Lampu-lampu kota Jakarta berkedip dari balik dinding kaca yang terbuka sebagian. Tirai berdesir lembut, membawa aroma kayu manis dari lilin aromaterapi yang dibiarkan menyala di sudut meja. Lantai marmer putih terasa dingin, tapi Lavinia tidak memedulikannya. Ia berdiri membelakangi kamar, menatap lampu kota dari balik jendela, punggungnya terbuka sebagian karena gaun malam satin abu yang hanya dikaitkan tali tipis di bahu. Seth mengetuk pelan sebelum masuk. Tubuh tegapnya masuk diam-diam, tanpa suara yang mengganggu malam. "Nona," suaranya pelan namun mantap. Lavinia tidak menoleh. Ia hanya mengangkat sebelah tangan, menyisir rambut panjangnya ke sisi kanan, memperlihatkan lebih banyak kulit punggung yang terawat. "Zipper-nya," katanya pendek, tenang, hampir tanpa intonasi. “Naikka

