A Day Spent Well

1258 Words
“You look so happy today,” Dirga tersenyum menatap Aurora di sebelahnya. “I am. Aku senang sekali bisa ketemu anak-anak lagi,” balas Aurora dengan senyum yang masih saja merekah. Mereka sedang duduk di kursi panjang yang ada di teras, memperhatikan anak-anak yang asik bermain di halaman. Tadi Dirga ikut bermain bola dengan mereka, tetapi tak lama setelahnya dia sudah merasa kelelahan. Sudah lama sekali sepertinya dia tak bermain bola. Dia terlalu sibuk tenggelam dalam pekerjaan, semata-mata untuk bisa mengalihkan pikirannya dari Aurora, yang nyatanya tetap tak bisa beralih juga. “Kapanpun kamu mau ke sini, bilang aja. Nanti akan kutemani.” “Kata Ibu, kamu setiap bulan ke sini?” “Iya. Kadang sendiri, kadang sama Gina. Kalau cemburuannya Edo lagi kumat, ya bertiga,” Dirga tertawa mengingat kelakukan sahabat laki-lakinya itu. Meskipun sudah mengenal cukup lama, Edo masih kerap merasa cemburu jika Gina menghabiskan waktu berdua dengan Dirga. Padahal jelas-jelas dia tahu kalau Dirga tak memiliki perasaan pada Gina, dan tentu saja tak akan menikungnya. “Kenapa aku nggak pernah diajak?” protes Aurora. Dirga mengedikkan bahu. “Kamu sendiri yang minta supaya kita nggak bertemu dulu sampai urusan kamu dan Reyhan selesai.” “Aku lupa. Sorry,” Aurora mendesah pelan. Bisa-bisanya dia lupa, padahal dia sendiri yang mengatakan itu. “Nggak masalah. Yang penting sekarang sudah bisa bertemu lagi,” Dirga mengacak rambut Aurora dan mendapat tatapan tajam dari perempuan itu. Dia hanya tertawa kecil, karena bukannya takut, tapi Aurora justru terlihat semakin menggemaskan di matanya dengan tatapan tajam seperti itu. “Jadi ke pantai?” “Jam berapa sekarang?” “Jam setengah empat.” “Kalau langsung pulang, mau nggak? Aku capek.” “Sure. Kita bisa ke pantai lain waktu. Mau pulang sekarang?” “Mau.” “Kita pamit dulu sama anak-anak,” Dirga kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Aurora berdiri. Orang-orang yang tidak mengenal mereka akan mengira bahwa mereka adalah sepasang suami istri dengan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Mereka menghampiri anak-anak dan pamit untuk pulang, namun yang mereka dapatkan adalah seruan kecewa dari mereka. “Kenapa nggak menginap aja, Mas? Mbak Rara kan udah lama nggak ke sini, kita masih kangen,” protes Anggun, salah satu remaja yang saat ini duduk di kelas delapan SMP. “Kapan-kapan kita bisa ke sini lagi. Besok Mas bawakan buku-buku baru, deh. Kalian mau buku apa?” itu adalah semacam sogokan agar bocah-bocah itu mengijinkan dirinya dan Aurora pulang. Dirga cukup bersyukur karena anak-anak itu begitu mencintai buku. Dia tidak keberatan untuk menghabiskan sekian juta demi melihat antusiasme mereka ketika menerima buku baru pemberiannya. “Aku mau novelnya Tere Liye yang baru, Mas. Yang judulnya Selena, sama Nebula juga,” lagi-lagi Anggun yang lebih dulu menyahut. Anak-anak lainnya kemudian ikut menyahut antusias yang ditanggapi dengan sebuah janji bahwa Dirga akan membawakan buku-buku yang mereka minta saat berkunjung lagi. “Mbak Rara, dedek bayinya kapan lahir? Nanti kalau sudah lahir, tinggal di sini juga sama aku dan teman-teman?” itu adalah suara cadel dan wajah polos khas balita berumur tiga tahun yang bernama Nanda. Bocah itu merupakan salah satu anak yang lahir di pusat rehabilitasi Rumah Cinta. Setelah melahirkan, ibunya memilih untuk meninggalkannya di panti asuhan tersebut. Tinggal di Rumah Cinta sejak lahir, barangkali menumbuhkan pemahaman padanya bahwa setiap bayi yang lahir pasti akan tinggal di Rumah Cinta setelahnya. Seperti dirinya dan anak-anak lain. Aurora mengusap puncak kepala Nanda dengan penuh kasih sayang. “Mbak Rara belum tahu kapan adiknya lahir. Nanti kalau sudah lahir, pasti Mbak akan sering-sering bawa dia ke sini, biar bisa main bareng Mas Nanda dan teman-teman yang lain.” Binar bahagia terlihat di mata bening Nanda kala Aurora menyebutnya dengan ‘Mas Nanda’. Masih dengan suara cadelnya, bocah itu kembali bertanya, “Nanti Mas Nanda boleh gendong juga?” Mendengar bagaimana bocah itu menyebut dirinya dengan sebutan ‘Mas’ seperti yang dilakukannya tadi, Aurora tak bisa menahan tawanya. “Boleh, dong,” jawabnya setelah tawanya reda. “Nanda mau dibawakan buku apa kalau Mas Dirga sama Mbak Rara ke sini lagi?” Dirga sudah berlutut di hadapan bocah itu. Hanya Nanda yang belum menyebutkan keinginannya. Sebenarnya pun Dirga tak mengingat semua judul buku yang sudah disebutkan oleh anak-anak, tapi nanti dia bisa meminta Rindu untuk mendatanya dan mengirimkan padanya. “Aku mau buku mewarnai aja. Kan aku belum bisa baca. Sama pensil warnanya sekalian, boleh nggak, Mas?” “Boleh dong,” Dirga tertawa mendengar nada antusias Nanda. Dia mengusap puncak kepala bocah itu kemudian berdiri. “Yuk, pamit sama Ibu,” ujarnya pada Aurora yang dibalas dengan anggukan. “Nggak mau nginep aja?” Bu Ratna melepas Aurora dan Dirga dengan berat hati. “Dirga kerja, Bu,” jawab Aurora. Sementara yang disebut namanya sedang asyik berbincang dengan Pak Sandi. “Ya sudah, hati-hati di jalan. Kesehatannya dijaga, makan yang banyak dan bergizi. Istirahat yang cukup,” pesan Bu Ratna. Apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu membuat d**a Aurora diliputi rasa hangat. “Yuk,” Dirga menghampiri mereka dan menyalami Bu Ratna. “Ibu titip Rara ya, Ga,” ucap perempuan paruh baya itu sambil menepuk bahu Dirga. “Iya. Ibu tenang aja.” Dirga mengerti bagaimana kekhawatiran Bu Ratna terhadap Aurora. Selama ini, diantara dirinya, Aurora, dan Gina, Aurora adalah yang paling sering menghadapi kesulitan. Bu Ratna begitu shock mendengar Dirga menyampaikan kabar bahwa Aurora akan bercerai dari suaminya, padahal usia pernikahan mereka kala itu belum dua bulan. “Mau mampir ke suatu tempat?” tanya Dirga ketika mobil yang dikemudikannya sudah masuk ke Jalan Wates untuk kembali ke Jogja. “Nope. Langsung pulang aja.” Waktu setengah hari yang dihabiskan bersama anak-anak panti benar-benar menguras tenaganya. Dan hal yang paling ingin dilakukan oleh Aurora saat ini adalah mandi dan merebahkan diri di kasur ditemani lilin aromaterapi kesukaannya, sambil membacakan buku dongeng dan mengajak bayinya bercengkrama. Setelah itu dia akan delivery beef teriyaki dan sushi dan rumah makan Jepang langganannya untuk makan malam. Baru membayangkannya saja sudah membuat perempuan itu senyum-senyum sendiri. Terlepas dari rasa lelahnya karena meladeni anak-anak yang tak mau jauh darinya, Aurora benar-benar merasa senang hari ini. Dia bersyukur selama di Rumah Cinta tadi, tak ada yang bertanya soal kehidupan pernikahannya. Sebab tanpa sepengetahuan perempuan itu, Dirga sudah berpesan pada Bu Ratna untuk mengingatkan para pengurus panti untuk tidak membahas apapun soal kehidupan Aurora saat ini selama mereka berada di Rumah Cinta. Dan syukurnya, mereka semua cukup bisa diandalkan untuk bekerja sama, kecuali Rindu yang memang tak tahu apa-apa. Tak masalah. Toh yang terpenting Dirga sudah berbicara pada gadis itu. Hampir dua jam kemudian akhirnya mereka sampai di depan kontrakan Aurora dan Gina. Seharusnya mereka bisa sampai lebih cepat, namun weekend selalu membuat jalanan lebih padat dari biasanya hingga beberapa kali mereka harus terjebak macet. “Makasih untuk hari ini,” Aurora melepas seatbelt yang melilit tubuhnya, lalu menatap Dirga yang baru saja mematikan mesin mobilnya. Lelaki itu keluar lebih dulu dan membantu Aurora keluar. Meskipun sudah beberapa kali melakukannya, namun Aurora masih merasa canggung dengan perlakuan manis lelaki itu. “Sama-sama,” balas Dirga setelah mereka sudah berada di luar mobil. “Mau kutemenin dulu sampai Gina pulang?” Aurora baru akan membuka mulutnya untuk menolak tawaran Dirga, namun sebuah suara yang masih sangat familiar di telinganya lebih dulu menjawab. “Biar aku yang menemani Rara. Kamu bisa langsung pulang,” Reyhan berjalan mendekati mereka dengan kedua tangan di dalam saku celana. Aurora menghela napas berat melihat sang mantan suaminya itu. Keinginannya untuk istirahat dan menikmati sisa hari dengan tenang sudah pasti tak akan terlaksana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD