Bella yang berpikiran naïf, tidak pernah terpikirkan dalam benaknya bahwa di dunia ini ada laki-laki yang memiliki pikiran jahat untuk mendapatkan keinginannya. Kalau ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri melalui layar cctv di kantor Ivan, belum tentu ia percaya Riko akan setega itu. Di sisi lain, Bella sendiri bersyukur mengenal Ivan yang kini menjadi suaminya. Kalau tidak ada Ivan, mungkin saat ini dirinya akan berada entah di mana dalam perangkap Riko. Membayangkannya saja Bella tidak berani. “Katanya hari ini kamu mau nemani anak-anak. Kenapa bisa kemari?” “Kenapa? Ngak marah kan aku nyusulin kamu.” “Awalnya kesal, tapi setelah lihat cctv aku bersyukur untung ada kamu si tukang kepo.” Ivan terkekeh sambil mengusap kepala Bella. “Tadinya hari ini aku enggak mau nyusul kam

