Rahasia Gina

1104 Words
“Ga!” panggil Aurora sambil menepuk pelan punggung tangan Dirga karena lelaki itu hanya diam. “Why?” Perempuan di hadapannya itu sangat peka sekali perasaannya. Jadi tentu saja dia tahu kalau Dirga pun menyembunyikan sesuatu terkait keraguan Gina untuk menerima lamaran Edo. “Nothing. Gina mungkin hanya belum siap dengan lamaran itu. Lagipula, itu bukan urusan kita. Biar mereka berdua yang menyelesaikannya, kita sebagai sahabat yang baik hanya perlu mendukung apapun keputusan yang mereka buat. Get it?” jawaban itu yang akhirnya keluar dari mulut Dirga. Sebab menurutnya jawaban itulah yang paling aman untuk dikatakan kepada Aurora agar perempuan itu tak merasa bersalah karena menjadi penyebab utama atas keraguan Gina untuk menerima lamaran dari kekasihnya. “Okay,” dan pada akhirnya Aurora pun mengangguk meskipun belum puas dengan jawaban yang didengarnya dari Dirga. Dia yakin kalau lelaki itu pun mengetahui sesuatu, namun menyembunyikannya. Mereka masih bertahan di J.Co hingga satu jam kemudian. Membicarakan tentang berbagai hal atau hanya saling diam menikmati kudapan masing-masing, sampai akhirnya Aurora mengajak Dirga untuk pulang. “Thanks, Ga,” Aurora tersenyum menatap Dirga setelah melepas sabuk pengamannya. Dirga membalas senyum tersebut lalu membalas, “Anytime.” Aurora sudah membuka pintu di sebelahnya saat Dirga memanggilnya. “Ya?” “Soal tadi malam…” Dirga menghembuskan napas perlahan dan mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba menggila. “Soal tadi malam, keberatan nggak kalau kita lanjutkan pembahasannya? Aku butuh kepastian.” “Kalau aku nggak memberi kepastian, apa kamu nggak akan menemuiku lagi?” “No. Of course not. Aku sudah berjanji untuk selalu ada buat kamu apapun kondisinya. Ingat?” Dirga menggenggam tangan Aurora dan mengusapnya lembut sambil memberikan tatapan hangat pada Aurora yang justru menatapnya datar. “Aku ngantuk, Ga. Bisa kita bicarakan ini lain kali?” Aurora tidak berbohong. Dia memang mengantuk dan juga merasa lelah. Pun dia masih tidak tahu kepastian apa yang harus dia berikan pada Dirga. “Oke. Take your time, Ra. Selamat istirahat.” *** Wangi lavender dari lilin aromaterapi yang dihidupkan Aurora menguar memenuhi kamarnya. Setelah bangun dari tidur siangnya yang kesorean tadi, dia langsung mandi agar tubuhnya terasa segar. Kemudian dia menuangkan segelas air hangat dan membawanya ke kamar, lalu menghidupkan lilin aromaterapi tersebut. Gina belum pulang, jadi tak ada yang bisa diajaknya berbicara dan meresponnya, selain janin di perutnya yang hanya bisa merespon dengan tendangan-tendangan kecil di perut buncitnya. Maka dari itu Aurora memilih untuk bersantai sejenak sebelum nanti menyiapkan masakan untuk makan malam. Aurora mengambil buku tentang kehamilan, kemudian duduk di atas ranjang dan bersandar pada dinding. Sambil mengusap-usap pelan perutnya yang tertutupi daster, dia mulai membaca berbagai panduan untuk melewati masa-masa kehamilan pada buku yang dibelinya beberapa bulan lalu, tak lama setelah mengetahui bahwa dirinya hamil. Namun baru beberapa menit membaca, ponselnya di nakas berdering nyaring. Nama Reyhan terpampang di layar ponselnya sebagai penelpon. Dengan enggan, perempuan itu mengangkat panggilan tersebut. “Halo, Mas…” sapanya pada Reyhan di seberang sana. “Hei, Ra. Lagi apa?” suara riang Reyhan menyahut dari seberang sana. “Baca buku,” balas Aurora malas. Dia tak suka me time-nya terganggu. “Dinner bareng, mau nggak?” “Lain kali aja ya, Mas. Aku lagi nggak ingin keluar rumah,” jawab Aurora setelah menimbang-nimbang beberapa saat. Dia lelah. Dan lagi pula, dia sudah menghabiskan banyak waktu di luar bersama Dirga siang tadi. Malam ini dia ingin di rumah saja. Dari seberang sana terdengar helaan napas kecewa dari Reyhan. “Sorry,” ucap Aurora pelan. Dia sedikit merasa bersalah karena menolak ajakan makan malam dari mantan suaminya itu. “No probs. Kamu ingin sesuatu? Aku bisa mampir ke sana nanti. Sebentar lagi pekerjaanku selesai.” Aurora berpikir beberapa saat. Sebenarnya dia tidak menginginkan apapun, namun mendengar pertanyaan Reyhan, tiba-tiba saja dia teringat pada sebuah warung kaki lima di Kota Baru yang menjual siomay langganannya. “Aku mau siomay yang di dekat Togamas itu. Kamu tahu kan, Mas?” “Tahu, dong. Dulu kan kita sering ke situ,” Aurora mendengar suara Reyhan yang terkekeh pelan. Perempuan itu tak tahu kalau pikiran mantan suaminya itu kembali menerawang ke masa-masa pacaran mereka. Dulu mereka sering makan siomay di tempat yang disebutkan Aurora tadi. Saat pertama kali diajak ke tempat itu, Reyhan menolak keras. Dia tak terbiasa makan di tempat semacam itu, meskipun tempat tersebut cukup bersih untuk ukuran warung kaki lima. Tapi Aurora yang justru turun sendiri dan membiarkannya di mobil dan menyuruhnya pulang duluan, membuatnya menghela napas berat hingga akhirnya dia melepaskan seat belt yang melilit tubuhnya, lalu turun dan menyusul Aurora dengan wajah tertekuk. Dengan berat hati dia ikut memesan seporsi siomay goreng dengan kuah kacang dan segelas teh hangat. Tapi tanpa disangka olehnya, dia langsung menyukai siomay tersebut. Bahkan setelahnya, justru dia yang sering membawa Aurora ke tempat tersebut hingga mas-mas yang menjaga warung tersebut hafal dengan mereka. “Okay. Nanti akan kubelikan. Ada yang lain?” “Nggak, kok. Cuma itu saja. Makasih, Mas,” Aurora mengulum senyum di bibir, meskipun Reyhan tak dapat melihatnya. Reyhan menutup panggilan tersebut setelah berjanji akan segera menyelesaikan pekerjaannya dan membawakan siomay yang diinginkan Aurora. Setelah panggilan tersebut berakhir, Aurora keluar dari kamar untuk memastikan apakah Gina sudah pulang atau belum. Tadi dia sempat mendengar suara mobil sahabatnya itu, namun dia tak mendengar suara pintu terbuka yang menandakan kalau Gina sudah masuk ke dalam. Dia mengintip ke luar dari celah tirai yang menutupi jendela. Benar saja, Gina memang sudah pulang. Tapi memang dia belum masuk ke dalam rumah. Ada Edo juga. Mereka berdiri berhadapan tepat di depan pintu. Aurora baru akan membuka pintu ketika dia mendengar Gina berbicara. “Please, Do. Tolong ngertiin aku. Aku nggak bisa ninggalin Rara sendirian dalam keadaan hamil besar. Kalau terjadi apa-apa saat dia sendirian gimana?” Dada Aurora serasa dicubit oleh tangan tak kasat mata. Tak menyangka bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab utama keraguan Gina untuk menerima lamaran Edo. “Sayang, dia bukan anak kecil yang harus selalu dijaga. Rara bisa menjaga dirinya sendiri. Trust me, apa yang kamu katakan barusan hanyalah pikiran negatif yang harus kamu singkirkan. Lagi pula, dia bisa menghubungimu kapan saja. Dan, you know, kita nggak harus menikah dalam waktu dekat kalau memang itu yang membuatmu keberatan. Kita bisa menunggu sampai Aurora melahirkan. How?” suara Edo terdengar memelas. Aurora bisa merasakan matanya memanas dan air mata menggenang di sana. Dia merasa telah menjadi sahabat yang paling jahat karena menyebabkan masalah di dalam kisah cinta sahabatnya. Edo benar, dia bisa menjaga dirinya sendiri. Selama ini, Gina sudah terlalu banyak berkorban untuk dirinya. Maka untuk sekali ini, dia tak akan membiarkan Gina kembali mengorbankan kebahagiaan dirinya demi Aurora. Tidak akan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD