Bab 24

1165 Words

Langit siang mulai memudar, menjadi biru pucat dengan gurat keemasan yang menyentuh pucuk-pucuk pohon kamboja. Semilir angin membawa aroma melati dan bau tanah basah dari kolam koi yang gemericik di ujung taman. Lavinia melangkah pelan di antara jalur kerikil yang sudah lama tidak ia injak. Gaun kremnya mengekor pelan di balik langkah, sepatu hak rendahnya beradu lembut dengan kerikil putih. Di belakang, suara pintu kaca geser tertutup, sebuah tanda bahwa selir-selir sudah bubar dan taman itu kini milik mereka berdua. Tuan Adine menyusul, tangannya menggenggam cerutu yang tak dinyalakan. Kumisnya tetap rapi, dan meski usia mulai merenggut warna rambutnya, tubuhnya masih berdiri kokoh, seperti arsitektur rumah ini, besar, tua, tak goyah. Lavinia berhenti di bawah pohon ketapang tua. Temp

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD