Pintu penthouse terbuka otomatis. Aroma bergamot dari diffuser menyambut langkah mereka yang senyap. Gaun pastel Lavinia masih membingkai tubuhnya dengan sempurna, meski jam telah lewat tengah malam. Tatanan rambutnya nyaris tak berubah, hanya helai-helai tipis yang sedikit lepas dari sanggul longgar, memberi kesan malas tapi tetap elegan. Seth menutup pintu di belakang mereka. Tak sepatah kata pun keluar. Ia tak bertanya, tak menawar bantuan. Hanya menjaga jarak yang cukup untuk sigap, tapi tidak mengusik. Lavinia berjalan lambat, melepas heels-nya satu per satu dan membiarkannya tergeletak di tepi karpet marmer. Ia menoleh sebentar ke arah Seth. "Aku ingin teh chamomile. Panas. Tanpa gula," katanya tanpa menatap penuh. “Baik, Nona,” jawab Seth, lalu berjalan menuju dapur bar. Tapi

