JODOH

1123 Words
Ternyata, itu menjadi pertemuan terakhirku dengan Ryan. Setelahnya, dalam satu tahun hanya sekali dia berkirim surat. Menelepon juga paling empat bulan sekali. Itupun kemudian dengan nada yang pesimis, tergesa-gesa, dan sama sekali berbeda dengan cara dia nelpon biasanya. Ia tidak mau berlama-lama lagi mendengarkan aku merajuk. Ia tidak bersemangat lagi mendengarkan ceritaku. Ia tidak lagi berbagi kisah tentang pekerjaannya. Teman-temannya. Tentang Jakarta. Ryan telah berubah. Aku sangat ingin tahu kenapa? Kusadari sepenuhnya bahwa hal-hal itu membuatku kian merasa asing dengannya. Seolah, selain jarak yang memang ada secara nyata, diantara hati kami juga mulai terentang sebuah jurang. Apakah markas besarnya di Jakarta telah merubahnya sedemikian? Apakah karir yang tengah dibangun telah benar-benar menyita energi, sehingga ia tidak punya energi lagi untuk berteman akrab denganku. Apakah Ryan telah berubah? Apakah hatinya juga telah melepaskan labuhannya ini? Berkali-kali kukirim surat. Ia tidak pernah membalas. Bahkan kemudian yang membalas adalah teman satu kontrakannya. Rupanya, Ryan berbohong pada temannya kalau aku ini adiknya. Temannya itu tertarik padaku, berdasarkan cerita-cerita Ryan, juga foto-foto yang rutin kukirimkan. Aku tidak habis pikir. Apa maksud Ryan? Apakah dia juga sudah tidak ingin lagi bertukar kabar denganku. Jaman itu, internet belum bisa kujangkau. Jadi aku dan Ryan hanya bisa terhubung dengan telepon rumah atau surat. Berada di tengah segala kemungkinan itu, aku mulai merasakan kebimbangan. Kian hari kian bimbang. Semakin lama terasa semakin gelap. Dalam kondisiku yang bimbang, orangtua memintaku segera pulang. Ada masalah penting yang harus kami bicarakan bersama. Apalagi ini? Tiba di rumah, Ayah dan ibuku langsung mengajak bicara serius. Aku merasa ada yang tidak beres. Ayah mulai dengan bercerita bahwa minggu yang lalu Ryan menelepon. Tujuan sebenarnya mencariku. Tetapi karena aku sedang tidak pulang, ayah mengobrol dengannya. “Ayah dan ibu pikir, sebaiknya kamu akhiri saja hubunganmu dengan Ryan.” “Ada apa, Ayah?” tanyaku. “Saat Ayah tanya tentang kelanjutan hubungan kalian, ia berkelit-kelit. Ia tidak mengatakan kalian masih akan berlanjut, tidak juga putus. Bahkan kemudian mengucap: kalau Kiky mau menikah duluan, silahkan saja. Lagipula, dia dijodohkan dengan putri orang kuat di sana. Calon macam apa itu? Ayah tidak rela putri Ayah diperlakukan seperti ini.” Sejenak Ayah memberi jeda. Aku yakin beliau melakukan itu untuk menyuruhku berpikir. Menyuruhku mencerna baik-baik kelakuan cowok yang kukatakan sebagai kekasihku itu. Aku merasa ditampar di pipi kananku oleh tangan yang tak nampak. Plak. Panas. ”Jika dia benar-benar mencintaimu, seharusnya dia perjuangkan hubungan kalian. Sok tampan. Sok kaya. Mentang-mentang sekarang sudah punya status dan pangkat. Dia mulai berpikir dia bisa mendapatkan perempuan yang lebih dari kamu. Dia pikir bisa mendapatkan mertua yang lebih segalanya dari kita?” Sekarang ditampar di pipi kiri. Plak. Panas. “Ayah tidak suka ini. Dia pikir hanya dia yang bisa menjadi calon menantu Ayah? Kamu tidak perlu khawatir. Kalau kamu tidak bisa mencari sendiri pengganti Ryan, Ayah bisa carikan calon suami. Yang baik. Keturunannya bagus. Benar-benar menyayangimu. Sudah ada yang daftar kok.” Gubrak!! Aku merasa dilempar ke dasar jurang. Serasa berada di titik terendah. Lengkap sudah penderitaanku. Aku benar-benar down. Aku tidak bisa melakukan pembelaan apapun pada Ayah dan Ibuku. Sebab, saat terakhir bicara denganku di telepon, Ryan juga menyiratkan hal serupa. Dia bercerita bahwa ibunya menjodohkannya dengan gadis lain. Dia hanya tahu gadis itu putri orang terpandang di sana. Seorang gadis idaman semua calon mertua. Dan untuk itu, Ryan tidak mungkin menolak. Ia tidak ingin membuat ibunya sedih. Jika orang terpandang itu yang meminta Ryan menjadi suami putrinya, pasti Ryan sangat istimewa di mata mereka. Ibunya juga pasti merasa diterima kembali di daerah asal. Ryan anak yang istimewa di sana. Sayangnya, dia juga istimewa di mataku. Aaaa ... ku tidak rela! *Tuhanku. Saya baru memahami betapa saya mencintainya. Betapa saya menginginkan dia bersama hamba. Adakah semua yang hamba lakukan dan hamba raih juga karena hamba ingin dia bangga? Hamba ingin dia tetap bersama hamba karena diri ini layak. Tetapi dia menyerah. Dia memilih meninggalkan cita-cita yang pernah kami susun bersama. Dia meninggalkan hamba. Saya merasa telah kehilangan sesuatu yang sangat besar dalam hidup saya. Lelaki paling tegas dan paling bertanggung jawab yang saya kenal. Sekarang ... dia ... meninggalkan perempuan yang telah dia pecahkan ini. Saya hancur berkeping-keping. Walau hanya dengan setengah jiwa dan nafas, aku kembali ke Surabaya. Perjalanan bersepeda Malang-Surabaya biasanya sangat kunikmati. Terpaan angin di wajahku digabung dengan pemandangan indah sepanjang perjalanan sangat menyegarkan. Aku sering menantang bis antar kota yang 99% hobi ngebut. Sepanjang jalan, aku menghitung jumlah bis antar kota yang berhasil kusalip. Kadang aku berlomba dengan sesama biker. Semua sangat menyenangkan. Perjalananku kali ini sangat berbeda. Semua berlangsung seolah spontan saja. Aku tidak memerlukan otak untuk mengendalikan motor. Meluncur saja. Apa peduliku. Motor ini seolah sudah tahu harus ke mana dengan kecepatan berapa. Aku baru sadar ketika aku telah sampai di depan rumah kosku. Kuambil nafas dalam-dalam. Kucubit lengan untuk meyakinkan bahwa aku masih hidup. Baru aku ingat untuk bersyukur. Tanpa otak, aku tiba dengan selamat di tempat tujuan. Edan. Seseorang yang tengah patah hati ternyata benar-benar luar biasa. Tidak bisa dinalar. Dan tidak usah dinalar. Lihat, dan tertawakan saja. ***** Hari-hari sejak menjadi mahasiswa adalah hari-hari yang sangat membahagiakan. Saat-saat menerima ilmu dari dosen adalah saat-saat penuh tantangan. Waktu-waktu menanti turunnya beasiswa adalah detik-detik penuh suka cita. Diskusi dan interaksi dengan sesama mahasiswa dari berbagai daerah adalah sarana untuk saling mengenal dan berbagi banyak hal. Mereka membuatku merasa sangat kaya. Membayangkan menjadi istri Ryan dengan gelar sarjana mengikuti namaku, merupakan motivasi besarku untuk hiperaktif kuliah. Ryan akan bangga padaku. Keluarga besarnya akan memandangku sejajar dengan Ryan yang juga telah berpangkat. Kami akan tinggal di rumah dinas mungil bersama putra-putri kami. Apa? 2 anak? Tidak lah yaw. Ryan ingin 10. Wuahh. Pemikiran-pemikiran indah itu membuat hari-hariku begitu menyenangkan. Membuat tugas-tugas begitu ringan kukerjakan. Berlembar-lembar esay dan setumpuk buku untuk dikaji tidak membuat mataku menyerah begadang. Kakiku begitu ringan menjejak rem atau berjalan kaki menuju ruang kuliah. Berbagai pekerjaan tambahan tidak membuatku lelah. Tetapi semua kesenangan itu musnah. Tiba-tiba saja hari-hariku terasa sepi. Aku sama sekali tidak bersemangat melakukan apapun. Segala hal indah yang pernah kulalui dan kubayangkan akan kunikmati bersama Ryan selepas kuliah nanti, serasa hilang musnah begitu saja. Apa yang kuusahakan, kuliahku, bahkan kesetiaanku untuk tidak berpaling pada cowok lain, bukan apa-apa di matanya. Aku tidak mendapat balasan, apalagi penghargaaan. Kecewa, itu pasti. Tapi, sakitnya mungkin lebih pada kesulitan menerima kenyataan bahwa tiba-tiba aku sendirian. Aku kehilangan Ryan dan harapan yang sudah kupupuk sekian lama. Padahal aku tidak punya rencana cadangan. Aku yang telah pecah berkeping-keping. Aku yang tak lagi punya benteng idealisme bahwa aku mampu hidup sendiri tanpa ’sosok’ itu. Aku yang telah menjadi manusia baru hasil karya Ryan. Aku yang ... telah jauh berubah. Aku hilang pegangan. Seperti keramik retak yang telah pula pecah. Jika pecahan itupun tak mampu lagi kurangkai, aku akan bagaimana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD