I Love You No Matter What

1365 Words
Hampir lima belas menit lamanya mereka saling berpelukan, sampai Dirga merasakan kaos yang dikenakannya basah karena air mata Aurora. Dirga masih menepuk-nepuk pelan punggung perempuan di pelukannya itu, sesekali mengusap rambut panjangnya yang memiliki aroma buah-buahan. Seperti bayi, batin Dirga tadi ketika Aurora baru masuk ke dalam pelukannya. Tapi laki-laki itu menyukainya. Aurora yang sudah berhenti sesenggukan melepas pelukannya. Wajahnya basah dan memerah, membuat Dirga reflek mengusap air matanya. “Nanti aku dijitak Gina kalau dia melihat kamu menangis karena aku,” ujar lelaki itu pelan sambil menatap wajah sembab Aurora lalu menyapukan ibu jarinya di pipi perempuan itu untuk menghapus air matanya.. Aurora terkekeh pelan, lalu membersit hidungnya yang sudah merah. “Tapi aku serius, Ra. Aku serius dengan apa yang kubilang tadi,” Dirga melanjutkan ucapannya. Saat akan kembali membuka suara, Aurora lebih dulu berkata. “Kamu tahu? Aku merasa nggak pantas buat kamu. Selama ini, kamu selalu ada di sampingku dalam keadaan apapun. Waktu aku dimarahi ibu panti gara-gara lupa piket, waktu aku dibully semasa SMA, waktu aku nggak lolos di jurusan yang aku inginkan. Tapi aku malah membuat kamu patah hati. Dan sekarang, kamu masih ada di sini bersamaku,” setetes air mata kembali mengalir di pipi bulatnya. “Seharusnya, dulu aku nggak membesarkan gengsi untuk mengungkapkan perasaanku ke kamu. Seharusnya, aku nggak perlu menunggu kamu mengungkapkan perasaan. Seharusnya…” “Ssshhh… it’s okay. Jangan menyalahkan diri sendiri atas kebodohan yang dilakukan orang lain. Aku yang terlalu bodoh karena nggak pernah jujur ke kamu sejak dulu. I’m really sorry,” Dirga kembali menarik Aurora ke dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala Aurora berkali-kali dan menghidu wangi buah-buahan dari rambut perempuan itu. Dirga sebenarnya tidak menyangka kalau ternyata Aurora juga merasakan penyesalan seperti yang dirasakan dirinya. Mengetahui bahwa Aurora menyesal karena gengsi untuk mengungkapkan perasaan padanya, membuat lelaki itu semakin merasa bahwa dia benar-benar seorang pecundang. Dasar payah! Akan tetapi, melanjutkan penyesalan atas sesuatu yang sudah lewat pun tak ada gunanya. Sekarang, yang bisa dilakukan hanyalah memulai sesuatu yang baru agar penyesalan di masa lalu tak melulu menghantui. Maka dengan keyakinan itu, Dirga pun memberanikan diri untuk kembali berbicara. Masih dengan Aurora dalam pelukannya, Dirga berkata, “Aku nggak akan jadi pengecut lagi. Aku nggak ingin menyesal lagi karena kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Jadi sekarang aku akan jujur dan mengungkapkan perasaanku ke kamu. Aku nggak akan berhenti meskipun kamu mencegahnya,” ucapnya tegas. Kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Aurora agar dia bisa menatap mata bulat perempuan yang dicintainya itu. Kedua tangannya menangkup wajah Aurora dan berujar, “Aku cinta kamu, Aurora. Sejak dulu, sekarang, dan selamanya,” dia menatap lekat wajah sendu perempuan di hadapannya. “Apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisimu saat ini, aku nggak akan pergi. Aku nggak akan kemana-mana. Aku nggak akan meninggalkanmu. So, let’s begin our new story,” ada perasaan lega ketika kalimat itu selesai terucap dari bibirnya, sehingga seulas senyum terbit setelahnya. Tapi tidak dengan Aurora. Perempuan itu justru menggeleng dan berkata, “Aku nggak pantas buat kamu, Ga.” “No. Jangan katakan itu lagi. Kamu adalah perempuan yang paling pantas untukku.” “Tapi…” Aurora menunduk dalam, memutus tatapan antara matanya dengan mata Dirga. Jemarinya yang semula saling bertaut kemudian menari-nari di atas baby bump-nya. Benaknya memunculkan berbagai pertanyaan yang membuatnya ragu akan kejujuran Dirga. Pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah Dirga bisa menerima kehadiran buah hatinya? Apakah lelaki itu bisa menyayangi buah hatinya dengan tulus? Apakah dia benar-benar bisa menerima kondisinya saat ini? Atau, apakah lelaki itu hanya merasa kasihan padanya? Atau itu semua hanya pikiran-pikiran negatifnya saja. Dia hanya tidak berani mempercayai laki-laki karena pernah dikhianati. Reyhan sialan, makinya dalam hati. “Kamu mikirin apa?” pertanyaan itu memutus pikiran-pikiran negatif Aurora. Dia kembali menatap Dirga lalu menjawab dengan pertanyaan juga, “Kamu hanya merasa kasihan padaku, kan?” Dahi Dirga berkerut mendengar pertanyaan dari Aurora. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu? Apa wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang mengasihani seorang perempuan yang baru saja bercerai dari suaminya dalam keadaan hamil? Tapi lelaki itu segera menyadari satu hal. Perempuan di hadapannya itu merasa sangat terluka akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan suaminya. Perasaan terluka itu akhirnya membuat Aurora merasa tidak berharga, karena pada kenyataannya, ada perempuan lain yang bisa membuat sang mantan suami berpaling darinya dan bermain api di belakangnya. Hingga sampailah pada titik di mana Aurora merasa tak percaya diri. Perempuan itu tak percaya bahwa masih ada laki-laki yang mencintainya sepenuh hati. Rasanya dia ingin menghampiri Reyhan saat itu juga untuk membuat wajah lelaki itu babak belur. “Hei, look at me. Look at my eyes,” Dirga kembali menangkup wajah Aurora dengan kedua tangannya, meminta perempuan itu agar benar-benar menatap matanya. “I LOVE YOU. I DO LOVE YOU,” dia menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Apa aku terlihat seperti orang yang sedang mengasihani kamu?” Aurora menatap mata Dirga dengan seksama. Dia berusaha mencari tatapan mengasihani dari mata lelaki itu, namun dia tak menemukannya barang secuil. Kepalanya kemudian menggeleng pelan. Ada perasaan lega dan bahagia karena pikiran buruknya tak terbukti. “Terima kasih,” bisiknya pelan, kemudian menunduk kembali. Terlalu lama menatap mata Dirga membuat jantungnya semakin berdebar tak karuan. Berdoa saja semoga lelaki itu tak mendengar debar jantungnya saat ini. “So?" suara Dirga membuat Aurora kembali mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki itu bingung. “What?” tanya Aurora dengan dahi berkerut. Dirga menggamit kedua tangan Aurora dan menggenggamnya lembut. Ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan perempuan itu dan bertanya, “Maukah kamu menikah denganku?” Aurora tak bisa mencegah rasa terkejutnya mendengar pertanyaan itu. Matanya membulat dan mulutnya menganga, namun wajahnya bersemu merah. Inhale, exhale. Dia mengatur napas dan detak jantungnya agar tenang. Baru setelahnya dia membalas pertanyaan Dirga,”Kamu serius? Kamu nggak nggak lupa, kan, kalau aku sedang dalam masa iddah?” “Aku serius dan aku nggak lupa tentang hal itu,” jawab Dirga sungguh-sungguh. Dia mempererat genggaman tangannya pada tangan Aurora. “Lagipula kita nggak langsung menikah besok, Ra. Tentu saja kita harus menunggu sampai masa iddah-mu selesai, saat dia lahir,” lalu dia melepaskan salah satu genggaman tangannya kemudian mengusap pelan baby bump Aurora. “Jadi kamu sedang melamarku?” Aurora merasakan pipinya menghangat setelah mengatakan kalimat tersebut. Lamaran dari seorang Satria Dirgantara hanya ada dalam angan-angannya selama ini. “Ya.” Aurora termangu mendengar jawaban tegas dari mulut Dirga. Tapi keraguan masih menyelimuti hatinya. Dirga mungkin memang masih mencintainya. Begitu pula dengan dirinya yang masih memendam perasaan pada lelaki itu jauh di lubuk hatinya. Lelaki itu mungkin bisa menerimanya dengan hati lapang, namun bisakah dia menerima anaknya untuk dicintai sepenuh hati? “Kamu sadar, kan, kalau sekarang, bukan cuma aku yang harus kamu cintai? Kalau kamu mencintaiku, itu artinya kamu juga harus bisa mencintai anakku.” Dirga mengangguk. “Aku tahu itu,” dia berujar dengan penuh keyakinan, “Aku akan mencintai, menyayangi dan menjaganya sepenuh hati. Seperti yang kulakukan kepadamu. Pandangan Aurora memburam, seiring dengan air mata yang kembali luruh membasahi pipinya. “Apa aku terlalu egois karena memintamu menikah denganku dalam kondisi seperti ini?” Dirga bukannya tidak tahu kalau Aurora masih menyimpan rasa pada sang mantan suami. Aurora menggeleng pelan. Dirga tidak egois, hanya saja dirinya belum siap. Meskipun masih harus menunggu sampai buah hatinya lahir, dia pun tidak yakin kalau saat itu dia sudah siap. Seakan bisa mendengar kegelisahan Aurora, Dirga kembali bersuara, “Aku akan menunggu sampai kamu siap.” “Aku nggak tahu kapan aku akan siap.” “Aku akan menunggu. Kapanpun waktu itu akan datang.” “Sungguh?” Kepala Dirga mengangguk pasti. Perlahan dia mengikis jarak antara dirinya dan Aurora. Lalu dengan hati-hati dia mengecup bibir perempuan itu dengan mata terpejam dan perasaan was-was kalau Aurora akan menamparnya. Tapi kekhawatiran itu tidak terjadi. Saat Dirga membuka mata, dia mendapati kalau ternyata Aurora juga ikut memejamkan mata, dan kedua tangannya meremas pinggiran kaos yang dikenakan Dirga. Untuk beberapa saat, yang terdengar di ruang makan yang menyatu dengan dapur itu hanya deru napas mereka. Sampai akhirnya Aurora mendorong bahu Dirga karena merasa oksigen di paru-parunya menipis. Wajahnya memerah dan napasnya terengah. Dirga tersenyum menatapnya, kemudian berbisik, “I will always love you no matter what.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD