Bab 11. Belah Duren Lagi

1512 Words
Hari bahagia yang ditunggu Ivan selama ini akhirnya tiba. Mereka akan menikah di sebuah gereja dengan prosesi sederhana, di hadiri keluarga intinya saja. Wajah Ivan nampak begitu bahagia, menatap kembali di cermin kamarnya, dengan jas tuxedo berwarna hitam. "Anak Mami ganteng banget. Udah lama Mami ngak pernah lihat kamu bersemangat kayak gini." Ucap Miranda yang menghampiri putra tunggalnya dengan senyuman hangat. Ivan memeluk erat sang Mami, hanya wanita setengah baya ini yang paling mengerti jatuh bangun seorang Ivan menantikan Bella. Bagaimana hancurnya hati seorang ibu saat melihat putranya menenggelamkan kepalanya di bantal, agar tangisannya tidak terdengar saat mengetahui Bella akan menikah dengan Jackson beberapa tahun silam. "Terima kasih, Mami. Selalu sabar sama aku, dan ngak pernah maksa aku untuk menikah sama orang lain, walau pake usaha jodoh-jodohin. Aku tahu, semua demi kebahagiaan anak semata wayang yang super keras kepala ini. Tapi maaf, cinta aku mentok buat Bella." "Ck, untung sadar. Tapi kalau lihat muka kamu sebahagia ini, Mami rela nunggu lebih lama, sabar-sabar sama kepala batunya kamu itu, Van. Semoga Ella cepat ingat tentang masa kecilnya sama kamu yah. Mami doain rumah tangga kalian langgeng sampai Tuhan yang memisahkan." "Amin.” Ivan melihat jam di tangannya. “Berangkat, yuk." Di tempat lain, Bella menatap dirinya dalam cermin dalam sebuah kamar hotel. Batinnya bergumam sendirian. 'Jackson sayang. Hari ini aku menikah kembali, sesuai kemauan kamu supaya aku mencari penggantimu. Ngak ada yang bisa gantiin rasa cinta aku ke kamu. Maafin aku, kalau mulai sekarang aku harus membagi hatiku untuk laki-laki lain. Doain aku dari sana yah, supaya aku bahagia. Jujur, aku ngak tahu gimana reaksi Mami Lina nanti kalau tahu aku sudah menikah.' Sintia memegang bahu putrinya dari belakang sambil tersenyum hangat menatap cermin. "Anak Mami cantik banget. Ngak kelihatan punya 2 anak loh kamu nih." "Masih cocok lah dibilang perawan baru nikah." Goda Natali sang adik yang menyusul masuk. "Ish, apaan sih, Nat." Protes Bella membuat wajahnya tersipu malu. "Udah, jangan kelamaan pelukan, Mami. Nanti luntur makeup Kak Ella." Seru Natali. George, suami Natali, mengetuk pintu, lalu masuk sambil menggendong putrinya, Gina. "Yuk, kita harus berangkat sekarang. Jangan sampai jadi film runaway bride." Canda George memecah suasana haru dalam keluarga istrinya. “Siapa tahu aku jadi runaway bride ke 2, George.” Jawab Bella dengan usilnya. “Bella!” “Kak Bella!” Ibu dan adik Bella langsung menyeletuk menegur Bella membuat wanita itu meringis sambil terkekeh. Yang bersemangat menikah memang bukan dirinya melainkan sang mama. Bella dan kedua anaknya di jemput oleh supir yang ditugaskan Ivan, sedangkan George dan Natalie di mobil pribadi mereka sendiri. *** Ivan dan Miranda sampai lebih dulu di gereja, Ivan sudah bersiap menunggu kedatangan Bella di depan gereja. Ketika mobil yang ditunggunya tiba, jantungnya seakan menemukan magnetnya. Rasa gugup yang sedari tadi mendera hingga membuat debaran jantungnya bagai genderang berangsur mereda saat melihat wanita yang dicintainya turun dari mobil. Berganti menjadi rasa takjub menatap Bella dalam balutan gaun pengantin ditambah dengan riasan sederhana di wajah Bella membuat wanita itu terlihat sempurna di mata Ivan. “Papi Ivan, Jess jadi plinses Mami.” Ucap Jess memecah pikiran Ivan yang sempat membeku. Ivan setengah berlutut menyamakan tingginya dengan Jess dan Josh. “Halo anak Papi yang ganteng dan cantik. Kalian masuk ke dalam dulu sama Oma yah.” “Iyah, Papi. You look handsome.” Ucap Josh memuji ketampanan papi barunya. “You too, Josh.” Kemudian kedua anak itu masuk bersama Sintia, Natalie dan George dengan putri mereka ke dalam. Ivan menatap wajah Bella sambil tersenyum dan berhasil memunculkan rona kemerahan di pipi wanita itu. “Dan kamu yang paling cantik, istrinya siapa sih ini.” “Belum jadi istri kamu.” Jawab Bella sedikit ketus. Ivan mengulurkan lengannya yang di tekuk ke dalam agar Bella memeluknya. “Kamu sudah siap?” Tanya Ivan lembut. “Harus siap kan? Apa bisa dirubah kalau aku bilang ngak?” Ucap Bella membuat batin Ivan sedih sebenarnya. “Percayalah, aku akan membuatmu mencintaiku dengan caraku sendiri.” Jawab Ivan mencoba tidak termakan emosi karena perkataan blak-blakkan Bella barusan. “Kita masuk sekarang?” “Ayo, tapi apa perlu kamu sama aku jalan barengan gini?” Tidak tahan mendengar ucapan Bella, Ivan mengecup kening dan pipi Bella membuat wanita itu terdiam. “Meskipun hanya perjodohan tapi aku mau setiap momen yang kita jalani mempunyai kesan tersendiri dan akan selalu diingat kita berdua.” “Hem, baiklah kalau gitu.” Dengan aba-aba dari Ivan, pintu gerbang altar dibuka, suara instrument alat musik mulai dimainkan mengiringi jalan keduanya menuju altar untuk mengikat janji suci pernikahan. Meskipun mulut Bella bersikap tak acuh namun ketika langkah kakinya berjalan menelusuri altar, debaran jantungnya ikut menggila. Katakanlah ia belum mencintai Ivan namun hatinya tidak bisa berbohong seakan dirinya kembali ke masa pernikahannya dulu dengan Jackson. Bedanya di dalam ruangan ini semua orang bersukacita termasuk Miranda yang akan menjadi mama mertuanya. Berbeda saat menikah dengan Jackson, wajah Lina selalu nampak cemberut apalagi ketika mata mereka beradu, Bella merasakan aura kebencian sang mertua. Setelah sampai, keduanya mendengarkan Firman Tuhan diikuti dengan nasihat dari pastur. Setelah itu barulah keduanya memberikan ucapan janji suci mereka dengan bahasa masing-masing. Ivan yang lebih dahulu mengucapkan janji pernikahan mereka. “Bella Kinanti Kurniawan, aku mengambil engkau menjadi istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga selamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang sangat tulus kepadamu.” Giliran Bella mengucapkan janji pernikahannya kepada Ivan. “Rivano Putra Danayaksa, aku mengambil engkau menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga selamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita. Inilah janji setiaku yang sangat tulus kepadamu.” Setelah itu mereka saling menyematkan cincin pernikahan di jari manis pasangannya. “Dengan cincin ini sebagai lambang janji suci pernikahan kita, aku menjadikanmu istriku.” Begitu juga Bella mengucapkan hal yang sama untuk mengikat pernikahan mereka. Sang Pendeta, mengakhiri prosesi pernikahan mereka. “Kini kalian sah menjadi sepasang suami istri. Rivano, kamu boleh mencium istrimu.” Ivan membuka cadar tile, sebagai lambang kehidupan baru mereka dalam berumah tangga. Ia memegang kedua bahu Bella, kemudian mengecup keningnya, berlanjut ke pipi kiri dan kanan dan momen yang dinantikan semua yang hadir, Ivan mengecup bibir Bella, melumatnya sebentar kemudian melepaskannya. Sorak-sorak keluarga dan anak-anak menggema di dalam prosesi sederhana tersebut. Ivan tersenyum sangat bahagia, sedangkan Bella menunjukkan senyumnya sebagai formalitas agar tidak merusak suasana. Bagi Bella, semua ia lakukan untuk kedua anaknya agar tumbuh seperti keluarga normal lainnya, mempunyai sosok ayah yang pernah hilang setahun lalu. Pernikahan ini merupakan pengorbanannya sebagai seorang ibu. Soal perasaan biarlah mengalir seiring waktu meskipun dalam hatinya, ia juga menginginkan pernikahan yang bahagia. Jess dan Josh bergantian memeluk Bella dan Ivan yang sudah resmi menjadi papi mereka. Lalu mereka memeluk Miranda dan Sintia bergantian. Rasa haru dari mereka sangat terasa, air mata keduanya mengalir bahagia dalam versi masing-masing. Miranda bahagia akhirnya sang putra menikah dengan gadis yang diidamkannya sejak kecil. Sintia lega kalau Bella menikah dengan Ivan, setidaknya ia lebih tenang menyerahkan masa depan Bella kepada Ivan. Natali dan suaminya juga saling mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. “Kak, aku doain pernikahan ini akan selamanya sesuai dengan janji pernikahan tadi. Kalau bisa sampai kalian menua dan melihat cucu kalian menikah lagi.” “Amin. Thanks ya Nat. Loe adik gua yang paling the best lah. George beruntung dapetin loe.” “Bukannya Nat yang beruntung dapetin aku ya, Kak.” Canda George memecah suasana haru yang sedari tadi penuh deraian air mata menjadi gelak tawa. Setelah acara prosesi pernikahan selesai, Miranda sudah memesan ruang khusus di sebuah hotel sebagai jamuan makan siang keluarga inti untuk merayakan pernikahan Ivan dan Bella. Ternyata Miranda juga sudah memesan satu kamar presidential suite sebagai kamar pengantin Bella dan Ivan selama dua hari. Bella tidak mungkin menolak hadiah dari seorang yang sudah menjadi mertuanya sekarang. Ia hanya diam membayangkan malam pertamanya dengan Ivan di dalam kamar yang sama. Pikirannya terus berkelana disertai kekhawatiran. Ia bukan gadis polos yang tidak mengerti dengan makna malam pertama. Bahkan Bella justru lebih pengalaman dibandingkan Ivan. Hanya saja bagaimana kalau Ivan ternyata memaksakan kehendaknya untuk meminta hak nya sebagai seorang suami. Tidak mungkin Bella menolaknya karena akan menimbulkan dosa. Sedangkan dirinya belum siap untuk membina hubungan sampai sejauh itu. Belum sekarang waktunya. Rumah Ivan sudah selesai di renovasi seminggu sebelum pernikahan. Sintia dan dua cucunya sudah pindah ke sana tiga hari lalu sambil membereska kamar baru di sana. Hanya Bella yang belum ikut pindah, ia masih bersih keras untuk tinggal di rumah Sintia sampai resmi sebagai suami istri. Setelah acara makan malam selesai, Miranda, Sintia dan adik Bella serta anak-anak pamit pulang. Jess sempat protes, namun setelah Ivan membisikkan sesuatu di telinga Jess, gadis kecil itu baru mau menurut dan ikut pulang. “Kak, belah duren lagi hari ini, jenis duriannya beda lagi nih. Semangat!” Natali berbisik menggoda sang kakak sebelum pulang, yang membuat mata Bella membulat lebar melotot terhadap Natalie, namun anehnya wajah Bella merah bagai kepiting rebus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD