Aurora membuka matanya perlahan ketika dering alarm dari ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdering nyaring membangunkannya. Hal yang pertama menghampiri pikirannya saat mata bulatnya sempurna terbuka adalah ingatannya pada momen tadi malam, saat dirinya dan Dirga berbagi kecupan hangat di bibir yang berakhir dengan saling membalas. Mengingat itu, bibirnya otomatis menyunggingkan senyum manis.
Enam bulan terakhir, hal yang pertama dilakukannya ketika membuka mata adalah menghembuskan napas berat. Sama sekali tak menyangka jika pagi ini dia bisa terbangun dalam keadaan bahagia.
Belum sirna senyum di bibirnya, denting suara pesan terdengar dari ponsel yang masih digenggamnya setelah me-non-aktifkan alarm tadi. Senyumnya semakin lebar ketika membaca isi pesan tersebut.
Satria Dirgantara: Morning, Princess. Sudah bangun?
Dengan segera Aurora bangun dan menyandarkan punggungnya ke dinding setelah sebelumnya meletakkan bantal di antara dinding kamar dan punggungnya.
Putri Aurora: Already wake up :)
Semalam, dia tak langsung memberi jawaban pada Dirga. Obrolan mereka pun belum selesai, karena ketika akan kembali melanjutkannya, Gina dan Edo lebih dulu pulang. Dan karena sudah lewat tengah malam, Dirga memintanya untuk istirahat kemudian lelaki itu pulang bersama Edo.
Aurora memang belum tahu kemana hubungannya dan Dirga bermuara. Tapi satu hal yang dia tahu, bahwa perasaannya terhadap Dirga yang sempat mengendap dan tertutup oleh perasaannya pada Reyhan, kini mencuat kembali ke permukaan dan mengaliri ruang hatinya.
Mereka masih saling bertukar pesan sampai beberapa menit kemudian, dan sepakat akan makan siang bersama. Setelah itu, Aurora keluar dari kamarnya untuk membasuh wajah kemudian menyeduh teh untuknya dan Gina.
Tapi sampai teh yang diseduhnya hampir dingin, Gina belum juga keluar dari kamarnya. Padahal hari ini bukan weekend dan sebentar lagi jam dinding di ruang tengah menunjukkan jam tujuh tepat. Karena mengira sahabatnya itu belum bangun, Aurora mengetuk pintu kamar Gina beberapa kali dan membukanya. Kamar itu masih gelap, namun Aurora bisa melihat kalau Gina sudah bangun. Sahabatnya itu masih berbaring terlentang dan sedang memandangi sebuah benda yang ada di tangannya.
“Kamu nggak kerja, Na? Sudah hampir jam tujuh,” Aurora duduk di tepi ranjang Gina dan langsung tahu bahwa benda yang sedang diperhatikan dengan seksama oleh perempuan itu adalah sebuah cincin. Pasti dari Edo, batin Aurora.
Gina yang ditanya hanya menghembuskan napas berat, seolah ada beban puluhan ton di pundaknya.
“What’s wrong?” meskipun gelap, tapi Aurora bisa melihat wajah Gina yang sendu. “Kamu bertengkar dengan Edo?”
Gina menggeleng, lalu bangun dan meletakkan cincin yang sejak tadi dipandanginya itu di atas nakas, kemudian beranjak dari kasur dan membuka tirai jendela. Kamarnya yang semula gelap seketika terang karena sinar mentari yang menembus jendela. Setelah kembali duduk di atas kasurnya, Gina bertanya, “Kamu sama Dirga ngapain aja kemarin?”
Pengalihan topik.
Aurora tahu, Gina pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi demi menghargainya, Aurora memilih untuk menjawab pertanyaan basa-basi tersebut. “Hanya makan dan ngobrol-ngobrol. Nothing special,” dia mengedikkan bahunya.
“Really? Mukamu mengatakan yang sebaliknya,” mata Gina menyipit.
“Kamu jangan mengalihkan pembicaraan, Regina Putri. Just tell me, how was your date? Kalian kencan dari siang sampai tengah malam baru pulang, dan sekarang mukamu kusut begini. Pasti ada sesuatu, kan?”
Kali ini Gina tak bisa mengelak. Tinggal di satu atap selama dua puluh tahun lebih membuat keduanya tak bisa menyembunyikan apapun.
Cincin yang tadi diletakkan di atas nakas kembali diambil oleh Gina. Lalu dengan suara yang hampir menyerupai bisikan, dia berkata, “Edo melamarku.”
Aurora sudah menduganya, dan dia sangat senang mendengar kabar tersebut. Tapi mengapa wajah sahabatnya itu justru terlihat sedih? “Kamu terima?”
Gina menggeleng. “Aku belum memberikan jawaban untuknya, Ra. Aku… aku bingung harus menjawab apa.”
Dahi Aurora berkerut dalam. “Why? You love him, right? Kamu nggak ingin menikah dengan Edo?”
“I do love him. Dan aku ingin menikah dengannya.”
“Lalu kenapa bingung?”
“Keluarganya. Apa mereka benar-benar bisa menerimaku yang yatim piatu ini?”
“Apa perlakuan baik mereka selama ini nggak cukup jadi jawaban atas pertanyaanmu barusan?”
“Entahlah,” Gina mengangkat bahunya sekilas.
“Nggak perlu buru-buru, Na. Edo pasti mengerti kalau kamu belum bisa langsung memberinya jawaban. Kamu kan juga perlu berpikir dan mempertimbangkan banyak hal.”
Gina tersenyum. “Thank you for this morning advice. Sekarang aku mandi dulu atau aku akan terlambat ke kantor.”
***
Sesuai rencana tadi pagi, Aurora dan Dirga makan siang bersama di Sumo Sushi Bar, salah satu resto Jepang yang ada di Lippo Mall.
Saat Dirga menjemput Aurora tadi, perempuan itu mengatakan kalau dia sedang ingin makan sushi. Jadilah lelaki itu melajukan mobilnya menuju Jalan Laksda Adicupto, di mana Lippo Mall berada. Dia bisa saja membawa Aurora ke resto Jepang yang biasa dikunjunginya jika sedang ingin merasakan makanan khas negeri sakura itu, namun dia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan perempuan itu. Setelah makan nanti, dia bisa mengajak Aurora berkeliling sebentar. Entah ke Gramedia, Miniso, atau kemanapun yang diinginkan oleh perempuan yang siang ini mengenakan dress berwarna cream dengan motif floral.
Karena bukan akhir pekan, mall itu tak terlalu ramai. Bahkan resto Jepang yang mereka datangi, hanya ada beberapa pengunjung termasuk mereka berdua.
“Enak?” Dirga tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat Aurora yang begitu lahap menyantap sushi di hadapannya.
Perempuan itu mengangguk. “Kenapa kamu nggak makan?” mata bulat Aurora menatap piring Dirga yang isinya masih terlihat utuh.
“Aku sudah kenyang dengan melihat kamu makan selahap itu,” tangan Dirga terulur untuk mengusap puncak kepala Aurora.
Aurora mengerutkan bibirnya, meletakkan kembali sumpit yang menjepit sushi-nya di atas piring. “Kalau kamu nggak makan sekarang, aku nggak mau diajak lunch bareng lagi besok-besok,” ujarnya kemudian.
Dirga tertawa mendengar ‘ancaman’ itu. Tapi pada akhirnya dia menyantap sushi di piringnya hingga tandas. “Mau keliling sebentar, nggak?” tanyanya setelah menghabiskan isi gelasnya.
“Memangnya kamu nggak ke kantor lagi?”
“Aku nggak harus berada di kantor sepanjang hari. Yang terpenting adalah, aku bertanggung jawab dengan pekerjaanku.”
Sejenak Aurora menimbang-nimbang penawaran tersebut. Bukan ide buruk, sebenarnya. “Oke kalau gitu. Kamu mau cari sesuatu?”
“Nggak. Hanya ingin menyegarkan pikiran.”
Aurora hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban tersebut. Baginya, mall bukan tempat yang tepat untuk menyegarkan pikiran. Alih-alih menyegarkan pikiran, bisa-bisa justru uangnya habis untuk berbelanja.
Mereka berjalan bersisian dengan lengan yang sesekali bersentuhan. Tanpa diketahui oleh Aurora, sejak tadi telapak tangan Dirga terkepal menahan keinginannya untuk menggenggam tangan perempuan itu. Tahan, serunya dalam hati. Di sampingnya, Aurora sibuk memilah-milah tumbler dengan berbagai warna dan ukuran.
Dirga memperhatikan wajah Aurora yang terlihat serius saat membandingkan antara tumbler berwarna biru muda dan hitam. Sesekali matanya menatap kembali deretan tumbler yang tersusun di atas rak, sampai akhirnya pilihannya jatuh pada tumbler berwarna biru muda dengan ukuran sedang.
“Kamu nggak ingin beli sesuatu, Ga?” mereka beranjak ke bagian rak lainnya.
“Nggak.”
“Terus ngapain kamu ajak aku keliling?”
“Hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersamamu. Kalau hanya makan siang bersama, nggak cukup rasanya.”
Aurora menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya pada Dirga. Kepalanya mendongak, menatap wajah Dirga yang jauh lebih tinggi di hadapannya dengan mata menyipit. “Modus, ya?”
Sontak Dirga tertawa hingga membuat beberapa pengunjung yang berdiri tak jauh dari mereka menatapnya dan membuat Aurora yang ada di sebelahnya salah tingkah. Dia takut pengunjung lainnya merasa terganggu dengan suara tawa Dirga yang agak keras.
“Harus banget ketawanya keras kayak gitu?” omel perempuan itu setelah memukul lengan atas Dirga dengan keras. Tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu, Aurora langsung menuju kasir.
“Mau J.Co, nggak?” tawar Dirga setelah mereka keluar dari Miniso. Dia mengimbangi Aurora yang berjalan pelan di sebelahnya.
“Boleh. Aku butuh duduk. Kakiku pegal,” jawab Aurora.
Lima menit kemudian mereka sampai di gerai J.Co yang terletak di lantai satu. “Kamu duduk saja, biar aku yang pesan. Kamu mau apa?”
Aurora mengangguk lalu menyebutkan pesanannya pada Dirga, kemudian duduk di kursi terdekat yang bisa dijangkaunya. Kakinya benar-benar terasa pegal, padahal di Miniso tadi dia berkeliling tidak sampai setengah jam. Tapi perutnya yang semakin besar membuat tubuhnya memang lebih mudah lelah.
“Kamu benar-benar nggak akan kembali ke kantor?”
Dirga duduk di hadapan Aurora dan menyerahkan yogurt bertoping strawberry pesanannya. “Nope."
Aurora mengangguk paham. Dia mulai menikmati yogurt-nya. “Apa kamu tahu kalau Edo melamar Gina?”
“Aku tahu. Tadi Edo bilang.”
“Dia bilang apa aja?”
“Dia melamar Gina tadi malam, tapi Gina masih ragu menerimanya.”
“Apa ada hubungannya dengan keluarga Edo?”
“Nggak ada. Bukan itu yang membuat Gina ragu menerima lamaran Edo. Toh orangtua Edo nggak masalah dengan latar belakang Gina. Mereka juga sudah terang-terangan memberi restu.”
“Lalu apa yang membuat Gina ragu? Tadi pagi dia nggak mau jujur saat aku tanya.”
Dirga yang tadinya akan melahap donat bertopping oreo urung melakukannya. Pertanyaan itu membuatnya tak nyaman, sebab dia tahu kalau jawaban yang akan diberikannya akan membuat Aurora merasa bersalah.
Tidak. Dia tak akan memberitahu Aurora apa yang membuat Gina merasa ragu menerima lamaran untuk Edo. Dia tak akan membiarkan perempuan itu kembali berkubang dalam kesedihan setelah melewati hari-hari yang berat. Jadi yang kemudian dilakukannya hanya mengangkat bahu sekilas lalu menikmati donatnya dengan tak berselera.