Jealousy

1102 Words
Dulu, Reyhan tak pernah merasa cemburu dengan kedekatan Aurora dan Dirga. Dia tak menaruh curiga sedikitpun meskipun mereka sangat sering menghabiskan waktu bersama, bahkan tanpa Gina. Dia percaya kalau kekasihnya itu tak akan menduakannya. Dan Dirga bukanlah laki-laki yang akan menusuknya dari belakang. Mereka sering makan berdua, nonton berdua, hangout berdua, dan melakukan hal-hal lainnya berdua. Reyhan tak pernah merasa cemburu, karena Aurora selalu mengatakan padanya semua hal yang dilakukannya bersama Dirga. Dan dia mempercayainya. Dulu, hubungan mereka tidak saling mengekang, mereka saling percaya satu sama lain dan sama-sama menjaga komitmen. Sampai akhirnya dia bertemu Riska, lalu menghancurkan kepercayaan Aurora. Sekarang, melihat Aurora menghabiskan waktu berdua dengan Dirga tanpa sepengetahuannya, membuat hatinya serasa dicubit oleh tangan tak kasat mata. “Ini siomay pesanan kamu. Maaf sudah mengganggu. Aku langsung pulang, ya,” Reyhan menyerahkan bungkusan plastik yang berisi styrofoam dengan siomay di dalamnya pada Aurora yang bahkan tak mempersilahkan dirinya masuk. Aurora menerima bungkusan tersebut lalu tersenyum canggung. “Makasih, Mas. Nggak mau mampir dulu?” basa-basi, tentu saja. Reyhan tersenyum kaku lalu menggeleng. “Nggak. Lain kali saja.” Aurora mengangguk paham. Dan pada kenyataannya dia memang tak mengharapkan Reyhan menerima tawarannya untuk mampir. Suasana pasti akan jauh dari kata nyaman jika mereka bertiga ada di ruangan yang sama. Jadi yang kemudian dikatakannya adalah, “Hati-hati di jalan,” ujarnya tak kalah canggung. Sudah lama dia tak mengucapkan hal semacam itu pada lelaki yang kini telah menjadi mantan suaminya. Reyhan hanya menanggapi ucapan tersebut dengan anggukan samar. Setelahnya dia meninggalkan rumah tersebut dengan perasaan cemburu yang membara di hatinya. Sepeninggal Reyhan, Dirga dan Aurora kembali menikmati drama Hi Bye Mama yang sudah memasuki episode dua. Akan tetapi, kali ini Aurora lebih banyak diam. “You okay?” Dirga menyentuh bahu Aurora lembut. Aurora menoleh lalu mengangguk. “I’m okay. Kamu mau siomay, nggak? Dia bawain aku dua porsi, tapi aku nggak akan sanggup menghabiskan sendiri. Bantuin, ya?” lalu tanpa menunggu jawaban Dirga, dia menyerahkan satu bungkusan styrofoam pada lelaki itu. Makanan yang tadi dibawanya bahkan belum habis. Sekarang dia justru harus menghabiskan seporsi siomay yang yang dibelikan oleh Reyhan. Dirga yakin, kalau dua porsi yang dibeli Reyhan itu sebenarnya untuk dia nikmati bersama Aurora. Sayangnya, justru ada dirinya yang sedang menemani Aurora ketika lelaki itu datang. Bukannya Dirga tak tahu kalau Reyhan masih berharap bisa rujuk kembali dengan sang mantan istri. Dia juga tahu kalau Reyhan begitu mencintai Aurora. Bodohnya, dia tak bisa menjaga komitmen dan kepercayaan perempuan itu. Salahnya sendiri, kan? Dan untuk kali ini Dirga tak akan membiarkan Aurora kembali jatuh dalam pelukan Reyhan. “Weekend nanti rencana mau ngapain?” tanya Dirga pada Aurora yang sedang menikmati siomay di pangkuannya. Dari cara perempuan itu menikmatinya, Dirga jadi tahu kalau ternyata makanan yang sedang ingin dimakan oleh Aurora adalah siomay itu. Ada rasa nyeri di hatinya ketika menyadari bahwa Aurora lebih menikmati siomay yang dibawakan Reyhan daripada burger dan kentang goreng yang dibawakannya. Tapi buru-buru Dirga menepis perasaan tersebut. Menurutnya, dia hanya sedang merasa cemburu. Dia jadi kesal sendiri karena tadi tidak bertanya lebih dulu pada Aurora ingin memakan apa. “Nggak tahu. Kenapa?” jawab Aurora dengan mulutnya yang penuh dan pipi yang menggembung. Terlihat lucu dan menggemaskan di mata Dirga. Rasanya dia ingin mencubit pipi tersebut, seperti yang dulu sering dilakukannya ketika merasa gemas pada perempuan di sebelahnya itu. Tapi dia sadar, kondisinya saat ini sudah berbeda dan dia takut suasana akan berubah menjadi canggung dan kaku jika dia melakukannya. Jadi sebelum hal itu terjadi, lebih baik dia menjaga tangannya agar tak menyentuh pipi tembem Aurora. “Mau ke pantai?” please mau, batin Dirga. “Pantai mana?” “Mana aja yang kamu mau.” “Aku juga nggak tahu ingin ke pantai mana. Tapi kalau kita ke pantai di Kulon Progo, mau nggak? Terserah mau ke pantai mana. Sekalian ke Rumah Cinta. Sudah lama nggak nengokin anak-anak. Aku kangen.” “Deal,” Dirga mengangguk setuju. Kemudian dia mulai menikmati siomaynya dengan enggan, yang sayangnya disadari oleh Aurora yang duduk di sebelahnya. “Kamu nggak suka siomaynya?” tanya perempuan itu. “Huh? Oh, suka kok,” tapi lebih suka kalau bukan Reyhan yang beli, ujarnya dalam hati. “Reyhan sering ke sini?” pertanyaan itu sudah mengganjal sejak tadi sebenarnya. Lalu akhirnya keluar karena tak tahan untuk memendamnya. “Nggak sih. Tadi ke sini cuma untuk mengantarkan ini,” Aurora mengangkat styrofoam di tangannya. “Sebenarnya dia ngajakin dinner di luar. Tapi aku nggak mau. Lalu dia tanya aku ingin makan apa, dan berjanji untuk membelikan ini.” “Terus karena aku di sini ketika dia datang, dia jadi mengira kamu menolak ajakannya karena aku?” Aurora mengedikkan bahunya. “Sort of.” “Apa kamu keberatan kalau aku sering ke sini?” pertanyaan ini juga sudah menggumpal di kerongkongannya sejak tadi. Sebab setelah kedatangan Reyhan, Aurora jadi lebih banyak diam. Pikiran negatifnya mengatakan bahwa sebenarnya perempuan itu menginginkan Reyhan untuk tinggal lebih lama, namun tak bisa karena ada dirinya. Ditanya seperti itu, Aurora mengerutkan dahinya. Dia bingung, tentu saja. Apa selama ini dia pernah mengatakan kalau dia keberatan dengan kehadiran lelaki itu yang beberapa hari ini lebih sering dari sebelumnya? “Aku nggak tahu alasan kamu ke sini karena keinginan kamu sendiri atau karena kamu nggak bisa menolak permintaan Gina untuk menemaniku. Apapun alasannya, aku nggak pernah keberatan setiap kali kamu ke sini,” jawab Aurora kemudian. Dirga tersenyum lega mendengar jawaban tersebut. “Jadi kamu tahu kalau Gina yang menyuruhku ke sini?” terkanya. “Hanya menerka, sebenarnya. Dia suka nggak tega ninggalin aku sendirian, tapi dia juga ingin menghabiskan waktu berdua dengan Edo. Alternatifnya adalah menjadikan kamu tumbal agar dia bisa tetap kencan, tapi juga nggak perlu mengkhawatirkanku. Karena ada kamu di sini. Iya, kan?” Aurora terkekeh pelan. “Yeah, you are right. Tapi aku senang kok menjadi tumbal kencannya Gina sama Edo,” Dirga menyeringai. Dia bahkan sempat berpesan pada kedua sahabatnya yang sedang kasmaran itu agar sering-sering saja kencan, supaya dia bisa sering menemani Aurora. Sementara itu di tempat lain, Reyhan masih belum berdamai dengan perasaannya. Tubuh yang lelah karena pekerjaan yang menggunung, perut yang berdenyut nyeri karena lapar, dan rasa kecewa karena tak bisa makan malam dengan Aurora, membuat rasa cemburunya menjelma menjadi amarah di dadanya. Padahal harapannya tadi dia bisa menikmati siomay favorit mereka berdua. Tak masalah meskipun hanya makan malam di rumah kontrakan minimalis tersebut. Yang penting bersama Aurora. Tapi kehadiran Dirga di rumah itu merusak rencananya. Dia berkali-kali memukul kemudi dengan keras hingga membuat tangannya memar, diikuti berbagai sumpah serapah yang keluar dari mulutnya. “Dirga sialan!” umpatnya untuk yang kesekian kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD