SILATURAHIM

1217 Words
Acara silaturahim itu, salah satu yang tidak akan pernah kulupakan. Sepertinya semua orang sudah tahu apa yang terjadi. Tidak ada yang menanyakan Ryan. Sama sekali tidak ada. Tetapi, pandangan mereka ketika mata kami bertemu sudah cukup membuat hatiku tersayat-sayat. Nenek buyut memelukku lama sekali. Berkali-kali beliau mengucapkan kata ”sabar” di telingaku. Berbisik. Penuh kelembutan. Tapi bagai paku besar yang menancap dalam pada hatiku. Dicabut berdarah. Tidak dicabut menyiksa. Ketika pandangan mataku beredar, kutemukan pandangan kasihan, menyepelekan bahkan ada yang nampak senang pada puluhan mata di ruangan itu. Beberapa sepupu ’gaul’ dengan sengaja membentuk forum dan disela ha ha hi hi mentertawakanku. Tidak cukup di situ, salah satu dari mereka membawa pula calon suaminya yang konon putra seorang jenderal. Dengan sengaja dipamer-pamerkan, termasuk padaku. Dia marah-marah saat calon suami yang putra jenderal itu ingin mengobrol lebih lama denganku. Terang-terangan cowok yang mengaku tidak punya hubungan apa-apa dengan sepupuku itu meminta nomor teleponku. Dengan gaya yang sangat kenes, calon itu dibawa menjauh ke tempat aman. Aku berusaha tersenyum. Dalam hati hasrat untuk mencakar muka mahalnya sudah memuncak. Menyulut adrenalin. Mungkin kesuksesan melakukan hal itu adalah suatu tantangan yang bakal membuat namaku tercatat dalam buku rekor dunia. Sungguh aku tidak punya masalah dengan sepupu-sepupu genit ini. Tahun lalu orangtuaku juga tidak dengan pongah mengumumkan bahwa aku dengan Ryan. Sama sekali tidak ada tendensi apa-apa. Tetapi kenapa dengan gadis-gadis itu? Aku tidak paham. Yang pasti, aku sakit melihat ulah mereka. Merasa muak, aku nyepi di halaman belakang. Aku duduk di dekat kolam ikan. ”Dari dulu mereka iri padamu. Kamu cantik, ramah, dapat beasiswa kuliah di kampus keren, sekalinya ikut gerak jalan, dapat motor baru yang pajaknya ditanggung penyelenggara pula. Kalau sekarang kamu sedang jatuh, tentu mereka tidak akan sia-siakan kesempatan ini.” Arif, sepupu cowok sebayaku duduk di sebelah. Kuanggukkan kepala, lesu. Arif menepuk bahuku. Tidak lama kemudian, papanya Arif yang bernama Om Yusuf, mendekat. Beliau tidak sendirian. Ada wajah asing yang tidak kukenal sebagai bagian dari keluarga besar kami. Calon suami siapa ini? Kuhela nafas lelah. Ternyata, Om Yusuf membawa anak temannya. Cowok itu bernama Andy. Perawakannya sedang, wajahnya teduh dan menyenangkan, penampilannya sederhana. Usianya lima tahun di atasku. Sudah bekerja di Jakarta. Siap nikah. Arif bercerita bahwa bulan lalu, teman Om Yusuf berkunjung bersama keluarganya, termasuk Andy. Mereka melihat-lihat foto keluarga besar kami dalam album dan foto-foto yang memang menjadi hiasan dinding rumah Om Yusuf. Andy nimbrung dalam obrolan kami. Dia langsung pada inti permasalahan bahwa dia menyukaiku, sejak melihatku di album foto. Ia merasa jatuh cinta sejak melihatku tadi pagi. Begitu terus terangnya Andy, aku speechless. Melihat situasi telah kondusif maka Arif dan Om Yusuf sengaja meninggalkan kami. Saat kami mengobrol, semua nyambung. Beda usia tidak membuat pembicaraan kami terasa formal apalagi frontal. Aku bahkan dengan santainya bisa bercerita kalau tengah patah hati. Ia menanggapi dengan santai, bahkan menasihatiku bahwa masalah dan reaksiku wajar. Malah menurutnya, aku perlu merasakan sakit hati, agar kuat, lebih bijaksana, dewasa, dan kelak tidak lupa bersyukur. Aku trenyuh, sebenarnya. Untuk ukuran orang yang sedang pendekatan, dia bisa begitu santai dengan situasi gadis yang ditaksir. Justru aku yang tidak siap dengan semua hal tentang pernikahan. Aku hanya ingin menata kembali hidupku. Andy tidak keberatan. Ia justru menyemangati dan mendoakan agar aku bisa segera move on. Obrolan kami berlangsung akrab hingga tiba saat ramah tamah. ”Begini ini, berarti waktunya makan?” tanya Andy. ”Iya.” ”Ada rekomendasi?” ”Kamu harus mencoba opor ayam buatan nenekku. Super.” ”Okey. Walau aku tidak suka santan, sebenarnya. Tetapi kata Arif, lidahmu valid. Jadi sesekali bolehlah.” Kami tertawa. Andy mendampingiku melangkah menuju bufet makanan. Aku sadar sekali banyak pasang mata menatap kami. Pastinya juga banyak mulut nyinyir sengaja bersuara lantang, mengatakan betapa tidak setianya hati yang sangat mudah berpaling. Sepanjang sisa pertemuan aku bisa tersenyum. Seramah mungkin kusapa semua orang. Penuh perasaan kutanyakan kabar dan aktifitas terbaru. Andy berbaur dengan para sepupu laki-laki. Jadi, tidak ada masalah ’harus menemani’ bagiku. Aku tersenyum dan ceria, walau dalam hati aku masih tetap menangis darah. Saat itu, aku merencanakan jadwal launching menjadi lajang abadi. Lajang sebagai pilihan, bukan karena ditinggalkan. Apalagi karena tidak laku. Usai acara, Andy mengantarku pulang dengan motornya. Tanpa perlu kukomando, ia tahu arah rumahku. Entah bagaimana, aku tidak heran. Setengah perjalanan, ia mengajakku mampir kafe, tetapi kutolak karena aku merasa lelah. ”Jangan lupa segera move on,” guraunya sebelum pergi. Kuberikan senyum. Kuhabiskan sisa waktu di kamarku. Aku tidak berminat mengobrol dengan orangtua. Lebih tepatnya menghindar. Bukan apa-apa. Aku masih belum siap. Andy mencoba menelepon. Tetapi kujawab dengan sopan bahwa aku sedang sibuk. Jika aku sudah longgar, aku yang akan meneleponnya. Entah kapan. Esok harinya, aku minta ijin keluar sendirian. Aku naik angkutan kota menuju kota Batu. Macet dan keramaian tidak kupedulikan. Tempat yang kutuju hanya satu. Coban Talun. Menelusuri hutan pinus berembun, pandanganku masih mencari-cari batang-batang pakis. Sesekali aku berhenti memetik raspberry hutan yang merah merona. Manis. Semanis kenangan yang pernah kuukir bersama Nana di sana. Bersama Yudha dan Doni. Bersama Ryan. Teringat nama terakhir, berry itu mendadak terasa pahit. Kutinggalkan rumpun perdu. Kuayun langkah melewati aliran sungai yang dingin. Sejenak aku nikmati sensasi di kakiku. Dingin yang mengalir bersama air yang jernih. Alirannya yang deras walau tidak terlalu dalam memaksaku berusaha bertahan. Kurogoh saku celanaku. Kukeluarkan batu berlapis yang pernah kuambil dari sana. Kuamati detilnya. Warna putih gading yang berselang-seling dengan warna hitam batu kali. Lapisan-lapisannya. Bentuknya. Kubungkukkan punggung agar tanganku bisa terendam air. Pelan kulepaskan batu itu. Ia hanyut, menjauh dan entah akan ke mana. Pergilah. Bawalah segala kenanganku. Bawalah sejauh aliranmu. Kabarkan kisah sedih ini pada orang-orang, batu-batu, daun-daun yang kau lewati. Sampaikan pula pada Ryan yang entah bagaimana aku yakin akan tahu perasaanku. Aku bukan makhluk abadi. Begitupun cintaku. Tetapi harus kusadari aku beruntung pernah merasakan cinta ini. Aku beruntung merasakan sakit ini. Aku beruntung mengetahui tempat yang keren ini untuk sejenak melarikan diri. Kulanjutkan langkah. Turun ke air terjun, jalan sudah lebih baik. Syukurlah. Karena sekarang tidak akan ada lagi tali milik Ryan dan Doni. Tak akan ada lagi cowok yang menangkapku saat aku terjatuh. Tak akan ada lagi yang melepaskan lintah dari kulitku. Aku berusaha. Aku yakin aku bisa. Aku bernafas lega ketika berhasil mencapai air terjun. Ternyata, tanpanya aku bisa. Aku baik-baik saja. Aku duduk di batu besar di depan air terjun. Kudongakkan kepala menatap tebing berhias tumbuhan hijau segar. Terpaan butir air dingin membuatku tersenyum. Berpadu dengan hangat matahari pagi dan perasaanku yang sudah lega, rasanya tenang sekali. Di tempat ini, mereka pernah menggodaku karena aku tidak ikut ekstrakurikuler apapun. Di sini aku merasakan kebersamaan. Di sini hatiku pernah mulai tersengat. Di sini, sekarang aku sedang berduka. Dalam kesendirian kuadukan segala kegundahanku pada Dzat yang menciptakan air terjun itu. Kuakui semua kesalahanku. Aku yang tahu bahwa belum saatnya aku membuka hati. Aku yang tidak mempertahankan benteng hatiku. Aku yang terlena dengan ajuan seseorang untuk meremukkan keramik yang sudah kubangun baik-baik. Bukan dia yang salah. Aku yang tidak kuat bertahan. Tuhan. Sekarang hamba mengerti bahwa hamba terlalu dini mengharapkan banyak hal. Ampunilah hamba. Kuajukan semua perubahan rencana hidupku. Rencana A tidak terlaksana, Tuhan. Ini rencana B. Mohon restuilah. Bolehkah aku meminta agar dijauhkan dari segala cinta? Aku tidak ingin merasakan sakitnya lagi. Tuhan, bolehkah aku menjadi lajang saja? Debur suara air yang jatuh seolah mengamini setiap doaku. Bagiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD