Interruption

1146 Words
Gina dan Edo saling memutuskan pandangan ketika mendengar suara pintu terbuka. Pandangan mereka beralih ke arah pintu dan mencari tahu siapa yang sudah berani mengusik pembicaraan yang maha penting untuk kelangsungan masa depan mereka. Aurora berdiri di ambang pintu, menatap Gina dan Edo bergantian dengan ekspresi yang tak dapat diartikan oleh keduanya. “Ngobrol di dalam, yuk,” ajaknya dengan suara tenang dan senyum tak lepas dari bibirnya. Dua orang di hadapannya itu hanya bergeming, tak menyangka kalau ternyata Aurora ada di dalam. Dan sialnya, perempuan yang tengah hamil itu sepertinya mendengar pembicaraan mereka. “Ra…” Gina menatap Aurora tak enak hati. Dia yakin sahabatnya itu pasti langsung merasa bersalah setelah mendengar pembicaraannya dengan Edo. Bodohnya mereka yang justru membicarakan hal sepenting itu di depan pintu. “It’s okay, Na. Kita bisa bicara di dalam sambil minum teh. Kamu pasti stress, kan? Biar kubuatkan teh chamomile supaya kamu lebih rileks,” tak merasa perlu mendengar tanggapan sahabatnya itu, Aurora masuk ke dalam dan langsung menuju dapur. Dia menyeduh teh chamomile untuk mereka berdua. Gina dan Edo muncul tepat ketika teh yang diseduh Aurora tersaji di atas meja. Dengan senyum hangat, Aurora mempersilahkan mereka berdua duduk dan menikmati teh chamomile buatannya. Lalu dia sendiri beranjak ke kamar untuk memadamkan lilin aromaterapi yang tadi dinyalakannya dan membawa gelas air hangatnya yang masih tersisa setengah, bergabung dengan Gina dan Edo di meja makan. Aurora sengaja menyeduh teh chamomile untuk mereka berdua. Menurut sumber yang dibacanya dari beberapa website—yang menurutnya terpercaya—teh tersebut dikatakan memiliki kandungan-kandungan tertentu yang dapat membantu menenangkan pikiran. Oleh sebab itulah Aurora membuatkannya untuk Gina dan Edo. Dia berharap dua orang itu bisa membicarakan perihal lamaran dengan kepala dingin. Dan untuk kali ini, dia harus terlibat di dalamnya. Karena ternyata dirinyalah yang menjadi penyebab utama atas keraguan Gina menerima lamaran sang kekasih. “Maaf karena aku sudah lancang mendengar pembicaraan kalian,” Aurora mulai berbicara, memutus keheningan yang membuat suasana di ruangan tersebut menjadi kaku. “Edo benar, Na. Aku bisa menjaga diri sendiri. Kamu nggak perlu khawatir,” dia menepuk punggung tangan Gina yang duduk di sebelahnya. “Tapi aku yang nggak bisa ninggalin kamu sendirian, Ra. Aku nggak akan bisa tenang kalau aku melakukannya," balas Gina pelan. Netranya menatap lekat mata bulat Aurora. “Memangnya kapan kamu ingin menikahi Gina?” tatapan Aurora beralih pada Edo. Lelaki itu mengedikkan bahunya. “Aku ingin secepatnya. Tapi kalau memang dia keberatan dan memintaku menunggu, aku nggak masalah. Setidaknya, sekarang aku hanya ingin menunjukkan kalau aku nggak main-main dengan hubungan kita,” jawabnya dengan tenang dengan tatapan yang mengunci pada wajah sang kekasih. “Kamu dengar itu, Na? Edo hanya ingin menunjukkan bahwa dia benar-benar serius dengan hubungan kalian. Dan dengan kamu menerima lamarannya, berarti kamu mempercayainya dan kamu juga yakin dengan dia. Well, rasanya nggak pantas bagiku untuk memberi petuah soal hubungan. Karena hubunganku dengan Reyhan pun nggak berhasil dan sangat nggak patut untuk dicontoh,” Aurora tersenyum miris setelah menyelesaikan kalimat tersebut. “But yeah, aku cuma ingin melihat kamu bahagia,” lanjutnya. “Aku bahagia kalau sahabat-sahabatku bahagia.” “Aku dan Dirga pun begitu. Kami bahagia kalau kamu bahagia. So, Regina Putri, please be happy.” Gina mengangguk kuat dengan air mata berjatuhan di pipinya. “I will,” ucapnya kemudian. “Jadi, lamaranku diterima?” Edo yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia kembali membuka suara. “Pakai tanya segala,” jawab Gina dan bersambut pelukan dari Edo setelahnya. Aurora tersenyum simpul melihatnya dan juga merasa lega. Karena merasa keberadaan dan juga pendapatnya sudah tak dibutuhkan lagi, dia memilih undur diri dan kembali ke kamarnya. Dia kembali menyalakan lilin aromaterapi yang tadi sudah dipadamkannya. Untungnya pembicaraan tersebut tak bertele-tele. Sementara itu di meja makan, Gina dan Edo masih saling berpelukan. Gina mendongak, menumpukan dagunya di d**a bidang sang kekasih, lalu dengan seringai jahil di wajahnya dia berbisik, “Kencan lagi, yuk.” Kerutan tipis muncul di dahi Edo. “Nanti Rara sendirian?” “Nope. Akan ada yang bersedia menemaninya dengan senang hati,” balas Gina disertai dengan kerlingan sebelah mata. Edo tersenyum lebar mendengarnya, sangat menyetujui ‘ide brilian’ sang kekasih, ralat, calon istrinya. “Okay, let's go,” katanya sambil menggamit tangan Gina dan membawa gadis itu keluar untuk kencan. *** Aurora baru saja melipat mukenanya setelah selesai melaksanakan sholat maghrib ketika terdengar suara ketukan dari pintu depan. Teringat dengan janji Reyhan yang akan membawakan siomay untuknya, dia bergegas menuju ruang tamu dan membuka pintu. Tapi alih-alih menemukan Reyhan di depan pintu kontrakannya, yang muncul di hadapannya justru Dirga dengan dua kantong plastik  di tangannya. Entah apa isinya. “Hei,” sapa lelaki itu dengan riang sambil mengacungkan kantong plastik yang dibawanya ke hadapan Aurora. “Kamu bawa apa?” kedua alis Aurora terangkat. “Banyak. Ada burger, kentang goreng, kebab, salad, jus. Bukan cuma yang lagi kasmaran yang akan bersenang-senang malam ini, tapi kita juga.” Aurora tertawa. Kemudian Dirga merangkul bahunya  dan membawa perempuan itu masuk ke dalam setelah sebelumnya menutup pintu. Mereka duduk di ruang tamu yang sekaligus merangkap sebagai ruang santai. Lelaki yang malam ini mengenakan hoodie berwarna hitam dipadukan dengan celana jeans dengan warna senada itu meletakkan plastik yang dibawanya di atas meja, kemudian duduk di atas sofa lalu meraih remote tv dan menyalakannya. “Kamu mau nonton apa?” dia membuka saluran Netflix dan menoleh pada Aurora yang duduk di sebelahnya. “Drakor. Judulnya Hi Bye Mama. Kamu sudah nonton?” “Belum,” Dirga menggeleng kemudian mencari judul yang disebutkan Aurora. Setelah menemukannya dan menekan tombol play, dia meletakkan kembali remote tersebut ke atas meja dan meraih kantong plastik yang tadi dibawanya. “Kamu mau apa?” tanyanya pada Aurora. “Burger aja deh,” sebenarnya Aurora sudah merasa lapar. Dan sejujurnya tadi dia sedikit kecewa ketika yang muncul di hadapannya bukanlah Reyhan dan siomay favoritnya. Tapi rasa kecewa itu segera lenyap saat mengetahui kalau Dirga membawa banyak makanan. Dia memang ngidam siomay, tapi tak masalah kalau burger dulu yang mengisi perutnya. Dirga mengeluarkan sebungkus burger untuk Aurora dan sebungkus kentang goreng untuknya. Mereka menikmati makanan masing-masing dalam diam, dengan pandangan tertuju pada layar tv di depan mereka. Sesekali tawa renyah Aurora terdengar memenuhi ruang karena salah satu adegan di drama tersebut. Dan Dirga akan tersenyum melihat binar bahagia di wajah perempuan yang selalu dicintainya itu. Sesekali mereka juga mengomentari hal-hal yang aneh dan tak masuk akal di drama tersebut. Yah, namanya juga drama. Saking asiknya menikmati drama Korea favoritnya juga kudapan-kudapan yang dibawa Dirga, Aurora sampai tak mendengar suara pintu diketuk berkali-kali. Raut terkejut tak dapat disembunyikan oleh perempuan itu saat pintu yang menghubungkan teras dan ruang tamu terbuka lebar, dan Reyhan berdiri di depannya dengan wajah kesal. Aurora bahkan lupa jika tadi dia menunggu kedatangan mantan suaminya itu, karena lelaki itu sudah berjanji akan membawakan siomay untuknya. “Jadi karena ini, kamu menolak ajakanku untuk dinner bareng?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD