Rumah Cinta

1225 Words
Weekend ini Dirga membawa Aurora ke Rumah Cinta, panti asuhan tempat mereka tumbuh besar dan menghabiskan waktu bersama. Tadinya Gina juga ingin ikut, namun mendadak Edo menjemputnya dan ‘menculik’ gadis itu untuk dibawa ke rumah orang tuanya. Barangkali untuk membicarakan soal lamaran. Maka jadilah hanya Dirga dan Aurora pergi berdua saja. Sebelum berangkat tadi, mereka sempat mampir ke Superindo dulu untuk membeli beberapa macam jajanan untuk anak-anak panti, sekaligus membeli cemilan untuk menemani perjalanan mereka yang akan memakan waktu sekitar satu jam. Wajah keduanya begitu berseri-seri untuk alasan yang berbeda. Dirga yang senang karena bisa kembali menghabiskan waktu berdua bersama Aurora, dan Aurora yang senang karena bisa ‘pulang ke rumah masa kecilnya' kembali setelah sekian bulan sibuk mengurus perceraiannya dengan Reyhan. Terakhir kali dia mengunjungi panti asuhan tersebut adalah satu minggu sebelum pernikahannya, untuk meminta doa restu pada Ibu Ratna dan Ayah Sandi. Dua orang yang begitu dia hormati dan sudah menjadi orang tuanya selama ini. Dirga mengetukkan jari-jarinya di atas kemudi saat mobil yang dikendarainya berhenti karena lampu merah. Jari-jarinya itu mengetuk konstan mengikuti alunan musik yang mengalun dari music player mobilnya. Dia bahkan ikut bernyanyi sambil sesekali melirik ke arah perempuan yang duduk di sebelahnya. Perempuan di sebelahnya itu, yang hari ini mengenakan dress berwarna nude, tersenyum malu-malu ketika tatapan mereka tak sengaja bertemu. Pipi putihnya yang semakin berisi bersemu merah, wajahnya pun menghangat. Perutnya serasa tergelitik, seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di dalamnya. “Kamu mendingan nggak usah ikutan nyanyi, deh. Suara kamu bikin aku ngantuk,” komentar Aurora ketika Dirga masih melanjutkan ‘nyanyiannya’. Bercanda, tentu saja. Mana mungkin suara lelaki itu membuatnya mengantuk. Justru sebaliknya, suara Dirga adalah salah satu suara yang ingin selalu dia dengar, apalagi saat lelaki itu menyanyi. “Yaudah tidur aja dulu, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai,” di luar dugaan, Dirga menanggapi ucapan Aurora dengan serius. “Aku bercanda, loh,” ujar Aurora sambil menatap lelaki di sebelahnya itu. “Aku tahu,” Dirga membalas tatapan Aurora sembari tersenyum geli. Dia tahu kalau perempuan itu khawatir telah membuatnya tersinggung. “Tapi kayaknya kamu memang ngantuk dari sebelum aku ikut nyanyi. Iya kan?” beberapa kali dia tak sengaja melihat Aurora menguap, pun mata perempuan itu tampak sayu. Aurora tersenyum tipis lalu mengangguk. Dia memang sulit tidur tadi malam. Bayinya terlalu aktif sampai membuatnya terbangun beberapa kali karena merasakan tendangan yang keras dari bayinya. Selain itu pinggangnya juga terasa sangat pegal. Begitu pula dengan kakinya. Dan sayangnya, tak ada yang bisa diminta pertolongannya untuk mengusap pinggangnya dan memijat kakinya yang terasa pegal. “Kenapa? Sudah tidur, ya?” tanya Dirga. “Begitulah,” jawab Aurora seadanya. Mana mungkin dia memaparkan keadaannya. Dia tak ingin membuat lelaki di sebelahnya itu merasa kasihan. Cukup Gina saja yang setiap hari menatapnya prihatin karena harus melewati masa-masa kehamilan tanpa kehadiran suami di sisinya. “Kamu boleh telpon aku kalau lagi nggak bisa tidur.” “Ngapain?” Dirga mengedik. “Mendengar aku menyanyi, mungkin. Tadi kamu bilang suaraku bikin kamu ngantuk. Jadi siapa tahu itu bisa membantu kamu supaya bisa tidur,” balas Dirga. Aurora melotot dan dengan keras dia memukul lengan Dirga. “Kamu nyindir aku? Aku kan sudah bilang, tadi aku bercanda, Dirga. Kenapa dibahas lagi?”  Dirga tertawa hingga bahunya berguncang. Lalu dengan santainya dia berkata, “Aku juga bercanda, Ra. Maksudku sebenarnya cuma ingin bilang kalau ak--” dia tak jadi melanjutkan sisa kalimatnya ketika melihat mata Aurora yang berkaca-kaca. Dia lupa kalau perempuan hamil hatinya lebih sensitif. Damn it! Dirga mengumpat dalam hati. Niat awalnya hanya ingin menghibur Aurora. Tapi ternyata apa yang diucapkannya tadi justru membuat perempuan itu mengira kalau dirinya sedang menyindir. “Hei, aku bercanda, Ra. Kalaupun yang tadi kamu katakan serius, aku nggak tersinggung sama sekali,” Dirga akhirnya menghentikan mobilnya demi bisa berbicara dengan tenang. Dia memiringkan tubuhnya dan menatap Aurora lekat. “Sorry, okay?” “Beneran? “Beneran.” “Kamu nggak marah tadi aku bilang suara kamu bikin ngantuk?” “Nggak.” “Okay.” “Jadi aku dimaafin?” Aurora mengulum senyum malu-malu. Tapi sebenarnya dia memang merasa malu. Dia yang lebih dulu memulai candaan tentang suara Dirga yang bisa membuatnya mengantuk, tapi dia juga yang kesal ketika lelaki itu mengingatnya.  “Okay,” Dirga tersenyum lebar lalu kembali menegakkan punggungnya dan kembali mengemudi. Mobilnya kembali melaju membelah jalan Wates yang mulai ramai karena hari semakin siang. Sisa perjalanan itu mereka lalui dengan damai. Dirga masih ikut bernyanyi ketika lagu yang menarik minatnya berputar di music player. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikannya itu memasuki sebuah pekarangan luas yang dipagari dengan tanaman bonsai hingga membuat pekarangan tersebut terlihat asri. Di pekarangan tersebut berdiri sebuah bangunan tingkat dua yang dicat dengan warna putih tulang yang mendominasi. Bangunan itulah yang merupakan rumah masa kecil mereka, Rumah Cinta. Panti asuhan itu sendiri sudah berdiri selama hampir 30 tahun. Awalnya hanya berupa bangunan sederhana yang dijadikan sebagai tempat rehabilitasi bagi para perempuan yang hamil di luar nikah, namun tak mendapat support dari keluarga. Para perempuan tersebut biasanya diusir dari rumah karena dianggap sudah membuat malu dan menjadi beban keluarga, sedangkan lelaki yang seharusnya bertanggung jawab justru lepas tangan. Mereka juga diberi pilihan setelah melahirkan, apakah akan merawat bayi mereka sendiri, atau menyerahkannya ke Rumah Cinta. Selain merawat bayi-bayi yang dilahirkan dari para perempuan yang hamil di luar nikah, Rumah Cinta juga merawat anak-anak yatim piatu di sekitar yang tidak lagi memiliki keluarga. Anak-anak yang ada di Rumah Cinta akan dirawat dan diberi akses pendidikan sampai mereka lulus Sekolah Menengah Atas. Setelah itu pihak yayasan akan membantu mereka yang sudah lulus untuk mendapatkan beasiswa, entah itu dari para donatur tetap, ataupun dari tempat lainnya. Intinya, Rumah Cinta selalu mengupayakan yang terbaik untuk kehidupan anak-anak yang mereka asuh. Nama Rumah Cinta sendiri digunakan agar orang-orang yang bernaung di dalamnya bisa merasakan cinta yang tulus dari orang-orang yang merawat mereka. Juga dari sesama mereka yang tinggal di sana. “Yuk,” Dirga berdiri di samping Aurora yang sedang mengamati suasana Rumah Cinta. Barangkali mencari perubahan yang mungkin terjadi selama dia tak mengunjungi tempat itu. Aurora mengangguk. Tangannya terulur untuk membantu Dirga membawa jajanan yang tadi mereka beli, namun lelaki itu melarangnya. Padahal Aurora yakin kalau lelaki itu cukup kerepotan membawa begitu banyak kantong plastik yang berisi berbagai jenis makanan. “Wah, ada Mas Dirga!” Mereka berdua baru mencapai  teras ketika seruan itu terdengar dari dalam, disusul dengan pintu ruang tamu yang terbuka. Wajah ramah seorang wanita paruh baya menyambut mereka dengan senyum mengembang. Wanita itu langsung memeluk Aurora erat. “Kamu sehat, Ra?” tanyanya setelah melepas pelukan. “Sehat, Bu. Maaf, ya, Rara udah lama nggak ke sini,” balas Aurora. Wanita paruh baya itu mengangguk paham. Dia tentu saja tahu apa yang dialami Aurora beberapa waktu terakhir, sebab Dirga yang selalu berkunjung setiap bulan sudah menceritakan semuanya. “Ayo masuk. Anak-anak pasti senang sekali ketemu kamu lagi. Oh ya, kebetulan Rindu juga baru pulang kemarin, katanya kangen banget sama kamu.” Tepat setelah itu, suara nyaring seorang gadis membuat Aurora menyunggingkan senyum lebih lebar. “Mbak Rara… ya ampun aku kangen banget!” gadis itu memeluk erat Aurora. Setelah puas memeluknya, gadis itu mengamati penampilan Aurora dari atas kepala hingga ujung kaki. Matanya kemudian bergantian menatap Aurora dan Dirga yang juga ikut menatapnya bingung. “Mbak Rara sama Mas Dirga kapan nikahnya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD