Aurora dan Dirga hanya saling melempar tatapan, tanpa tahu harus menjawab apa. Sedangkan wanita paruh baya yang tadi menyambut mereka hanya tersenyum salah tingkah.
Wanita paruh baya itu adalah Ratna, perempuan yang kerap dipanggil ibu oleh anak-anak panti. Sedangkan Rindu adalah anak kandungnya, yang saat ini sedang menempuh pendidikan magisternya di Jakarta. Gadis itu jarang pulang, sehingga wajar jika dia tidak mengetahui soal Aurora yang sudah menikah tapi bukan dengan Dirga. Sedangkan yang selama ini diketahuinya, Dirga dan Aurora begitu dekat.
Untuk memecah suasana canggung tersebut, Bu Ratna kemudian meminta Rindu untuk membantu Dirga membawa kantong plastik yang berisi berbagai macam makanan untuk dibagikan kepada anak-anak yang kebetulan sedang berkumpul di aula yang terletak di lantai dua. Tadi Rindu sedang menemani mereka bermain, juga membantu anak-anak remaja yang duduk di bangku SMP dan SMA mengerjakan tugas sekolah. Melihat begitu banyak ‘oleh-oleh' yang dibawa oleh kedua kakaknya, Rindu sudah membayangkan keriuhan seperti apa yang sebentar lagi akan terjadi di aula panti.
“Maaf ya, Ra. Ibu lupa memberitahu Rindu soal pernikahan kamu,” ucap Bu Ratna sungkan.
“Nggak apa-apa, Bu. Nanti biar Rara sendiri yang bilang ke Rindu,” Aurora mengusap lengan Bu Ratna pelan.
Mereka kemudian menyusul naik ke lantai dua dan tentu saja kehadiran Aurora mendapat sambutan antusias dari anak-anak. Mereka yang semula asik dengan makanan di tangan mereka langsung menghambur memeluk Aurora. Sudah berbulan-bulan mereka tak bertemu dengan kakaknya itu. Dan kedatangannya hari ini adalah hal yang selalu mereka nantikan.
Dengan sabar Aurora membalas segala celotehan anak-anak itu.
Sementara Aurora sibuk bercengkrama dengan anak-anak, Dirga dan Rindu memilih duduk di sudut lain aula untuk memberi waktu pada anak-anak manis itu menuntaskan rindu pada sang kakak. Sedangkan Bu Ratna memilih turun.
“Kok aku nggak diundang sih waktu kalian menikah? Bunda bahkan nggak memberitahu sama sekali,” Rindu membuka suara setelah beberapa saat hanya ikut mengamati interaksi Aurora dengan anak-anak panti.
“Kami nggak menikah, Ndu,” balas Dirga tanpa mengalihkan perhatiannya dari Aurora.
“Hah? Maksudnya gimana, Mas?” mulut Rindu menganga, tidak percaya sekaligus tidak paham dengan ucapan Dirga barusan.
“Ya nggak menikah. Aku dan dia bukan suami istri.”
“Ish, aku nggak ngerti, Mas Dirga. Coba deh jelasin ke aku seluruhnya, jangan setengah-setengah,” Rindu berdecak kesal.
Dirga tertawa pelan dan akhirnya mengalihkan perhatiannya dari Aurora, menatap gadis di sebelahnya yang sudah dia anggap sebagai adik kandungnya. “Aku bukan suaminya Rara. Dia menikah dengan orang lain beberapa bulan lalu. Tapi mereka sudah resmi bercerai beberapa waktu lalu,” jelas lelaki itu.
Mulut Rindu semakin menganga dan matanya membulat. “Kok bisa?”
“Suaminya selingkuh.”
Helaan napas berat keluar dari mulut Rindu yang menatap Aurora dengan prihatin. Padahal perempuan yang ditatapnya itu justru sedang tertawa bahagia mendengar celotehan riang anak-anak.
“Ndu.”
“Ya?”
“Rara nggak akan suka dilihat seperti itu. Trust me,” Dirga menatap Rindu lekat. “Hidupnya memang nggak pernah mudah, tapi dia nggak pernah suka dikasih tatapan prihatin seperti itu.”
Rindu menunduk dalam. Ucapan Dirga menohok hatinya.
Hidupnya memang lebih beruntung dari semua anak-anak yang ada di Rumah Cinta, termasuk Dirga dan Aurora. Tapi bukan berarti mereka layak untuk dikasihani, seperti yang dilakukannya barusan. Mereka hanya perlu diberi support agar bisa terus berdiri dan mengandalkan diri sendiri seberat apapun hidup menempa mereka.
“Maaf,” ujar Rindu kemudian dengan suara lirih.
“It’s okay, Ndu. Yang penting tetap bersikap biasa saja dan lihat dia selayaknya kamu melihat orang lain yang hidupnya seberuntung kamu.”
Rindu kembali menegakkan kepalanya dan mengangguk kuat.
Saat jam makan siang tiba, mereka semua turun ke lantai satu dan menuju ruang makan. Tadinya, Bu Ratna berniat mengajak Aurora dan Dirga untuk makan siang di rumahnya yang terletak persis di belakang bangunan panti. Tapi melihat anak-anak balita yang terus menempel pada Aurora, membuat wanita paruh baya itu harus mengurungkan niatnya dan membiarkan Aurora makan siang bersama anak-anak tersebut.
“Nanti suruh dia istirahat di rumah, Ga,” pesan Bu Ratna pada Dirga yang dijawab dengan anggukan oleh lelaki itu. Wanita paruh baya itu kemudian menepuk pundak Dirga dan meninggalkan mereka untuk pulang bersama Rindu.
Selesai makan siang biasanya menjadi jadwal tidur siang untuk anak-anak balita. Namun siang ini mereka menolaknya, malah meminta Aurora membacakan dongeng. Sudah enam bulan lebih Aurora tidak membacakan dongeng untuk mereka, dan mereka rindu mendengar suara perempuan itu membacakan cerita.
“Kamu nggak capek?” Dirga yang sejak tadi tak pernah jauh dari Aurora bertanya.
“Nggak. Aku senang, kok. Kamu kalau mau ke rumah ibu duluan aja. Nanti aku menyusul,” jawab Aurora tanpa mengalihkan tatapannya dari buku-buku yang tersusun di rak. Setelah menemukan buku dongeng yang dicari, dia segera menghampiri anak-anak yang sudah menunggunya di sudut aula dan mulai membacakan dongeng untuk bocah-bocah itu. Sedangkan Dirga memilih untuk duduk di sudut lainnya, agar tetap bisa berada di dekat Aurora.
Dia mengamati wajah cantik Aurora yang hari ini terlihat lebih hidup. Sejak menginjakkan kaki di Rumah Cinta, bibir perempuan itu tak henti merekahkan senyum.
“Rara tambah cantik ya?” seorang lelaki paruh baya duduk di sebelah Dirga, ikut memandang ke arah mata Dirga tertuju.
“Iya,” Dirga menjawab lirih disertai anggukan. Tatapan matanya tak lepas dari Aurora yang sedang membacakan dongeng dengan dikelilingi anak-anak panti yang terlihat antusias. Tapi beberapa detik kemudian dia terkesiap dan langsung meringis ketika menyadari siapa yang duduk di sebelahnya dan berbicara padanya.
Sandi, lelaki paruh baya berusia 52 tahun yang biasa dipanggil ayah oleh anak-anak panti asuhan. Lelaki itu tak lain merupakan suami dari Bu Ratna, dan ibunya lah yang mendirikan Rumah Cinta hingga sekarang beliau yang mengurusnya bersama sang istri.
Lelaki paruh baya itu menepuk bahu Dirga pelan. “Jadi gimana? Sudah maju berapa langkah?” tanya lelaki paruh baya itu lagi. Lelaki itu tentu tahu kalau anak muda di sebelahnya itu sedang mencoba memenangkan kembali hati Aurora. Sebab dia sendiri yang menyarankan hal itu pada Dirga.
Dirga tertawa pelan mendengar pertanyaan tersebut. “Baru selangkah, Yah. Belum dapat lampu hijau untuk lanjut ke langkah berikutnya.”
“Sabar, anak muda. Dia bahkan belum satu bulan resmi bercerai dengan mantan suaminya. Jalanmu masih sangat panjang, Nak. Lagipula dia masih dalam masa iddah.”
“Iya, Yah.”
“Kamu mau berjanji satu hal pada Ayah?”
“Janji apa, Yah?”
“Tolong jangan pernah tinggalkan Aurora. Berjanjilah untuk selalu ada di sisinya. Ayah mengatakan ini sebagai seorang ayah yang ingin selalu menjaga putrinya, Dirga. Dan Ayah menyerahkan tanggung jawab itu padamu. Karena Ayah tahu kamu nggak akan memperlakukan Aurora dengan buruk, seperti yang sudah dilakukan oleh mantan suaminya. Bisa kamu lakukan itu untuk Ayah?”
Dirga tersenyum simpul lalu menatap lelaki paruh baya di sebelahnya itu. Dia bahkan sudah mengucapkan janji itu pada Aurora beberapa waktu lalu. Meskipun begitu, tak urung kepalanya mengangguk yakin. “Aku janji, Yah.”