Bab 14. Aku Cemburu

1772 Words
Bella membuka matanya, dan dirinya terkejut kembali. Posisinya sama dengan posisi tadi saat ia terbangun pertama kali saat kebelet pipis. ‘Perasaan tidurnya ngak begini, kan. Kenapa sekarang aku meluk dia lagi sih.’ Ivan membuka matanya dengan tiba-tiba, membuat Bella tidak dapat berkelit dengan berpura-pura tidur lagi. Mata mereka saling beradu, wajah mereka begitu dekat. Bella dapat merasakan deru nafas Ivan yang semakin terasa di bibirnya. Kepalanya merasa ada aliran panas namun dirinya tidak demam. Bella menundukkan kepalanya, namun dagunya di tahan oleh jari Ivan dan di dongakkan lagi saling menatap. “Morning, Hunny.” “Ehm, morning.” “Bolehkan, kalau aku membuat kebiasaan untuk selalu mengucapkan selamat pagi setiap kali kita terbangun dari tidur dan juga ini..” Ivan menundukkan kepalanya, bibirnya mengecup bibir Bella dengan lembut, melepasnya dan melumat lagi bibir itu. “Sama morning kiss setiap pagi.” Bella masih mencoba menetralkan dirinya yang masih merasakan hawa panas yang mengalir seperti menyengat di sekujur tubuhnya, jangan ditanya debaran jantung dan desiran yang berkumpul di perutnya karena ciuman Ivan. “Terserah kamu saja.” Seringai kemenangan muncul di wajah Ivan, setidaknya Bella tidak marah dengan permintaa konyolnya apalagi wajah merona Bella menggoda iman Ivan dalam mempertahankan kewarasannya untuk tidak menerkam Bella sekarang juga. Karena senang, Ivan mengecup kembali bibir Bella, dan berakhir dengan hentakan tangan Bella yang mendorong tubuh Ivan. "Jangan keterusan dong, Pak." “Bibirnya manis kayak strawberi bukin ketagihan.” Pagi ini, mereka memutuskan untuk sarapan di kamar hotel saja, karena Bella tidak mau sampai ada yang mengenali Ivan bersama dengannya. Bagaimanapun Ivan adalah seorang CEO sebuah perusahaan besar, pasti ada saja orang yang mengenalinya nanti. Sedangkan Ivan tidak menjadikan pernikahannya sebagai hal yang harus ditutupi. Apalagi mereka menginap di hotel ternama, sudah pasti tamu-tamu di hotel ini bukan orang sembarangan. Semua dituruti Ivan untuk membuat Bella nyaman lebih dulu berada di dekatnya. Bagaimanapun Bella masih merasa asing dengan kehadiran seorang Ivan meskipun keduanya sudah mengenal sejak kecil dan sayangnya hanya Ivan yang merasakan seperti itu. Ivan memesan menu American breakfast, semangkuk s**u dan sereal juga jus jeruk untuk mereka berdua. Setelah sarapan datang, Ivan masuk ke kamar untuk memanggil istrinya. “Hun, ayo, sarapan dulu. Sudah datang nih. Aku tunggu di depan yah.” “Iya, sebentar lagi aku nyusul.” Bella menjawab sembari memasukkan krim perawatan wajahnya. Lalu menyusul ke ruang tamu.. Ivan menarik kursi, mempersilahkan Bella duduk. “Terima kasih, Van.” “Sama-sama, Sayang.” Ivan juga ikut duduk bersebelahan dengan Bella.. Di atas meja sudah tertata lengkap mulai dari air putih, jus dan makanan utama mereka. Dengan telaten, Ivan memotong roti sandwich pesanan Bella menjadi 4 bagian kecil, kemudian menyodorkan ke Bella. “Ngapain di potong kecil-kecil, pake tangan makan lebih nikmat. Kayak Jess aja.” Protes Bella. “Di potong begini, biar pas masuk ke mulut. Aku sayang sama kamu, mencegah kamu dari hal-hal yang tidak di inginkan.” “Maksud kamu?” “Aku itu perhatian sama kamu, biar kamu enggak tersedak, Hunny.” “Aku ini sudah punya anak, bukan anak kecil lagi, Pak Suami.” Mata Bella menatap sengit ke Ivan, merajuk kesal dengan kekonyolan Ivan, walaupun ada rasa senang diperhatikan seperti ini. “Kamu itu selalu cantik. Lagi marah juga cantik. Makin sayang deh. Coba diulang lagi manggil pak suaminya, kok dengarnya enak banget sih.” “Hais, Pak CEO ternyata gombal.” “Gombalnya sama istri sendiri itu wajar, bukan perempuan lain. Cuma kamu yang bisa lihat muka asli aku.” “Coba saja kamu gombal sama perempuan lain.” Bella menutup mulutnya merasa emosinya terjebak oleh ucapan Ivan. Sedangkan Ivan terkekeh geli merasa senang dengan tanggapan spontan istrinya. “Aku mau diapain kalau ngegombalin perempuan lain, Hun?” Wajah Bella sudah merah merona sampai telinga. Merutuki kepolosan dirinya sendiri. “Kalau kamu begini terus, aku enggak jadi sarapan deh.” Ancam Bella. “Iy.. Iya.. Iya.. Jangan ngambek dong. Aku becanda, biar kita makin akrab. Yah sudah, kita bicara yang lain. Soal pekerjaan, hem? Kamu enggak mau tahu pekerjaan suami kamu, penghasilanku, usaha apa saja yang aku rintis? Itu juga penting loh.” Berharap Bella akan bertanya untuk mencari tahu lebih lagi tentang dirinya, Bella malah bercerita tentang pekerjaannya sendiri. “Aku bekerja di PT.ABC sebagai sekretaris CEO di sana. Sudah setahun sejak Jackson ngak ada.” “Iya, aku sudah tahu kalau itu, Hun. Kamu sudah setahun bekerja di sana, kan?” Sudah pasti Ivan tahu apa pekerjaan Bella. “Trus, Kapan kamu kenal sama Pak Wira, dia itu teman kamu dari mana? Atau sejak kapan kalian bekerja sama? Pak Wira itu orangnya baik banget loh sama aku. Waktu baru kerja saja dia sabar banget ngadepin kesalahan aku.” “Kok jadi ngomongin si Wira sih!” Ucap Ivan meskipun tidak ketus namun kentara sekali sedang kesal. Wajah Ivan cemberut karena Bella membicarakan laki-laki lain, bukan menanyakan tentang dirinya. “Lah, katanya ngobrolin kerjaan. Pak Wira kan bos aku. Yah, wajar dong kalau aku ngomongin dia, kebetulan kamu juga kenal. Aku nanya seperti tadi memang salah?” Aneh deh!” ‘Maksudku kamu yang nanyain tentang aku gitu, kenapa jadi bahas laki-laki lain. Sabar, Van. Sabar..’ Menggerutu dalam hatinya. Merasa tidak enak hati, dan mencium adanya aroma kecemburuan, akhirnya Bella bicara tentang tunangannya Pak Wira, Klarisa. “Kamu tahu enggak, kalo Pak Wira dan Ibu Klarisa jadi dekat karena aku.” “Oh ya? Kok bisa.” Akhirnya Bella menceritakan bagaimana ia mengenal Klarisa di belakang media, yang merubah pemikiran Wira tentang Klarisa dan bagaimana Wira merasa cemburu dengan sepupu Klarisa yang datang menyapanya dengan memeluk mesra Klarisa dalam sebuah acara pesta pernikahan. Ivan tertawa mendengar cerita Bella, informasi baru sekaligus menjawab alasan di balik Wira memutuskan menerima pertunangannya dengan Klarisa. “Ini aku baru tahu. Ternyata si es batu bisa jatuh cinta juga. Ku pikir hatinya terbuat dari es batu pegunungan gletser sampai sulit dicairkan wanita manapun.” “Terus, kamu sendiri apa bedanya sama Pak Wira?” Bella menimpali ucapan Ivan. Sedangkan Ivan mengernyitkan dahinya tidak mengerti maksud Bella barusan. “Beda apanya?” “Kata Mami, kamu suka aku dari dulu, terus waktu aku sudah nikah, kenapa kamu enggak buka hati kamu buat wanita lain? Artinya hati kamu juga terbuat dari es batu, dong.” Ivan memilih tidak menanggapi Bella lalu meneruskan sarapannya dalam diam. Mereka menghabiskan sarapan dalam keheningan. Bella merasa bersalah setelah melihat Ivan kembali datar tanpa ekspresi setelah omongan terakhirnya. ‘Apa dia marah? Cuma jawab aja memang susah? Jadi cowok kok ngambekkan.’ Bella lebih dahulu menyelesaikan sarapan mereka, kemudian berlalu ke kamar tidur, menyandarkan tubuhnya dengan posisi duduk, kemudian mengambil remote TV dan menyalakannya. Mencoba membuang waktu kebersamaannya dengan Ivan di hotel mewah demi menghargai mertuanya saja. Setelah itu, Bella mengambil ponselnya untuk memeriksa pesan yang masuk lalu melihat akun media sosialnya. Ia menatap profil Maria yang memang suka sekali update post di media sosialnya. Foto Maria dan teman lainnya tersenyum dengan menyodorkan gelas minuman mereka berbarengan. Tertulis di caption foto tersebut, ‘Miss you @Bella_S’ Kemudian beberapa teman mengisi komentar di foto tersebut menjadikan namanya menjadi trending topik foto tersebut.. Tika: Bella menghilang tanpa jejak. Di mana kamu Bella? Maria: Ke mana Bella ku sayang? Lusi: Bella di culik yah? Riko: Bella nginep sama Riko. Jordan: @Riko, Jangan nyebar gosip miring. Jordan: @Lusi, Kamu mau di culik juga? Bella tertawa dengan komentar aneh teman-temannya, kecuali komentar Riko, ia merasa jijik, apalagi mengingat kejadian terakhir. “Kamu suka ke klub itu?” Bella mengedikkan bahunya terkejut tidak menyadari Ivan sedang duduk disampingnya sambil melihat isi media sosialnya. “Egh. Kamu ngagetin aja.” “Kamu sama Riko itu sudah sampai mana hubungannya?” “Memang kenapa aku sama Riko?” “Tulisannya seakan kamu sudah pernah menjalin hubungan sama dia. Apalagi dia sampai berani bertindak kayak kemarin, ada kemungkinan kamu pernah kasih harapan ngak ke dia.” Terlihat aura kecemburuan seorang Ivan di mata Bella. Tidak mau memperpanjang masalah ataupun membuat keributan, Bella berusaha menjelaskannya ke Ivan. “Riko itu teman satu departemen dengan Jordan di bagian accounting. Dia memang mencoba dekat sama aku. Tapi aku enggak nyaman sama dia, terlalu blak-blakkan gitu. Aku enggak suka.” Ivan memandang serius menatap Bella membutuhkan penjelasan lebih lagi. Dirinya tidak berkomentar namun tatapannya sangat jelas dimengerti Bella. “Aku enggak ada perasaan apapun sama dia. Dan setauku, kayaknya sikap aku ngak pernah kasih jalan buat dia bisa deketin aku kok. Lagian sekarang aku sudah menikah sama kamu, walaupun aku belum melakukan kewajibanku sama kamu sebagai istri, tapi aku menghormati makna pernikahan. Kamu enggak usah merasa khawatir soal Riko.” Ivan mengalihkan pandangannya kemudian mengambil remote TV dan merubah-rubah chanel tidak jelas apa yang mau di tontonnya. Merasa kesal di acuhkan Ivan karena sesuatu yang bukan kesalahannya, Bella ikutan kesal. Ia mendengus, kemudian turun dari ranjang, ingin melangkah ke ruang tamu saja. Entah mengapa ada rasa amarah dalam hatinya melihat sikap Ivan, matanya sudah berkaca-kaca saat melangkah. Melihat Bella turun dan melangkah keluar, Ivan sadar saat melihat raut serius di wajah Bella. Ia bergegas turun dari ranjang, melangkah mengejar Bella, kemudian menarik lengannya. “Hey. Kamu kenapa?” Bella menunduk tidak berani melihat Ivan, ia malu karena air matanya mengalir sedangkan wajahnya terlihat sekali tengah menahan kekesalan. Ivan menyadari tangisan Bella dalam diamnya. Dipeluknya Bella, kepalanya bersandar di bahu Bella. “Maafin aku, Hun. Maafin aku.” Bella masih terdiam menahan sesak, tenggorokannya bagai tercekit tidak mampu bersuara. “Aku akan bersikap cemburu setiap kali kamu membahas laki-laki lain, mau Wira ataupun Riko. Aku ingin kamu menatapku saja. Aku menunggumu begitu lama, dan sekarang kamu menjadi istriku, apa aku salah dengan perasaan seperti ini?” Ivan melepaskan pelukannya, kemudian mengangkat dagu Bella dengan jarinya, menghapus air mata Bella, lalu mengecup kedua matanya. “Maafin aku karena sudah buat kamu menangis, biasanya aku mampu menahan rasa marah jika berhadapan dengan klien kerja, tapi sama kamu, aku enggak mampu menutupi rasa takutku. Aku takut kamu pergi lagi dariku, Hun.” Air mata Bella mengalir kembali, kali ini bukan karena marah, tapi rasa haru. Ia dapat merasakan besarnya cinta Ivan kepada dirinya yang begitu tulus. “Kamu masih marah sama aku? Please, Hun. Jangan diam.” Tanya Ivan semakin khawatir. Bella menggelengkan kepalanya, isakan tangisnya mulai terdengar. “Tadi kamu juga diemin aku. Enggak enak kan dicuekkin begitu.” Bella menjawab sembari menangis sesegukan bagai anak kecil. Ivan memeluknya lagi sambil mengelus punggung, tangan lainnya membelai rambutnya. “Iya. Iya. Aku janji enggak akan diam kalau kesal, belajar untuk ungkapin apa yang aku pikirkan. Jangan nangis yah. Aku lupa kalau kamu secengeng ini dari kecil.” Bella menjawab dengan anggukan dalam pelukan Ivan kemudian menyubit perut Ivan karena mengatainya cengeng..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD