Lima bulan sudah aku berleha-leha[1] di rumah.
Bagaimana tidak berleha-leha. Kami kan hanya berdua. Cucian tidak banyak. Dicuci manual sekali dalam tiga hari pun ternyata tetap tidak melelahkan. Apalagi urusan dewa perut. Memasak untuk dua orang, apa repotnya. Beras masuk rice cooker. Lauknya telur mata sapi dilengkapi kecap dan sayuran mentah untuk sarapan. Beres. Makan siang? Nico kan tidak makan siang di rumah. Aku cukup mengulang menu sarapan. Untuk makan malam, nasi goreng atau tumis sayuran sudah cukup menyenangkan. Selagi menikmatinya dalam kondisi lapar, hanya berdua, ditunjang dengan suasana romantis candle light dinner di halaman belakang kami yang mini. Selesai. Puas. Tidak ada masalah.
Harus ke pasar untuk belanja? Sejujurnya, dengan lokasi perumahan kami yang di antah berantah, ke pasar kalau hanya untuk belanja harian itu bakal boros uang transport dan waktu. Lebih praktis memesan ke penjual sayur keliling. Pesan mingguan lebih murah pula. Hidupku sangat dimudahkan. Beli sembako? Ada toko cukup besar di ujung blok. Penjualnya ramah dan harganya tidak beda jauh dengan di pasar. Cari apa lagi?
Bosan masak? Ada kok penjual lontong sayur keliling di pagi hari. Soto, rujak, bahkan gado-gado keliling di siang hari. Kalau malam semakin meriah. Mau tahu telur, gulai kacang hijau, bakso gaya Malang, bakso gaya Surabaya, hingga Bakso Mentawai punya jadwal sendiri-sendiri. Belum terhitung segala jenis camilan seperti penjual cilok, kerupuk, hingga cendol dan es bubur kacang hijau. Hidupku sangat dimanjakan.
Bersih-bersih rumah? Hallo. Type 36 tidak perlu seheboh itu. Membersihkan debu di atas perabot yang tidak banyak, apa susahnya. Menyapu dan mengepel lantai paling 30 menit selesai. Nah, setelah semua itu usai, mau apa lagi? Tentu tidak ada hal lain selain menyalakan komputer, main game, atau menggambar sesuatu. Baju-baju yang ingin kupakai, misalnya. Atau menggambar desain rumah dan ruangan yang dahsyat. Ini melanjutkan hobi dan ilmu yang kupelajari dari teman-teman kuliah dulu. Lepas itu, tidak ada lagi. Awalnya, aku sangat puas berleha-leha.
Tetapi ternyata lama-lama membosankan, Esmeralda. Apalagi dengan istirahat begitu banyak dan pola makan yang begitu baik, aku belum juga hamil. Rasanya hidupku sungguh sepi dan boring. Tidak ada hal baru dan seru. Aku merasa butuh tantangan atau aktivitas lain. Momong bayi, misalnya.
Tuhan, kapan Kau akan beri aku momongan? Begitu sering aku bertanya pada-Nya. Tapi kembali jawaban yang kudapat adalah bersabar. Mungkin Dia sedang memintaku menunggu saat yang tepat. Tidak hanya aku, suamiku juga berharap segera memiliki momongan. Kami sampai melakukan tes untuk menemukan bagian mana yang salah. Apakah kami berdua mandul? Ataukah salah satu dari kami tidak subur? Apakah ada yang tidak normal dengan organ reproduksi kami? Semua itu kan perlu tes medis.
Kami bisa bernafas lega karena semua baik-baik saja. Kami berdua sama-sama normal. Dalam keluargaku tidak ditemukan riwayat kemandulan. Dalam keluarga Nico memang mamanya ada kelainan, tetapi setelah ditelusuri, sumbernya adalah gaya hidup mama waktu masih muda kurang sehat. Selain itu, mama suka mengkonsumsi jamu yang sebenarnya untuk menjaga kebersihan organ reproduksi, tetapi ternyata efek sampingnya mengakibatkan alat reproduksi itu sendiri tidak sehat. Keluarga besar Nico tidak ada yang bermasalah. Bahkan bisa dibilang, semua om dan tantenya memiliki keluarga besar. Jadi dari segi keturunan, kami tidak perlu khawatir.
”Persiapan kita masih kurang ’kali.”
Akhirnya, hanya itu penghiburan kami.
Aku dan Nico masih bisa menghibur diri. Tapi, Ibu dan Mama Mertua mana bisa. Sebagai perempuan, aku memahami bila kedua perempuan itu yang paling berharap kami segera memiliki momongan. Terlebih mama yang begitu lama tidak menimang bayi lagi setelah Nico. Entahlah. Para calon nenek itu seolah merasa belum lengkap punya menantu tanpa segera memiliki cucu. Saat mengobrol dengan orang lain dan ditanya soal cucu, wajah keduanya bisa langsung mendung. Mereka sedih, tetapi aku yang melihat dengan mata kepala sendiri ekspresi itu, tentu menjadi jauh lebih sedih. Bukan kemauanku tidak segera punya anak. Jika bisa membuatnya dengan tangan, aku akan buat. Tetapi anak kan urusan Tuhan.
Tiap kami pulang kampung atau dalam obrolan telepon, pertanyaan pertama yang diajukan selalu sama:
”Kiky sudah hamil belum?”
Nah, begitu mendengar jawaban ’belum’, meluncurlah satu episode nasihat tentang bersegera punya anak. Jangan ber-KB, jangan minum jamu aneh-aneh, jangan makan tape, jangan makan durian, jangan makan nanas, de es te, de es be, bla bla bla. Tentu saja masih dilengkapi dengan perbanyak makan kecambah mentah, perbanyak minum s**u, perbanyak istirahat, perbanyak makan daging kambing, perbanyak makan kerang, de es te, de es be, bla bla bla.
Aku cukup menanggapi dengan: ’Ya, Bu’. ’Ya, Ma.’ Kemudian segera menarik diri dari peredaran. Pura-pura sinyal jelek jika di telepon. Pura-pura kebelet, jika sedang bertemu langsung. Level lanjutnya aku lari ke dalam pelukan Nico. Paling parah menangis di sana.
Kondisi terparah, saat tiba hari Raya. Satu lokasi dimana keluarga Nico berkumpul pada hari pertama. Keluarga Nico masih cukup moderat, jadi tidak terlalu menganggapnya masalah. Lagipula, kami baru satu semester menikah. Wajar dong kalau belum ada produknya. Justru kalau sudah ada produknya itu kan yang aneh, demikian kata salah satu Nenek Tante.
Situasi berbeda seratus delapan puluh derajat saat keluargaku berkumpul pada hari kedua lebaran. Di sini, ada sederet Tante nyinyir yang suka sekali melihatku belum hamil. Dengan sengaja mereka menuduhku mengonsumsi obat aneh-aneh agar tidak hamil dan membuat tubuhku semakin melar. Di belakang mereka, ada sederet sepupu nyinyir yang dengan penuh minat menatap suamiku.
Ibuku tentu saja di depan mereka membela putrinya. Mulai urusan belum saatnya, hingga ’tinggal tunggu saja’.
Penghiburanku berada pada salah satu Om yang sedari dulu penuh kasih padaku. Ia memberikan link aneka pose kepada kami.
”Cobalah. Siapa tahu salah satunya memberi kalian kejutan.”
Telinga Nico memerah, pipiku memanas.
Wuahh! Tidakkah mereka semua tahu betapa merananya diriku mendapati kenyataan ini. Padahal yang namanya usaha kayaknya juga sudah maksimal. Aku sampai rela minum jamu, makan kecambah, rajin minum s**u, makan daging kambing, bahkan aku mulai ahli memasaknya untuk Nico, dan aku banyak beristirahat. Persis seperti yang disarankan. KB? Swear deh, kami sama sekali tidak pakai a**************i apapun. Apalagi tape, nanas, dan durian. Kami sudah steril dari semua itu. Bahkan Nico ikut menjauhinya pula. Kami rutin berolahraga dan menjaga asupan makanan. Kurang apalagi?
Tapi mengapa masih belum juga. Ahh, sudahlah. Makin dibahas, aku makin sedih. Kalau kelewat sedih, bisa stres. Nanti kalau aku stres, aku bisa tambah sulit lagi punya momongan. Lingkaran setan. Entah bagaimana aku akan melepaskan diri.
[1] Jawa: santai