(FLASH BACK)
Tiap hari aku datang menjelang bel dan pulang begitu bel berbunyi. Ini kulakukan untuk efisiensi waktu. Motorku sudah ditunggu kan. Sedangkan Ryan, mungkin sejak subuh dia sudah di sekolah. Atau mungkin menginap? Ketika teman-teman sudah pada di rumah, dia masih asyik dengan kegiatannya. Aku tidak habis pikir. Apa saja yang dia lakukan?
Sayangnya, Ryan tidak bisa menyeimbangkan kegiatan ekstranya dengan belajar. Sehingga dalam pelajaran, dia biasa saja. Sst, ini bukan berarti aku luar biasa lho. Jadi tidak enak. Sudah tidak ikut macam-macam, prestasipun biasa saja. Tapi minusnya Ryan ini tertutupi oleh segala pesonanya. Termasuk konon ia masuk karena sebagian pihak pengendali sekolah merasa perlu menjalin hubungan baik dengan aparat.
Sekelas dengan dia, kadang jadi muak setiap hari melihatnya dikerumuni makhluk-makhluk cantik. Aku tidak bermaksud lebay, tapi temanku itu memang begitu. Sejak kelas satu sampai kelas dua, aku sekelas dengan Ryan. Meski begitu, kami hanya sekadar kenal. Benar-benar nothing special.
Suatu hari di semester ganjil, guru Biologi memberi kami tugas kelompok membuat herbarium. Tugas ini sebenarnya tidak langsung berhubungan dengan materi di kelas, tetapi lebih sebagai pemberdayaan siswa untuk menyemarakkan koleksi Laboratorium. Jadi, karena kami di awal masuk kelas berliau diminta berikrar memajukan ilmu pengetahuan, maka kami bersedia menerima tugas itu. Walau berat, itu pasti.
Kelompokku kebagian membuat herbarium tumbuhan pakis. Namanya pakis, ya pasti jarang tumbuh di perkotaan seperti tempat tinggal kami di Malang. Kalaupun ada jenisnya terbatas. Itupun tumbuhnya di tempat-tempat basah semacam got. Menjijikkan. Guruku tidak mau tahu. Kata beliau, yang dapat persentase terbesar itu malah usahanya, bukan hasil. Jadi meski beliau tahu banyak muridnya yang borju, beliau mau pekerjaan itu dilakukan di sekolah, sehingga terpantau kalau benar-benar dikerjakan oleh siswa. Maklum lah ya. Anak-anak borju itu kan bisa bayar orang untuk membantu mengerjakan tugas.
Jadi, kalau dipikir-pikir, hasil maksimal ya bakal diperoleh setelah usaha yang maksimal. Ya kan? Wah, guruku ternyata pintar sekali bersilat lidah dan menaklukkan kami tanpa pandang bulu.
Jadi, di hari Minggu pagi yang cerah ceria itu, kelompokku bersiap ke hutan. Tepatnya ke Coban Talun, sebuah kawasan hutan wisata yang terletak di bagian utara kota Batu, sekitar 30 kilometer dari kotaku. Kabarnya, tempat ini masih memiliki sungai yang alami, hutan yang rimbun, dilengkapi dengan air terjun.
Menerima data itu saja, sudah bisa kubayangkan bakal banyak pakis di sana. Keren ’kan? Siapa yang memilihkan tempat? Tentu saja teman kami yang aktivis itu. Dia bahkan berani menjamin, di sana masih banyak sekali tumbuhan unik. Berhubung aku tidak tahu, ya sudah percaya saja.
Kami berkumpul di depan rumah Ryan, di kompleks polisi. Namanya kompleks, rumah-rumahnya serupa. Tetapi rumah yang satu ini rimbun oleh beraneka tanaman dan banyak anak kecil. Konon, adik Ryan banyak. Keluarga Ryan menyambut kami dengan gembira. Kami jadi tidak canggung di sana.
Kelompokku, Nana, Yudha, Doni, dan Ryan. Dua yang terakhir ini sama-sama anggota Pecinta Alam. Ketika berangkat, sepertinya hanya mereka yang benar-benar siap melakukan perjalanan jauh. Mereka membawa segala perlengkapan seperti kalau orang mau mendaki gunung. Mereka membawa tali berdiameter dua sentimeter. Tali itu digulung dan diikat ke bagian depan ransel. Lengkap dengan segala t***k bengek pelengkapnya yang berbahan logam. Ada yang bentuknya seperti angka delapan. Ada yang mirip pengait gantungan kunci.
”Ini figure eight dan carabiner,” itu penjelasan Doni.
Aku tidak ambil pusing. Aku tidak kenal benda-benda itu. Untuk apa? Aku malah sibuk menaksir isi ransel mereka. Juga ukuran dan cara pembuatannya. Aku curiga desain ransel itu begitu bagus, sehingga mereka bisa menyimpan tenda, kompor gas, kulkas, bahkan spring bed di dalamnya.
“Lho, kita ‘kan harus siap dengan segala hal,” kilah mereka.
Aku teringat kantung serba ada milik Doraemon. Kalau saja kantong Doraemon itu benar-benar ada, aku rela kedua temanku itu mengganti ransel super besarnya dengan kantong Doraemon. Risih melihat benda besar menjulang di punggung mereka. Anehnya mereka santai saja membawa benda berat dan besar begitu. Berarti desainnya bagus, ini yang lebih menarik minatku. Nanti jika berkesempatan, aku mau intip.
Kalau aku sih, bawa ransel harian. Barangku tidak banyak. Hanya kotak makan siang, baju ganti, dan kantong plastik untuk mengemas barang temuan kami nanti. Sedangkan Nana membawa tas tangan pink dan Yudha membawa ransel sekolah sepertiku.
Jam 6 pagi, kami berdoa bersama dan segera memulai perjalanan. Dari kota Malang menuju lokasi, kami naik motor. Untuk kepentingan bersama, aku berboncengan dengan Nana sebagai sesama perempuan. Doni dan Ryan berboncengan, tetapi berjanji jika aku lelah, mereka akan menggantikanku membonceng Nana. Sebenarnya itu tidak perlu, tetapi demi kepentingan bersama kuiyakan saja. Yudha sendirian agar nyaman duduk dalam perjalanan yang bakal makan waktu sekitar satu jam.
Urusan nyetir motor, bagiku gampang. Aku dan motorku sudah seperti satu kesatuan. Kami terbiasa melaju kencang. Cowok-cowok itu sampai ngeri melihatku ngebut. Kalau yang cowok ngeri, apalagi Nana. Akhirnya, aku naik motor sendirian. Nana memaksa berboncengan dengan Yudha, meski dari jauh mereka terlihat seperti anak dibonceng bapaknya. Habis Yudha-nya super besar, sedangkan Nana super mungil. Mana posisi duduk Nana di ujung, hampir jatuh. Jok sudah tersita oleh besarnya badan Yudha.
Kasihan Nana. Tetapi dengan gaya mengemudiku, sementara Nana gadis rumahan yang sangat lemah lembut, tentu bisa dimaklumi bila dia lebih memilih penderitaan itu daripada olahraga jantung bersamaku. Sementara, duo PA jelas tidak akan mau merendahkan diri dibonceng olehku, dan Nana tidak akan mau dibonceng oleh mereka yang sama-sama bawa ransel besar.
Kalau dipikir sekarang, kenapa saat itu Nana tidak manggil taksi online atau menelepon ke rumah minta diantar, ya. Apakah gadis borju sepertinya tengah berusaha berbaur dengan rakyat jelata? Entahlah. Kalau Yudha sih, mungkin karena cowok ya, tidak terlalu menampakkan diri berbeda dengan yang lain, meski dia adalah putra Ketua Dewan Kota.
Sampai lokasi, kami berhenti di pos penjaga hutan. Pada masa itu, tempat ini memang sudah menjadi salah satu camping ground. Untuk keamanan bersama, setiap pengunjung harus mendaftarkan diri ke pos penjaga. Berbicara dengan para penjaga, kami mendapatkan petunjuk lokasi yang sebenarnya tidak perlu. Aku yakin kedua temanku sudah hafal. Merem pun mereka nyampai.
Satu hal unik kembali kutemukan tentang mereka. Bapak yang jaga pos ternyata sudah akrab, sampai Ryan perlu menanyakan kabar istri si penjaga pos. Istri bapak penjaga pos, saudara-saudara!
“Ibu sudah sehat, Pak? Obat yang kami sarankan dulu apa sudah dicoba? Orang-orang yang kami kenal bisa sembuh, lho, dengan obat itu.”
Aku, Nana, dan Yudha saling berpandangan. Sorot mata mereka mengatakan: ’Heran? Tidak usah.’ *Setuju.
Kami mulai menjelajah. Urutan jalan, Doni di depan. Yudha di belakangnya. Nana di belakang Yudha. Diikuti oleh aku dan Ryan. Komposisi ini dipilih karena diantara kami berlima, Yudha yang badannya paling besar dan jalannya lambat. Doni sebagai penunjuk arah bertugas pula mencarikan jalan yang aman bagi Yudha dan kami semua.
Tidak mudah menyamakan kecepatan. Aku yang terbiasa serba tergesa harus bersabar menanti Yudha berada di tempat aman ketika jalan sedang licin dan tidak ada pilihan lain. Nana yang sangat gadis rumahan berkali-kali harus kubantu agar bisa turun atau kudorong agar bisa naik. Saat keduanya mulai mengeluh lelah, aku menyemangati. Kalau sudah begini, aku bersyukur punya cukup banyak cadangan lemak dan tubuh yang terbiasa aktif bergerak dan entah bagaimana tidak mudah lelah. Stok lemakku itu menjadi pertanda aku punya cukup bahan bakar, jadi waktu dan tenagaku harus bermanfaat bagi sesama.
Dalam perjalanan sebelum kami mencapai sungai, lima jenis pakis yang berbeda sudah didapatkan. Semua masih dalam kondisi segar dan lengkap. Wah, ini prestasi. Kami bisa memeroleh banyak koleksi. Bu Guru bisa tersenyum nanti.
Satu hal lain yang baru aku tahu, ternyata jalan-jalan di Coban Talun menyenangkan. Dalam pikiranku, tempat ini kotor, seram, banyak nyamuk, dan mungkin ada binatang buas. Namun kondisi di lapangan jauh berbeda.
Hutan pinusnya masih rimbun. Pohon pinus yang tingginya hampir seragam nampak tinggal menunggu hari untuk peremajaan. Sejuk luar biasa. Airnya jernih. Udara bersih dan segar. Masih banyak burung dan serangga liar dengan suaranya yang khas. Aku suka sekali. Apalagi bau tanah dan rerumputan yang masih dibasahi embun. Sungguh, Tuhan Maha Besar. Di jam 7 begitu mulut kami masih berasap ketika bicara. Keren. Sesuatu yang sudah jarang terjadi di kota Malang.
Jalan setapak yang kami lalui kadang licin dan becek. Syukurlah kedua temanku itu -yang sudah tahu medan- jauh hari memperingatkan kami untuk mengenakan sepatu lapangan atau sandal gunung. Ternyata itu saran yang sangat tepat. Aku mulai berpikir bahwa mereka benar-benar merencanakan perjalanan ini. Sampai-sampai mereka merasa perlu melakukan briefing pada kami bertiga yang buta petualangan alam bebas. Nyatanya, pembekalan itu memang sangat berguna.
Sayangnya, Nana yang konsisten dengan gaya girly, hari itu tidak nurut. Alih-alih pakai sandal gunung, sepatu keds saja ia tidak mau. Ia mengenakan sepatu tertutup bersol tipis, yang lebih tepat dipakai jalan-jalan ke mal. Ia hampir menangis ketika menyadari banyak tanah basah menempel di solnya. Dengan cepat sepatu menjadi basah.
Ryan melepas sandal gunungnya, diserahkan kepada Nana. Sepatu Nana disimpan dalam kantung plastik dan digantung di salah satu sisi ransel Ryan.
Walau risih, Nana bersedia memakai sandal gunung cowok. Syukurnya, Ryan tergolong bersihan. Coba yang memberikan tawaran Doni, mungkin Nana akan menolak mentah-mentah, jika tidak muntah duluan. Bapaknya petinggi angkatan bersenjata di kota kami, tetapi keseharian Doni jauh dari kata rapi dan bersihan. He he he.
”Tidak masalah jalan di tempat seperti ini tanpa alas kaki?” tanyaku.
”Sejujurnya, malah lebih nyaman lho,” jawab Ryan sambil masuk aliran sungai. Ia berdiam sejenak. Matanya merem seolah itu hal paling nikmat dalam hidupnya.
Kuangkat bahu.
Kami menyusuri sungai. Aku yang sampai 16 tahun tidak pernah jelajah alam, tentu heran bertemu sungai sejernih itu. Gemericik airnya. Riak di sebagian sisi, tenang di sisi lainnya. Aku jadi ingin nyebur untuk membuktikan peribahasa bahwa ’air beriak tanda tak dalam’. Aku bahkan bisa melihat dengan jelas batuan di dasar sungai. Aku berhenti melangkah ketika sebuah batu tertangkap mataku. Kuambil batu itu. Kuangkat dan kuamati.
”Itu batuan yang jarang bisa ditemukan. Batuan sedimen. Berlapis-lapis. Kamu beruntung sekali,” kata Ryan sambil berhenti di belakangku.
Aku tidak berkomentar, cukup memberinya senyum.