PUTIH ABU-ABU

1347 Words
(FLASH BACK) Namanya Ryan. Teman seangkatan di SMA. Wajahnya biasa saja. Tidak ganteng banget, juga tidak hancur. Hanya saja, dia tahu bagaimana berpenampilan. Termasuk menjaga kondisi anugerah Tuhan berupa tubuh tinggi atletis, selalu rapi dalam kesederhanaan putra Bintara, dan potongan rambut khas pasukan Ayahnya. Tidak heran dia mendapat gelar ‘keren’. Tidak hanya teman perempuan seangkatan yang naksir dia. Kakak kelas, apalagi adik kelas juga banyak yang naksir. Ada pengagum rahasia yang diam-diam saja. Tidak sedikit yang berani nekad. Konon menerima surat kaleng pernyataan cinta sudah menjadi makanannya sehari-hari, bahkan sejak hari pertama ikut MOS. Ia sering sekali dicomblangi untuk jadian dengan gadis-gadis populer. Ini sepertinya sudah bukan hal aneh. Kemana pun Ryan pergi, ia dikuntit gadis-gadis yang menatapnya penuh kekaguman. Apapun perkataan yang keluar dari mulutnya, senantiasa mendapat sambutan hangat. Apalagi bila dia melontarkan canda. Bila Ryan butuh apa-apa, selalu ada yang bersedia membantu. Kalau ia mau, mungkin bisa saja ia tidak perlu mengerjakan PR, karena gadis-gadis itu dengan senang hati akan membantu. Benar-benar sosok istimewa. Walau lucunya, sejauh aku tahu, dia memilih jomblo. Kalau pendapatku pribadi, dia jadi idola bukan karena dia benar-benar keren. Tetapi karena cowok lain yang lebih ganteng sudah tidak layak menjadi idola. Ada mas Raihan. Ganteng, putih, pintar, tetapi pemalu sama perempuan. Masa baru disapa saja langsung seperti kepiting rebus dan refleks ambil langkah seribu. Bila saat kejadian dia bisa langsung menghilang ke dalam bumi, aku jamin akan dilakukan. Ada lagi mas Ady. Jago pencak silat. Yang ini tidak masuk hitungan karena selalu menguntit seorang cewek yang konon sudah dijodohkan oleh orangtuanya. Ke mana saja mereka selalu berdua. Ke kelas, kantin, perpus. Mungkin hanya ke WC saja mereka berpisah. Itupun biasanya masih saling menunggu di depan WC. Kalau sudah seperti itu, siapa berani mengganggu? Ada lagi teman seangkatan kami yang bernama Rey. Yang ini populer, cakep, indah terawat, dan tentunya glowing banget. Sepatunya enggak ada yang harga jutaan, pasti minimal belasan. Tidak usah heran. Ia anak tunggal pengusaha sukses. Kalau pas masuk bawa BMW pribadi, kalau pas enggak masuk, BMW itu parkir di rumah utama area elit. Ia pakai mobil sport yang aku tahu di kota kami hanya dia seorang yang punya. Berbalik dengan segala fasilitasnya, ia punya jatah bolos empat hari seminggu. Kadang baru mau masuk kalau ujian. Selebihnya, dia lebih senang berada di rumah atau berkumpul dengan teman-teman borju. Begitu datang ke sekolah, dia akan pamer foto-foto aktifitas serunya di luar sekolah. Apakah sekolah menindaknya agar lebih disiplin? Sudah berkali-kali. Tetapi ia tidak mau berubah. Yang berubah hanya jumlah SPP dan dendanya untuk urusan pelanggaran. Jika di akhir tahun ajaran sekolah menolak menaikkannya, ia akan memilih pindah sekolah. Ia yakin akan menemukan sekolah yang bisa menyadari potensi dirinya. Sederhana. Ada lagi sih, Mas Iko ketua OSIS. Tipikal anak rumahan banget, rapi, berkacamata, dan pakai behel. Ia punya sedikit jerawat pink di pipi yang membuatnya makin imut. Terkenal sebagai jago sains, pentolan KIR, dan nggak bisa mengobrolkan hal ringan. Cewek populer sekolahku yang biasanya berbanding lurus dengan ’enggan berdekatan kepada segala sesuatu berbau sains’, jadi mundur semua. Bahkan cewek KIR-pun pada mundur dari dunia persilatan karena di KIR ngobrolin sains, masa waktu apel juga masih itu yang dibicarakan. Ampun dah. Kalau dilihat-lihat, sepertinya semua cowok yang agak mendingan mukanya sudah keluar dari list idola. Makanya Ryan menonjol. Kalau kemudian ia menjadi sosok rebutan para gadis, aku tidak heran. Padanya semua kekaguman dipuncakkan. Segala sisi buruknya akan tertutup oleh kekaguman itu. Sedangkan aku adalah gadis yang sangat biasa. Wajahku cantik versi ayah. Tubuhku subur. Aku sama sekali tidak menonjol dalam bidang apapun di sekolah. Aku sangat study oriented. Maksudku, aku sama sekali tidak ikut kegiatan ekstra. Sangat bertolak belakang dengan Ryan yang anggota beraneka kegiatan ekstra. Selama aku mengenalnya, rasanya dia sering sekali tidak masuk dengan alasan dikirim mewakili sekolah dalam beraneka lomba atau kegiatan. Guru wali kelasku pernah menunjukkan daftar sertifikat dan penghargaan Ryan. Banyak sekali. Padahal semua itu diberitakan per semester. Kalau aku, tentu saja sama sekali tidak masuk hitungan menjadi delegasi sekolah. Ryan akrab dengan semua markas ekstra. Maklum, meski tidak menjabat sebagai Ketua OSIS, dia sekbid ekstrakurikuler. Semua ekstra dan kegiatannya menjadi urusan Ryan. Selain itu, Ryan juga penghuni tetap kantor OSIS. Ia pengunjung kehormatan ruang teater. Meski tidak resmi, tetapi bagi kami para siswa, ruang teater adalah istana para gadis borju. Di sana gadis-gadis jet set itu bisa berbagi info model tas terbaru, tren baju, salon, atau butik tertentu. Konon mereka juga sering mengadakan fashion show di sana. Rakyat jelata sepertiku tidak bisa memasuki teater ketika tidak ada kegiatan sekolah. Kalaupun aku nekad, gadis-gadis itu akan memanggil bodyguard untuk mengusirku. Bodyguard mereka adalah anak-anak ekstra beladiri yang memang dibayar khusus untuk melindungi gadis-gadis itu. Benar-benar sekolah yang aneh, menurutku. Tetapi begitulah adanya. Sayangnya, aku tidak punya pilihan sekolah yang lain. Dengan keterbatasan ekonomi orang tua, maka aku hidup sangat apa adanya. Begitupun di sekolah. Aku bisa menjadi siswa di sekolah ini karena lolos seleksi ketat untuk mendapatkan beasiswa dari yayasan. Istilahnya, Community Service Responsibility (CSR) dari salah satu donatur. Dengan adanya beasiswa itu, sejak awal masuk kelas X sampai akhir sekolah aku tidak membayar SPP dan sumbangan apapun. Aku hanya harus menjaga nilaiku diatas standar, berperilaku baik, dan rela setiap saat membawa logo perusahaan itu. Ditambah tugas harian membantu menjaga koperasi setiap jam istirahat. Tiap Senin, aku mendata barang yang datang kemudian membantu menata. Tiap Sabtu, aku membawa pulang pembukuan hasil penjualan koperasi untuk direkap. Setiap awal tahun ajaran, aku mendapat bantuan paket tas baru, buku dan alat tulis, sepatu, dan merchandise dari perusahaan pemberi CSR. Setiap bulan aku mendapat uang saku yang cukup besar, karena tidak hanya untuk beli buku, tetapi juga uang jajan dan transportasiku setiap hari. Aku dapat berhemat dan memaksimalkan uang jajan, sehingga bisa menabung. Ini sangat membantu orang tuaku. Meskipun demikian, aku tetap merasa sungguh sulit menyesuaikan diri dengan gaya hidup teman-temanku yang 90% borju, anak pejabat, atau minimal pegawai yang total gaji setahunnya tidak bisa kubayangkan. Kadang ingin menangis melihat mereka memamerkan tas atau sepatu baru yang mereknya melangit. Sementara milikku adalah tas dan sepatu standar. Bahkan pada tas itu terbordir logo perusahaan yang menjadi sponsorku. Sebagai informasi, pada setiap angkatan, ada 10 anak dengan status sepertiku. Dari tahun ke tahun, kebanyakan dari mereka mundur teratur. Entah itu pindah ke sekolah lain atau putus sekolah. Masalahnya bukan pada beban belajar, tetapi pada lingkungan sosial belajar, dalam hal ini teman, yang tidak kondusif. Di angkatanku, tinggal aku sendirian. Aku belajar untuk tidak berkeluh kesah ke penerima beasiswa di angkatan kakel, karena dia telah berhasil masuk ke lingkungan gadis populer, walau sebagai seksi sibuk. Dia merasa mulai naik kelas, sehingga padaku pun dia melakukan bully. Satu-satunya pilihan, aku harus sabar. Ini demi masa depanku sendiri. Dengan mengikuti lingkungan apa adanya, tidak ada yang bisa menjamin selesainya sekolahku. Bahkan gadis-gadis borju itu kemungkinan hanya akan menjadikanku kambing congek dalam kelompok mereka. Sejenis, sosok untuk diejek dan disuruh-suruh. Aku menolak mendapat peran seperti itu. Kadang juga berhalu menjadi Cinderella seperti di novel-novel, dimana upik abu akan ditolong oleh pangeran tampan, anak pemilik sekolah atau ditaksir guru ganteng super borju. Namun di dunia nyata ini, mana ada yang begitu. Kalaupun ada cowok borju, sudah pasti pasangannya ya cewek yang terlihat. Aku mah apa atuh. Karena itu aku menghindari perkumpulan dengan teman-teman. Aku menghindari kegiatan ekstrakurikuler. Alasan dasarku tentu karena merasa tidak percaya diri. Selain itu, ikut ekskul akan membuatku mengeluarkan biaya lebih karena setiap ekskul mensyaratkan iuran. Selain itu, jadi harus datang ke sekolah lebih sering. Kegiatan ekskul dilakukan diluar jam sekolah. Terutama sore hari. Padahal motor yang kupakai ke sekolah akan digunakan ayahku untuk mengojek di sore hari. Lengkap sudah alasan untuk tidak menjadi orang menonjol di sekolah. Jadi, tempat yang rutin kumasuki di sekolah hanyalah kelas, koperasi, laboratorium, dan WC. Satu-satunya tempat lain yang kadang kudatangi adalah perpustakaan. Itupun dengan tujuan agar bisa membaca novel secara gratis. Kalau sudah bosan dengan novel atau karya sastra, aku melirik buku-buku ilmu pengetahuan dan materi-materi yang lain. Secara sponsor banyak ya, maka koleksi perpustakaan juga berkelas. Kantor Kepala Sekolah? Mana pernah ke sana. Aku ’kan tidak pernah membuat onar, telat bayar SPP, atau membuat prestasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD