Aku berusaha menghibur diriku sendiri. Aku memutar balik kenyataan bahwa mungkin orangtuaku yang berbohong dan melebih-lebihkan segala sesuatu. Bukankah beliau tidak menyukai profesi yang dipilih Ryan. Bisa saja ini semua taktik untuk memisahkan kami. Mungkin telingaku yang salah dengar saat Ryan bercerita tentang perjodohannya. Bisa saja yang bercerita tentang perjodohan itu adalah orang lain. Ryan difitnah. Atau ini semua adalah permainan Ryan. Dia menggodaku. Atau sejak awal dia memang hanya menggodaku. Arrgghh, menjijikkan. Aku muak dengan ini semua. Aku sungguh muak dengan diriku sendiri.
Berbulan-bulan aku berduka. Tidak ada yang bisa menghiburku. Terlebih, aku tidak punya tempat curhat. Aku akrab dengan banyak teman satu angkatan. Tetapi rasanya berat menceritakan masalah yang satu ini. Aku hanya bisa bercerita pada buku harian dan pada diri sendiri. Pada keping-keping retak yang coba kususun kembali. Dengan perekat setitik keyakinan diri bahwa aku akan mampu bertahan. Aku harus mampu bertahan. Setidaknya aku harus bertahan agar beasiswa ini tidak sia-sia.
Aku menghindari pertemuan dengan orangtua. Aku tahu pasti, bila kami bertemu, aku akan diajak membahas tentang perjodohan dengan orang yang bisa jadi sama sekali tidak kukenal. Aku tidak ingin mendapat tekanan. Tidak tentang perjodohan. Terutama, tidak di hari-hari ini. Aku masih cinta mati sama Ryan. Aku masih berharap dia akan muncul lagi dengan membawa berjuta cinta untukku. Membawa suatu penyempurna untuk kembali menghancurkan bangunan diriku. Diriku yang kini hanya gabungan dari retakan-retakan semu. Hanya untukku. Membantuku merajut kembali jalinan kasih kami. Memberikan kembali harapan indah itu padaku. Menjadi diriku yang baru dan utuh bersamanya. Tapi semua kosong.
Mendekati hari Raya, aku semakin bimbang. Keluarga besarku memiliki kebiasaan berkumpul di rumah anggota keluarga secara bergiliran. Dalam kegiatan itu, kami akan saling berinteraksi. Tahun lalu, melalui forum itu orang tuaku mengabarkan bahwa aku telah memiliki calon suami seorang aparat. Beberapa tante dan om berbahagia dan mengucapkan selamat. Ada pula beberapa tante dan sepupu yang memasang wajah sirik dan iri. Golongan terakhir ini yang aku tidak ingin temui. Terutama dalam kondisi perasaanku yang belum stabil. Aku yang masih belum mendapatkan pengganti dan memiliki kecenderungan besar tidak ingin mencari.
Pada saat galau begitu, ada tawaran menarik dari produsen motorku. Dengan statusku sebagai user setia sekaligus aktif di komunitas dan kegiatan KSR-PMI, mereka menawariku menjadi petugas kesehatan di posko mudik. Tentu dengan honor yang lumayan, pengalaman menangani pasien, dan mudik gratis pada H+3. Tawaran yang sangat menarik. Aku sederhana saja. Ini kesempatan agar aku tidak perlu ikut pertemuan keluarga. Kuyakin dalam pertemuan keluarga, mereka pasti akan bertanya tentang Ryan. Aku merasa tak akan sanggup menghadapinya. Dengan ikut menjadi petugas kesehatan, aku bukan hanya tidak bertemu mereka, tetapi juga bisa mendapat pengalaman kerja dan tambahan uang. Pelarian produktif kan? Aku sudah membulatkan tekad untuk mendaftar, sampai aku bertemu Nico.
“Kamu tidak ingin bertemu orangtuamu saat lebaran begini?” tanya Nico yang senior kampusku meski beda jurusan. Ia lebih tua dua angkatan dariku. Kebetulan kami sama-sama berasal dari Malang. Rumah Nico kira-kira berjarak setengah jam naik motor dari rumahku. Kami kenal di forum kumpul MahaArema (Mahasiswa-Arek Malang). Selain itu, Nico tinggal satu rumah kos dengan beberapa mahasiswa jurusan desain yang sering melibatkanku dalam tugas dan proyek desain atau gambar mereka. Ini salah satu pekerjaan sampinganku.
“H+3 aku akan tetap bertemu beliau. Lagipula, jadi petugas kesehatan juga tetap bisa mudik gratis dan dijamin selamat. Tidak perlu naik motor sendiri. Kan sudah disediakan kendaraan khusus. Dapat gaji pula.”
Nico menatapku penuh arti. Ia pasti tahu sebagai mahasiswa beasiswa, mencari uang tambahan itu nama tengahku.
“Ky, hari Raya tuh, cuma setahun sekali. Masa kamu tidak mau segera pulang? Belum tentu umur kamu cukup panjang untuk menemui orangtua dan keluargamu. Minta maaf sama mereka. Juga menjalin silaturahmi dengan keluarga yang lain.”
Aku menunduk. Orang satu ini, bisa saja mencari alasan. Siapa tidak tergerak kalau diingatkan tentang batasan usia semacam itu. Aku jadi bimbang. Ya kalau setelah jadi relawan aku masih punya umur dan waktu untuk pulang. Jika tidak? Tidakkah akan menyesal seumur hidup. Atau bahkan menyesal terus di alam barzah, nanti? Nico masih meneruskan kuliahnya selama hampir setengah jam. Mulai dari bertemu para tetua, hingga kemungkinan interaksi minimalis dalam forum besar seperti itu bila dibanding aku harus mendatangi mereka satu demi satu paska bertugas. Ia bahkan menawariku tumpangan jika aku malas nyetir sendiri. Aku ... hanya diam.
”Ky ...?”
“Ya, sudahlah. Kita pulang bareng.” Dorongan ketakutan tidak sempat bertemu orangtua untuk meminta maaf membuatku bersegera memutuskan.
“Oke. Kujemput ke kosmu.” Wajah dan suara Nico kompak ceria.
Di hari yang kami sepakati, Nico menjemputku. Kami pulang bersama berboncengan naik motor Nico. Sepanjang jalan ia mengajakku ngobrol. Tepatnya, dia yang banyak bicara. Sejauh mengenalnya sih, dia memang suka ngobrol. Biasanya kami nyambung. Tetapi kali ini koneksiku sedang buruk. Nico yang tidak menatap wajahku, tidak mendeteksi bahwa ’hmm’, ’ya’, atau ’lalu’ yang menjadi jawabanku adalah respon spontan saja. Jika disuruh mengingat, aku jadi tahu pasti bahwa diri ini sama sekali tidak konsentrasi dengan apa yang Nico bicarakan. Buktinya aku sama sekali tidak ingat apa yang Nico bicarakan. Aku masih memikirkan Ryan, Ryan, dan Ryan.
Setengah perjalanan, hujan mengguyur deras. Aku tidak mengeluh, bahkan cenderung malas meringkuk di belakangnya karena cuma bawa satu jas hujan. Hari yang sejak tadi pagi begitu cerah membuatku yakin untuk meninggalkan saja jas hujan di rumah kos. Tetapi langit begitu tahu kondisiku. Ia menambah mellow keadaan dengan membasahiku.
“Aku tidak keberatan kalau kamu pakai bagian belakang jas hujan buat berteduh.”
“Terimakasih. Tidak usah. Aku sedang ingin hujan-hujanan.”
“Nanti kamu sakit?”
“Tenang saja. Aku tidak akan menuntutmu bertanggung jawab.”
Dia tidak protes lagi. Aku buka lengan, menunjukkan padanya bahwa aku sangat menikmati hujan. Lewat spion kulihat Nico membuka kaca helm-nya untuk menunjukkan senyum tipis.
Aku basah kuyup. Dingin mulai menusuk. Meski demikian, aku tidak menyerah. Lagipula Nico melaju dengan sangat cepat karena jalanan sepi. Aku yakin perjalanan tidak akan lama lagi. Lagipula, sepengalamanku, saat kehujanan kemudian berteduh dalam kondisi masih pakai baju basah itu jauh lebih dingin daripada melanjutkan hujan-hujanan. Bener kan? Selain itu aku berharap dengan kehujanan begitu kepalaku akan ikutan dingin. Siapa tahu segala kepenatan dan pembawa putus asa itu akan ikut terkikis oleh derasnya hujan. Orang putus asa ternyata aneh, ya?
Hujan semakin deras saat kami masuk wilayah Malang. Ditambah petir yang menyambar-nyambar. Rasanya horor. Dari pantulan di helm Nico, aku menyadari ada mobil melaju kencang di belakang kami. Jalannya meliuk-liuk. Menakutkan.
Sampai di depan rumahku, Nico tidak berkata apa-apa. Hanya matanya yang menatap aneh pada tubuhku yang menggigil. Nico juga tidak bersedia kuajak singgah, apalagi hujan semakin deras. Ia berkata, hanya ingin mengantarku, lalu segera pulang.
”Segeralah masuk. Cepat ganti pakaianmu,” ucapnya tanpa turun motor.
”Segeralah berangkat agar aku bisa segera masuk.”
Nico tersenyum tipis. Lalu menganggukkan kepala dan melaju.
Kutatap punggung berbalut jas hujan hitam yang semakin jauh. Selamat jalan.