperkenalkan diri, lalu menyerahkan sepaket kue lebaran. Katanya sih titipan orangtuanya. Tetapi ia lupa mencabut label harga. Ia membeli kue-kue itu di toko dekat rumah.
Sambil menungguku menyuguhkan teh, Ayah mengajak Nico mengobrol. Sepertinya mencari sambungan sinyal. Aku tidak menyangka bahwa orang se-keren dia punya etiket baik pada rakyat jelata seperti kami. Menyempatkan diri pula. Tetapi kalau kupikir-pikir lebih jauh, aku tahu alasan Ayah sebenarnya. Ayah menahan kami agar tidak berangkat hari itu karena kondisi masih hujan.
Kami harus bagaimana lagi. Waktu terus berjalan. Liburan hari Raya kami sudah habis. Besok sudah akan langsung masuk kuliah lagi. Jadi kami tetap harus pergi walau dengan perjalanan di bawah guyuran hujan. Kami pamit pada orangtuaku.
Kali ini aku sudah lebih siap. Aku memakai jas hujan lengkap dengan sarung tangan. Berbeda dengan saat berangkat, kami melewati perjalanan dalam obrolan yang hangat. Terlebih meninggalkan kota Malang, hujan juga meninggalkan kami. Selain itu, pastinya juga karena kondisi perasaanku sudah jauh lebih baik. Mungkin menghanyutkan batu di sungai telah membantuku melepaskan pula ketidakrelaanku.
Satu setengah jam perjalanan serasa lima menit saja.
Saat tiba di depan rumah kosku, Nico berhenti sejenak. Aku pakai tas punggung, lalu menatap Nico dan menyampaikan terima kasih. Nico menatapku. Saat itulah baru kusadari ada yang berbeda pada sorot mata Nico. Aku berusaha tidak kegeeran. Tetapi itulah yang kurasakan.
Sejak hari itu, hampir setiap dua hari sekali Nico datang. Ia mengajak ngobrol ngalor ngidul[1] yang bahkan kadang tidak kumengerti arahnya. Kalaupun tidak bisa datang, ia menelpon lama sekali. Rekor terpanjangnya tiga jam. Wah ... teman-teman kosku sampai terheran-heran. Sebegitu seringnya kami bertemu atau lama bicara di telepon. Pertanyaannya, apa saja yang dibicarakan? Kok seperti tidak kehabisan bahan. Aku tidak bisa menjawab. Jujur, selama itu lebih banyak dia yang bicara. Aku? Badan di sini, pikiran di ... entah.
Kalau kuingat-ingat, Nico banyak bertanya tentang keluargaku. Tentang pilihan-pilihan yang kuambil dalam hidup. Tentang hobi dan aktifitasku yang banyak menyimpang dari jalur utama sebagai mahasiswa jurusan sastra. Dia tahu pasti aku sering membantu anak desain mengerjakan tugas. Aku juga aktif di KSR-PMI. Aku sering terlibat pementasan teater sebagai bagian tata artistik, tetapi aku gugup mendongeng. Di luar kegiatan kampus, aku aktif di komunitas motor. Komunitas ini membawaku sering ikut touring. Kalau aku pulang, baliknya biasa membawa tas penuh terisi keripik untuk kujual di tempat kos.
Nico juga pernah mengajakku bicara tentang poligami. Dia bercerita telah menanyakan pertanyaan itu pada banyak perempuan. Seratus persen responden terdahulu menolak poligami. Hanya aku yang beda. Jawabanku sederhana saja. Pria boleh poligami, selagi dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Aku memiliki kakek yang berpoligami. Tetapi kakekku sangat bertanggung jawab. Jadi ketiga nenekku semua sejahtera. Kelima anaknya semua lulus sarjana. Termasuk ibuku. Kami semua baik-baik saja. Jadi kenapa aku harus menentang poligami? Aku manusia sederhana. Dan ini nyata. Seringnya mengobrol dengan Nico, membuatku paham siapa dia. Keinginannya. Pilihan dan rencana hidupnya. Entah untuk tujuan apa Nico bercerita sejauh itu.
Akhirnya, pada suatu malam yang tenang, Nico duduk takjim di seberangku. Sejak tiba, sikap Nico nampak berbeda. Dia tegang. Entah mengapa. Nico juga tidak banyak bicara seperti biasa. Setelah seperempat jam berbasa-basi, Nico mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian dengan penuh keyakinan Nico berkata:
“Bolehkah aku memintamu menjadi teman hidupku?”
Aku terdiam seribu bahasa. Jika di dunia ini ada bahasa ke seribu satu, tentu itu yang akan kugunakan. Tetapi masalahnya aku hanya tahu tiga bahasa. Kami lalui tiga puluh menit berikutnya dalam diam. Menjadi teman hidupnya? Ini artinya mengajakku menikah ‘kan? Sebuah tawaran menarik sebenarnya. Aku yang patah hati. Aku yang merasa dibuang.
Hal lain yang kupikirkan, tentu saja sosok Nico. Dia tampan. Dia aktif di organisasi kampus. Ia juga masuk tim inti motivator kampus. Salah satu tugasnya adalah menjadi pembicara pada kegiatan-kegiatan pelatihan mahasiswa baru. Kuda besi yang dia naiki setiap hari bukan produk pasaran. Tempat kosnya bukan rumah kos sembarangan. Dalam pertemuan-pertemuan MahArema, Nico sering menjadi sponsor konsumsi dan camilan kami. Intinya, dia pasti anak orang berada.
Jadi, jelas begitu asing jika Nico merasa aku orang yang tepat untuk menjadi pasangan. Aku yang anak seorang tukang ojek, yang bisa kuliah karena beasiswa, dan secara fisik ndut. Apakah tepat bersanding dengan Nico yang selalu terlihat perfecto?
Di sisi lain, meski dia sesempurna itu, aku tidak merasa ada ‘sesuatu’ dengan Nico. Kebersamaan selama dua tahun di MahArema memang mendekatkan kami. Kami sering bertemu di tempat kosnya. Bahkan tak jarang Nico menemaniku mengerjakan tugas temannya (baca: menunggui sambil dia ngomong entah apa saja). Dia seperti menutup mata bahwa audiencenya tidak menyimak.
Bagiku semua berlangsung sangat natural dan biasa-biasa saja. Aku tidak punya perasaan khusus padanya. Walaupun beberapa teman kuliahku naksir Nico, aku tetap tidak tertarik. Masa sih bisa menikah dengan seseorang tanpa kamu punya perasaan khusus padanya. Walau sungguh, kehadiran Nico bagaikan oase dalam gurun pasirku. Bagai perekat khusus bagi retaknya aku. Dhuh. Galau tingkat dewa. Bisakah aku memilih? Kenapa sih aku harus memilih. Ini sungguh menyebalkan.
Dalam keraguanku, tiba-tiba aku terpikir untuk menelepon Doni. Orang terdekat semasa aku masih bersama Ryan. Diantara sekian banyak teman, Doni orang yang paling tahu bagaimana hubungan kami. Konon, Ryan selalu bercerita tentang perkembangan kami padanya.
“Kiky, aku sudah mendengar apa yang terjadi pada kalian. Aku turut menyesal.”
Tuh, ‘kan? Aku belum cerita apa-apa dia sudah berkata begitu. Jadi sebenarnya dia sudah tahu masalah kami. Sepertinya komunikasi Doni dan Ryan baik-baik saja. Lalu kenapa Ryan tidak melakukan komunikasi seperti itu denganku? Salahkah aku bila menjadikan ini barang bukti bahwa dia tidak sungguh-sungguh denganku?
“It’s OK, Friend[2]. Rasanya sekarang ini aku sudah jauh lebih baik.”
“Baguslah. Aku bisa bayangkan bagaimana terlukanya kamu. Jadi, kamu sama siapa sekarang? Apa kamu sudah mendapatkan pengganti Ryan?” tanya Doni.
“Itu yang aku ingin ceritakan padamu. Ada cowok yang serius melamarku di sini. Melamarku. Jadi istri.”
“Memangnya dia sudah kerja?”
“Belum. Masih berjuang menyelesaikan kuliah. Bisa jadi malah sekarang ini butuh penyemangat. Sudah semester 7. Orangnya baik. Tetapi entah kenapa aku ragu dengan hatiku sendiri.”
“Kamu masih mengharapkan Ryan?” tebak Doni langsung pada inti permasalahan.
“Begitulah. Satu sudut hati rasanya masih saja meyakini Ryan masih menyayangiku seperti dulu. Mungkin kondisi ini hanya karena dipaksa atau apalah. Bisa jadi ini strategi ortuku saja untuk memisahkan kami. Atau ....”
Dengan cepat Doni memotong ucapanku.
“Ky, bukalah matamu. Lihatlah kenyataan yang terjadi. Dia menjauh dari kamu. Dia tidak menolak perjodohan itu. Ryan tidak menjagamu. Dia tidak berusaha mempertahankan cinta kalian. Apalagi yang kamu harapkan? Kamu jangan terus menerus berdiri di depan sebuah pintu yang tidak pernah dibukakan untukmu. Sementara, ada pintu lain yang dibuka lebar-lebar, menantimu masuk ke sana. Relakan saja, Ky. Mungkin memang bukan jodohmu mengarungi hidup bersama Ryan. Sekarang, terima saja cowok itu. Soal cinta, kamu masih percaya pepatah Jawa witing tresno jalaran saka kulino ‘kan? Kelak setelah kalian bersama, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Relakan, Ky. Mulai hidup barumu. Jikapun kamu tidak berminat dengan cowok itu, kamu bisa datang padaku. Aku selalu ada untukmu. Selama ini aku simpan saja perasaanku untuk menghormati Ryan. Tetapi jika dia mencampakkan kamu seperti ini, aku tidak rela. Jika kamu ijinkan, aku yang akan memenangkan hatimu.”
Aku tertegun.
[1] Jawa: Ke arah utara – ke arah selatan
[2] Tidak apa-apa, Teman