Lavinia duduk di ruang tamu yang luas namun sunyi, satu kakinya terlipat di atas sofa beludru krem. Tubuhnya dibalut kemeja linen putih longgar dan celana panjang satin yang mengalir lembut. Rambutnya diikat sembarang, menyisakan beberapa helai jatuh di pelipis. Di tangannya ada cangkir teh yang sudah tak lagi hangat. Ia tahu Seth ada di belakangnya sebelum suara langkahnya terdengar. Karena Seth selalu datang dengan diam. “Kau menemukan sesuatu,” ujar Lavinia sebelum Seth sempat bicara. Seth berdiri tegak di balik sofa, tangannya menggenggam sesuatu di balik jas hitamnya. “Ya, Nona.” Suaranya datar, tapi ada sesuatu yang berubah di dalam nadanya. Nyaris seperti ragu. Dan Seth jarang ragu. Lavinia menoleh setengah, matanya memerintah. “Bicara.” Seth menghela napas. Pelan. Ia berjal

