(FLASH BACK)
Kami melanjutkan perjalanan melewati sela-sela perdu setinggi pinggangku. Tiba-tiba Ryan menarik tanganku. Aku spontan menarik tangan Nana. Ryan menunjukkan pada kami sebuah benda asing. Bentuknya mirip blackberry. Tetapi warnanya merah segar. Aku menatap wajah Ryan meminta penjelasan. Hingga sepuluh menit berikutnya, Ryan menjelaskan kepada kami buah mungil itu. Ryan mengaku tidak tahu namanya. Tetapi rasa buah itu enak.
”Setahuku, ini namanya raspberry. Aku tidak menyangka bakal menemukan buah ini di sini,” ucapku sambil memetik satu biji yang berwarna merah. Kucoba dan .... wow. Mix antara manis dan segar. Aku berdecak kagum.
”Raspberry bukannya buah impor dari Eropa sana?” tanya Nana.
”Itu yang kita tahu dari buku-buku. Tetapi iklim di sana dan di daerah sini kan mirip. Apel aja bisa tumbuh. Apalagi buah perdu seperti ini,” analisaku.
Nana ikut mencobanya. Tanpa menunggu lama, kami berebut memetik dan memakan buah yang jumlahnya tidak seberapa itu. Para cowok tertawa saja melihat ulah kami.
‘’Eh, cewek-cewek. Sisain buat Yudha dong.’’ teriak Yudha.
Mendekati air terjun, perjalanan kian menantang. Jalan setapak itu menurun dengan kemiringan tinggi, ditambah licin sisa hujan semalam. Ryan dan Doni memasang tali yang mereka bawa. Ternyata berguna sekali. Pertama Doni yang turun dengan cara yang sangat keren. Kemudian, aku, Nana, dan Yudha turun. Lalu tibalah giliran Ryan. Iapun meluncur dengan cara serupa dengan Doni. Pamer? Tentu saja. Mulut Nana sampai ternganga melihat penampilan Ryan. Haduh. Mata yang terkagum-kagum itu. Enggak banget. Mendadak bete melihatnya. Setidaknya, mbok ya jangan di tempat yang begini indah. Aku merasa pemandangan ini terhianati.
Aku melangkah mendekati air terjun. Tanganku masih terasa pegal dan panas karena berpegangan pada tali itu. Sejenak kurendam tanganku di aliran air. Dingin. Kompres alami. Rasa panas di telapak tanganku langsung lenyap. Berganti rasa nyaman yang tiada duanya.
”Kamu sih nolak pakai sarung tangan,” kata Doni.
Aku nyengir.
”Mana aku tahu kalau bakal begini akibatnya.”
Doni tertawa sambil menaiki sebuah batu. Ia mengedarkan pandangan melihat teman-teman kami yang sedang berburu pakis. Posisinya itu lho, kek di iklan-iklan petualang. Pamer banget.
”Nyari pakis bareng, yuk, Ky.”
”Kamu duluan saja. Nanti aku menyusul. Tanggung nih ngadem, baru lima puluh persen.”
Doni tertawa. Dengan lincah ia melompati batu demi batu, menuju sisi seberang.
Usai mendinginkan tangan, aku ikut menyebar. Kami janjian untuk mencari masing-masing minimal tiga jenis pakis. Kuayun langkah penuh semangat ke bagian samping air terjun. Kujaga benar pijakan kakiku. Banyak batuan licin. Aku tidak ingin menjadi beban teman-temanku. Kalau aku yang subur sampai luka, bisa repot mereka.
Kuamati baik-baik pakis yang akan kuambil. Setidaknya, aku tidak perlu mengambil jenis yang tadi sudah kami dapatkan. Aku juga berusaha tidak mengambil terlalu banyak. Jangan sampai populasi pakis itu berkurang karena aku terlalu semangat mencabutnya.
Setelah mendapat lima jenis pakis, aku duduk beristirahat di atas batu besar yang tadi dinaiki Doni. Aku duduk memeluk lutut. Dinginnya benar-benar segar. Kubuka topi dan ikatan rambutku. Aku memberikan kesempatan kepada angin mengeringkan keringat yang tetap mengalir walau dalam udara sesejuk ini.
Butiran air dingin yang ikut tertiup angin menerpa wajahku. Terasa sangat menyejukkan. Kudongakkan kepala melihat ketinggian curahan air dan tumbuhan liar di tebingnya. Wow. Wow. Wow. Aku bersedia koprol untuk menyatakan kekaguman. Kunikmati benar kesejukan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tuhan, terima kasih telah Kau beri aku kesempatan menikmati ciptaanMu ini. Kau memang tidak ada duanya.
”Kamu belum pernah ke sini?” tanya Ryan mengagetkanku. Ia ikut duduk di sebelahku.
”Belum. Kalau kamu, punya kartu pelanggan, ya?” tanyaku.
Ryan tertawa.
”Tempatnya asyik, sih. Aku tidak pernah bosan,” cerita Ryan, ”Kamu tidak ikut ekstra sama sekali, Ky?”
Aku menggeleng.
”Kenapa?” tanyanya.
”Tidak ada yang kuminati.” Aku tahu mulut ini tidak jujur. Tetapi apakah alasan tidak ada biaya dan tidak percaya diri layak disampaikan kepada orang lain seperti mereka?
”Terus kesibukanmu di luar jam pelajaran sekolah apa?”
”Ya mengurus pekerjaan di rumah. Kadang keluar, berburu camilan.”
Ryan tersenyum sambil manggut-manggut. Sekilas aku mendapati dia mengamati tubuh suburku. Mungkin dalam hati dia bergumam: ’pantas subur, suka ngemil sih.’
”Tidak menyesal masa muda dihabiskan di rumah saja?”
”Tidak tahu. Yang namanya menyesali masa muda ’kan nanti kalau sudah tua,” kataku.
Ryan tertawa.
”Kamu ini aneh,” ucapnya.
Teman-teman yang lain datang dengan hasil buruan masing-masing.
Kami melakukan sortir pakis yang sama untuk dikembalikan ke tanah agar kembali tumbuh. Akhirnya terkumpul sebelas jenis. Yudha yang badannya paling besar, mendapat tugas membawa hasil pencarian kami. Ketika hasil pencarian itu selesai kami ikatkan ke ransel Yudha, dia sudah nampak seperti Raja Pohon yang sedang berjalan.
Semaksimal mungkin kami berempat membantu Yudha sampai di jalan setapak di atas sana. Ternyata lebih mudah menuruni jalan licin berkemiringan tinggi daripada mendakinya. Setelah Yudha, Nana, dan Doni berhasil berdiri di jalan setapak, giliranku berusaha mencapainya. Dengan berpegangan pada tali, aku berusaha menjejakkan kaki semantap-mantapnya. Lalu kulihat benda hidup berukuran mungil dan berwarna hitam menempel ketat di lenganku. Aku langsung menjerit. Tak ayal lagi aku kehilangan pegangan dan keseimbangan. Aku jatuh bebas ... dan mendarat dalam dekapan seseorang.
”Kamu tidak apa-apa?” tanya Ryan.
Kutunjukkan benda itu. Baru kusadari tanganku gemetar.
“Lintah. Memang banyak di sini. Tunggu sebentar ya.”
Ia mendudukkan aku. Ia membuka salah satu retsleting saku samping ranselnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan plastik. Doni turun menghampiri.
”Kenapa, Ky? Kamu tidak apa-apa?” tanya Doni. Wajahnya khawatir.
”Lintah.” jawab Ryan singkat. Ia mengeluarkan obat tetes untuk luka. Tak lama kemudian, lintah itu melepaskan diri dengan sukarela. Ryan membersihkan sisa-sisa darah yang ditinggalkan lintah itu. Doni menutup bekas gigitan lintah itu dengan sebuah plester. Mereka terlihat sangat profesional.
“Makasih. Sepertinya kalian sudah biasa menghadapi kondisi ini?” tanyaku sambil berdiri. Aku masih gemetar. Jadi kuambil botol minum dan menenangkan diri dengan seteguk s**u.
“Makanya ikut ekstra,” kata Ryan.
Doni tertawa.
Kucibirkan bibirku.
Kami kembali melangkah. Perjalanan di siang bolong tetap tidak terasa menyiksa. Kalau tidak melihat posisi matahari, mungkin aku tidak ingat kalau hari sudah siang. Semua karena udara tetap sejuk dan sinar matahari yang menyengat tersaring oleh rimbun pucuk pinus.
Kami beristirahat di bawah pohon Pinus di tepi sungai, tidak jauh dari camping ground. Ryan menggelar jas hujannya untuk kami jadikan alas duduk.
“Baik sekali,” kataku.
Ryan tersenyum.
Yudha meletakkan ranselnya.
”Syukurlah. Kita mendapatkan sebanyak yang kita butuhkan,” ucap Yudha penuh syukur. Ia merebahkan tubuh di atas alas. Konon, hobi Yudha rebahan.
”Kalian yakin tidak ingin main air?” tanya Doni kepada kami bertiga. Ia sendiri sudah melepas kemeja luar dan celana panjangnya. Menyisakan boxer selutut dan kaos hitam. Ryan ikut melepas jaket. Ia membuka retsleting celana di bagian lutut. Rupanya celana Ryan adalah sambungan. Ketika bagian bawah dilepas, ia jadi pakai celana gunung selutut. Mirip seperti penjelajah di film-film.
”Aku penasaran, tapi apa aman?” tanya Yudha sambil duduk.
”Asal kamu tidak menyengaja mengapung, kupikir aman. Kalau takut, kamu boleh pakai pelampung.” Doni mengeluarkan pelampung lengan berwarna pink.
Kami semua tertawa.
”Yee, walau aku dan Kiky gerombolan Si Berat, tetapi aku bisa berenang lho. Kamu juga bisa kan, Ky?”
Kuanggukkan kepala.
”Jadi, ayo main air. Kapan lagi?” ajak Doni sambil menarik tanganku.
”Jangan, Ky. Di sini saja menemani aku. Aku tidak bawa baju ganti,” alasan Nana, berusaha menarik tanganku yang lain.
Doni melepas tanganku. Ia membuka ransel, mengeluarkan kaos dan celana pendek baru.
”Kamu bisa pinjam ini dulu untuk main basah-basahan.”
Nana berjengit.
”Ayo, Na. Nanti kamu menyesal, lho,” rayuku. ”Itu kaos masih berbungkus plastik. Masih bau toko. Belum kena panu-nya Doni.”
Doni tertawa atas ucapanku.
Yudha ikut memasang wajah ramah untuk merayu Nana. Akhirnya Nana meraih kaos dan celana yang ditawarkan Doni. Nana menarik tanganku untuk menemani ke kamar mandi camping ground.
Aku menunggu di depan deretan kamar mandi, sambil mengumpulkan beberapa bunga pinus kering.
”Kalian lama sekali. Nana baik-baik saja?” tanya Ryan yang datang menghampiri kami.