Bab 22

1330 Words

Pagi di penthouse itu masih sunyi. Angin dari balkon membawa aroma bunga segar yang dikirimkan tadi saat fajar, mungkin dari seseorang yang ingin menebus kesalahan semalam. Tapi Lavinia tak menoleh. Ia hanya duduk di tepian ranjang, kakinya terjulur, masih polos tanpa alas. Satu tangannya menopang dagu, satu lagi memegang ujung gaun linen tipis yang baru saja dikenakan. Wajahnya datar. Namun matanya, mata itu menyimpan badai kecil yang tak bisa ia keluarkan. Seth datang membawakan sepasang heels hitam dengan tali tipis yang rumit. Ia menunduk, tanpa berkata apa pun, lalu berlutut di hadapan Lavinia. Tangannya hangat dan sabar, membelai pergelangan kakinya sebelum melilitkan tali sepatu ke betis Lavinia dengan penuh ketelitian. Gerakannya lembut, seperti ia sedang mengikat rahasia di kul

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD