Langit sore mulai memudar, menyisakan semburat jingga yang tumpah di dinding-dinding kamar tua itu. Tirai berkibar pelan, membawa aroma mawar kering dan semilir udara yang terasa seperti kenangan. Lavinia terlelap di atas ranjang. Tubuhnya menyamping, wajahnya damai untuk kali ini. Rambut panjangnya terurai, menjuntai di atas bantal seperti helaian sutra gelap yang menyimpan rahasia terlalu banyak malam ini. Ia masih mengenakan gaun linen tipisnya tanpa perhiasan, tanpa sepatu. Hanya Lavinia. Sebening dan serapuh itu. Seth berdiri di sisi tempat tidur. Tangan kirinya menggendong Muezza yang sudah tertidur dalam balutan kain hangat, dan tangan kanannya menggenggam ujung selimut, hendak menariknya sedikit lebih tinggi ke pundak Lavinia. Tapi ia tak langsung melakukannya. Ia hanya berdiri

