KIKY BARU

1347 Words
Aku muncul sebagai Kiky yang baru. Kiky yang tak lagi datang menjelang bel dan pulang begitu bel. Aku buka tabunganku dan membeli sepeda kayuh agar aku tidak perlu terburu-buru pulang. Aku meminta ijin kepada ayah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bahasa Inggris. Di luar dugaanku, ayah mengijinkan. Bahkan dengan gaya beliau yang sangat asing bagiku, beliau berkata: ”Ikuti saja. Sampaikan kepada Ayah kalau kamu perlu apa-apa untuk mendukung aktifitasmu di ekstra bahasa Inggris.” Wow. Ini sangat bertolak belakang dengan peraturan beliau selama ini bahwa aku harus di rumah. Jadilah aku aktifis baru ekstra bahasa Inggris. Aku memilih ekstra ini karena aku memang peminat sastra dan bahasa asing. Sebenarnya aku juga ingin mengikuti ekstra menggambar dan handycraft. Tetapi aku tidak mau terlalu drastis berubah. Setelah satu setengah tahun menjadi pasivis sekolah, rasanya tentu aneh tiba-tiba menjadi aktivis. Jadi, cukup fokus di satu ekstra sajalah. Kegiatanku di ekstra bahasa Inggris sangat menyenangkan. Kami tidak hanya berlatih berbicara dalam bahasa Inggris. Kami juga berlatih memahami suatu karya sastra, menuliskan sinopsis, bahkan membuat karya sastra kami sendiri. Kegiatan yang bagiku paling seru adalah ketika kami kedatangan native speaker. Namanya Jack. Seorang pria asal Swiss. Tidak seperti bule yang kubayangkan, Jack tidak tinggi. Meski panjang hidung dan warna kulitnya jelas beda dengan kami. Usianya sudah kepala 3, tetapi Jack tetap bisa akrab dengan ABG. Jack ke Indonesia memenuhi undangan guru pembina ekstra kami yang adalah teman online-nya. Sebagai reward, Jack meminta kami menjadi pemandu berkeliling kota Malang dan sekitarnya. Khusus ketika bersamaku, Jack sangat senang kuajak berkenalan dengan keripik khas Malang. Ia bertanya banyak hal dan syukurlah, bisa kujawab dengan lancar. Dengan sangat antusias Jack belajar mengiris lembaran tempe. Ia bahkan sempat berdarah-darah ketika merajang singkong bahan keripik. Ia berurai air mata ketika membantu membuat bumbu legit pedas perasa keripik singkong. Bule yang sangat menarik. Keaktifanku tentu saja membuat Ryan tersenyum bangga. **** Kebersamaanku bersama Ryan terpaksa berakhir karena suatu musibah. Aku masih ingat, malam itu Ryan pamit ke rumah. Matanya masih nampak lelah setelah seminggu bekerja keras mengadakan pembacaan tahlil untuk ayahnya. Ayah Ryan yang polisi menjadi korban saat berusaha menengahi bentrokan antar warga di sebuah desa. “Aku sudah mengajukan usul agar aku kos saja. Tadi ayahmu mengajakku tinggal di sini. Hmm, aku sempat berhayal betapa indahnya hari-hariku tinggal serumah denganmu. Tapi, ibuku tidak setuju. Kamu tahu lah. Aku satu-satunya pria besar di rumah setelah ayah tidak ada. Sementara, untuk tetap tinggal di sini tanpa Ayah, ibuku tidak bisa. Mungkin kenangan bersama ayah di rumah kami akan sangat menyiksa beliau. Lagipula itu rumah dinas. Bukan milik kami. Ibu mengajak pulang ke rumah kakek di Sumatra. Di sana kami bisa ikut membantu mengerjakan kebun. Aku tidak bisa menolak.” Mataku langsung buram. Selama beberapa jurus kami terdiam. Hanyut dalam pemikiran masing-masing. Terbang dalam angan dan harapan. Tetapi juga tegak menjejak kenyataan yang ada di depan mata. Ryan harus mengurus keluarganya. Dia masih utuh milik keluarganya. Ada yang harus lebih dulu diperjuangkan. Aku kan hanya menemaninya. Jika pertemanan itu harus beralih model menjadi berjarak, seharusnya tidak ada masalah. “Mungkin sekarang sebaiknya kamu menjaga ibumu. Tentang kita, kurasa aku akan baik-baik saja. Asal kamu tetap menjagaku meski kamu jauh.” “Menjaga hatimu?” “Ya, semoga kamu mengerti. Aku terlanjur terbiasa dengan kamu. Kalau nanti kamu sudah tidak di sini, pasti kesepian sekali. Kiky ingin, Ryan sering-sering tulis surat. Biar jadi pengobat rindu, juga untuk saling menyemangati.” “Sepertinya aku bisa kalau seperti itu syaratmu. Jadi, kamu rela aku pergi?” “Rela sih, enggak. Tapi aku tidak akan menghalangi.” “Itu baru gadisku. Mm, besok waktu berangkat, jangan mengantarku ya.” “Kenapa?” “Aku khawatir nanti malah aku yang jadi tidak rela berangkat.” “Jadi, ini malam perpisahan kita?” “Sepertinya begitu. Ryan punya sesuatu untuk kamu.” Ryan mengeluarkan sebuah bungkusan dari saku jaketnya. “Boleh kubuka?” “Isinya cuma sebuah kaset kok. Nanti, kalau kita sudah jauh dan kamu kangen, putar saja kaset ini. Semoga bisa mengobati rasa kangenmu.” Kupasang senyum. “Sebentar, ya, Yan,” kataku seraya masuk rumah. Kuambil sebuah buku dari laci meja belajarku. “Ini ‘kan buku harianmu.” “Ya. Kutulis buat kamu kok. Biar kamu tahu bagaimana kulalui hari-hariku sejak kita bersama.” Ryan menatapku. Akupun menatapnya. Lama. Dadaku berdebar jauh lebih kencang dari biasanya. Jika mau jujur, aku ingin sekali memberinya pelukan perpisahan. Akan kuisi penuh kenanganku sehingga aku punya cukup bahan bakar menjalani jarak yang entah akan berapa lama. Tetapi, ini bukan perpisahan. Kami hanya akan berada di dua lokasi yang berjauhan. Lagipula kami hanya berteman. Tidak ada ikatan pasti diantara kami. Aku tidak boleh merasa dan kehilangan apapun. Saat pandangan kami bertemu, Ryan memejamkan matanya rapat-rapat. Seolah ia berusaha mengumpulkan kekuatan. Kulihat tangannya mengepal. ”Jujur, aku ingin sekali memelukmu. Tetapi Ryan memilih tidak melakukan itu. Kamu perempuan yang sangat berharga dan terhormat. Kamu hanya boleh dipeluk dan dicium oleh laki-laki yang telah sah menjadi suamimu,” ucapnya. Kuanggukkan kepala dengan sangat ringkas. Padahal sebenarnya, hatiku melompat setinggi lima lantai. Betapa aku bahagia mendapati Ryan ternyata begitu menghormatiku. Dia tidak mendahulukan nafsunya. Dia tidak memanfaatkan keadaan untuk mengikuti gelora muda kami. Padahal kondisi kami saat itu sangat memungkinkan. Ini, terasa sungguh keren. “Sudah malam, Ryan pulang dulu. Juga, pamit buat berangkat besok. Baik-baiklah di sini. Tetap rajin belajar, rajin ibadah, dan rajin kangeni Ryan.” “Jaga ibu, kakak dan adik-adikmu, ya. Jangan ngisengi cewek.” “Ya, tergantung. Yang kutinggal di sini mau setia apa tidak.” “Setia dong, dengan syarat dan ketentuan berlaku,” kataku. Ryan tersenyum. “See you again someday, Ky.” “Selamat jalan.” Aku menepati janjiku untuk tidak mengantarnya. Jika Ryan melarangku, pasti itu karena sebab yang jelas. Kusimpan baik-baik kenangan malam itu dalam otakku. Setiap kata yang diucapkan Ryan. Setiap lekuk kening, senyum, atau kerutan di sudut matanya. Kepalan tangannya. Ekspresinya saat sekuat tenaga menahan diri dari godaan menyentuhku. Setia? Sebuah permintaan resmi. Apakah seorang teman perlu diminta setia? Tentu saja tidak. Teman sejati tetap akan menjadi teman setia sekalipun berjarak. Tetapi, mengingat dialog itu, mengingat perjalanan kami, aku merasa bahwa ternyata selama ini kami bukan hanya berteman. Bisa jadi TTM lebih tepat kami gunakan. Walau ... Mesra? Mesra tidak sama dengan bersentuhan kan? Perasaan mellow tentu saja ada. Aku membayangkan ibu Ryan, dua kakak perempuan, dan adik-adiknya berpamitan pada rumah dinas dan lingkungan yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun. Ke-enam orang itu berjalan menuju mobil pick up yang akan mengantar mereka ke pelabuhan. Mereka akan membawa kenangan indah selama tinggal di kota Malang. Mereka juga akan membawa kenangan sedih tentang ayah mereka. Pria itu pejuang. Tetapi ketika pejuang itu telah kembali ke tanah, keluarganya tetap harus berjuang sendiri untuk kehidupan mereka. Pejuang-pejuang baru akan muncul. Yang pasti, aku juga membayangkan wajah Ryan murung sepanjang perjalanan. Diapun akan terpaksa menjadi pejuang mulai saat itu. Aku tidak mau egois. Kedua kakak Ryan perempuan. Sementara adik laki-lakinya masih berusia tiga tahun. Adik perempuan kelas dua SD. Wajar jika harapan tertumpu di pundak Ryan. Sedih juga membayangkan Ryan mengurus keluarganya di atas kapal. Ibu dalam kondisi lemah dan berduka cita. Ryan sebagai laki-laki terbesar tentu sibuk mengurus semua. Apalagi nanti setibanya di Sumatera. Mungkin untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Ryan harus sudah mulai bekerja menjadi buruh kasar di kebun. Cowok semuda itu, dengan tanggung jawab seberat itu. Meski aku yakin Ryan bisa, tetapi sungguh tidak tega. Seharusnya ia masih bisa melaksanakan keaktifannya di berbagai ekstrakurikuler. Seharusnya ia masih bisa bersenang-senang nongkrong di markas. Seharusnya. Seharusnya. Aku mengerti, mungkin seperti inilah hidup. Tidak semua berjalan sesuai seharusnya yang kita inginkan. Seharusnya yang sesuai standar kita. Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah dengan menimpakan kejadian ini pada keluarga Ryan. Juga pada kami. Tuhan, mudahkanlah perjalanan mereka menuju rumah baru. Mudahkanlah mereka menata kembali kehidupannya. Mudahkanlah. Membayangkannya saja sudah bisa membuatku menangis. Untuk meredakan perasaan, kuputar kaset dari Ryan. Suaranya. Petikan gitarnya. Lagu-lagu yang tidak akan pernah kutemukan di toko kaset manapun. Lagu-lagu yang berkisah tentang dia dan aku. Lagu-lagu yang dibuat hanya untukku. Lagu-lagu yang membuatku lupa bahwa dia telah jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD