Setelah berkendara beberapa menit meninggalkan Bukit Bintang, Dirga menghentikan mobilnya di salah satu sisi jalan, di mana mereka mereka bisa melihat pemandangan Kota Jogja di malam hari dari ketinggian Bantul yang terlihat indah dengan kerlap kerlip lampu yang terlihat seperti taburan bintang.
"Di sini nggak apa-apa, kan? Kita bisa makan di mobil," ucap Dirga setelah menurunkan kaca jendela dan mematikan mesin mobilnya. "Soalnya nggak mungkin juga kita keluar dan makan sambil berdiri. Selain dingin, aku juga nggak tega biarin kamu berdiri lama-lama."
Aurora mengangguk. "Iya nggak apa-apa. Dan ternyata lebih nyaman daripada duduk di lesehan tadi," ia meringis setelah mengungkapkan kenyataan tersebut.
"Kamu tuh kalau nggak nyaman bilang, Ra. Coba deh hilangkan sifat nggak enakan kamu itu," Dirga mulai menikmati jagung bakarnya sembari menikmati kerlip lampu-lampu di bawah sana. "Kamu pasti sudah bosan dengar aku sama Gina ngomong begitu," ucapnya lagi dengan mulut penuh jagung.
Aurora tertawa melihatnya. Tangan kanannya terulur ke wajah Dirga untuk membersihkan noda arang yang menempel di sudut bibirnya.
"Aku nggak bosan. Mungkin malah kalian yang bosan ngomelin aku, kan?" tawa renyah Aurora keluar begitu saja. Selama ini Gina dan Dirga sering merasa kesal pada dirinya karena sifat 'nggak enakan' yang mendarah daging padanya. Dia seringkali sulit menolak dan sulit mengungkapkan ketidaknyamanan yang dia rasakan jika berada di suatu tempat atau jika sedang bersama orang lain. Aurora lebih senang memendamnya sendiri meskipun dirinya merasa tersiksa.
Sedangkan Dirga di sebelahnya harus berhenti mengunyah untuk menetralkan detak jantungnya karena sentuhan Aurora di sudut bibirnya. Tubuhnya seperti tersengat listrik ketika tangan mungil Aurora menyentuh ujung bibirnya dan mengusap arang yang menempel di sana. Untungnya Dirga nggak sampai kejang karena sentuhan itu. "Nggak sih. Cuma suka sebel aja setiap lihat kamu ngerasa nggak nyaman tapi diem aja," ujarnya kemudian setelah debaran jantungnya sedikit reda..
Sampai satu jam kemudian mereka masih menikmati pemandangan Kota Jogja di malam hari dari dataran tinggi Bantul hingga jagung bakar yang tadi mereka beli habis. Mereka mengobrolkan banyak hal selain tentang rumah tangga Aurora dan Reyhan yang sudah kandas. Sesekali mereka bernostalgia tentang masa-masa mereka menghabiskan waktu di panti asuhan tempat mereka dan Gina tumbuh. Mereka juga sempat membahas betapa bucinnya Edo pada Gina hingga mau menuruti apapun yang sahabat mereka itu minta. Tapi sisi baiknya, Gina pun tidak pernah semena-mena memperlakukan Edo dan selalu menghargai kekasihnya itu.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam ketika akhirnya mereka memutuskan untuk pulang setelah menghabiskan jagung bakar dan dua botol teh kemasan yang tadi mereka beli.
"Langsung pulang?" Dirga mulai melajukan mobilnya di jalanan yang menurun dan sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat, termasuk mobil Dirga.
"Mmm... iya. Eh tapi nanti mampir beli sate ayam yang di dekat Balai Kota dulu ya, Ga."
"Oke. Masih lapar?"
"Iya," Aurora meringis. "Kan cuma jagung bakar, mana berasa. Lagipula kan sekarang makannya berdua."
"Ya sudah nanti bertiga. Aku temenin," balas Dirga sembari mengusap pelan rambut Aurora sambil mengacaknya dan membuat jantung perempuan itu berdegup kencang.
"Kamu kenapa sih suka banget acak-acak rambut aku?" tanya Aurora bersungut-sungut. Dulu, sepertinya tidak ada hari yang dilewatkan Dirga tanpa membuat rambut Aurora berantakan. Tidak peduli pada situasi apapun. Lelaki itu baru berhenti melakukan hal tersebut setelah Aurora berpacaran dengan Reyhan.
"Karena aku senang melihat mukamu yang kesal," dan Dirga merasa senang karena bisa melakukannya lagi. Mengacak-acak rambut Aurora. Apakah hati perempuan itu ikut berantakan seperti rambutnya? Pertanyaan macam apa pula itu.
"Dasar."
"Dasar ganteng?"
"Dasar nyebelin."
"Tapi ngangenin, kan?"
“Terlalu percaya diri itu nggak baik, Satria,” sahut Aurora dengan menyebut nama depan Dirga.
Dirga tergelak hingga matanya menyipit. Untung jagung bakarnya sudah habis. Jadi dia tak perlu khawatir akan tersedak karena tertawa sambil mengunyah.
Berbagai macam obrolan dan juga perdebatan ringan diiringi suara lembut Kunto Aji yang mengalun dari music player menemani mereka sepanjang perjalanan pulang. Sesampainya di Jalan Kusumanegara, Dirga menghentikan mobilnya di salah satu tenda pedagang yang menjual sate ayam yang kebetulan masih buka. Lelaki itu meminta agar Aurora tidak turun dari mobil karena dirinya yang akan memesan. Tidak sampai setengah jam kemudian ia sudah kembali duduk di balik kemudi dengan empat bungkus sate ayam di tangannya.
"Enak banget dong nanti yang habis kencan, pulang-pulang dibawain sate," Aurora menerima bungkusan plastik berisi sate tersebut dari tangan Dirga.
"Biarin, nggak apa-apa. Aku kan sahabat yang baik," balas Dirga sembari mulai melajukan mobilnya.
Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Aurora dan Gina, dan belum menemukan kedua sahabat mereka. Yang menandakan bahwa Gina dan Edo masih menikmati kencan mereka entah di mana. Padahal jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan angka sebelas lewat.
"Aku buat teh dulu ya, Ga. Kamu makan aja duluan," tetapi langkah Aurora menuju dapur dicegah oleh Dirga.
"Nggak usah, Ra. Aku aja yang buat. Kamu duduk aja atau makan duluan terserah," lalu lelaki itu membawa Rara menuju dapur yang juga menyatu dengan ruang makan, memaksa Aurora untuk duduk.
"Dasar. Selain nyebelin, kamu juga romantis. Kok bisa masih jomblo sampai sekarang?" Aurora menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan Dirga yang sedang menyiapkan teh untuk menemani mereka makan sate.
"Cuma kamu yang bilang aku romantis. Kalau kamu tanya teman-teman kantorku gimana aku, mereka mungkin akan jawab kalau aku kayak es batu."
Aurora tergelak mendengar penuturan Dirga. Dia tahu satu fakta tersebut. Edo yang juga teman sekantor Dirga pernah memberitahunya. "Jadi kamu romantisnya cuma sama aku?" tanya Aurora menggoda sekaligus penasaran, well, yah sebenarnya ia juga sudah tahu itu. Bahkan dengan Gina pun, Dirga tidak akan sudi menawarkan diri untuk membuatkan mereka teh.
"Ng... mau dibahas nih?" Dirga menatap Aurora setelah meletakkan dua gelas teh panas dan dia duduk manis di sebelah perempuan itu.
"Sure. Aku akan senang membahasnya."
Untuk beberapa saat Dirga diam, karena sibuk membuka dua bungkus sate dan meletakkan masing-masing bungkusan di atas piring lalu menyerahkan salah satunya pada Aurora.
"Thanks," kata perempuan di sebelahnya dengan nada bahagia.
"Anytime," balas Dirga singkat.
Keduanya lalu menikmati makanan di piring masing-masing dalam diam. Aurora tahu kalau di sebelahnya, Dirga sedang berpikir apakah dia akan membahas tentang pertanyaanya—yang sebenarnya tidak serius dia tanyakan—tadi. Tapi perempuan itu juga sebenarnya tidak masalah jika Dirga memang enggan membahasnya.
"Ra," suara piring digeser dan panggilan dari Dirga mengalihkan pikiran Aurora dan juga tatapannya dari piring di hadapannya.
"Ya?"
"Apa... apa aku masih punya kesempatan?" dengan susah payah Dirga mengucapkan kalimat tersebut. Jemarinya saling bertaut erat di atas meja dan jantungnya kembali berdegup dengan brutal, sampai-sampai dia khawatir kalau di sebelahnya, Aurora bisa mendengar suara detak jantungnya.
"Kesempatan apa?" Aurora merutuki dirinya sendiri karena mengeluarkan pertanyaan bodoh semacam itu. Jelas-jelas dia tahu kesempatan apa yang dimaksud Dirga.
"Kamu. Kesempatan untuk selalu ada di sisi kamu. Menjadi teman hidup kamu."
Tatapan mereka saling bertemu dan mengunci, seolah tidak ada hari esok untuk bisa saling menatap sedalam itu, untuk saling menyelami hati masing-masing. Beberapa menit hanya keheningan yang mengisi ruang di sekitar mereka. Dan seolah berkonspirasi, suara jangkrik dan hewan malam lainnya pun tidak terdengar sama-sekali.
"Kamu selalu punya kesempatan itu, Ga. Tapi nggak pernah kamu gunakan dengan baik sampai akhirnya kamu kehilangan itu. Sekarang, mungkin kamu punya lagi, tapi kondisinya tentu saja sudah berbeda," Aurora menarik napas perlahan berkali-kali, mencoba menenangkan debar jantungnya yang menggila.
"I don't care. Bagaimanapun kondisinya, di mataku kamu tetap sama. Kamu tetap Aurora yang dulu."
"Sekalipun aku janda dan lagi hamil anak dari mantan suamiku? Sama dimananya, Ga?"
"Apa kamu pikir itu akan jadi masalah buatku?"
"Jelas lah. Memangnya nggak?"
"Nggak sama sekali," jawab Dirga mantap. Matanya menatap lurus mata Aurora yang mulai berkaca-kaca dengan tatapan penuh cinta.
Sedangkan di hadapannya, Aurora hanya diam mematung. Sampai akhirnya bahunya berguncang karena tak mampu menahan air mata yang membendung.
Untuk kedua kalinya, Dirga menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Saling merasakan kehangatan dan kenyamanan satu sama lain.