Suatu hari di TV ada liputan tentang seorang ibu rumah tangga yang bisa menghasilkan income dengan membuka usaha katering di rumahnya. Aku heran, kenapa aku tidak terpikir untuk membuat usaha semacam itu ya. Paling tidak ’kan ada aktivitas untuk melipur kebosanan dan kesepianku. Imajinasiku meliar membayangkan sibuk seorang diri mendapatkan pesanan, dapat DP, berbelanja, kemudian berjibaku di dapur, menata pesanan dalam kemasan yang cantik, lalu mengantarkannya. Aihh.
Saat kudiskusikan usaha katering itu dengan Nico, dia tertawa. Sungguh, sebagai sebuah tanggapan atas ide awal, ini menjatuhkan mental.
“Kamu? Mau buka katering? Serius nih? Kalau kamu bilang mau jualan sembako gitu aku akan mendukungmu 100%. Aku modalin. Tapi kalau katering, kayaknya jangan dulu deh. Emang mau masak apa?”
Aku jadi geli. Kami berdua tahu aku belum bisa memasak dengan baik. Masak nasi pakai rice cooker saja kadang terlalu lembek, kadang terlalu kering. Jarang sekali bisa pas. Padahal kami setia dengan salah satu merek beras. Aku sudah ikuti dengan sangat rapi takaran yang tertera pada kemasan beras itu. Rice cooker juga pakai merek khusus yang konon hasilnya tidak perlu mengecewakan. Tetapi mungkin tetap akan bergantung pada sensitifitas dan konsistensi dari manusia yang menggunakan. Jelas terlihat bahwa aku bukan jenis manusia sensitif itu. *Jadi malu.
Kalau masak daging kambing sih, gegara hampir setiap hari masak kali ya. Bagaimana tidak setiap hari. Lha isi freezer kami tuh penuh daging kambing kiriman rutin dari Mama. Konon untuk meningkatkan stamina, versi Mama. Tentu masih dalam rangka sponsor program segera punya cucu ya.
“Oke, kamu benar. Jadi, usaha apa dong. Masa jualan sembako sih. Meski mungkin peluangnya nggak pernah habis, tapi aku tidak mau angkat-angkat beras. Lagipula, tetangga di ujung jalan sudah buka toko yang lengkap. Tidak lucu kalau ikut-ikutan jualan dengan item yang sama.”
Nico menatapku serius. Aku tahu jenis tatapan seperti ini. Sudah sering kulihat di mata Nico. Ada tanda-tanda tidak enak pada tatapan itu. Aku bersiap-siap untuk jatuh lagi.
“Ini usulan, ya. Jangan tersinggung.”
Dia menatap mataku lekat-lekat. Sepertinya ini serius sekali. Aku gandakan persiapan.
“Kita‘kan hobi ngemil dan online.”
Kuangkat alis. Kata ’kita’ adalah sebuah awal yang baik. Ini sangat jarang terjadi. Biasanya aku tersinggung kalau dibilang tukang ngemil. Karena biasanya akan diikuti dengan sebutan ‘Ndut’. Walau itu tidak salah, tetapi tetap saja tidak nyaman bagi telinga. Nah, jika kali ini diawali dengan kata ’kita’ berarti dia kan juga mengakui. Jangan salahkan aku atas perut Nico yang hamil duluan.
“Bagaimana kalau kamu jualan keripik. Di Malang kan kamu sudah kenal banyak produsen keripik. Bekerjasamalah dengan mereka. Buka toko online di sini. Jadi, kalau ingin ngemil tinggal beli ke kamu.”
“Hmm, boleh juga. Tapi, dimodali ya.”
“Boleh. Asal serius. Jangan habiskan jatah online buat chatting ha ha hi hi doang. Selain itu, berburu dan bekerjasama dengan produsen keripiknya kamu kerjakan sendiri. Kalau perlu bantuan, baru date denganku. Aku urus internetnya.”
“Oke. Thanks banget, Hon!”
“Kalau lagi senang Hon-hon, deh, manggilnya. Biasanya ... Nico!!!” goda Nico.
Kucubit pinggangnya.
******
Berburu produsen keripik yang bersedia diajak bekerja sama, bukan hal sulit.
Konon sejak punya gigi pertama, aku sudah suka ngemil. Aku tidak pilih-pilih. Camilan manis maupun asin aku suka. Mau yang keringan sampai yang lembek, aku doyan. Mau buatan rumah atau buatan pabrik, aku enjoy saja. Meski, aku paham bahwa kondisi ekonomi orangtuaku tidak berlebihan. Jadi aku juga tahu batas.
Selain itu, saat mendapat uang saku mingguan, biasanya aku tidak simpan diam. Aku gunakan uang saku untuk membeli alat tulis baru di tempat grosir milik paman. Alat tulis itu kumodifikasi cantik untuk kujual kepada teman-teman sekolah. Ini dapat membantu melipatgandakan uang saku.
Jaman SMP orangtuaku mulai mengijinkan aku keluar sendirian. Mulailah aku melebarkan sayap. Aku banyak berkenalan dengan produsen keripik, karena saat itu lagi suka saja. Yah, namanya juga tukang ngemil. Agar dana bisa dimaksimalkan, aku berusaha mencari camilan dengan harga termurah.
Salah satu caraku dengan membeli langsung ke produsen. Sekali, dua kali, tiga kali, biasanya mereka sudah hafal dengan wajah dan seleraku. Setelah kenal, tentu mereka malah sungkan memberi harga mahal. Paling tidak, aku bisa membeli camilan dengan harga pokok lah. Selain kukonsumsi sendiri, apa yang kubeli juga kujual ke sekolah. Beberapa guru ikut menjadi pelangganku.
Kali ini aku datang dengan pola pikir yang jauh berkembang. Para produsen keripik menyambut gembira rencana penjualanku. Siapa yang tidak senang produknya bisa dikenal orang sejagad.
Aku tersenyum puas dengan tumpukan keripik di jok belakang mobil dan jok kiri depan. Aku pulang ke Gresik dengan penuh kegembiraan.
*****
Suatu hari, di dunia maya aku bertemu teman kampusku dulu. Namanya Endah. Dulu ia jurusan Biologi. Eh, sekarang malah menjalankan bisnis jual beli komputer. Selain deal transaksi keripik, jadilah kami saling bercerita tentang kehidupan kami masing-masing.
“Ini sebenarnya usaha sampingan suamiku, Ky. Aku semacam admin saja. Toh, ia tidak mengijinkan aku kerja di luar. Ternyata, asyik lho. Komputer tuh, salah satu barang yang perkembangannya sangat pesat. Seru banget. Ya seru perang harga, perang service, perang new item sampai aksesoris. Perang barang bekaspun tetap ramai. Kamu coba deh. Di kotamu pasar untuk komputer masih luas.”
“Boleh juga tuh. Tapi kenalkan dengan channel-channelmu dong? Biar temanmu ini tidak buta-buta banget.”
“Ah, kamu ini. Maunya jalan pintas saja. Sebenarnya, biar kamu bisa nego dan belajar segala urusan pedagang, lebih baik kamu buat channel sendiri. Nanti kuberi beberapa nama dan tempat deh. Kalau kamu butuh nasehat atau konsultasi, baru kontak aku. Ingat, tarifku per sepuluh detik lho.”
“Telepon ‘kali? Matre banget kamu! Sama teman sendiri lho.”
“Just kiding. Tapi aku serius nggak mau bantu kamu urusan channel. Aku cuma mau memberi tahu di sini harga ini murah. Di sana harga ini mahal. Apa susahnya membuat channel bagi seorang Kiky?”
“Oke. Oke, Nyonya Konsultan. Nanti saya urus sendiri.”
Endah tertawa melihatku sewot. Tapi, itulah Endah. Jaman kami masih kuliah, Endah terkenal anti memberi contekan, apalagi nyontek. Bisa tidak bisa, tetap dia kerjakan sendiri. Aku sangat menghargai idealismenya. Tragisnya, dengan idealisme seperti itu Endah ’hanya’ lulus dengan predikat memuaskan.
”Memuaskan dan membanggakan.” Itu komentar Endah untuk IP akhirnya.
Kalau aku sih, masih sering mempraktikkan contekan. Apalagi untuk bantu teman yang kuliah sambil kerja. Kalau hasilnya bagus bisa ramai-ramai berbahagia. Kalau jelek, sebut saja apes. Pst, meski tak kalah tragis, IP akhirku juga ’hanya’ sedikit di atas memuaskan. Sekadar meraih kepala 3 untuk memenuhi target beasiswa kuliahku.
Anak-anak, jangan meniru aku. Tiru saja Endah, dengan sedikit modifikasi agar IP kalian sangat-sangat-sangat memuaskan.