LDR JADOEL

1537 Words
Keberangkatan itu terjadi di pertengahan semester ganjil di kelas tiga. Setelahnya, sebulan sekali surat Ryan datang. Bahkan kadang lebih sering. Tergantung adanya dana dan kangennya kami. Meski secara wujud dia tidak ada bersamaku, tetapi dengan adanya surat-surat itu, aku bisa bersemangat menjalani hari-hariku. Ada rasa berdebar bila suratnya terlambat datang. Ada rasa senang membuncah bagai luapan air bah ketika kulihat amplop khusus itu bertengger di jendela TU. Rasanya bangga melihat tulisan bahwa surat itu tertuju untukku. Tak sabar kubuka dan membaca kata demi kata. Huruf demi huruf. Seolah aku mau semua terekam baik di dalam otakku. Aku mau hafal semua isi surat itu, jangan ada yang terlewatkan. Teman-teman pada heran. Apa asyiknya berhubungan jarak jauh. Toh, tulisan dan kata-kata manis bisa saja menipu. Siapa yang peduli mengawasi bahwa Ryan sedang bersama gadis lain, sementara tangannya menulis surat cinta untukku? Atau ia tulis surat yang sama, dengan nama-nama yang berbeda untuk beberapa gadis sekaligus? Sangat masuk akal. Tetapi aku memandangnya berbeda. Buatku, malah asyik tidak harus diapeli tiap Sabtu. Tidak ada yang memusuhiku lagi gara-gara mereka tidak ditemani Ryan. Tidak harus memperhatikan dia setiap hari. Dan tentu saja tidak pernah bertengkar. Aku tetap bisa beraktivitas sesuka hati meski secara status, aku punya pacar. Asyik sekali ‘kan? Gaya pacaranku juga tidak membuat orangtuaku khawatir kami bakal bergaul kelewat batas. Meski kami tinggal di kota yang tidak sebesar Jakarta atau Surabaya, tetapi gaya pacaran yang kelewat batas bukan barang baru. Banyak tetanggaku yang terpaksa buru-buru menikah gara-gara dihamili atau menghamili pacar. Aku memilih untuk tidak menjadi anak seperti itu. Jadi, kupikir caraku ini oke sekali. ***** Lulus SMA, aku mendapat beasiswa melanjutkan kuliah sastra Inggris di Surabaya. Syukurnya lagi, dalam liburan menanti kelulusan, aku ikut gerak jalan. Hadiah utamanya sebuah motor. Tanpa dinyana, motor itu menjadi milikku. Maka tidak ada yang perlu kukhawatirkan dengan masa empat tahun ke depan. SPP dan biaya hidup dari beasiswa. Transportasi dengan motor hadiah gerak jalan. Sungguh sangat beruntung dan harus ingat bersyukur. Di sana, Ryan diterima menjadi anggota angkatan bersenjata. Orangtuaku sempat berduka mengetahui Ryan memilih karir itu. Bagi beliau, aparat punya reputasi buruk. Mungkin pada jaman beliau, aparat berarti tukang menarik iuran ilegal jika kita mendapat perkara. Bahkan menjadi backing bagi beberapa kejahatan. Aku tidak bisa membantah karena aku tidak punya bukti benar atau salah. Aku cuma bisa mengatakan bahwa hal seperti itu barangkali hanya kelakuan oknum semata, bukan lembaga. Jadi, tidak seharusnya terjadi penyamarataan bahwa semua aparat buruk. Toh, pada jaman ini semua lembaga pemerintah sibuk memperbaiki citranya dan berusaha memaksimalkan fungsinya. Aku yakin Ryan bukan orang yang semacam itu. He’s an idealist person. Dia tahu kanan dan kiri. Sejauh aku mengenalnya, dia jenis cowok golongan kanan. Walau tidak juga sangat religius. Jadi, aku percaya dia tidak akan menjadi aparat negatif. Lagipula, aparat juga manusia. Pasti satu ketika ada celanya. Semua profesi lain, bahkan semua manusia seperti kita bukannya begitu juga. “Kalau kamu percaya padanya, ya sudah. Kita tunggu saja. Lagipula kalian masih muda. Silahkan cari jati diri kalian dulu. Kamu sekolah sampai jadi sarjana. Ingat, beasiswa itu hanya berlaku untuk empat tahun. Jadi kamu harus fokus. Tidak usah memikirkan urusan menikah. Ketika kamu siap, menikahkan kamu akan mudah saja kita laksanakan,” kata Ayah. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Ryan mendapat tugas pertama ke Ambon. Ryan di sana sekitar enam bulan. Dalam kondisi bertugas di tempat khusus itu, Ryan tetap rutin berkirim kabar, minimal sebulan sekali. Ia banyak bercerita tentang kondisi alam, penduduk maupun interaksinya dengan warga setempat. Latar belakangnya sebagai pecinta alam membuat Ryan terlatih untuk mudah berbaur dengan masyarakat model apapun. Akibatnya Ryan diterima oleh warga setempat. Ryan bercerita ia diminta tetap tinggal oleh salah satu tokoh masyarakat, untuk dinikahkan dengan putrinya. Aku tertawa terbahak-bahak membacanya. Pulang dari Ambon, Ryan transit di Surabaya. Hal pertama yang ia lakukan adalah menelepon ke rumah kosku. Syukurlah aku sedang tidak keluar. Jaman itu kan belum kenal telepon seluler. Mendengar suaranya di telepon, hatiku serasa melonjak. Mendengar permintaannya untuk bertemu sejenak di pelabuhan, dadaku seakan meledak. Kejutan! Kami sudah sangat lama tidak bertemu. Seperti apa dia sekarang? Semakin kerenkah? Atau justru menjadi tidak menarik? Penasaran. Banget. Tanpa menunda waktu, kusiapkan motor. Gak pake mandi sepulang dari kampus. Pakai jaket, langsung cuss menyusuri jalan. Aku tidak sabar lagi. Aku sangat rindu. Motor yang sudah kukebut, rasanya masih lambaaat sekali. Pelabuhan Tanjung Perak menyambut kedatanganku. Hiruk pikuk dan ramai seperti biasa. Setelah mendapatkan tempat parkir, kutinggalkan motor. Aku berjalan kaki menuju tempat tunggu yang dikatakan Ryan. Mendekati tempat itu, kulihat beberapa pemuda berseragam berkumpul. Ada yang duduk di kursi. Ada yang berdiri sambil mengobrol. Ada yang asyik bermimpi. Bawaan mereka bukan main. Aku hampir menyerah karena mereka semua nampak serupa. Bagaimana aku menemukan Ryan. Ini seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. “Kiky?” ucap seorang cowok di belakangku. Aku berbalik dan kembali mendapati pemuda berseragam. Kulitnya mendekati hitam. Rambutnya cepak. Tetapi senyum itu tidak berubah. Sinar mata itu sepertinya takjub. Aku lebih takjub lagi. Aku tidak harus mencari jarum itu. Jarum itu sendiri telah menusuk kakiku. “Ryan?” aku tidak dapat menahan pertanyaan itu. Dalam benakku, yang muncul adalah Ryan atletis yang gaya nyetirnya ala siput, yang diidolakan banyak gadis di SMA-ku. Ryan yang kutemukan ini sudah tidak atletis lagi seperti waktu meninggalkanku. Sekarang ia lebih berisi. Mungkin lebih tepatnya kusebut gendut. “Makan apa saja kamu bisa segedhe ini?” tanyaku spontan. “Iya nih. Beratku sudah hampir 80. Kamu, kok malah tambah ceking?” tanyanya. Sebagai pembanding, jaman SMA berat ideal Ryan sekitar 60 kg saja. Kalau aku sih, setelah dua semester kuliah, beratku turun lima kilo. “Tirakat dong, Yan. Orang kuliah itu sengsara.” “Hmm, syukur aku tidak langsung kuliah.” Kami tertawa. Ryan mengenalkanku dengan tiga rekan yang di dekatnya. Ketiganya kemudian menjauh. Kami duduk di kursi ruang tunggu. “Aku kangen sekali sama kamu, Ky.” “Bohong. Buktinya, aku yang disuruh ke sini. Seharusnya kamu yang menemuiku.” “Ya, itu dia masalahku. Aku tidak mengerti Surabaya. Nanti malah nyasar. Sudah tidak bertemu kamu, habis waktu pula. Kalau kamu ‘kan bisa kuandalkan soal ngebut. Aku juga yakin dalam waktu satu tahun ini kamu sudah hafal semua jalan di Surabaya. Jadi aku optimis kamu bakal bisa menemuiku di sini tepat waktu.” Aku senyum. Dia tidak lupa aku seorang biker. Aku penjelajah. Ketika tidak ada orang tua yang melarangku ke mana-mana, di luar jam kuliah, mengerjakan tugas, atau kesibukan cari uang tambahan, aku memang hobi keliling Surabaya. Tidak hanya Surabaya, aku sudah tiga kali menyeberang ke Madura. Naik feri, tentu. Jaman itu Suramadu belum ada. Jika dia berkata aku sudah hafal semua jalan di Surabaya, dia benar. Tetapi intinya kan bukan itu. Ini pertemuan penting. Jadi kita kembali ke pertemuan kami sajalah, ya. Tidak bisa kupungkiri, aku sangat merindukannya. Tetapi tetap bukan alasan untuk melepas rindu dengan pelukan ataupun ciuman. Tidak. Ryanpun nampaknya berpikiran sama. Sungguh, ini membuatku sangat bahagia. Ryan tidak berubah. Orang tuaku boleh mulai berpikir ulang bahwa pendapat beliau selama ini tentang aparat salah. “Kapan kamu ke rumah lagi?” tanyaku. “Maunya kapan? Menunggu kamu lulus kuliah?” “Tidak apa-apa. Asal tetap jaga kontak, ya.” “Kenapa? Ada yang mengejar di Surabaya?” “Wah, banyak. Kalau mau sih, gampang. Cewek kece begini. Tapi aku sudah janji sama kamu untuk menunggu.” Ryan tersenyum. “You, the best.” Kami tertawa. “Sayang, aku tidak bisa lama-lama,” ucap Ryan. Kupasang senyum. “Aku juga tidak bisa lama-lama. 20 menit lagi aku ada kuliah.” “Berapa waktu kamu perlukan untuk balik ke kampus?” “25 menit.” “Kuliah yang benar dong. Bisa rugi perusahaan itu memberimu beasiswa kalau kamunya nelat-nelat begini.” “Negara juga bisa rugi kalau pasukan pengamannya gendut-gendut begini. Tidak lincah. Kalau disuruh mengatasi bentrokan susah nyusup-nyusupnya. Udah nyusup pun lebih gampang terlihat kalau gendut.” “Iya. Ryan segera memulai program diet. Kamu juga jangan tambah gemuk, lho.” “Emang kenapa? Bukannya dari dulu aku gemuk?” “Menurutku kamu tidak gemuk. Tetapi berisi. Beratmu segitu, aku pikir bagus. Sungguh. Tapi kalau nambah berat badan, bisa-bisa aku tidak kuat lagi. Aku masih ingin menggendongmu seperti waktu di Coban Talun dulu,” selorohnya. Kuhadiahi dia dengan sebuah pelototan mata. Jengkel. Itu ’kan tidak sengaja. Ryan ternyata belum ingin berhenti. ”Dan, aku jujur sejujur-jujurnya. Melihat penampilanmu sekarang, sungguh kamu semakin seksi di mataku.” ”Aduh. Kamu gaul sama siapa saja sih. Bicaramu jadi enggak sopan banget. Aku lho udah pakai baju kayak gini. Mana bisa seksi?” protesku sambil menunjuk bajuku yang sama sekali tidak ketat. Malah cenderung nge-boy. Tapi, dipuji begitu rasanya sungguh ... selangit. Tentu saja tetap kupasang wajah merajuk. ”Ky, seksi itu masalah internal penilai. Kamu boleh bilang baju kayak gini enggak seksi. Orang lain boleh bilang begitu. Tetapi aku tidak. Aku melihatmu. Bukan kemasanmu. Buatku, kamu nampak jauh lebih menarik sekarang. Kamu nampak sangat percaya diri. Kamu ceria dan siapapun seolah bakal kena imbas keceriaanmu. Itu yang kusebut seksi. Itu yang kusebut menarik.” Aku terdiam. Ya, terserahlah. ”Dan ... aku menyesal mengatakan semua itu. Ternyata malah membuat hatiku khawatir kamu bakal benar-benar ditaksir cowok lain,” ucapnya dengan mimik wajah yang benar-benar melas. Aku tidak dapat lagi menahan tawa. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD